
Kehidupan berkeluarga itu memang sangat aneh. Hidup bersama orang lain yang berlainan jenis, tidur dalam satu kamar dengannya, saling berbagi cinta dan saling menambatkan perasaan sedalam-dalamnya hingga sulit lepas. Bahkan tak jarang manusia berubah menjadi gila setelah mereka kehilangan pasangannya.
Awalnya Yudha pikir, seseorang yang berumah tangga itu menyenangkan seperti yang kerap terlihat di keluarga-keluarga rukun lain—ya, seharusnya demikian. Tetapi nyatanya, sangatlah bertolak belakang. Menikah baginya adalah memasukkan diri ke dalam jurang neraka yang paling dalam.
Masalah-masalah yang kerap timbul seolah membuatnya menjadi sosok terasing. Dia telah kehilangan kepercayaan dirinya sebagai seorang laki-laki. Apalagi saat ini; setelah ia mengetahui fakta besar yang telah disembunyikan istri pertamanya. Dia bukan hanya gagal menjadi laki-laki, tetapi ia juga telah gagal menjadi seorang suami dan seorang ayah.
Ketiganya keluar dari dalam toko tersebut setelah urusan mereka selesai. Tidak ada yang berani berbicara selama beberapa menit lamanya. Semua terdiam dengan pikiran masing-masing.
“Mi. Tolong simpan ini, Mi. Aku tidak enak jika Rahma sampai melihatnya,” kata Yudha setelah mereka berada di dekat kursi tunggu. Yudha mengulurkan kotak perhiasan yang sudah berhasil ditebusnya kembali.
“Kamu minta Umi yang menyimpannya?” tanya Umi Ros memastikan dan Yudha pun mengangguk.
“Baiklah, Umi simpan, ya.” Kemudian wanita paruh baya tersebut memasukkan benda itu ke dalam tasnya.
“Mau ke mana lagi kau setelah ini?” tanya Abah.
“Yudha mau berusaha mencari.”
“Kalau mau mencari, harus jelas dan yakin dulu ke mana tujuannya. Tidak mungkin Vita berkeliaran di jalan. Kalau pun dia pergi pasti memakai kendaraan semacam taksi atau Busway. Apa kamu mampu menyisirnya satu-persatu?” kata Abah lagi. “Mencari Vita di Jakarta yang luas ini ibarat seperti mencari jarum di dalam lautan.”
“Yudha bingung harus cari ke mana lagi, Bah. Setahuku, Vita tidak punya satu pun teman di sini. Dia juga belum lama ke kota ini,” kata Yudha serupa orang yang hampir putus asa. “Orang yang kumintai bantuan, juga tak kunjung memberiku kabar sampai sekarang. Apa pun sudah kulakukan.”
Bukan hanya sebatas itu saja, Alif pun juga telah membantunya banyak hal. Tetapi tidak ada hasilnya sama sekali.
Umi menyahut, “Dia juga sudah sampai menjual perhiasannya, itu artinya dia sudah sangat membutuhkan biaya hidupnya untuk sehari-hari. Orang hamil itu butuh biaya besar, Umi yakin dia belum bisa bekerja.”
“Berapa nominal yang diterima oleh menantu kita, Mi?” tanya Abah kemudian.
“Seratus juta lebih.”
“Kalau dia tinggal sendiri dan hanya menyewa tempat penginapan—uang segitu Abah perkirakan cukup untuk digunakan selama beberapa bulan ke depan.”
“Umi khawatir kalau dia bersalin, atau butuh apa-apa nanti. Siapa yang akan membantunya?”
Mendengar hal itu membuat hati Yudha menjadi semakin kacau. Wajahnya menekur dalam, berusaha sekuat tenaga menahan sebak dalam dadanya. ‘Vita, kenapa kamu hukum aku dengan sebegitu mengerikan?’ batin Yudha dengan penuh penyesalan.
“Yudha, Umi heran sama kamu. Kenapa kamu sampai tidak tahu kalau Vita sudah hamil lebih dulu? Hal sekecil apa pun, seorang suami akan tahu perbedaan istrinya. Kalian serumah, hampir setiap hari kalian bertemu.”
“Vita tidak pernah bilang apa-apa,” jawab Yudha masih dengan wajah menunduk.
“Lalu, kamu tidak pernah menanyakannya?” tanya Umi terdengar menuntut.
__ADS_1
Yudha menggelengkan kepala.
“Seburuk apa hubungan kalian selama ini?” tanya Umi Ros mulai meninggi. “Tidak mungkin kamu tidak tahu. Kamu bisa menandai kebiasaannya. Semenjak kalian menikah, apa dia mengalami menstruasi?”
Yudha hanya menghela napas. Seingatnya memang tidak pernah. “Kupikir tidak, dan itu baru kusadari sekarang.”
Umi menghitung sendiri berapa bulan semenjak mereka menikah. “Ya, Bah. Berarti benar apa kata pelayan tadi, kandungan Vita sudah sekitar empat atau lima bulanan. Sudah Umi duga sebelumnya, tapi belum sempat Umi bertanya, dia sudah pergi lebih dulu.”
Abah menyela, “Pasti ada sebab istrimu sengaja tidak memberitahumu. Coba kau ingat-ingat.”
“Aku melarangnya untuk hamil dulu sebelum pernikahan kita di sahkan,” kata Yudha mengakui kesalahannya. “Kemungkinan dia memang sudah mengandung sebelum aku mengatakannya. Dia sempat marah dan cemburu sekali pada saat aku menyampaikan hal itu, bersamaan dengan kabar kehamilan Rahma. Itu baru kusadari hari ini, Abah, Umi ....”
Kedua orang tua itu langsung terperangah ketika mereka sudah menemukan jawabannya.
“Banyak sekali kesalahanmu di sini, Nak. Renungkanlah!” tegas Abah dengan sorot mata mengintimidasi. Kemudian beliau melanjutkan, “Sebelum kamu mengesahkan istri kedua, seharusnya kamu terlebih dahulu mengesahkan istri pertama. Lainnya, apa yang kamu ucapkan tadi, belum dengan kesalahan-kesalahan lain yang mungkin memberatkan sebelah. Kalau kau tidak melakukan kesalahan besar, tidak mungkin istri pertamamu kekeh sekali untuk pergi.”
‘Ya, kesalahan terbesarku adalah menikahi Rahma tanpa izinnya.’
Yudha tidak tahu harus berkata apa selain merasakan penyesalan-penyesalan yang tiada habisnya.
“Kita pulang, Mi. Biarkan dia menimbang, apa yang akan dia lakukan selanjutnya.”
Kedua orang tua itu mengambil barang-barang titipannya. Kemudian pulang meninggalkan putranya yang membawa kendaraan sendiri. Ketika keluar, Yudha berkali-kali mendongak, memandangi awan-awan seputih kapas yang menggantung di langit. Dalam hati ia meneriaki, agar Tuhan di atas sana lekas-lekas menghukum laki-laki yang penuh dusta dan keculasan ini.
Yudha menggeleng, “Tidak, Pak. Terima kasih.”
Yudha memaksakan diri untuk tersenyum. Sebisa mungkin dia menyembunyikan kesedihannya di depan umum, walau sayup-sayup sudah terdengar isak yang menyayat.
Tak berapa lama, ketika pikirannya beralih pada kenangan suatu malam di rumah Vita, air matanya menetes. Hal itu berlangsung lama, hingga pada saat dia mulai mengendarai mobilnya air matanya di sana kembali tumpah. Jiwanya menangis, meraung-raung meratapi penyesalan.
***
“Sampai sini saja, Pak,” ucap Vita kepada driver ketika dia berada di depan gerbang.
“Tidak sampai ke dalam saja, Mbak?”
“Tidak usah, Pak. Saya jalan kaki saja. Tidak jauh kok.” Vita mengulurkan uang dari dalam tasnya.
“Terima kasih, Mbak.”
“Sama-sama, Pak.”
__ADS_1
Vita keluar dan membuka sedikit gerbang. Sekitar lima belas meter, akhirnya Vita sampai di depan kontrakannya. Mobil Dara terletak di depan sana, itu artinya gadis itu sedang berada di rumah sekarang.
“Vita? Kamu dari mana?” ucap Dara begitu melihat sosoknya dibalik pintu.
“Eh, Dar ... aku habis keluar sebentar. Aku suntuk di rumah terus,” jawab Vita tersenyum. Rasanya memang tidak mungkin jika ia mengatakan bahwa dirinya telah menjual sebagian perhiasan miliknya. Karena memang tidak pantas untuk di ucapkan lantaran tak ingin terkesan negatif. Jumlah ini tidak sedikit, pikirnya.
Dara menjawab, “Kalau kamu ingin keluar, aku bisa mengantarkanmu, Ta.”
“Itu tidak perlu. Aku bisa mengganggu waktumu bekerja.” Vita duduk di depan Dara.
“Jangan sungkan-sungkan bilang kalau kamu memang membutuhkan sesuatu.”
“Tapi saat ini, aku tidak membutuhkan sesuatu.”
“Aku tahu kamu hanya takut merepotkanku, bukan?”
“Sama sekali tidak,” jawab Vita kemudian menanyakan hal lain, “Tumben kamu pulang siang-siang. Kamu capek, ya?”
“Ibu aku barusan telepon, Ta. Aku harus pulang ke kampung. Adik aku sakit.”
“Oh, ya ampun. Sakit apa?” terkejut Vita dengan mata yang agak dibelalakkan.
“Sakit demam berdarah.”
“Sekarang keadaannya gimana?”
“Masih ada di rumah sakit.”
“Pulanglah secepatnya, Dar. Aku yakin masih ada kereta jam segini.”
“Ya, sebenarnya aku ingin pulang. Tapi bagaimana dengan keadaanmu, Ta?”
“Aku baik-baik saja. Aku tidak masalah sendirian. Kamu jangan khawatir, jangan merasa terbebani.”
“Masalahnya, sudah ada orang yang mencarimu ke tempat ini. Kata tetangga tadi ....”
Deg ....
Vita memang kaget, namun ia segera dapat menguasai diri. “Tolong jangan khawatirkan aku. Aku bisa melakukan apa pun nanti,” jawabnya meraba-raba kemungkinan walau dia sendiri tidak tahu dan tidak bisa memastikan arah lanjutan cerita ini.
***
__ADS_1
To Be Continued.
Maaf ya, sempat terkendala review jadi kelamaan. Tadi siang nt sedang eror.