TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Eshan Rayyan Altair


__ADS_3

“Waalaikumsalam,” Yudha dan Vita menjawab secara bersamaan. Vita langsung mengusap wajahnya sebelum pintu itu di buka karena tak ingin kedua mertuanya mendapatinya dalam keadaan sedemikian kacau.


Kedua orang tua yang berpakaian serasi itu tersenyum lebar tatkala mereka melihatnya. Umi Ros langsung mendekatinya, mencium menantu dan cucunya secara bergantian.


Setelah bayi itu berpindah tangan, mereka juga berpeluk-pelukan dan bertangis-tangisan selama beberapa lama. Mengungkapkan rasa harunya—karena akhirnya mereka dapat bertemu kembali setelah sekian bulan lamanya berpisah, dan dalam keadaan tidak biasa.


“Tinggal di mana sekarang, Nak? Siapa orang baik yang menemani kalian?”


“Aku tinggal sama Dara di sekitar sini, Mi. Dia gadis yang baik, masih sendiri, umurnya tidak jauh beda denganku,” kata Vita menjawab.


“Kalian kenal di mana?” tanya Umi penasaran.


“Kami kenal di sini juga. Waktu baru pertama kali bertemu, kami langsung akrab karena kami berasal dari daerah yang sama.”


“Oh ... begitu. Terus mana orangnya, Umi mau ketemu.”


“Lagi makan siang bareng Alif.”


"Sama Alif?" tanyanya memastikan.


"Iya." Vita mengangguk.


Sontak Umi Ros menoleh kepada suaminya yang sedang sibuk sendiri menimang cucunya itu. “Bah, Bah!”


Abah sempat menoleh sekilas, “Apa?”


“Alif itu loh, diam-diam suka kelayapan bawa cewek. Harus kita beritahu dia Abah. Takutnya nanti kebablasan anak kita.”


“Ya,” jawabnya singkat tanpa ingin membahasnya lebih lanjut. Beliau sedang tak ingin beralih ke mana pun selain kepada makhluk kecil di depannya. Bentuk Yudha kecil yang hampir menuruni 90% gennya.


Aura dingin dan seriusnya pun berubah menjadi sosok yang lembut nan jenaka. “Siapa namanya ini?” ujarnya dengan tanya yang bahagia.


“Belum di kasih nama bayinya, Nak?” tanya Umi kepada mereka berdua. Dan lagi, Vita dan Yudha saling pandang.


“Em ... aku terserah kamu saja, Mas,” kata Vita kemudian.


Namun Yudha menjawab, “Aku terserah kamu saja.”


“Ya sudah, kalau kalian saling melempar mending Abah saja yang memberinya nama.”


“Siapa, Bah?” tanya Yudha segera.


Agak lama Abah Haikal berpikir, hingga beberapa saat kemudian beliau menjawab, “Eshan Rayyan Altair.”

__ADS_1


Yudha mengangguk. Dia telah memahami artinya; yakni anak laki-laki tampan yang selalu disayangi Tuhan dan akan menyinari hidupnya dengan penuh kebaikan. Ya, harapannya, bayi ini tumbuh seperti makna yang terselip dalam nama itu.


“Tanya istrimu dulu, setuju atau tidak?” kata Abah lagi.


“Setuju Abah,” ucap Vita menyahut.


“Enaknya dipanggil siapa?” Umi Ros menyahut seraya berjalan mendekat. Bergantian menimang cucunya untuk pertama kali. "Oma panggil Ray saja, ya. Biar gampang."


Dan untuk ke sekian kalinya, Vita dan Yudha saling pandang manakala kedua orang tua itu sibuk dengan cucu mereka. Untuk beberapa lama mereka demikian sebelum akhirnya Vita memutus lebih dulu pertautan mata mereka. Ini tak baik untuk kesehatan jantungnya pikir Vita.


Ketika malam menjelang, Umi dan Abah memutuskan untuk pulang karena beliau tidak bisa menginap. Selain karena tidak membawa baju ganti, mereka juga meninggalkan segudang urusan yang belum mereka selesaikan.


Sebelum mereka pergi, Umi Ros sempat membujuknya untuk kembali tinggal di sana dengan beliau agar nanti bisa bergantian mengurus Rayyan.


Namun Vita dengan lembut menolak dan memberikannya pengertian; bahwa dia memang tidak bisa tinggal di sana lagi, dan tidak bisa lagi melanjutkan pernikahannya dengan Yudha. Vita mengatakan, dia lebih nyaman hidup tanpa mereka karena dia tidak mempunyai hati yang luas untuk menerima istri lain suaminya.


“Bohong kalau kami tidak kecewa. Kecewa sudah pasti ada, karena kamu tetap dengan pendirianmu. Tapi kami harus mengerti keadaanmu dan tidak berhak untuk memaksa,” ujar Umi begitu Vita menjelaskan penolakannya.


“Maafkan Vita, Umi, Abah...,” ucap Vita entah yang ke berapa kali.


Umi tersenyum. “Tidak apa-apa. Toh mau bagaimana pun hubungan kalian, si kecil ini tetap cucu kami. Kamu juga tetap anak Umi dan Abah. Yang panik itu dia,” Umi menunjuk seorang pria yang sedang tertunduk lemah.


Entahlah Yudha sudah tidak mempunyai gairah lagi untuk melihat matahari besok. Dia sudah merasa suram sendiri.


‘Kamu benar Vita, aku sudah menciptakan neraka untukmu untuk Rahma, terlebih untukku sendiri. Sekarang aku harus terima konsekuensinya.’


Namun Yudha menatap Abahnya dengan tak percaya.


“Selamat berjuang,” ucap Abah lagi.


***


Semalaman Yudha tidur di lantai di temani oleh Alif. Sedangkan Dara, gadis itu tidur di sofa dengan posisi sangat nyaman.


Dara dan Alif masuk pada saat hari hampir menjelang tengah malam. Dari pengakuannya, mereka terlibat obrolan panjang di sebuah Cafe. Hmm tapi entah benar atau tidak. Tidak ada yang melihat mereka dari mana saja kecuali malaikat.


Azan subuh telah terlewat. Jam juga sudah menunjukkan pukul lima lewat beberapa menit. Namun karena Dara masih belum juga terbangun karena saking nyenyaknya, Alif sengaja menjahilinya dengan mencipratkan air ke wajah gadis itu.


“Astagfirullah!” ujarnya langsung bangkit dan berlari.


“Kamu mau ke mana?” tanya Alif tergelak.


Dara tergagap setelah melihat ke sekeliling. “Aku kira tadi hujan, jadi aku mau mengambil jemuran.”

__ADS_1


“Ini di rumah sakit,” kata Alif.


"Ya aku sudah tahu."


Sesaat kemudian, Dara kembali duduk. Malu bukan main karena sedang ditertawakan semua orang yang ada di dalam ruangan ini.


“Kalau bangun itu duduk dulu, Dar,” ucap Vita.


“Itu spontan.”


“Subuh, sudah jam lima lebih,” titah Alif membuat Dara mendongak ke jam dinding.


“Iya sebentar, mau mengumpulkan nyawa dulu.”


“Hari ini kamu mau libur lagi, Bang?” tanya Alif ketika hari sudah mulai beranjak siang.


“Tidak ada yang menunggunya untuk bergantian,” jawab Yudha sembari melihat kedua orang yang dicintainya sedang saling menatap di atas tempat tidur.


“Ya, tapi lebih baik kamu pulang dulu. Ambil baju ganti, mandi juga. Kau sangat berantakan sekali.”


Yudha mengangguk menerima sarannya. Tepat jam sembilan, dia pulang ke rumah dengan menggunakan taksi karena Alif menggunakan mobilnya ke kantor.


Sesampainya di rumah, dia melihat Rahma sedang berbenah di kamarnya. Mereka bertemu dan sempat saling menatap sekilas. Ya, hanya sekadar itu. Setelahnya, mereka tak bertegur sapa lagi.


Tapi ada yang berbeda dari wanita itu. Jika sebelumnya—saat Yudha tinggalkan dalam keadaan tertawa, kali ini dia menemukan matanya yang membengkak. Kemungkinan, dia telah banyak menangis.


Pria itu membersihkan diri, kemudian mengganti pakaian beserta memilih pakaian yang akan dibawanya nanti untuk menginap lagi. Setelah mengambil tas sedang, dia memasukkannya ke dalamnya.


“Kabar Vita bagaimana, Kak?” tanya Rahma memecah keheningan.


“Dia baik-baik saja," jawab Yudha singkat.


“Bayi dan ibunya sama-sama sehat ‘kan?” dia bertanya lagi untuk kembali mengambil hati Yudha yang akhir-akhir ini telah jauh. Berharap hubungan mereka kembali membaik.


“Mereka sehat semua.”


“Syukurlah,” kata Rahma. Wanita itu berdiri dan meninggalkannya keluar, entah apa yang akan dia lakukan di sana.


Yudha merasakan haus. Pria itu melirik ke arah nakas. Dilihatnya ada segelas air minum di sana yang diketahuinya adalah kopi. ‘Semenjak kapan Rahma minum kopi?’ batinnya bertanya-tanya. ‘Apa dia menyediakannya untukku?’


Namun karena Yudha begitu haus, dia langsung menenggak saja minuman tersebut tanpa bertanya terlebih dahulu. Bersamaan dengan itu pula, Rahma kembali masuk ke dalam kamar dan langsung berteriak manakala mendapatinya demikian.


“Kak Yudha!” serunya dengan mata membelalak. Tak lama kemudian, dia melihat wajah Yudha berubah menjadi aneh.

__ADS_1


***


To be continued.


__ADS_2