TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Setelah Perceraian


__ADS_3

Ketiga orang: Rahma, Nely dan juga Ilyas baru saja keluar dari ruang rawat inap setelah beberapa hari menginap di rumah sakit ini.


Keadaan Nely sudah membaik sehingga beliau sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.


Ilyas mendorong istrinya yang berada di kursi roda, sementara Rahma sendiri menenteng paper bag yang berisi kertas-kertas hasil pemeriksaan sang ibu.


“Ayah masuk ke mobil saja dulu, biar Rahma yang ke kasir sekalian ke farmasi,” kata Rahma setelah mereka berada di lantai satu, tak jauh dari tempat administrasi.


“Tidak apa-apa kami tinggal?” tanya Ilyas memastikan.


“Tidak apa-apa, Yah.” Rahma tersenyum. Hal sama yang dilakukan Ilyas, kemudian pria itu membelai pipi putri tercintanya. Putri yang telah lama tak ia perhatikan, karena terlalu sibuk berdebat memusuhi istrinya.


Terang saja, mereka mempunyai sikap yang bertolak belakang. Beruntung Rahma tidak menuruni sifat ibunya, kalau tidak, hancur kehidupan lelaki tua itu ditekan oleh kedua perempuan sekaligus di rumahnya sendiri.


Ketidakberdayaannya menjadi seorang suami menjadikan Ilyas selalu rendah diri dan jarang hadir di acara-acara tertentu keluarga mereka. Dia hanya seorang PNS yang mempunyai gaji tak seberapa. Sangat jauh dari harapan istrinya selama ini yang mendambakan mempunyai suami berpenghasilan tinggi.


Telah panjang kesabaran yang lelaki tua itu miliki untuk menghadapi segala bencana yang ada di dalam rumah tangganya. Hanya satu alasan untuknya tetap bertahan, yakni Rahma. Anak satu-satunya. Lagi pula, dia sudah tidak bisa pergi ke mana pun di usianya yang hampir senja.


“Putri Ayah ini memang paling baik. Terima kasih ya, Nak.”


“Sama-sama, Yah.”


"Sudah, sana ambil nomor antrean," titah Ilyas.


Sebentar kemudian, Rahma menuju ke tempat pembayaran.


Hanya Ilyas yang masih mempunyai ekspresi di tengah-tengah kesusahannya, sementara istrinya tidak. Kini wanita itu lebih banyak diam setelah mengalami kelumpuhan sementara.


Dari tatapannya yang kosong seperti tengah melamunkan sesuatu, hingga membuat orang di sekitarnya merasa bahwa dia sering kali tidak berada di tempatnya. Lantas Ilyas pun berpikir, mungkinkah istrinya mempunyai penyakit baru?


“Nomor 32!”


Rahma mendongakkan kepala pada saat nomor antreannya dipanggil. Kemudian melakukan tanggungan pembayaran yang dibebankan kepadanya.


Beruntung Yudha telah memberikan kompensasi yang lebih dari cukup, sehingga ia tidak terlalu pontang-panting untuk mencari dana tambahan. Ya—meskipun tidak sebanyak seperti yang ibu sebutkan tempo lalu.


Kenyataannya, uang yang diminta itu malah digunakan untuk pengobatan beliau sendiri. Luar biasa skenario Tuhan itu berjalan, batin Rahma berpikir.


Menurut keterangan dokter, patah tulang kaki yang terjadi kepada orang dewasa akan membutuhkan waktu yang lebih lama daripada usia di bawahnya.


Rahma pasrah akan apa yang terjadi kepada ibunya. Mungkin selama beberapa bulan ke depan, dia akan menjadi orang yang paling sibuk: mengurus ibunya sekaligus menjadi tulang punggung keluarga. Karena hanya ialah satu-satunya yang mereka harapkan.

__ADS_1


Lusa, ia sudah mulai bekerja di salah satu perusahaan--masih di dalam kota ini, setelah beberapa hari lalu melakukan interview. Dia diterima sebagai seorang staf administrasi. Banyak harapan yang terselip dalam doanya di pekerjaan barunya nanti.


Setelah melakukan pembayaran, ia kemudian menuju ke farmasi untuk menebus obat-obatan. Mungkin tidak jauh beda seperti tadi, ia terlebih dahulu mengantre panjang dan lumayan membosankan.


Namun tak berselang lama, datang seorang lelaki dan mengaku mengenalinya.


“Kita dulu tetanggaan kali, Rah. Sedikit pun masa kau tidak mengenalku sama sekali. Sesekali kita juga bertemu di suatu tempat.” ujarnya sangat yakin. Dia mengambil tempat duduk tepat di sebelah Rahma.


“Ingat wajah ini, hey!” Pria itu berujar seraya menunjuk wajahnya sendiri. Memaksa Rahma untuk melihatnya dengan lamat.


“Benarkah begitu?” tanya Rahma mengingat-ingat pria di depannya dengan mata menyipit. “Ah, kamu salah orang kali.”


“Aku tidak sedang berbohong. Kalau berbohong, mana mungkin aku tahu namamu, nama ayahmu, nama ibumu. Ibu Nely, Pak Ilyas.”


Rahma menggeleng. Berusaha mengingat, tapi tak kunjung menemukan jawabannya. “Aku tidak mengingatnya sama sekali.”


“Aku Rio Permadi, teman sebangkumu juga waktu SD di Pelita Nusa.”


“Ya ampun, Rio,” ucap Rahma agak menyentak. Dia menatap tak percaya teman yang dulu pindah, sekarang sudah menjadi pria dewasa dan cukup menawan.


“Sudah mengingatku sekarang?” Rio kembali bertanya untuk memastikan.


“Di sini dengan siapa?” tanya mereka bersamaan sehingga keduanya tertawa lagi.


“Kamu dulu,” ucap Rahma mempersilakan.


“Tidak, kamu dulu saja.”


“Oh, iya baiklah.” Rahma kembali tersenyum. Sebahagia itu kembali bertemu kawan lama, puluhan tahun silam. “Aku ke sini dengan kedua orang tuaku. Tapi mereka menunggu di mobil,” katanya menjelaskan.


“Siapa yang sakit?” tanya Rio. “Kamu sakit?”


“Bukan ... ibuku yang sakit. Beliau cedera kaki kiri.”


“Jatuh?”


"Iya di aspal."


“Maksudmu kecelakaan kendaraan?”


Rahma mengangguk. "Ibu kurang hati-hati waktu menyeberang jalan. Kebetulan rumahku kan di pinggir jalan raya persis. Jadi ya--begitulah. Maklum ... beliau sudah tua."

__ADS_1


“Sabar, ya. Musibah memang bisa terjadi kapan pun. Sejatinya kita memang harus siap untuk menerima kenyataan, bahwa sewaktu-waktu Tuhan bisa memberi kita cobaan kapan saja. Tidak peduli rupa.”


“Thanks, Ri,” kata Rahma tersenyum. “Kalau kamu sendiri kenapa ada di sini?”


Rio tersenyum ironi. Tersenyum yang juga mengandung senyum banyak arti. “Menemani istriku. Dia sedang berjuang sakit kanker. Aku sedang menebus obatnya.”


“Ya Allah, Ri.” Rahma terkejut dan merasa iba.


"Cobaan berat sedang menimpaku."


“Kenapa bisa?”


“Aku tidak tahu.” Rio mengedikkan bahunya. Matanya menatap kosong serupa orang yang hampir putus asa. “Hampir habis apa yang aku miliki demi mengobatinya. Kemoterapi berulang kali, keluar masuk rumah sakit, belum lagi obat-obatan yang kami beli, tapi sampai sekarang belum ada hasil. Malah justru bertambah parah. Kondisinya makin hari semakin menurun.”


“Sabar, ya, Ri.” Hanya itu yang dapat Rahma katakan karena tidak bisa mengatakan hal lain.


Rio mengangguk. “Aku sudah pasrah, jika akhirnya Tuhan mengambilnya. Karena aku juga kasihan melihat dia terus kesakitan sepanjang hari.”


“Sudah lama istrimu begitu?”


“Paling parah setahun belakangan ini.”


Namun tampaknya perbincangan mereka harus terpotong, sebab seorang petugas memanggil nama pasien atas nama Nely Martiana.


“Sepertinya kita harus jeda dulu, Ri. Nama ibuku dipanggil,” ucap Rahma menatap lawan bicaranya.


“Ya, silakan.”


Tak ingin terputus begitu saja, Rio menyerahkan kartu namanya pada saat wanita itu hampir pergi.


Awalnya Rahma tidak terlalu peduli. Namun pada saat ia masuk ke dalam mobil, wanita itu membuka kembali dompetnya dan membaca nama tersebut hingga berusaha untuk mengingat-ingat masa kecilnya.


Kelak di kemudian hari mereka akan sering bertemu dalam keadaan yang sudah sama-sama sendiri.


***


TO BE CONTINUED.


Terima kasih untuk fans silver. Yeaaay! Tepuk pramuka!!!


__ADS_1


__ADS_2