TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Hari Pernikahan


__ADS_3

Bab 10.


 Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Begitulah yang dirasakan oleh Ros selama ini demi bisa menikah dengan laki-laki pujaannya.


Ros tidak mengerti. Mengapa jalinan perasaan cinta itu sangat aneh?


Sedemikian anehnya, cincin ini juga menyebabkan dia seperti mempunyai keterikatan khusus karena mampu membatasinya dari lelaki lain. Padahal, mereka belum melakukan tali ikatan yang sah di mata agama.


Ros pun membuka satu kotak kayu berisi surat-surat calon suaminya yang selama ini dia kumpulkan. Hasil tulisan tangan Haikal yang selalu dia rindukan sepanjang waktu. Yang setiap untaian katanya seperti puisi menyentuh relung hati. Dan oleh karena surat-surat inilah Ros merasa dirinya amat dekat kendati mereka berjauhan.


Wajar kalau dirinya terlalu mencintai, pria itu memang sangat istimewa baginya, terlepas dari bagaimana masa lalunya.


“Ros?” panggil Sang Bunda memasuki kamar pengantin.


“Iya, Bun...” Ros segera menutup kotak suratnya lagi.


“Kenapa rombongan keluarga suamimu belum sampai, ya? Ini sudah hampir jam sembilan,” kata Bunda sembari merebahkan diri di ranjang. Dari wajahnya—beliau tampak kelelahan karena semalam adalah malam bainai.  


“Mungkin nanti, Bun,” jawab Ros meraba-raba kemungkinan walau dia belum mengetahui secara pasti. Dia tidak ingin berburuk sangka karena dapat mengganggu pikiran orang tuanya.


“Seharusnya kalau jauh begini, calon pengantinnya di datangkan lebih awal. Kan, bisa menginap di sebelah. Jangan mendadak seperti ini biar kami tidak cemas.”


“Pasti datang, Bun. Sebentar lagi. Mereka kemarin bilang, kan, selain jauh, mereka juga sama-sama sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Bun lupa?”


Bunda terdiam, mungkin sedang memikirkan sesuatu. Tetapi beberapa saat kemudian dia bertanya lagi mengomentari riasan anaknya yang menurutnya terlalu tipis. “Sudah dandannya? Memangnya Cuma begini saja, ya, si dukun itu kasih riasan?”


“Ros yang minta jangan terlalu tebal. Nanti malah kelihatan jelek. Biar saja begini, natural. Tidak terlihat jadi orang lain.” Ros pikir, orang tua memang suka riasan tebal, ini sudah sering terjadi dan bukan bundanya saja.


“Eh, itu,” Bunda menajamkan telinganya, dia seperti mendengar deru suara mobil berhenti di depan rumahnya disertai riuhnya suara banyak orang, “apa kamu dengar suara ribut-ribut di luar?”


“Iya,” jawab Ros juga melakukan hal yang sama.


“Mungkin mereka sudah datang. Ya, sudah, Bun balik ke depan. Ingat, jangan keluar dulu sebelum diperintahkan.”

__ADS_1


Ros mengangguk. Dia berdiam diri saja di sana menunggu sampai seseorang datang menjemputnya.


‘Alhamdulillah Ya Allah, Kau pertemukan kami dalam keadaan sudah saling memantaskan diri. Dan karena-Mu jugalah, sehingga kami sampai ke dalam tahap ini.’


Sementara di luar, Haikal sudah di dudukkan depan calon mertuanya dan di apit oleh para saksi. Mereka duduk di bawah dengan posisi bersila yang di tengah-tengahnya terdapat meja kecil untuk tempat mahar berupa emas, uang dan seperangkat alat salat.


“Jangan sampai salah sebut nama, apalagi nama mantan,” Arok memperingatkan calon menantunya sehingga pria yang sedang tegang itu sontak tersenyum.


“Belum punya mantan. Semoga jangan sampai, karena sakit hati lebih ngilu daripada sakit gigi,” balas Haikal sekenanya.


“Apakah sudah berlatih sebelumnya saudara, Haikal?” penghulu bertanya.


“Sudah, Pak,” jawabnya dengan pasti.


“Baiklah kalau begitu, kita mulai, ya. Bismillahirrahmaanirrahiim....”


Acara pun berlanjut hingga tak berselang lama, Haikal berhasil mengucapkan akad dengan lantang dan dalam satu kali tarikan napas. Kata sah terucap dari bibir para saksi yang ada di sana.


Tak ke mana-mana dulu, Haikal justru terlebih dahulu bersujud untuk mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Tuhan. Dia merasa Allah begitu baik terhadapnya, karena tetap memberikannya pasangan yang baik meski dia begitu buruk. Decak kagum pun terdengar dari para penonton setelah melihat reaksi ini.


Senyum tak kunjung surut. Kegugupan pun kian bertambah saat mereka dibimbing untuk saling bersalaman, adegan cium kening, kemudian berlanjut mendoakan tepat di ubun-ubunnya. Ah, ternyata ... jatuh cinta seindah itu.


Acara berlangsung sampai sore hari. Sebab selain pesta dan makan besar, mereka juga mengadakan kajian ustaz ternama yang di undang langsung dari kota.


Namun tepat pukul empat sore setelah salat ashar, Kauman dan Dawiya berpamitan.


“Sepertinya kita harus pulang dulu, Ni,” ujar Dawiya kepada besannya. “Sudah sore, takut kemalaman.”


“Memangnya kalian tidak menginap?”


“Suami saya orang yang paling tidak bisa menginap.”


“Oh, ya, sudah kalau begitu.”

__ADS_1


Arok dan Beren pun menyuruh sanak-saudaranya untuk memasukkan oleh-oleh darinya ke dalam mobil mereka.


“Kita pulang dulu ya, Kal?” pamit Dawiya kepada putranya yang masih memakai baju putih pengantin.


“Iya, hati-hati.” Keduanya saling memeluk setelah Haikal mencium tangan ibundanya.


“Kalian cepatlah menyusul. Nanti Bundo suruh orang untuk melebarkan kamarmu biar lebih nyaman saat bertanding hehee,” bisik Dawiya membuat Haikal sontak melebarkan mata. Beruntung, tidak ada orang yang sampai mendengarnya.


“Canda, Nak. Jangan tegang gitulah. Cepat kasih Bundo cucu, ya. Kalau bisa yang perempuan. Tapi kalau belum bisa ya, buat lagi, buat terus.”


“Sudah, Bun, aku pusing.”


“Alah, pura-pura saja kamu. Bundo tahu kamu itu aslinya nakal.”


“Itu dulu, sekarang sudah berubah.”


Beralih ke samping, Dawiya kemudian memeluk menantunya. “Ini, nih, menantu kesayangan kita yang paling cantik, Yah,” dia menoleh kepada suaminya yang tengah membalas dengan anggukan dan senyuman.


Pun dengan Ros yang juga sama-sama tersenyum mendengar pujian tersebut. Kata orang, ibu mertua itu seram. Tetapi kenyataannya—mertuanya sangat penyayang. Berarti yang bilang mertua seram adalah mereka yang kurang beruntung.


“Bundo sama Ayah pergi dulu, ya. Kalian harus cepat menyusul pokoknya.”


“Insyaallah, Bun. Kami secepatnya menyusul,” jawab putranya.


Perbincangan ini menjadi ucapan paling terakhir sebelum mereka pergi bersamaan dengan rombongannya yang lain. Sangat banyak sampai beberapa mobil. Bisa dikatakan, ini adalah acara pernikahan terbesar dan termeriah di Beringin pada zamannya.


Usai keluarga Haikal pergi, pengantin baru itu pun masuk ke dalam rumah dan sempat kembali bergabung dengan keluarganya yang lain untuk menemani mereka berbincang.


Tentu saja demikian. Akan sangat aneh jika keduanya langsung masuk ke kamar di hari yang terbilang masih sangat sore ini. Meski mereka tak melakukan apa-apa, tetapi dugaan orang tentu berbeda bukan?


Pengantin baru, masuk kamar? ha? Apa yang akan mereka lakukan?


***

__ADS_1


Bersambung.


Next malam pertamanya nanti malam, takut pada batal puasanya baca yang romantis2. Ingetin aja kalau typo, ya. Aku gak terlalu fokus


__ADS_2