
“Hola, aku dataaang!” seru Dara di depan rumah. Mengagetkan Vita yang memang tengah menunggu kedatangannya.
“Datang-datang bukannya mengucapkan salam malah teriak-teriak,” jawab Vita, lalu melihat oleh-oleh yang dibawa oleh sahabatnya itu. “Apa yang kamu bawa itu, Dar?”
“Duren, duda keren.” Dara menenteng dua kantong plastik berisi duren tersebut dari motornya.
“Sempat-sempatnya bawa oleh-oleh seperti ini.”
“Itu buah dari halaman rumahku, kamu harus coba.”
Vita menerimanya dan mendahului masuk ke dalam rumah.
Sementara Dara, dia terlebih dulu mencuci tangan dan kakinya. Sudah menjadi semacam kebiasaan sejak kecil, seperti yang diajarkan oleh orang tuanya; untuk demikian jika masuk ke dalam rumah orang yang mempunyai bayi. Menurut kepercayaan—hal seperti ini dilakukan untuk mencegah energi negatif ikut masuk bersamanya. Yang tentu saja bisa membahayakan orang-orang yang ditemui.
Entah harus percaya atau tidak, sepertinya tidak ada salahnya mengikuti anjuran yang sebenarnya baik tersebut. Lagi pula mencuci tangan itu memang perlu agar tangan kita bersih dari kotoran—terlebih dia baru saja bepergian dari jarak jauh. Debu dan asap telah banyak menyentuh tubuhnya.
“Dingin sekali, brrrr,” ucap Dara masuk ke dalam rumah. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," Vita menjawab. “Memangnya aku boleh, ya, makan buah duren?”
“Yang tidak boleh itu makan kulitnya.”
“Izh!” cebik Vita. “Itu sih aku juga tempe! Dasar menyebalkan.”
“Tadi di luar sana ada banyak pemuda nakal. Mereka bilang banku kempes, tapi pas aku cek biasa saja,” keluh Dara saat dia sudah duduk di ruang tengah. Menatap Rayyan yang semenjak tadi bermain sendiri.
“Sudah biasa. Orang-orang itu yang dulu mencopet dompet Mas Yudha.”
“Oh itu sejarah yang pernah kamu ceritakan?”
Vita mengiyakan. “Tapi lain kali kalau dijahili oleh mereka, biarkan saja. Jangan percaya, jalan saja terus. Tidak usah dipedulikan. Justru kalau kamu berhenti malah berbahaya!” katanya agak tinggi di akhir kalimat.
“Terus dompet yang kecopetan itu balik lagi atau tidak?”
“Setahuku sampai sekarang belum. Ponselnya juga.”
“Jahatnya!”
“Untung mobilnya mogok. Kalau tidak mogok mungkin diambil juga sama mereka.”
“Eta terangkanlah!”
Vita tak kuasa menahan tawa. “Kamu tidur di sini saja ya, hari ini.”
Agak lama dara berpikir, sebelum kemudian dia menjawab dengan suara yang terdengar agak pasrah. Ya, bolehlah.”
Sebab ia betah berada di sini. Tempatnya menyenangkan!
“Izin dulu sama ibumu.”
__ADS_1
“Gampang nanti,” jawab Dara tak terlalu peduli. Dia justru sibuk bermain dengan Rayyan yang sedang aktif merespons setiap obrolannya. Dia memang suka di ajak bicara.
***
Yudha sedang menyiapkan semua berkasnya untuk diserahkan ke kantor sipil. Hampir semuanya telah terpenuhi, hanya tinggal tes kesehatan calon mempelai yang akan di lakukan di rumah sakit terdekat.
Untuk tempat, MUA, berikut dengan jasa katering dan lain-lain, semua dia serahkan kepada Uminya, karena beliaulah yang lebih tahu mengenai hal ini.
Beberapa hari ini, beliau sudah terlihat sangat sibuk sehingga jarang sekali di rumah, mau pun di ruko. Beruntung ada anak Bi Retno yang di datangkan dari kampung halamannya untuk bekerja di sini, agar ibunya tak terlalu kerepotan.
Sepertinya Vita dan Rayyan sudah harus Yudha jemput. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk menghubunginya terlebih dahulu.
“Ya, Mas? Ada apa?” jawabnya suara dari seberang begitu telepon tersambung.
“Persyaratan pernikahan kita sudah hampir terpenuhi, hanya tinggal tes kesehatan. Aku jemput kalian besok.”
“Secepat itukah?”
“Kenapa? Masih betah di sana?”
“Ada Dara di sini,” jawabnya terdengar agak berbisik.
“Dia sedang menginap di rumahmu?”
“Iya, sudah seminggu.”
“Betah sekali.”
“Kamu mau Dara terus ikut bersama kita?”
Yudha bertanya demikian agar dia bisa membantu segala sesuatunya. Namun itu pun tergantung Dara sendiri.
“Sudah aku bujuk, tapi ... panjang ceritanya.”
“Tidak usah kasih tahu dia aku ke sana sekarang. Mungkin dia masih betah.”
“Mas Yudha mau menyetir sendiri lagi?” tanya Vita terdengar agak khawatir. “Maksudku biar ada yang menggantikan kalau sewaktu-waktu Mas Yudha lagi mengantuk di jalan. Capek bolak-balik.”
“Memangnya boleh bawa orang lain?”
“Kenapa tidak boleh? Ya boleh, dong.”
“Baiklah, aku akan membawa seseorang untuk membantuku menyetir. Begitu ‘kan maumu?”
“Hu’um.”
“Sedang apa dia?” tanya Yudha bermaksud menanyakan putranya.
“Lagi main di depan rumah sama Dara. Dia sedang agak rewel.”
__ADS_1
“Dia merindukanku?”
“Hem.”
“Kalau ibunya?”
“Mungkin,” jawab Vita. Wanita itu memang cenderung lebih senang Yudha menemukan jawabannya sendiri. Sebab tidak ingin pria ini semakin percaya diri. Karena entah kenapa, demikian terlihat menyebalkan baginya. Tidak pantas pria tua seperti dia menjadi budak cinta!
“Kalau begitu, biar aku memang merindukanmu.”
“Ya ... ya sudah, aku tutup teleponnya. Aku banyak pekerjaan.”
“Kiss.”
“Apa!”
Yudha sontak menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Lekas-lekas tangannya mengusap-usap telinga yang langsung berdenging.
“Hanya minta kiss saja kamu langsung berteriak begitu?” tanya Yudha heran.
“Muah!”
Telepon langsung ditutup setelah Vita berucap demikian yang jelas terdengar sangat tidak ikhlas. Salahnya di mana?
Tetapi cukup menyenangkan. Hanya dia satu-satunya istri yang lebih menantang!
***
Keesokan harinya, Vita bangun lebih pagi untuk memasak banyak makanan. Dia juga mengerjakan semau pekerjaannya mulai dari mencuci pakaian, hingga membersihkan rumah, berikut kamar kosong yang nantinya akan ditempati oleh dua pria. Feeling-nya mengatakan, Yudha akan membawa Alif bersamanya. Ya, dia. Kalau bukan dia, lantas siapa lagi?
“Pagi sekali bangunnya, Bu?” tanya Dara sambil mengucek-ucek matanya. “Buset. Masih jam enam masakan sudah matang semua.” Gadis itu kaget pada saat melihat asap-asap makanan yang mengepul di meja.
“Ya barangkali kamu ingin sarapan lebih pagi,” jawab Vita menutupi. Dia tak ingin jika Dara pergi setelah mengetahui siapa yang akan datang. Bukan apa-apa, Dara memang selalu terlihat agak risik jika berdekatan dengan laki-laki. Terlebih lelaki itu adalah suaminya. Terbukti pada saat mereka di kontrakan sebelumnya.
“Bohong, ah. Masa sebanyak ini.” Dara curiga.
“Masa masaknya sedikit? Kan biar bisa dimakan siang.”
Dara mencoba mempercayai walau sesungguhnya ia tidak begitu yakin. Namun beberapa menit kemudian, kecurigaannya tak terbantahkan. Suara deru mobil yang berhenti membuat gadis itu menatap Vita dengan lirikan tajam.
“Kamu bohong.”
Vita hanya tersenyum, dia tidak bisa mengelak lagi kenyataan yang ada.
Bukan hanya itu saja yang membuat Dara dibohongi. Dia juga diberi kejutan dengan kedatangan Alif yang memesona sehingga dia seketika berteriak tertahan. “Oh, my, God!”
Pria itu mengetuk pintu. Terlihat dari pantulan kaca keduanya berpakaian sangat gagah.
Belum sampai keduanya masuk ke dalam rumah, wangi sudah menyebar ke seluruh penjuru. Benar-benar menggelitik imannya.
__ADS_1
“Barangkali kamu kangen,” ujar Vita tertawa kecil, lantas berlalu mendekati pintu.
“Aku dijebak,” Dara bergumam.