TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Hangatnya Selimut Tetangga


__ADS_3

Bab 5.


Niat hanya ingin pergi sebentar, Haikal malah ketiduran di tempat duduk panjang sampai pagi. Dia baru terbangun saat hari sudah menjelang pagi sebelum subuh—dan menyadari ada selembar selimut yang menutupi tubuhnya.


'Hmm... pantas saja aku merasa hangat dan nyenyak semalaman. Ternyata benar apa kata orang... kalau selimut tetangga—eh, selimut janda itu, memang nyaman.'


Tanpa pamit, pria itu pun gegas beranjak keluar dan kembali menyalakan obor. Berlari sekencang-kencangnya agar sampai di Beringin sebelum azan tiba. Hal ini dilakukannya demi menghindari Beren menyadari kepergiannya.


Karena berhadapan dengan Beren, serupa seperti berhadapan dengan seorang wartawan. Banyak sekali pertanyaannya!


Kurang lebih satu jam kemudian, akhirnya Haikal tiba di depan masjid. Dia terlebih dahulu mengambil air wudu di samping bangunan tersebut, sebelum kemudian masuk ke dalamnya sembari beristirahat sejenak sebelum orang-orang berdatangan. Napas pun masih terdengar memburu dari rongga dadanya karena terlalu lelah.


‘Sepertinya aku memang senang mempersulit diri. Tetapi kalau dipikir-pikir lagi, aku pasti akan rindu dengan tempat ini kalau aku pergi. Aku harap, aku bisa meninggalkan kenangan baik untuk mereka.’


Beberapa menit kemudian setelah napasnya kembali tenang, terdengar suara keran air yang berbunyi dan beberapa derap langkah kaki orang memasuki masjid. Azan subuh pun mulai di kumandangkan. Dan lagi-lagi dialah yang menjadi imamnya.


Usai hari mulai siang, dia pun merenung di dalam masjid. Tak menyangka bahwa dia mampu melakukan semua hal ini tanpa belajar dulu dari ahlinya. Pertanyaannya adalah, apa yang di ajarkannya selama ini adalah benar?


Entahlah.


Namun kelak di akhirat nanti, sang penulis bukulah yang akan Tuhan mintai pertanggung jawaban. Seberat-beratnya!


“Kenapa melamun, Ustaz Salman?” tanya suara yang dia kenal. Bang Arok. Dia mendekatinya dengan membawa segelas kopi hitam. Aroma yang menguar tiba-tiba membuat semangatnya mendadak bangkit lagi.


“Oh, tidak apa-apa, Bang. Aku hanya mengantuk, tapi sulit ditidurkan. Aneh, bukan?”


“Ngopi saja dulu,” Arok mendekatkan lagi kopi yang dia bawa. “Ini kopi asli belakang rumah yang saya tumbuk sendiri. Rasanya—beuh! Jangan ditanya lagi. Enaknya pol.”


“Terima kasih, Bang.” Terus-terang dia ingin memanggil dengan sebutan yang lebih tua. Sesuai dengan usia pria ini yang diperkirakan dua kali lipat dengannya. Tetapi tampaknya lidahnya sudah terbiasa dengan sebutan itu (bang). Akan kelu dan terdengar aneh jika tiba-tiba ia harus mengganti panggilan lain.


“Lagi rindu sama keluarga?” Arok bertanya lagi.


“Ya, sedikit.”


“Beren bilang Ustaz belum berkeluarga, apa itu betul?”


Haikal mengangguk.


“Calon juga belum punya?”


“Belum.”


“Putriku satu-satunya masih sendiri.”


Haikal langsung tersedak pada saat Arok menawarkan putrinya, ‘Eh, yang benar saja? Semudah itukah?’


“Maaf sebelumnya, kalau boleh jujur... saya hanya ingin putri saya menikah dengan orang yang benar, supaya ada yang membimbingnya. Selama ini, memang sudah banyak yang melamar, tapi saya tolak karena berbagai pertimbangan. Sekarang, saya sudah menemukan orang yang tepat. Tapi itu pun kalau Ustaz berkenan—karena putri saya, tampaknya menyukai Ustaz,” papar Arok panjang lebar.


Ada senyum yang Haikal sembunyikan. Semakin bangga karena orang lain pun menyadari bahwa Ros menyukainya. Tetapi, ada hal yang dia ragukan karena tampaknya—mereka mencintai sosok Ustaz Salman, bukan Haikal Al Fatir seorang pemuda berandal yang gemar membuat onar.


“Maafkan saya juga, Bang... tapi saya juga bukan orang baik. Saya takut Abang kecewa nanti kalau tahu semua kejelekan saya.”


Arok tersenyum. Lagi-lagi dia mengira bahwa dirinya sedang merendah. Padahal, apa yang baru saja di ucapkannya adalah sebuah kejujuran.


“Semua orang pernah mempunyai borok. Tapi saya pikir, Tuhan justru lebih mencintai orang yang rendah hati daripada alim tapi sombong dengan ilmu yang mereka miliki.”


Haikal tertegun. Ah, dia semakin tidak karuan dianggap demikian lantaran kenyataan ini sangat bertolak belakang dengan fakta sebenarnya.

__ADS_1


“Menikahlah dengan putriku. Ros berhasil kudidik jadi gadis yang baik dan penurut. Dia sangat cocok untuk mendampingimu berdakwah,” ujar Arok terdengar begitu berharap, “bawalah orang tuamu kemari setelah tugasmu selesai nanti.”


Haikal tidak mengiyakan, tetapi juga tak menolaknya. Justru dia meminta waktu selama beberapa lama untuk berpikir.


Keberuntungan terlihat di depan mata. Tetapi ia merasa tak pantas untuk menikmati kesempatan tersebut karena dia bukanlah Ustaz Salman seperti yang mereka kenal selama ini.


Hari berikutnya, mengaji pun dilanjutkan. Kali ini mereka menghafal bacaan-bacaan salat, mulai dari awal hingga akhir, berikut doa setelahnya.


Namun hari-hari berikutnya, tampak ada yang berbeda dari Rosyadah karena gadis itu sudah jarang terlihat lagi daripada sebelumnya yang lebih banyak memunculkan diri dan menebar pesona.


‘Apa aku ada salah dengannya?’ batinnya bertanya-tanya.


Terkadang, dia sengaja duduk di luar rumah agar bisa melihat gadis itu—karena biasanya, ada saja yang sengaja dilakukannya entah menyapu, mengepel, atau menjemur pakaian. Tetapi beberapa hari ini... sepertinya dia harus bisa menahan rindu.


Haikal sama sekali tidak tahu, bahwa sebenarnya Ros merasa tak punya muka lagi karena mendengar ayahnya telah menawarkan putrinya sendiri kepada Ustaz Salman. Lebih parahnya lagi, dia tak mendengar Ustaz Salman menjawab apa pun selain meminta waktu.


“Ini semua gara-gara Ayah!” rajuk Ros kepada Arok yang bingung menyikapi hal ini, “sekarang Ros jadi seperti tidak punya harga diri lagi. Mau ditaruh di mana mukaku ini, Ayah?”


“Bukan begitu, Nak... Ayah hanya ingin gerak cepat. Sebab setelah banyak yang tahu Ustaz Salman masih sendiri, semua gadis tengah mengincarnya.”


“Tapi tidak seperti itu juga caranya, Yah. Ayah pikir aku ini tidak laku lagi sampai ditawar-tawarkan sama orang lain?”


Arok menggaruk kepalanya. Memang paling susah itu membujuk anak perempuan. Kalau sudah ngambek seperti ini, ngalamat bakal celaka. Jangankan mau membantu bundanya, keluar kamar saja tidak mau!!


🌺🌺🌺


Keesokan harinya, Haikal kembali mengajar anak-anak mengaji. Tetapi hari ini dia sama sekali tidak fokus karena terus terpikirkan bundonya di rumah. Sedang apa wanita tua yang sudah sering sakit-sakitan itu?


Pun dengan Ayahnya, apa mereka sedang baik-baik saja?


Lalu teman-temannya yang lain?


‘Sepertinya aku harus pulang sebentar,’ batinnya menatap keluar jendela.


Usai mengajar, dia pun gegas kembali ke rumah Beren. Berpamitan kepadanya untuk pergi sebentar mengunjungi keluarganya.


“Oh, begitu? Ya sudah, kalau perasaanmu tidak enak kenapa harus ditahan-tahan? Keluarga juga penting,” jawab Beren sangat menyetujui keputusannya. “Mau pulang sendiri atau saya temani?” tawarnya kemudian.


“Eh, tidak usah. Kau cukup bantu aku untuk menyampaikan kabar ini ke RT setempat karena aku sedang terburu-buru.”


'Menemaniku? Hah? yang benar saja! Nant identitasku bisa terbongkar.'


“Baik, Ustaz, nanti aku bantu sampaikan ke mereka. Tapi omong-omong, kapan Ustaz balik ke sini lagi?”


“Lusa aku sudah tiba di sini. Tidak janji, tapi aku usahakan tepat waktu.”


Beren kembali mengangguk. Dia pun mengawasi pria muda yang selama beberapa hari ini tinggal di rumahnya berjalan menjauhi pekarangan. Di saat yang bersamaan, Ros pun keluar dan bertanya kepada adik kandung dari ayahnya tersebut.


“Ke mana Ustaz Salman, Om?”


Dia menyebutnya Om karena Beren tak mau dipanggil dengan sebutan lain karena dia masih cukup muda katanya.


“Mau pulang sebentar katanya. Kenapa? Takut kangen?”


“Bukan seperti itu, aku hanya ingin tahu saja....”


“Lusa alah kamari, tenang sajalah kamu.”

__ADS_1


“Apaan, sih, Om? Aku hanya bertanya!” cebiknya kesal.


“Semua orang juga tahu kamu suka sama dia.”


“Om!” nada ancaman mulai keluar. Beren pun cepat-cepat masuk ke dalam sebelum Ros mengeluarkan sungutnya.


Kurang lebih satu jam kemudian, Haikal pun sampai di depan rumahnya sendiri. Di sana, ayah dan bundonya sudah menunggunya di luar rumah.


“Ke mana saja kamu, Kal? Alah berhari-hari kau tak pulang-pulang. Bikin orang tua cemas saja kamu,” omel Sang Bundo sontak menjewer telinganya cukup keras.


“Aw ew, awww!” dia menjerit dengan gaya.


“Habis masuk pesantren kamu pakai-pakaian seperti ini?” tanya Ayahnya yang heran melihat penampilan barunya sekarang.


“Bukan Ayah... aku ini nyasar di Beringin. Jadilah seperti ini.”


“Mencuri lagi kamu, ha? Masuk penjara baru tahu.”


“Sudah tidak lagi ayah. Aku alah tobat.”


“Bagus kalau begitu. Pusing kami mendengarmu mencuri terus. Jangan-jangan ga nja juga, kamu?”


“Apa salahnya gan ja? Bukankah itu vegetarian?”


“Itu haram, Haikal!” kembali kupingnya menjadi korban bullyan bundonya.


“Aww. Sakit, Bundo... sakit....”


Haikal pun mengeluh. Baru saja sampai bukannya disambut baik dan diberi makanan-makanan enak, dia malah dimarahi habis oleh mereka berdua.


“Ayah tanya sama kamu, Kal. Kenapa kau inapkan Naya ke rumah nenekmu?” Bundo bertanya. Sontak hal ini membuat mata Haikal melebar. Dari mana beliau bisa tahu?


“Hah, kenapa kamu inapkan dia di sana?” beliau bertanya lagi.


“Sok jagoan pakai hajar-hajar Musfira segala. Kau tahu? Akibat dari perkelahianmu kemarin, rumah ini hampir dirajah sama teman-temannya, Haikallllll,” maki bundonya terdengar sangat geram. “Lain kali kalau ada apa-apa kamu tidak perlu ikut campur! Sudah begitu main kabur saja dari kami. Kamu pikir orang tuamu ini apa?”


“Aku kasihan sama Uni Naya, Bun. Bukannya sesama makhluk harus saling tolong-menolong?” kilah Haikal membela diri. Hanya di depan orang tuanyalah dia berubah menjadi kucing yang imut.


Dawiya menjawab, “Tapi nyawa kami jadi taruhan.”


“Terus Naya gimana?”


“Dasar anak durhaka. Bukannya orang tua yang kamu tanyakan kabarnya malah orang lain.”


“Bundo sama Ayah kan, terlihat baik-baik saja sekarang,” Haikal tidak mau kalah.


“Dia sudah pergi!” jawab Kauman.


“Pergi ke mana? Dia tidak punya tempat tinggal lagi.”


“Mana aku tahu? Carilah sendiri. Itu bukan urusan kami. Lagi pula rumah itu mau kami jual buat pindah rumah ke kota yang lebih aman. Kami masih ingin hidup,” ujar Ayahnya tak acuh.


Dawiya kembali berujar ketus, “Ini semua terjadi gara-gara kamu kelahi kemarin. Aku bingung kenapa aku punya anak yang begitu menyebalkan seperti ini? Kalau kamu tak berurusan dengan Musfira, pasti sekarang kita masih nyaman-nyaman saja tinggal.”


Namun Haikal tak mendengarkan apa katanya. Dia justru memikirkan nasib Naya sekarang. Ke mana dia pergi? Ah, kasihan sekali nasibnya.


****

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2