TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Romansa Pernikahan


__ADS_3

Bab 13.


Setelah dua hari berada di Beringin, akhirnya Haikal dan Ros jadi pindah ke kota meski sebelumnya dipenuhi oleh drama karena orang tuanya tak tega dia tinggalkan. Padahal kemarin, bunda sudah sangat setuju—tetapi kenapa hari ini, entah kenapa lain lagi?


Namun begitu, mereka tetap pergi menggunakan kendaraan umum dari Terminal menuju ke Pariaman.


“Kadang di dalam hidup, kita memang harus sedikit memaksa,” ucap Haikal saat mereka sedang berada di perjalanan, membicarakan bunda yang masih saja menangis saat ditinggalkan. “Mungkin awalnya mereka akan sedih, tapi aku yakin lama-lama mereka pasti akan terbiasa.”


“Bunda memang seperti itu, sebab beliau tidak pernah pisah dari aku.” Ros menoleh, menatap suaminya, “Tolong maafkan bunda, ya.”


“Kau tenang saja, nanti kita akan sering-sering berkunjung ke sana. Kupikir dari sini ke Pariaman sudah tidak terlalu jauh lagi seperti dulu. Sekarang jalannya sudah semakin mudah.”


Ros mengangguk, wanita itu menaruh kepalanya di pundak suaminya dan lantas dibalas dengan kecupan lembut dikepalanya.


“Kalau mengantuk tidurlah, nanti aku bangunkan kalau sudah sampai.”


Ros mengiyakan, hingga tak berapa lama, pundak Haikal mulai terasa berat. Pertanda bahwa wanita itu benar-benar pulas di bahunya.


Pria itu tersenyum menatap jalanan indah yang mereka lewati. Tak henti-hentinya dia mengucap syukur atas anugerah yang diberikan kepadanya oleh karena yang satu ini. Berduaan di dalam bus dengan wanita yang dicintainya. Dalam ikatan yang halal.


Beberapa puluh menit kemudian, bus sudah mulai memasuki kota. Haikal membangunkan Ros agar dia terlebih dahulu bersiap-siap sebelum bus berhenti.


“Di mana saja barang-barangmu?”


“Hanya ada di sini,” tunjuknya ke bawah mereka duduk.


“Biar aku ambil.”


Bus berhenti. Keduanya turun dan berjalan kaki sedikit memasuki sekumpulan perumahan, kemudian berhenti di rumah paling ujung yang berdiri paling megah di antara yang lain.


“Yuk, masuk!” titah Haikal.


“Ayah sama Bundo di mana?” tanya Ros mencari-cari keberadaan mereka yang tak terlihat.


“Mereka jarang di rumah kalau siang. Biasa, di luar.” Haikal mengajaknya ke salah satu kamar yang ada di sana, “Ini kamarku. Kamar kita berdua maksudku.”


Sontak Ros duduk, kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang untuk meluruskan otot-ototnya. “Aku masih ngantuk ....”

__ADS_1


“Istirahatlah, aku mau mandi dulu,” ujar Haikal melepaskan pakaian atasnya. Namun bukannya masuk ke dalam kamar mandi, pria itu malah ikut berbaring di sampingnya. Ros pun pasrah pada saat dia meminta haknya di siang hari seperti ini—karena dia pun menyukainya.


Duh! Seperti inilah kelakuan manten baru. Terlebih keadaannya juga sangatlah mendukung. Sepi.


Sore harinya—pada saat hari sudah mulai petang, akhirnya Kauman dan Dawiya pulang ke rumah. Sontak ia terkejut pada saat melihat kedua anaknya sudah berada di sana.


“Eh, ya ampun, anak kita sudah pulang, Yah!” pekik Dawiya memeluk kedua anaknya secara bersamaan. “Sampai jam berapa kalian?”


“Kami sampai tadi pagi, Bun...” jawab Ros.


“Alhamdulillah,” ujar Kauman melihat keduanya, apalagi pada saat melihat meja sudah terisi masakan. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Beliau pun menarik kursi dan segera menyendokkan nasi. “Ini, nih, kalau punya anak perempuan. Pulang sudah ada makanan. Beda sama anak laki. Boro-boro masak. Dia yang di rumah malah kita yang diteriaki katanya panci kosong.”


Haikal hanya nyengir lebar mendapati pengakuan ayahnya barusan.


“Bundo rasa semua laki-laki seperti itu. Termasuk kau juga,” cebik istrinya membuat Kauman melirik tajam, namun tetap lahap menyantap makan sorenya karena perutnya sudah keroncongan.


“Terima kasih ya, Ros. Sudah dimasakkin, jadi Ayah bisa langsung makan.”


“Sama-sama, Bun....”


“Rumah ini cukup besar, Ros. Mungkin Bundo memang jarang membersihkannya karena sibuk. Jadi jangan kaget, ya. Harap maklum,” kata Dawiya memberitahu menantunya, “tapi besok-besok, karena rumah ini sudah tambah anggota baru, insyaallah Bundo mau memperkerjakan orang buat bantu-bantu.”


“Padahal Ros bisa mengerjakannya—”


“Eh, jangan!” sela Dawiya, “aku punya menantu untuk menemani anakku, bukan untuk menjadi pengurus rumah. Seperti tadi, kamu memasak. Bundo senang kamu bisa melakukannya. Tapi kalau tidak bisa—biasalah, perempuan pasti banyak halangannya. Kita bisa beli saja. Kan, banyak penjual makanan di depan.”


Ros hanya tersenyum. Mengagumi sosok perempuan di depannya ini yang tampak begitu baik.


“Untuk selama beberapa hari ini, Haikal mungkin belum bisa menafkahimu karena dia masih pengangguran. Kalau nanti butuh apa-apa, tinggal bilang sama Bunda. Biar kami yang bertanggung jawab.”


“Iya, tidak apa-apa, Bun. Toh, Ros juga belum punya kebutuhan yang mendesak.”


“Jangan kaget nanti sama anakku. Haikal selain kurang peka, dia juga keras kepala dan punya pikiran yang cukup membingungkan. Jadi tahan-tahanlah.”


Ros terkekeh, dia menyadari suaminya memang aneh dan membingungkan. Namun begitu, dia tetap merasa beruntung. Sebab jika tidak demikian, mereka tidak akan pernah bertemu.


Ros pun menceritakan awal pertemuan mereka. Saat Haikal ditodong jadi ustaz sehingga dia akhirnya berpura-pura dan terjebak dengan permainannya sendiri.

__ADS_1


“Kalau di ingat-ingat itu lucu, ya.”


“Iya, Bun. Selama berhari-hari itu, dia berusaha keras untuk bisa menghafal semua bacaan atau materi yang akan disampaikan besoknya. Begitu terus sampai berhari-hari. Mungkin pusing, tapi dirasakan sendiri sampai selesai. Dia memang aneh.”


“Dia memang senang menyulitkan diri. Padahal nasibnya pun belum tentu baik. Memangnya kamu tidak curiga waktu itu?”


“Tidak terlalu kentara kalau dia bohong. Di mata kami, dia terlihat sangat sungguh-sungguh sampai tidak ada yang sadar kalau dia itu sebenarnya ustaz gadungan. Tapi, yang bikin Omku jadi kesel, dulu dia sangat judes dan menyebalkan.”


“Memang betul!” ujar Dawiya begitu bersemangat merumpikan anaknya sambil mengunyah camilan. Beliau sangat senang karena akhirnya bisa punya teman ghibah yang satu frekuensi dengannya. “Bisa dia ngomong depan umum?”


“Bisa, Bun. Lancar malah, suka bercanda orangnya.”


“Bisa tahu kalau dia bohong itu bagaimana ceritanya?”


Lantas Ros menjelaskan, beberapa hari sebelum Haikal datang—ada Pak RT yang datang ke rumah dan menyampaikan; bahwa pandai agama yang dikirim pemerintah itu memang batal datang ke Beringin.


“Sebenarnya waktu itu kami sudah tahu semuanya. Terus terang, Ayah sempat kecewa sekali. Tapi menunggu Haikal mengakuinya sendiri.”


“Bohong atau tidak, katanya dia tidak sampai dimarahi?”


“Tidak, Bun. Meski Ayahku orangnya tegas, beliau bukan tipe orang yang pemarah. Tapi karena berani jujur, beliau jadi semakin yakin bahwa Haikal memang orang yang bertanggung jawab.”


“Mudah-mudahan ke depannya jangan jadi pencuri lagi. Kalau begitu lagi, jangan kasih kesempatan dia masuk rumah! Suruh saja dia tidur di kolong jembatan.”


Ros pun tertawa karena ucapan beliau. Dan di saat yang bersamaan, tersangka datang untuk berkomentar, “Ya ampun, lagi pada omongin apa? Telingaku panas.”


“Biasa... sehari saja perempuan tidak ghibah, bisa gatal-gata mulutnya,” sahut Kauman terdengar sengit.


“Alah, Ayah juga tadi omongin Bundo, kok,” balas Haikal mengadu domba dan mengacaukan keadaan.


“Mau tidur di luar?” ancam Dawiya.


“Tuh, kan? Aku bilang apa? Perempuan memang selalu benar.” Kauman merentangkan tangan dan sedikit mengedikkan bahunya sehingga semua tergelak tawa.


Ke empatnya adalah keluarga yang utuh dan bahagia. Apalagi selang beberapa lama dari bulan tersebut, Ros dicurigai sudah mulai mengandung. Ditandai tingkah anehnya setiap pagi, yakni ciri-ciri morning sick yang biasa dialami oleh orang yang hamil muda.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2