
“Aku kira kamu tidak datang, Dar. Dari semalam, kamu tidak bisa kuhubungi. Pesan yang kukirim juga tidak kamu balas,” ucap Vita. Keduanya masih berada di tempat yang tadi.
Dara segera menjawab dengan raut wajah tidak enak hati. “Sorry, Ta. Di sana susah sinyal. Jadi mungkin pesanmu mengangkut di pohon kelapa.”
Vita tertawa kecil ada-ada saja istilahnya. Entah benar atau tidak, tapi Vita tidak ingin menanyakan lebih jelasnya seperti apa.
“Dara datang sama siapa saja?” tanya Vita lagi. Akhirnya, kedua wanita itu pun turun dari pelaminan untuk menemui keluarga Dara. Meski masih ada satu dua orang yang datang, Vita tetap memutuskan untuk turun meninggalkan suaminya. “Mas, aku pergi dulu,” pamitnya yang sontak diangguki oleh pria itu.
“Satu keluarga. Sama Mas Candra, juga,” jawab Dara tak lama berselang.
“Chandra?” Vita mengernyit. “Siapa Chandra?”
“Chandra ... tunanganku.”
Vita sangat terkejut mendengar kabar ini. Tentu saja dia kecewa karena bukan dengan Alif, seperti yang dia harapkan agar keduanya tetap bisa bersama.
“Serius? Hanya beberapa hari saja kita pisah kamu sudah bertunangan?”
Dara mengangguk. “Panjang ceritanya.”
Jika Vita saja merasa ngilu mendengarnya. Lalu bagaimana dengan Alif? Vita tahu belakangan ini mereka agak dekat dan sudah saling bertukar nomor. Namun kenapa bisa secepat ini Dara bertunangan dengan pria lain? Memangnya gadis ini tidak mempunyai perasaan lebih kepada adik iparnya?
Keduanya kini berjalan untuk mendekati keluarga Dara. Ingin bertemu.
“Bu ....” Dara menepuk punggung seorang wanita yang Vita duga ibunya. Beliau berdiri membelakangi karena sedang berbicara dengan anggota keluarganya yang lain.
“Ini Vita,” ucap Dara begitu ibunya menoleh.
“Eh, masyallah,” ujarnya antusias, “cantiknya temanmu ini, Dar?”
Vita tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya. Namun bukannya menyambut, wanita yang berwajah teduh tersebut malah justru memeluknya dengan erat.
“Seharusnya kami naik ke atas, tapi ini malah pengantinnya yang turun menemui kami.”
“Tidak apa-apa, Bu. Aku memang sudah ada niatan turun karena sudah pegal karena terlalu lama berdiri.”
“Terima kasih ya, Nduk. Sudah mau berteman dengan anak kami. Semoga senang bersaudara dengan kami, ya, Nduk. Maafkan kalau Dara banyak merepotkanmu selama ini. Dara sering menceritakanmu, Nduk. Katanya dia sering pinjam uangmu kalau sedang terdesak,” ucapnya panjang lebar dengan mata berkilauan. Belum selesai sampai di situ saja, beliau kembali menambahkan, “Semoga pernikahanmu langgeng, sakinah, mawadah, warrahmah, dan selalu diberkahi oleh Allah....”
Keduanya merenggangkan pelukan. Kemudian Vita menjawab, “Terima kasih doanya, Bu. Dara tidak pernah menyusahkanku, justru aku yang sering merepotkannya.”
Dara hanya tersenyum, dia juga merasa terharu. Kemudian, Vita juga dikenalkan kepada ayah Dara, adiknya, hingga calon suaminya yang diperkirakan terlihat lebih dewasa dari Dara.
“Mana bayimu, Nduk?” tanya ibu Dara.
“Ada sama Umi mertua.” Vita menunjukkan sekumpulan keluarga yang sedang berbincang dengan para tamu-tamunya.
__ADS_1
“Oh, di sana. Sehat-sehat, ya, Nduk. Ibu tidak bisa ke sana sekarang, masih banyak tamu di sekelilingnya. Kami tidak enak kalau harus memotong obrolan mereka. Sebaiknya nanti saja menunggu mereka selesai mengobrol.”
“Iya, Bu, tidak apa-apa,” jawab Vita kemudian beralih kepada Dara yang sedang berbicara dengan tunangannya. “Dar, sudah pada ambil makanan belum?”
“Oh, iya nanti, Ta. Santai.”
Pada suatu kesempatan saat perbincangan mereka sudah selesai dan keluarga Dara berpencar untuk mengambil hidangan, Vita kembali menanyakan suatu hal yang menurutnya terasa aneh.
“Kamu benar-benar gila, Dara. Tanpa angin tanpa hujan tahu-tahu sudah bertunangan. Bukannya kamu bilang akan melanjutkan pendidikanmu waktu itu?”
Belum sempat menjawab, tiba-tiba terdengar tangisan bayi dan membuat Vita sontak mencari sumber suara.
“Anakmu menangis, Ta,” kata Dara memusatkan perhatiannya kepada bayi yang sedang berada di gendongan Umi Ros.
“Unch ... Sayang, Sayang. Mau nen?” Umi Ros terlihat kepayahan saat menenangkan cucunya. “Kejer dia, Bah.”
“Berisik di sini, mungkin butuh ruangan yang tenang,” jawab Abah menanggapinya.
“Tambah keras dia.”
“Itu Mamanya,” ucap Abah seraya menunjuk menantunya yang sedang berjalan cepat ke arah mereka.
“Kenapa nangis?” tanya Vita begitu sampai.
“Rewel, sepertinya mau tidur, tapi berisik.” Umi Ros memindahkan tubuh kecil Ray kepada induknya. “Sebaiknya Vita ke atas saja sekarang, gih. Ratih, temani Mbak Vita, ya. Bantu lepas aksesorinya,” titah beliau kepada gadis yang masih berusia delapan belas tahunan tersebut.
“Tidak apa-apa, jangan khawatir. Masih ada Yudha di bawah. Yang penting cucu Umi dulu ya, Nak.”
Vita mengangguk, kemudian beralih kepada sahabatnya yang tengah menunggu, “Dar, aku ke atas dulu, ya.”
“Oh, iya. Mangga, Ta.”
Begitu Umi Ros mendengar nama Dara, beliau langsung memusatkan perhatiannya dan bertanya, “Ini yang namanya Dara?”
“Iya, Umi ...,” jawab Dara malu-malu. Tidak menyangka bahwa dirinya sudah dikenal di keluarga ini.
“Aktifkan nomormu, ya, Dar,” ucap Vita sebelum akhirnya dia naik ke atas bersama Ratih. Mereka menuju ke kamar yang sudah dipesan oleh Yudha semenjak semalam.
“Selalu!” Dara menjawab.
“Dara datang sama siapa?” tanya Umi Ros lagi.
Sepertinya percakapan ini akan berlanjut, batin Dara menduga.
“Datang sama keluarga, Umi.”
__ADS_1
“Kenalkan, ini Abahnya anak-anak.”
“Salam kenal, Abah. Saya Dara, temannya Vita.” Dara menyatukan kedua telapak tangannya. Seperti seharusnya orang-orang muslim bersalaman.
Abah Haikal hanya tersenyum dan mengangguk. Beliau terlihat sangat berwibawa. Dara sampai kagum dibuatnya.
“Sudah ketemu sama Alif?” Umi bertanya lagi. “Duduk, Nak. Biar lebih enak mengobrolnya.”
Dara merasa begitu dihargai. Ternyata keluarga ini sangat ramah dan terbuka kepada siapa pun. Mereka memandang sama setiap orang. Tidak seperti orang-orang kaya kebanyakan yang sering kali gila jabatan hingga lupa akan daratan.
“Dara tadi melihat Alif, tapi sepertinya dia keluar gedung,” Dara menjawab.
“Kalian sudah mengenal lama, ya?” Beliau memang dikenal bukan orang tua yang suka berbasa-basi.
“Ehm, iya, Umi. Lumayan. Semenjak Vita lagi hamil lima bulan sepertinya kalau Dara tidak salah.”
Umi bertanya lagi, “Apa Alif pernah bilang suka sama Dara?”
“Hah?” Dara terkejut sehingga dia melebarkan matanya. “Tidak pernah, Umi.” Gadis itu segera menggeleng. “Kalau musuhan sih iya,” ujarnya mengakui dan sontak membuat Umi dan Abah tergelak.
“Maafkan Alif ya, Nak. Alif memang sifatnya seperti itu. Dua anak beda-beda sifatnya. Kalau Abangnya ramah, baik hati, tapi kalau adiknya ya—seperti yang Dara kenal selama ini. Lain daripada yang lain. Tapi dia itu sebenarnya sayang keluarga juga.”
Dara mengangguk mengerti.
“Tapi sejauh ini kalian dekat?”
“Tidak terlalu juga, Mi. Sekadar kenal saja.” Dara menjawab sejujurnya. Sejauh ini yang Dara tahu, Alif masih berhubungan dengan Andari dan juga perempuan lainnya sehingga dia bisa mengatakan bahwa pria itu ‘playboy cap kampak’.
Belum sampai ke mana-mana pembicaraan mereka, keluarga Dara datang dan saling memperkenalkan diri. Alhasil, pembicaraan terpotong begitu saja.
“Terima kasih, ya. Sudah mau datang jauh-jauh ke sini,” ucap Umi yang saat ini sedang berkenalan dengan ibunda Dara.
“Tidak apa-apa, sekalian katanya si Adek, mau lihat Jakarta itu seperti apa,” jawab Ibu Dara sambil menunjukkan putra keduanya yang masih kecil.
“Nah, kalau ini siapa?” tanya Umi Ros pada pria yang berdiri sejajar dengan Dara saat ini. “Anak pertama?” ujarnya menebak-nebak. Beliau tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa dialah penyebab Alif patah hati.
“Ya, rencananya sih begitu. Doakan ya, Umi,” jawab Ibu Dara tersenyum kemudian menambahkan, “calon menantu.”
Senyum Umi Ros langsung memudar. Beliau bahkan telah mengantongi cincin yang sudah Alif berikan semenjak semalam. Mungkin inilah penyebab yang membuat putra keduanya menghindar dari tempat pelaminan.
***
To be continued.
Vote untuk malam pertama setelah ini ya.
__ADS_1