
11.
Dara baru saja menutup panggilan setelah menghubungi Ibunya, Ratna. Wanita itu menoleh kepada suaminya dengan bibir yang mengerucut lantaran tak senang dengan kabar yang baru saja diterimanya. Tak sesuai harapan.
“Kenapa, Buuu?” kekeh Alif melihat istrinya demikian, “burung Dara.”
“Mereka mau ke sini, tapi Cuma hadir jadi tamu saja. Soalnya Razka menolak ikut, dia mau mendaki sama teman-temannya ke gunung. Huh, ternyata lebih penting teman-temannya daripada kakak sama calon keponakannya sendiri,” keluhnya dengan melipat tangan. “Awas saja kalau minta duit, tak pites kepalanya. Memangnya main sama teman-temannya bisa keluar duit, ha?” perempuan itu terus menggerutu, sebab Dara sangat merindukannya.
“Pergi sama teman-temannya ke mana?” tanya Alif.
“Butuh healing ke pegunungan.”
“Ya iyalah, di sini mana ada tempat yang sejuk, bagus. Orang kota saja pelariannya ke Puncak,” kata Alif bukan bermaksud membela adiknya, namun mencoba memosisikan diri menjadi Razka. “Akhir semester memang butuh healing setelah berpikir keras menghadapi ujian. Rata-rata ya, ke pegunungan. Kalau masuk kota malah tambah suntuk. Aku pun ingin naik motor trail ke bukit, tapi sayang, sekarang belum bisa. Harus jaga istrinya.”
Dara duduk di atas pangkuan Alif dan bermanja-manja di atas sana, bermaksud untuk merayu agar di izinkan pulang sejenak, “Aku kangen sama mereka. Kita kan jarang pulang ke Semarang. Aku ketemu sama mereka dua bulan lalu.”
“Kamu mau pulang?” tanya Alif menawarkan. Hal yang sangat di tunggu-tunggunya.
Dara mengangguk. Dalam hati ia bersorak karena kali ini sepertinya dia mendapatkan sinyal bagus.
“Baiklah, kita akan ke sana minggu depan. Sambil bulan madu.”
Dara langsung menyela, “Bulan madu saja teruuuus, no libur-libur club.”
Alif menaik-naikkan alisnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Baginya, selama ada waktu bersama istri, ia akan gunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Bersenang-senang, bercanda, hingga sering kali berakhir panas.
Jatuh cinta tidak dilarang, dan dia telah merasakannya selama beberapa kali saat remaja. Juga sudah sering menjalani hubungan pacaran diam-diam tanpa sepengetahuan orang tuanya untuk menjaga nama baik mereka.
Namun untuk lebih intens atau bersentuhan secara fisik, baru dia rasakan sekarang saat bersama Dara dan hanya kepada wanita inilah dia menyalurkan syahwatnya.
Ternyata benar apa kata orang-orang, pacaran setelah menikah itu lebih indah—seperti apa yang dia rasakan saat ini, meski caranya untuk mendapatkan Dara benar-benar sangat antimainstream. Yakni down payment sebelum membeli.
Keesokan harinya, Umi Ros, Vita, beserta orang-orang rumah mulai mempersiapkan acara untuk nanti sore. Semua sibuk berlalu lalang, ada yang membuat makanan, menyingkirkan barang-barang yang sekiranya mengganggu, memasang backdrop, juga menghubungi orang-orang tersayang, memintanya untuk hadir di acara ini. Beruntung rumah ini dan halamannya sangat luas, sehingga diperkirakan cukup untuk menampung semua tamu, tanpa perlu menambah tenda tambahan.
“Umi?” panggil Vita membuat wanita paruh baya itu berhenti melintas, “Umi masak juga di belakang? Bukannya kita sudah pesan semuanya jasa katering?” dia heran karena ibu mertuanya tersebut terlihat setengah keder. Bolak-balik seperti setrika. Umurnya memang sudah tua, tapi kalau soal tenaga, beuhh. Jangan ditanya.
__ADS_1
“Umi hanya bikin kue-kue basah saja untuk tambahan. Takut kurang, Nak. Tamunya banyak. Abah mau mengundang teman-temannya sekalian katanya. Semenjak pandemi, para bapak-bapak lanjut usia jarang kumpul, jadi mau kumpul di sini,” jelas Umi Ros membuat Vita mengangguk-anggukkan kepala.
Abah memang sering mengundang teman-teman sesama hajinya di taman belakang rumah. Banyak aktivitas yang dilakukan di sana selain menikmati udara segar. Sebab rumah ini tak hanya difasilitasi dengan taman yang luas di kolam ikan besar, namun juga lapangan badminton ala kadarnya dan juga peralatan panahan.
Umi dan Abah memang sengaja menyediakan fasilitas lengkap seperti ini agar cucu-cucu mereka nanti betah bermain di rumah tanpa harus kelayapan di luar mencari tempat bermain.
Sementara Dara sendiri sedang di kamar, mencoba belajar mengenakan hijab persegi panjang. Untuk persiapan nanti sore dan rencananya akan ia pakai seterusnya. Entah mendapat ilham dari mana, yang jelas, dia ingin berhijab. Karena selain kewajiban, berhijab itu ternyata cantik dilihat, bisa mengeluarkan aura positif, juga terlindungi dari fitnah dan berbagai kejahatan dunia.
“Ini gimana sih, pakainya?” gumamnya, kemudian melepas lagi. Dia sudah melipatnya dengan benar, namun pada saat di pakai, ada saja yang menekuk di bagian depannya sehingga terlihat tak nyaman dilihat.
“Tuh kan, gini lagi. Bete ah, lama-lama.” Akhirnya Dara menyerah, dia memilih untuk meletakkannya di atas ranjang. Padahal dia sudah melihat tutorial cara memakai hijab persegi panjang di youtube dan kelihatan mudah. Tapi pas dicoba, ternyata susah juga.
“Si Pitut di mana, ya? Apa dia sedang sibuk?” dia bergumam sambil melihat-lihat dari celah pintu. Namun hanya ada si kembar yang sedang bermain lego di ruang tengah. Tak ada Rayyan bersama mereka karena anak itu sedang pergi les bersama papanya.
Dara keluar dengan membawa beberapa hijabnya untuk meminta diajari memakai kain itu oleh Vita.
“Hai anak-anak ganteng, cantik, Mama hot kalian mana?”
“Mama lagi ambil susu, Umal sama Moja lapel,” jawab Umar.
“Ah, kamu mah memang kerjaannya makan melulu, makanya gendut.”
“Onti bawa hijab, mau belajar sama Mama kamu, cewe kecil.”
“Moja mau pinyam,” anak itu menunjukkan dua jarinya.
“Kenapa harus dua?” kekeh Dara. “Satu aja ya, Cantik ....”
“Hu’um.”
Dara menyerahkannya yang ternyata malah dipakai Mauza untuk melilit tubuhnya yang mungil.
“Patai gaun.”
Lagi-lagi Dara terkekeh untuk meledeknya. “Pete gaun?”
__ADS_1
“Patai gaun,” kata Mauza lagi memperjelas meski tetap terdengar sama di telinganya.
“Mana ada gaun pete?”
“Ontinya ndak dengel,” gerutu Mauza.
Hingga tak berapa lama, Vita keluar dari kamar dengan membawa dua botol susu di tangannya. “Dar...” sapa wanita itu.
Dara sontak bertanya, “Apa kamu sibuk?”
“Tidak terlalu, memangnya ada apa?”
“Hehee ... ajari aku pakai ini.” Dara menunjukkan barang yang dibawanya dari kamar.
“Eh, kamu mau pakai hijab?” tanya Vita antusias. Raut wajahnya berubah sangat senang.
Dara mengangguk malu-malu.
“Alhamdulillah ... aku senang kamu mau pakai itu. Semoga Istiqamah ya.” Perempuan itu duduk di sebelah Dara dan memanggil kedua anaknya untuk minum susu sendiri. Barulah kemudian dia mengajarkan Dara cara memakai hijab paling mudah untuk pemula.
Vita tersenyum melihat hasil kerjanya. Dara terlihat lebih anggun dengan penampilan barunya sekarang. Dalam hatinya ia sangat bersyukur dengan perubahan positif adiknya ini.
Ternyata benar pergaulan sangatlah mempengaruhi. Rasul pernah berwasiat, “Jika kita berteman atau bergaul dengan penjual minyak wangi, mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya.”
Seperti dirinya yang dulu. Jika saja ia tak menikah dengan Yudha dan bertemu keluarga ini, dia tak yakin akan bisa menjadi seperti sekarang pemahaman agamanya.
“Oh, begini, ya. Simpel. Kok tadi aku lihat video malah ribet,” kata Dara melihat dirinya dari pantulan cermin. Dan tepat pada saat itu juga, Alif naik untuk menghampiri. Lelaki itu terkekeh melihat penampilan baru istrinya.
“Hajjah Bu—rung Dara,” ujarnya terdengar menyebalkan di telinga Dara. Membuat wanita itu sontak kesal.
“Ih, sebeeeel!” wanita itu berlari mencubit suaminya, “kamu ngejek aku, ya?”
“Om sama Onti main kejal-kejalan,” gumam Si kembar seketika mencabut dot susunya.
“Om pacalan ya?” tanya Umar kepada Mauza.
__ADS_1
“Sst,” Vita menghentikan mereka, “minum lagi susunya, Habiskan.”
Dara... Alif, kalian membuat mata anak-anakku ternodai!!