TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Kamu Benci Melihatku?


__ADS_3

25.


Banyak segala jenis pemeriksaan yang sudah Rio jalani selama beberapa hari ini di rumah sakit Singapura. Kini dia baru saja menjalani tahapan pemeriksaan MRI scan setelah sebelumnya dia menjalani tes darah, CT scan dan PET scan. Ia akan menjalani pemeriksaan lanjutan setelah hasil pemeriksaan sebelumnya keluar. Tentu masih banyak tahapan yang harus ia lewati yang rasanya sangat menyiksa dirinya.


“Sudah berapa hari kita di sini, Hans?” tanya Rio kepada orang yang selama ini mendampinginya.


“Satu minggu, Pak,” jawab Hans.


“Kenapa lama sekali? Apa dunia sudah berhenti berputar?”


Hans tersenyum. Dia sangat paham, pasti Rio sudah bosan melihat atap rumah sakit yang selalu menjadi pemandangannya setiap hari.


“Tidak juga, Pak. Mungkin karena Bapak terlalu memikirkannya, jadi merasa hari-hari jadi lebih lama. Coba kalau Bapak tidak memikirkan terus-menerus, waktu bisa terasa lebih singkat,” kata Hans mencoba memberikan saran.


“Seharusnya begitu, tapi dengan sendirinya pikiran ini tidak mau lepas dari keluarga yang aku tinggalkan,” kata Rio selanjutnya.


“Saya sangat memaklumi, Pak. Apalagi... Bapak masih punya anak yang masih kecil-kecil sekarang. Karna itu juga yang sedang saya rasakan.”


“Apa hanya anak saja yang kamu rindukan?” tanya Rio keheranan.


Hans kembali tersenyum. “Kalau ibunya, tentu saja tidak perlu ditanyakan lagi, Pak. Karena itu sudah pasti.”


“Apa istrimu baik?”


Hans menggaruk tengkuknya mendapati pertanyaan Rio yang sedemikian aneh ini. Tetapi dia tidak punya pilihan lain, selain menjawabnya. “Tentu saja baik, Pak. Semua istri itu baik.”


Jawaban Hans membuat Rio bertambah heran, “Kenapa kamu berkata begitu?”


“Hmmm, sederhananya seperti ini, Pak. Dia itu bukan siapa-siapa kita, dia hanya seseorang yang ibaratnya kita temukan di jalan yang kemudian kita bawa pulang. Kita tidak pernah merawatnya dari kecil, kita tidak pernah memberikannya apa-apa selain hanya nafkah yang kita dapatkan sehari-hari. Tapi dengan rasa cintanya, dia rela mencucikan baju kita, merawat kita ketika sakit, melindungi syahwat kita dari kejahatannya, mengandung anak-anak kita dan melahirkannya. Belum lagi, mereka juga harus membantu nafkah kita yang terkadang kurang mencukupi. Sekali lagi, saya bisa katakan, dia bukan siapa-siapa kita yang mau mengabdikan seumur hidupnya untuk kita. Bukankah dia orang baik?” jelas Hans menganalogikannya dengan uraian panjang supaya lebih mudah dipahami.


“Begitu istrimu?”


“Ya,” jawab Hans dengan pasti.

__ADS_1


Agak lama Rio terdiam memikirkan semua penjelasan yang baru saja menyerap di pikirannya. Apa yang diucapkan Hans barusan memang sepenuhnya benar. Rahma juga istri yang baik tanpa cela. Semua pengorbanannya sangat dia rasakan saat dia sakit. Dia melihat perempuan itu sangat sibuk, bekerja, mengurus rumah, merawat anak-anak, dan merawatnya dengan sepenuh hati tanpa pernah mengenal lelah. Dia yang selalu memandikannya, menyuapinya makan, mengantarkannya ke rumah sakit, memberikan obatnya setiap saat. Belum lagi kalau sedang sakit parah karena ada saat-saatnya dia susah bergerak—maka Rahma yang akan menggantikan pakaiannya tanpa peduli bau yang menyengat dari dalam tubuhnya.


Rio sangat berterima kasih. Tapi rasanya juga terlalu menyakitkan saat mengetahui istrinya ternyata hamil tanpa ia ketahui siapa ayahnya. Dia dikhianati, sampai hamil? Bukankah kurang ajar?! Apakah dia sudah tidak bisa menahan syahwatnya lagi hingga ia mencari laki-laki lain demi memuaskan dirinya? Sungguh keterlaluan.


“Seperti apa katamu tadi, istrimu adalah wanita yang baik? Benar begitu?”


Hans mengangguk.


“Tapi... bagaimana kalau istrimu selingkuh sampai hamil anak orang lain?”


Terdengar helaan napas dari Hans sebelum ia kembali menjawab, “Kecewa sudah pasti. Berpisah itu juga pilihan. Tapi sebelum kita melakukannya, kita harus tahu dulu apa penyebabnya dan karena bisa terjadi. Apakah dia terpaksa atau korban... maaf, perkosaan?”


Hans menjeda sejenak ucapannya, lalu kembali melanjutkan, “Saya belum bisa menjawab, apakah saya akan menceraikannya atau memilih untuk tetap bersama—karena saya juga harus melihatnya dengan sisi yang lain atau mata yang berbeda. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena ternyata dia tidak seburuk yang kita pikirkan. Seperti itu, Pak,” kata Hans lagi dengan suara lembutnya. Karena penasaran, dia pun bertanya dengan sangat hati-hati, “Kenapa Bapak bertanya seperti ini? Apa Bapak mengalaminya?”


Tak berapa lama Rio mengangguk. Membuat ulu hati Hans ikut bergetar. Sedang sakit, dikhianati, entah apalah rasanya. Masih bisa bernapas saja rasanya sangat bersyukur.


“Maaf sebelumnya, Pak... kalau saran saya, lebih baik kalian bicarakan dulu, apa yang terbaik yang bisa kalian lakukan. Kenali lebih jauh istri Anda, supaya kita tidak menyesal nantinya. Bisa jadi, beliau melakukannya karena terpaksa, atau mungkin karena tuntutan ekonomi. Itu hanya dugaan saya saja, Pak.”


Beruntung, mereka belum berpikir lebih jauh; bagaimana mungkin raga yang lemah ini bisa menghamili seorang perempuan, kalau hanya sekadar bangkit dari tempat tidurnya saja ia masih butuh bantuan orang lain?


Belum lagi dengan finansial yang mereka miliki—pasti semua orang juga akan berpikir ribuan kali untuk berencana menambah anak lagi.


Selama Rio mengetahui borok istrinya, dia tidak pernah berkata apa pun lagi apalagi menanyakannya terkecuali bila perlu. Rahma pun demikian, dia hanya menangis dan meminta maaf sembari bersujud di kakinya tanpa mau mengatakan siapa ayah dari bayi itu.


Ataukah mungkin, ayah dari bayi itu adalah seorang pria beristri sehingga Rahma enggan mengatakannya karena takut berita ini tersebar?


“Terima kasih, penjelasannya, Hans. Kamu jangan terlalu formal. Aku hanya orang biasa. Tidak perlu kamu hormati aku sampai segitunya.”


“Ah, bisa saja, Pak... mungkin sudah jadi kebiasaan di kantor, jadi ya, seperti ini.”


“Panggil saja saya Rio, Hans.”


“Baiklah kalau begitu.”

__ADS_1


Obrolan di cukupkan ketika datang seorang dokter masuk untuk visit keadaannya. Namun tak lama setelah dokter keluar, datang lagi seorang perempuan, yakni istrinya sendiri. Wanita itu datang sendiri dengan membawakan sesuatu di tangannya.


“Akhirnya aku bisa sampai di sini, Kak,” ujarnya begitu menghempaskan tubuhnya ke tempat duduk.


“Kalau begitu saya permisi dulu, Pak, Bu,” kata Hans memberikan mereka kesempatan untuk saling berbicara.


“Terima kasih, sudah mau mendampingi suami saya, Hans,” kata Rahma sebelum Hans pergi. Sebenarnya Rahma tidak asing dengan wajah laki-laki ini, dia seperti pernah melihat sebelumnya, tapi di mana?


Namun—dia enggan memikirkan lebih lanjut karena pria di depannya lebih menarik perhatiannya untuk mendekat.  


“Gimana kabarnya, Kak? Apa kamu sudah lebih baik sekarang?”


Hening.


Tidak ada tanggapan apa pun dari suaminya yang malah justru memalingkan muka.


“Aku tahu kamu pasti benci sekali aku datang ke sini,” ujar Rahma lagi setelah beberapa saat kemudian. Dia bertekad untuk menebalkan mukanya saat ini demi bisa melihat suaminya yang dia susul dari berbeda negara.


“Sebenarnya Ibu juga tidak mengizinkanku datang ke sini. Tapi, aku ingin melihat keadaanmu sekarang. Dan aku bersyukur karena kamu sudah mulai menjalani perawatan lebih intensif. Semangat, ya, Kak. Kamu harus mempunyai semangat. Bukan buat aku, tapi buat anak-anak karena aku merasa tidak berhak untuk kamu perjuangkan sekarang.”


Rahma mencoba menggenggam tangan Rio yang terlihat pasrah, meski juga tak peduli.


“Biarkan aku merawatmu dulu, berada di sampingmu dulu sampai kamu sembuh, ya? Nanti, kalau kamu sudah sembuh, aku janji aku akan pergi sama anak ini.”


“Kenapa?” sekian lama terdiam, kali ini akhirnya Rio bersuara, “laki-laki itu sudah menunggumu di sana?”


***


Bersambung.


Aku terusin hari Senin ya. Kalau ada typo silakan di komen aja.


Seperti biasa, komen yang paling menarik hati aku cap populer 😘🥰

__ADS_1


__ADS_2