
29.
Setelah Umar puas melihat adik barunya, Umi Ros beranjak untuk membawa cucunya ke dalam kamar agar si bayi bisa baring di dekat ibunya.
Dalam perjalanan ke dalam sana, tak henti-hentinya beliau memandangi sang cucu dengan perasaan takjub.
“Aku tidak di anugerahi anak perempuan, tapi Kau malah berikan aku cucu perempuan tiga sekaligus. Terima kasih, Ya Allah....”
Dua dari Yudha dan Vita, satu dari Alif dan Dara. Itu pun masih belum tahu, di antara mereka, akan menambah berapa anak lagi.
Di dalam kamar, Umi Ros menemukan kedua menantunya sedang mengobrol sambil tertawa cekikikan. Mereka baru berhenti ketika mendapati dirinya masuk dengan menggendong si kecil. “Lagi omong apa, hayo?”
“Ini, lho, Mi. Katanya habis ini Vita mau tutup pabrik,” jawab Dara.
“Bukan kapok,” Vita melanjutkan, “selain harus memikirkan anak-anak, aku juga harus kasihan sama diri sendiri.”
Umi tersenyum, beliau kemudian membaringkan cucunya ke ranjang di sebelah Vita, sekaligus beliau juga duduk di sana menyelonjorkan kaki yang terasa pegal.
“Memang ada benarnya,” kata Umi kemudian, “tapi mungkin kalau mau nambah lagi tunggu mereka agak besar dulu biar semua mendapat perhatian lebih fokus. Yang penting jangan sampai kalian teledor lagi.”
Sebagai manusia yang berilmu, sebelumnya Vita dan Yudha tetap berikhtiar untuk menunda kehamilan. Tapi kuasa Allah, Zunaira tetap hadir ke dunia ini tanpa mereka minta.
Dara ikut berkomentar, “Kalau seperti ini biasanya yang banyak di salahkan perempuannya, ya, Mi. Padahal, terjadinya pembuahan itu karena dua orang lawan jenis.”
“Benar, itu sudah menjadi semacam kebiasaan masyarakat kita, tapi semenjak ada KB. Beda sama zaman dulu, karena hampir semua orang memang punya banyak anak. Nenek Umi dulu punya anak dua belas. Hamil tiap tahun.”
“Oh, ya ampun, capek banget itu kedengarannya,” ujar Vita menanggapi.
“Apalagi yang mengalami.”
“Zaman dulu kalau punya banyak anak sepertinya tidak terlalu masalah, ya. Walau pun ekonomi mereka pas-pasan, tapi tidak pernah khawatir kekurangan.”
“Justru harus,” sela Umi segera sekaligus menjelaskan, orang-orang zaman dahulu malah mengharuskan anak lelaki mereka untuk menikahi perempuan yang penyayang, subur, dan mampu melahirkan banyak anak. Tujuannya adalah supaya lahir dari mereka generasi umat Islam yang unggul di masa yang akan mendatang.
Semua ini terjadi akibat berkurangnya manusia pada zamannya. Andai mereka tahu bahwa nyawa di masa itu sangatlah murah. Kurangnya pengetahuan agama dan Perang yang terus berkecamuk tanpa henti, tanpa mereka sadari telah mengorbankan banyak manusia yang tidak bersalah.
“Ngeri juga, ya. Tapi syukur, deh. Kita di ciptakan di masa sekarang saat tanah sudah merdeka,” kata Dara setelah Umi Ros selesai bicara.
“Betul, Nak....”
Tatkala mereka masih mengobrol untuk sekadar berbagi pengetahuan yang Umi Ros ketahui, tiba-tiba Baby Zunaira menangis lagi karena merasakan dingin di area pantatnya. Rupanya, dia bau saja pipis.
Gegas Dara membantu menggantikan diapers Zunaira yang baru. Hitung-hitung sambil belajar mengurus bayi katanya.
__ADS_1
“Seperti ini, kan?” tanyanya kepada Vita setelah selesai melakukannya.
“Benar, Dar.”
“Tapi aku masih kelihatan kaku, ya?”
“Nanti lama-lama juga terbiasa.”
“Tapi lahiran kali ini kamu tidak seheboh dulu lagi, ya, Ta?”
“Iya, soalnya semua barangnya masih ada. Masih banyak juga yang bagus-bagus. Bahkan ada juga yang belum terpakai. Aku masih ingat betul pas waktu aku tahu hamil si kembar, aku hobi banget borong barang,” jawab Vita panjang lebar khas emak-emak kompleks, “kamu sendiri sudah ada persiapan, belum?”
Dara meringis, “Belum... Alif mana mau di ajak belanja beli barang-barang begitu, Ta. Dia itu beda sama Mas Yudha.” Usai berkata demikian bibir Dara mengerucut bagaikan Piramida di Mesir. Terlihat sebal sekali dengan suaminya sendiri yang bisanya hanya menyiram ladang.
“Ya, sudah, biar Umi saja yang nanti menemani kamu belanja. Sekalian biar nenek-nenek ini cuci mata,” kata Umi Ros kemudian yang langsung di sambut suka cita oleh menantunya yang satu itu.
“Yeaaay! Aku juga suka belanja, Mi. Ayo, Mi, belanja. Habiskan uang suami kita.”
“Ajakan sesad,” ucap Vita pelan membuat Umi Ros tertawa pelan. Suara mereka memang tidak terlalu keras lantaran tak ingin mengganggu tidur nyenyak Zunaira.
“Mas Yudha di mana, Mi?” tanya Vita.
“Tadi sebelum Umi masuk, Umi lihat dia lagi sama Umar.”
“Kalau Mauza, dia di gendong sama Alif ke atas,” Dara terkekeh mengingat kebiasaan suaminya yang tidak bisa melihat Mauza di anggurin. “Pasti mau di uwel-uwel. Alif belum bisa berhenti godain Mauza kalau dia belum sampai nangis kejer.”
“Dasar!” Umi Ros geleng-geleng kepala. “Sepertinya memang jadi suatu kepuasan tersendiri kalau berhasil bikin anak kecil menangis.”
“Tunggu, tunggu. Umar sama Mas Yudha, Mauza sama Alif. Jadi Rayyan di mana?” setelah sekian lama, akhirnya Vita baru menyadari bahwa anak itu tidak dia lihat lagi setelah menyambutnya di depan.
“Biar aku cari keluar, Ta. Sekalian aku mau mandi.” Dara beranjak keluar kamar. Di ikuti oleh Umi Ros karena wanita itu mengaku lelah dan berniat untuk beristirahat sejenak sebelum tiba waktunya salat zuhur.
Di depan, Dara langsung menemui Yudha yang tengah menemani anaknya bermain.
“Mas Yud, Rayyan mana?” Dara bertanya.
“Kukira di kamar, ikut sama kalian.”
“Kalau ada mana mungkin aku tanya sama Sampeyan.”
Yudha bingung dipanggil Sampeyan sehingga dia celingukan mencari-cari di mana yang bernama Sampeyan.
Dara tertawa lucu, “Sampeyan itu artinya kamu, Mas. Tapi dalam bahasa yang lebih sopan ke orang yang dia hormati, kalau menurut orang Jawa.”
__ADS_1
“Oh...” ucap Yudha begitu mengerti. "Biar aku yang cari dia."
Yudha kemudian beranjak sembari menggendong Umar. Tidak mungkin bocah ini ia tinggal di sini sendiri karena sang baby sitter tengah sibuk membuat makan siang untuk ketiga anak-anaknya.
“Kita mau ke mana, Papa? Mau ke Mall?”
“Dasar anak Mall. Mall melulu maunya,” kata Yudha mencium kening putranya, “kita mau cari Kaka Ray, ya?”
“Kakanya bobo,” celetuk Umar.
“Benar Kaka Bobo?”
Umar mengangguk, “Iya, Kaka masuk kamal.”
“Okay, kita cari ke kamar.”
Yudha mengira bahwa ucapan Umar barusan memang benar bahwa Rayyan ada di kamarnya sendiri. Tapi masalahnya, kamar ini di kunci dari dalam.
‘Sudah aku duga, dia pasti cemburu lihat adik barunya.’
Pria itu menurunkan Umar dan mencari kunci cadangan.
Dalam diamnya, dia mempunyai perasaan yang begitu besar terhadap anak sulungnya. ‘Apa karena Rayyan tidak pernah mendapatkan perhatianku saat dia ada di dalam kandungan? Jadi hasilnya seperti ini. Rasanya dia sering sekali merajuk.’
Padahal, dia sudah berusaha menjadi ayah yang adil untuk mereka semua. Tetapi entah kenapa anak ini masih selalu merasakan perbedaannya.
Namun setelah dipikir-pikir lagi, semua anak pasti akan mengalami seperti itu setelah mempunyai adik. Sama seperti dirinya dulu saat Alif lahir ke dunia.
Setelah menemukan kuncinya, Yudha masuk ke dalam kamar.
Dan benar saja, dia mendapati putra pertamanya tengah tidur telungkup di sana.
“Kenapa, Nak?” tanya Yudha membalikkan tubuh Rayyan. Terlihat kedua bola mata anak itu bertumpahan air mata. “Maafin Mama sama Papa, ya,” ujarnya mendekap anaknya ke pelukannya.
Rayyan tidak menjawab dan malah justru isakannya yang terdengar semakin keras.
“Wuhh, Kaka nangis!” wajah Umar terlihat aneh, mungkin dia heran melihat kakaknya yang biasanya pecicilan mendadak jadi mellow. “Jangan nangis ya, Ka... Umar sama Adek da nakal, kok.”
Bocah tiga tahun itu naik ke atas ranjang. Entah akal dari mana. Dia berupaya menghibur dengan mencium pipi kakaknya dan membantu mengusap air matanya dengan kausnya sendiri—sehingga Yudha terpaksa menahan tawa melihat tingkah lucu anak ini. Menjadikan suasana yang sebelumnya tegang kini sedikit-sedikit mulai mencair.
“Lap ko bakai baju?” meski Rayyan kesal, tapi dia tidak bisa marah. Namun akhirnya, ketiga lelaki itu kini tertawa bersamaan.
***
__ADS_1
Selamat membaca😘😚