
Bab 4.
Pengerjaan renovasi masjid ternyata belum selesai pada satu hari itu. Hampir semua orang di sana mengumpulkan sedikit uang dan bahan pangan mereka untuk membantu jalannya pembangunan. Uang untuk membeli bahan bangunan, sedangkan pangan untuk memberi makan para pekerja agar semakin semangat dalam melakukan pekerjaannya.
‘Ini kesempatan yang baik untukku agar aku bisa mempunyai waktu lebih lama untuk menghafal buku yang kubeli kemarin.’
Melihat keantusiasan mereka, rasanya Haikal benar-benar tidak tega meninggalkan mereka begitu saja dan menghancurkan harapannya. Keinginan mereka sangat mulia, mereka hanya ingin mengaji, bisa salat, itu saja.
‘Lalu ke mana orang pandai agama yang mereka maksud?’ Haikal bertanya-tanya sendiri. Sebab sampai detik ini pun, tidak ada satu tanda-tanda bahwa orang itu akan datang. Amat disayangkan, ke mana saja pemerintah selama ini? Kenapa perkampungan ini begitu tertinggal?
Ada pun beberapa anak yang sudah sekolah pada saat itu. Tetapi sekolah sederhana yang hanya mengajarkan cara membaca, menulis, dan berhitung. Itu pun kerelaan dari beberapa orang yang benar-benar peduli dengan masa depan anak-anak di sekitar.
Mereka tak memakai seragam. Buku dan pensil pun di masukkan ke dalam kantong plastik. Setiap pagi, mereka berjalan beriringan menggunakan sandal jepit menuju ke tempat yang mereka anggap sekolah. Begitu yang Haikal lihat selama dua hari dia berada di sini.
Pada hari ketiga, akhirnya renovasi selesai dilakukan. Masjid yang awalnya bak gudang tua tak terawat kini telah disulap menjadi tempat ibadah yang indah di pandang mata. Dan pada saat itulah keberadaannya di sini dipertanyakan oleh salah seorang rukun tetangga.
“Jadi, kapan kami bisa mulai mengaji, Ustaz?” tanyanya sama seperti hari lalu.
“Oh, itu—itu nanti malam,” jawab Haikal terlihat bimbang. Dia masih meragukan dirinya karena dikhawatirkan tidak mempunyai publik speaking yang bagus.
“Baiklah kalau begitu nanti saya umumkan ke semua warga, ya.”
“Iya, silakan Pak RT.”
“Omong-omong, Ustaz Salman itu dari mana asalnya? Dari kemarin saya belum sempat menanyakan hal ini.”
“Saya dari Pesok,” jawab Haikal. Kali ini dia tak berbohong, dia memang lahir dari sana.
“Oh, agak jauh dari sini. Satu jam kalau jalan kaki.”
“Betul, Pak.”
“Masih sendiri atau sudah punya istri?” RT tersebut bertanya lagi, mungkin untuk sekadar basa-basi atau apalah.
“Sendiri.”
“Saya doakan, semoga disegerakan ya, Ustaz.”
“Insyaallah, aamiin.”
Namun tanpa Haikal tahu, RT ini malah mengumumkannya kepada masyarakat bahwa dirinya masih jomlo—sehingga mendadak banyak gadis kecentilan yang menggodanya dan menawarkan diri.
Semenjak saat itu pula, banyak makanan di rumah Beren dari para gadis untuk mengambil hatinya. Sayangnya, tidak Haikal tanggapi karena sudah mempunyai tambatan hati sendiri.
“Kenapa mereka tidak menggoda Beren saja? Padahal Beren juga masih bujangan. Aneh, apa bedanya aku dengannya? Toh, kami juga sama-sama punya batang.”
Malam itu telah tiba. Dengan perasaan campur aduk, akhirnya Haikal berhasil berdiri di depan banyak orang. Awalnya pria itu terlihat sangat tegang karena ini untuk pertama kali baginya tampil di depan publik. Tetapi lama kelamaan, dia sudah terlihat biasa.
__ADS_1
Pertama-tama, dia mengucapkan salam, kemudian memberi sambutan singkat dan sederhana seperti yang pernah dia dengar dulu oleh ustaz-ustaz lain. Setelah selesai, barulah dia memulai mengajarkan wudu kepada para jamaah sekalian; baik laki-laki, mau pun perempuan yang selalu serius menyimak setiap ceramahnya.
“Kalau mengaji, silakan bawa buku. Di catat. biar tidak lupa,” titahnya membuat semua orang mengangguk-angguk. “Sebab, saya tidak bisa mengajarkannya dua kali. Besok, kita ganti lain lagi karena waktu saya tidak banyak.”
“Baik, Ustaz,” jawab semuanya serentak.
Setelah selesai mengajarkan wudu, dia pun meminta tiga orang laki-laki maju ke depan. Untuk mencontohkan bagaimana caranya membentuk shaf (barisan salat) berikut gerakannya.
“Rapatkan, rapatkan kaki kalian! Jangan sampai ada celah,” titah Haikal kepada tiga orang tersebut.
“Kenapa tidak boleh ada celah, Ustaz?” salah satu orang bertanya. Tampak sangat penasaran.
“Karena kalau ada celah, bisa dimasuki setan. Nanti bisa mengganggu salat kalian. Buat salat kalian tidak fokus. Kalian tidak mau kan, jejer sama setan?”
“Tidaaaak!” jawab semua orang tertawa.
Haikal kemudian sedikit membungkuk untuk mengatur letak kaki mereka, “Afwan, ini kakinya di buka. Dan ukurannya, ukuran standar pundak kalian. Jangan berlebihan sampai mengambil shaf milik orang.”
“Baik, Taz...” jawab semua orang lagi sembari terkekeh.
“Pastikan lakukan salat setelah kalian yakin dan siap. Lebih baik kain sarung dililit yang kencang supaya tidak sampai melorot atau jatuh. Malu kalau yang di belakang sampai melihat.”
Tak henti-hentinya mereka tertawa karena mereka bukan hanya mendengar ceramah, tetapi juga hiburan setelah seharian lelah bekerja.
“Yang perempuan juga, rambut di ikat, jangan sampai keluar dari mukena yang kalian pakai.”
Haikal kembali mendekati ketiga orang yang dia suruh maju ke depan tadi, mencontohkan gerakan takbir bagi laki-laki dan membenarkan posisinya. “Nah, iya, seperti ini.”
“Awali salat kalian dengan bacaan taawudz dan basmalah. Audzu billahi minasy syaithonir rojiim, bismillahirrahmaanirraahiim. Yang artinya, aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk, dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Pelan-pelan saja bacanya, tidak perlu teriak-teriak. Hanya imam saja yang boleh bersuara keras. Makmum tidak boleh.”
“Yang jadi imam siapa, Ustaz Salman?” salah seorang bertanya.
“Pertama harus beragama Islam, kedua baligh atau dewasa, ketiga berjenis kelamin laki-laki, ke empat berakal sehat, ke lima mampu membaca alquran dengan baik dan benar, ke enam bebas dari hadas besar mau pun kecil, ke tujuh tidak pelat lidah.”
Mereka mengangguk-angguk. Kemudian Haikal memerintahkan ke tiga orang untuk kembali ke tempat duduknya manakala dia selesai menjelaskan semua gerakan salatnya.
Pria itu menghembuskan napas lega ketika kajian hari ini selesai dan ia berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan semua orang sesuai dari hadis sahih yang dia pelajari.
Beruntung, dia mempunyai otak yang brilian, sehingga ia tak susah-susah saat menghafal suatu bacaan.
Dia pun mengatakan, kajian kembali dilanjutkan dua hari setelahnya setelah ia belajar lagi. Jadi, selama beberapa hari itu, dia hanya di sibukkan dengan membaca di kamar. Tidak boleh ada yang mengganggunya.
Sesekali dia menjadi imam di waktu-waktu tertentu salat. Karena semenjak kedatangannya dan setelah renovasi, masjid jadi ramai pengunjung. Baik laki-laki, perempuan mau pun anak-anak kecil yang mengaji huruf hijaiyah.
“Oh, ya. Kabar Naya bagaimana?” dia bergumam sendiri pada saat malam menjelang. Sepeninggalnya, dia tak memberikan apa-apa, padahal dia mempunyai banyak uang kala itu. Sebab lain, dia juga tak tega karena mantan suaminya tersebut bisa saja menemukannya di sana dan kembali menyiksanya.
“Sungguh aku ingin melihat keadaannya!”
__ADS_1
Mumpung Beren sudah tidur, Haikal pun menggunakan kesempatan itu untuk pergi sejenak mengunjungi Naya yang dia tinggal di rumah almarhum neneknya.
Dengan menggunakan obor, dia pun menembus pekatnya perjalanan malam. Tidak sulit baginya mencari jalan untuk pulang. Sebab, kemarin dia sudah sangat hafal di mana letak pasar yang sangat dia kenali. Hingga satu jam kemudian, dia pun akhirnya berhasil sampai di rumah almarhum nenek.
Kedatangan Haikal di sambut aneh oleh Naya, perempuan itu menertawakan penampilan barunya sekarang.
“Ya ampun, Kal? Pakaian apa yang sedang kamu pakai?”
“Panjang ceritanya, aku jadi Ustaz sekarang.”
“Mana mungkin? Kamu itu seorang preman.”
Namun Haikal tak mengindahkan pertanyaannya, dia justru menanyakan hal lain yang bercokol di pikirannya semenjak tadi, “Bagaimana kabarmu, apa kau aman di sini?”
“Kamu tenang saja aku aman.”
“Yang benar? Apa Musfira tak mengganggumu?” Haikal memastikan.
“Sepertinya dia belum tahu aku ada di sini.”
Haikal mengeluarkan uangnya dari kantong saku, “Ini uang, bisa kamu gunakan untuk membeli kebutuhanmu.”
Melihat Naya yang seperti enggan menerima pemberiannya, membuat Haikal lantas menarik paksa tangannya. “Pakailah, ini uang halal. Aku dapatkan dari para jamaah kemarin. Mereka sering diam-diam memasukkan uangnya ke dalam sakuku tanpa aku ketahui.”
“Aku semakin pusing mendengarnya, Kal...” Naya mengerutkan dahi. Kelakuan macam apa lagi yang sedang dilakukan oleh pria ini? Apa dia sekarang menjual agama untuk mendapatkan uang setelah pensiun dari pencuri?
Untuk menampik segala kecurigaan Naya, lantas Haikal pun menceritakan semua kejadian yang menimpanya kemarin sampai dia berpakaian seperti ini sekarang. Mulai dari dia mencuri, di jebak, di cari polisi, lalu memakai baju aneh dan dianggap seorang pandai agama.
Naya geleng-geleng kepala. “Kamu ini ada-ada saja. Tapi setelah ini, sudahi semua permainanmu dan minta maaflah. Kamu pikir bersandiwara itu menyenangkan? Tidak, Kal. Justru kamu semakin merasa berdosa.”
Haikal mengangguk. Dia memang berencana ingin mengakhirinya, tetapi nanti setelah semua tugasnya selesai—termasuk mengambil hati Rosyadah, wanita pujaannya yang selama beberapa hari ini terus diam-diam memperhatikannya. Haikal mengetahui hal ini, tetapi dia memang sengaja membiarkannya agar Rosyadah semakin penasaran. Karena dari beberapa banyak yang dia pelajari, semakin cuek sikap pria, akan semakin mahal harga dirinya di mata seorang wanita.
“Jadi, kapan kamu mau jujur sama mereka?” tanya Naya lagi.
“Nanti, aku lagi mengincar salah satu gadis yang ada di sana,” jawab Haikal berterus terang.
Dan tatkala Haikal terdengar memuja, tiba-tiba saja wajah Naya seketika berubah. Tetapi tampaknya Haikal tak menyadari hal tersebut, karena Naya langsung menundukkan kepala.
Padahal, dia sempat berharap lebih karena perhatian yang diterimanya kemarin. Tetapi langsung dipatahkan hari ini juga.
Dia sontak merasa kerdil dan tak berarti apa-apa. Terlebih jika mengingat siapa dirinya. Dari segi usia mau pun status. Namun tak apa, ini lebih baik daripada dia mengetahui nanti, tepatnya setelah lebih banyak berharap.
***
bersambung.
Harap maklum kalau typo. gak terlalu fokus kalau nulis dalam keadaan perut kruyuk2🤣
__ADS_1
Yang penting updatelah ya!
Jngan lupa lkenya sayang. semoga puasanya lancar ampe maghrib.