TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Tolong Ceraikan Aku


__ADS_3

Bab 19.


Keesokan harinya, semua keluarga Kauman dikagetkan dengan kabar kurang tak mengenakkan dari mertua Haikal melalui sambungan telepon. Arok tiba-tiba sakit dan sudah dibawa ke rumah sakit terdekat. Oleh karena itu, Ros meminta izin kepada suaminya agar di antarkannya pulang untuk menjenguk sang ayah.


“Antarkan dia, Kal. Cepat,” ujar Dawiya kepada putranya.


“Tapi Yudha aku tinggal sebentar ya, Bun,” Ros terpaksa menitipkan anaknya karena terlihat sangat buru-buru. Lagi pula, dia juga tak mungkin membawa putranya karena ditakutkan tak bisa bergerak lebih leluasa.


“Ya, pergilah. Toh, ada Naya di sini jadi bisa bantu Bundo mengurusnya.”


Tak berlama-lama, keduanya langsung meluncur ke Beringin menggunakan kendaraan roda empat yang populer pada masanya. Meninggalkan Naya yang terpaksa tertahan di sini. Padahal niatnya akan langsung pulang hari ini juga.


“Anak Ros, adalah anakmu juga. Tidak apa-apa kamu bantu jaga dia. Hitung-hitung sambil belajar mengurus anak. Jadi nanti kalau sudah punya, kau sudah pintar merawatnya sendiri, kan,” kata Dawiya kepada Naya begitu mereka pergi.


“Iya, Bun,” Naya berusaha tersenyum.


“Kamu itu harus belajar seperti Ros. Dia itu multitalenta, tidak ada yang tidak bisa dilakukannya. Tidak pernah menyusahkan, bikin kami bangga.”


Ros, Ros dan Ros terus yang Naya dengar. Berapa kali dia harus mendengar nama itu?


‘Jujur saja, ini membuat kepalaku menjadi semakin pening.’


Namun mungkin karena terlalu banyak melamun, membuat Naya tidak fokus dalam menjaga Yudha. Dia baru menyadari Yudha terantuk meja setelah bocah itu menjerit tangis.


“Kau apakan cucuku?” pekik Dawiya dan Kauman yang sontak berlarian mendekati mereka, “menjaga anak bayi saja kamu tak bisa! Pantas saja sampai sekarang kamu masih mandul!”


Deg....


Air mata Naya langsung mengalir deras. Padahal, dia benar-benar tak sengaja melakukannya.


“Maaf, Bun. Aku tidak sengaja,” lirih Naya.


“Makanya jangan melamun!” Dawiya langsung menggendong dan mengusap kening cucunya yang sedikit kemerahan. “Lihat ini, Yah... cucu kita terantuk meja.”


“Sudah, sudah, Bun. Dia tidak sengaja. Kita bawa ke kamar saja,” sang suami melerai istrinya yang tengah emosi sesaat.


“Teledor!” seru Dawiya sekali lagi sebelum mereka berdua membawa cucunya masuk ke dalam kamar. Namun yang paling mengejutkan adalah, sayup-sayup terdengar suara Dawiya dari sana yang sedang menggerutu kesal, “Kalau saja bukan karena wasiat, aku tidak akan pernah menyetujui putraku menikahi janda tak bisa punya anak, sakit-sakitan pula. Cuma nambah-nambahin beban keluarga saja!”

__ADS_1


Setengah hati Naya menerima dan mewajari sikap mertuanya karena sebagian besar orang tua itu memang cerewet. Tetapi setengah hati lainnya terusik karena hinaan tersebut begitu menusuk: janda, tak punya anak, Cuma nambah-nambahin beban keluarga saja.


🌺🌺🌺


Mendapat hinaan membuat Naya segera pergi dari rumah itu. Baru saja sebentar ia bisa dekat dengan mertuanya, kini sudah dia salahi.


Kejadian ini membuat kesedihannya semakin bertambah. Karena selain merasa tak dicintai oleh suami sendiri, dia juga tak diharapkan oleh mertuanya.


Kenyataan mana lagi yang lebih menyedihkan daripada itu?


Petang kemudian, Haikal pun datang karena hari ini masih jatah waktunya. “Kenapa kau pulang?”


“Eh, aku hanya ada kerjaan yang belum kuselesaikan,” jawab Naya berusaha menutupi. Tidak ada pengaruh baginya mengadukan hal ini karena sudah pasti suaminya akan lebih membela orang tuanya sendiri. Dan yang ditakutkan, mertuanya justru malah akan semakin membencinya karena hal ini.


“Kalau ada apa-apa jangan sungkan cerita. Kau selalu menutupi banyak hal dariku,” Haikal mendekat dan mengusap kepalanya lembut.


“Bagaimana keadaan ayah mertuamu?” tanya Naya kemudian.


“Biasa, penyakit orang tua,” jawab Haikal tersenyum menenangkan, tetapi malah justru menyakitkan baginya.


“Jawab jujur, kau kenapa lagi, hem? Apa yang sedang kamu pikirkan?”


“Ya, aku ingin mengatakan sesuatu,” kata Naya akhirnya berterus-terang, “bagaimana kalau aku tetap minta cerai?”


Deg.


“Apalagi ini, Naya?” desis Haikal terkejut karena kembali mendengar ucapan laknat itu lagi.


“Ya, aku minta cerai saja, kumohon...” ucap Naya lagi dengan menyatukan tangannya.


“Bukankah sudah kujelaskan kemarin, apa masih kurang jelas? Kenapa kau selalu saja memancing keributan?” ujar pria itu tak habis pikir, “bukankah kau kemarin terlihat baik-baik saja, kenapa hari ini kau mulai lagi?”


“Aku lebih bahagia kalau bercerai denganmu.”


“Lalu dengan siapa kamu akan hidup?”


“Katakan, atas dasar apa kau menikahiku?” tanya Naya dengan nada menuntut jawaban.

__ADS_1


“Karena aku mencintaimu,” balas Haikal yang setengahnya benar meskipun ada perbedaan di sini. Karena utamanya adalah istri pertama.


“Bohong,” sanggah Naya tak percaya, “bukankah kau menikahiku hanya karena wasiat, dari almarhum? Benar begitu?”


“Awalnya memang iya, tapi perlahan cinta hadir tanpa aku sadari.”


“Dalam dunia kalian, hanya ada Ros, Ros, dan Ros. Bukan aku. Tidak ada sedikit pun aku di sana, apalagi di dalam matamu,” tunjuk Naya ke dua bola mata Haikal dengan menatapnya sendu.


“Ayolah... tolong jangan seperti ini. Tenangkan hatimu, jangan sampai kau terbawa emosi, lalu mengucapkan hal yang tidak baik. Berdosa.” Haikal menarik istrinya ke dalam kamar mandi, lalu, “basuhlah wajahmu, temui aku kalau kau sudah dalam keadaan tenang.”


“Apa selalu seperti ini caramu meredam kemarahanku, suamiku? Apa tidak ada cara lain selain menghindar?” protes Naya tak terima, “katakan siapa wanita yang kau cintai dan wanita yang kau pilih... tolong jawab sejujurnya. Aku tidak akan marah.”


“Kalian bukan barang yang harus kupilih.”


“Jawab siapa yang lebih kamu cintai?” tekan Naya, “kalau kau tak menjawab, lebih baik aku pergi.”


“Sekali saja kau melangkahkan kaki dari rumah, jatuh talak ke satu bagimu.”


Deg!


Bagai di pukulkan gendang di telinganya, Naya sontak tergugu dan terisak, “Apa sebegitu tidak berartinya aku di dalam hidupmu? Aku bahkan sangat mencintaimu....”


Haikal menghembuskan napas panjangnya, “Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu, tapi kau sudah sangat keterlaluan. Sudah kubilang tadi, jangan dilanjutkan. Emosi bisa membawa kita mengambil keputusan yang salah. Tolong, jangan pernah ulangi lagi.” Pria itu mengulurkan tangannya, “Ayo, kita bisa bicara baik-baik, maumu apa.”


“Mauku hanya cerai, itu saja. Aku tidak sanggup bila disandingkan dengan Ros yang lebih dari segala-galanya bagi kalian di bandingkan aku,” isak Naya semakin mengiris.


“Secuil pun aku tidak pernah membedakan kalian. Kau tahu, bukan?”


Tak ingin perdebatan terjadi lebih meluas lagi yang dapat menyakiti hati, Haikal menjauhinya sejenak untuk meredam amarahnya. Tetapi kesempatan ini malah justru digunakan oleh Naya untuk melarikan diri. Tak peduli dirinya menjadi seorang janda untuk yang kedua kali.


Mirip seperti anak-anak, demikianlah jika seorang wanita tidak bisa mengendalikan kecemburuannya. Mungkin terdengar sepele, namun sesungguhnya ini sangat terasa sakit.


Dengan tergesa, Naya memasukkan segera pakaiannya ke dalam tas, kemudian pergi menggunakan kendaraan umum yang tersisa di tengah malam seperti ini. Lalu berhenti di sebuah tempat penginapan. Memutuskan untuk menginap di sana selama beberapa hari sampai dirinya kembali tenang.


Namun apa yang terjadi pada setelah beberapa hari kemudian?


Naya melupakan obat-obatannya sehingga ia kembali merasakan sakit yang luar biasa. Dia pun menangis pada saat terbatuk, karena yang keluar bukanlah riak, melainkan segumpal darah segar.

__ADS_1


__ADS_2