TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Hukuman Mengerikan


__ADS_3

“Vita ... kamu ada di mana?” panggilnya sambil mencari-cari istrinya di gedung-gedung rumah sisa kebakaran. “Vita!”


Malam itu, Yudha mendapati dirinya berada di sekumpulan orang-orang yang berlalu lalang menyelamatkan harta benda mereka yang tersisa. Dari api yang menyala-nyala membakar tempat tinggalnya.


Entah berada di bumi sebelah mana, tapi kobaran api sedang sangat mengerikan. Menjilat-jilat langit dan melahap semua benda yang ada.


Bukan tanpa sebab Yudha berada di sana. Dia mendapat laporan bahwa istrinya telah menjadi salah satu korban kebakaran tersebut yang sampai sekarang belum ditemukan. Ya, seperti itu yang ia ketahui meski belum terlalu jelas.


“Vita!” entah sudah berapa kali Yudha memanggil, namun masih tak terdengar sahutan. “Tidak masalah jika aku tidak menemukanmu di sini. Karena itu artinya kamu selamat dan sudah pergi meninggalkan tempat ini.”


Demikian yang dia katakan sangatlah berbeda dengan isi hatinya. Sesungguhnya Yudha sangat ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri, bagaimana keadaan Vita sekarang. Ya, apa pun keadaannya.


“Bagaimana, Pak? Apa sudah ditemukan korban bernama Vita Anggraeni?” tanya Yudha kepada salah satu tim SAR yang sedang bertugas.


“Sejauh ini masih belum ada, Pak.”


“Tolong cari terus sampai ketemu, Pak.”


“Itu pasti, Pak.” Orang dengan seragam orange itu menepuk bahunya. “Berdoalah, semoga ada keajaiban untuk istri Bapak.”


Yudha mengangguk dengan perasaan yang semakin tak karu-karuan.


Pria itu masih mencari. Menyelisir sisa-sisa bangunan yang sudah berhasil di padamkan apinya. Feeling-nya mengatakan, dia harus mencari tempat yang berbeda yang belum orang-orang datangi.


“Vita!” panggilnya menyeru. Siapa yang mampu mendengar panggilan ini niscaya orang itu pasti akan tahu. Seberapa besar pria itu kehilangan istrinya. “Vita! Ini aku!”


Di tengah-tengah kegelisahannya mencari, terdengar suara lirih nan memilukan. “Mas Yudha ....” suara itu terdengar hingga beberapa kali. “Mas Yudha!” lagi, lebih jelas.


“Vita, kamu ada di mana?” Yudha menajamkan pendengarannya. “Beri aku pertanda, lemparkan barang yang ada di dekatmu kalau ada, kalau kamu kuat.”


Tak lama kemudian, Yuda mendengar plastik seperti di remat-remat, disusul dengan suara lirih. “Aku di sini ....”

__ADS_1


“Iya, aku mendengarmu.”


Yudha mengambil ponselnya untuk menyoroti sekitar saat terdengar suara itu semakin jelas. Tak berapa lama, matanya langsung menangkap pemandangan memilukan. Tubuh kecil istrinya tergeletak lemah tertimpa potongan-potongan kayu, sedangkan satu tangannya menggenggam kantong plastik untuk menandai keberadaannya tadi.


“Ya Allah!” tubuh Yudha langsung terguncang melihat keadaan istrinya yang penuh luka. Dia langsung mengangkat kayu besar yang menimpa tubuh istrinya. Kesal, dia menendang kasar benda-benda terkutuk itu.


“Ayo, kita langsung cari bantuan sekarang!” tubuh Yudha bergetar menahan kesedihan yang mendalam.


Vita menggeleng dan menahan tangannya yang hendak mengangkatnya. “Tidak perlu. Aku sudah dekat,” ujarnya dengan nada lirih.


“Dekat, apa maksudmu?”


Panik, sesal, sedih, semua Yudha rasakan bercampur menjadi satu. Bagaimana tidak? Selama berbulan-bulan dia mencari keberadaan istrinya, tetapi pada saat ia mengetahui keberadaannya—dia malah menemukannya dalam keadaan demikian.


Vita tak menjawab, mata itu menyorot lunak, sendu dan penuh kerinduan. Satu tangannya terulur untuk mengusap pipi suaminya dengan sangat lembut. “Kamu mencariku, Mas? Aku merindukanmu ....”


“Tentu saja aku selalu mencarimu, kau istriku. Sampai kapan pun kau istriku. Jangan tanyakan apakah aku merindukanmu atau tidak, karena jawabannya sudah pasti!” jawab Yudha tak bisa berkata lain lagi. Tangannya menjangkau bawah tubuh Vita untuk mengangkatnya, namun lagi-lagi ditepis.


“Kamu itu bicara apa?” Yudha tak habis pikir dengan ucapan istrinya yang lagi-lagi terdengar membingungkan. “Tolong jangan hukum aku dengan hukuman yang lebih mengerikan lagi. Aku sudah cukup tersiksa.”


“Aku senang kamu mengkhawatirkanku, Mas. Karena dengan begini, aku bisa melihat besarnya cintamu.” Vita tersenyum, menatap dalam mata suaminya hingga ia tersesat di sana.


“Sudah berapa kali kukatakan, aku memang sangat mencintaimu, Vita. Kamu yang paling aku cintai di sini. Aku sudah menyadarinya.” Yudha menuntun tangan Vita agar dia merasakan deburan keras di dadanya. “Kamu selalu saja salah paham denganku. Entah bagaimana aku menjelaskannya agar kamu percaya.”


“Kenapa saat aku ada di dekatmu, kamu menyia-nyiakan aku. Kenapa baru sekarang kamu menyesali semuanya?” kata Vita lagi dengan air mata menetes-netes dari sudut matanya. Semakin sesenggukan. “Kamu terlalu menganggapku sepele. Sekarang sesalmu sudah tidak ada gunanya. Sekalipun aku kembali, aku tidak akan pernah merasa nyaman lagi.”


“Tolong jangan bicarakan itu dulu. Yang penting sekarang adalah keadaanmu.”


Lagi-lagi Vita menggeleng lemah. “Tidak ... tetap di sini. Aku ingin selalu bersamamu.”


“Vita, Vita ....” pria itu tergugu saat tubuh itu tak lagi bergerak. “Maafkan aku, maafkan aku. Kembalilah denganku, Vita. Hanya kau yang aku mau.” dia kembali menurunkan tubuh istrinya lagi untuk memastikan. Menyentuh nadinya dengan jarinya. Tapi nyatanya, dia memang telah benar-benar ditinggalkan.

__ADS_1


“Aku mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu ....”


Yudha terjatuh dalam kelam. Pria itu memeluk tubuh istrinya dengan tangisannya memilukan. Dia berteriak panjang menyerukan nama istrinya dalam gulungan penyesalan.


Namun kini tiba-tiba pandangan itu berubah menjadi gelap. Begitu gelap. Melewati batas-batas kegelapan, melewati pintu-pintu mimpi yang berlapis, melewati selubung-selubung ingatan. Hingga ia merasa didorong begitu kuat dan melesat seperti diterjunkan ke dalam jurang yang teramat dalam. Lalu melambung merasakan kekosongan luar biasa. Seperti mengentak, secara tiba-tiba ia membuka mata secara paksa—lantas mendapati dirinya berada di atas permukaan lantai. Terang saja Yudha terkejut karena kelilingi oleh banyak orang yang tak asing.


“Alhamdulillah, akhirnya Bapak sadar juga,” kata mereka saling bersahutan.


“Iya, akhirnya Bapak sadar juga.”


Yudha menatap bingung keseluruhan orang yang menatapnya dengan wajah-wajah cemas. “Memangnya saya kenapa?” tanyanya kemudian.


“Bapak sudah pingsan selama satu jam di Masjid ini,” jawab salah satu perwakilan. “Kami hampir saja membawa Bapak ke rumah sakit karena kami kira Bapak kritis atau ...."


"Sebab sudah berbagai upaya kami lakukan untuk membangunkan Bapak, tapi Bapak tidak kunjung sadar,” sahut yang lainnya.


Yudha memejamkan matanya sejenak, dia menghembuskan napasnya dalam-dalam dan membatin. ‘Alhamdulillah, ternyata hanya mimpi. Aku tidak tahu seperti apakah aku jika kejadian itu nyata adanya.'


“Sebaiknya kita tunda dulu perjalanan selanjutnya. Sepertinya kondisi Pak Yudha belum terlalu baik. Kita kembali ke Hotel dan melanjutkannya besok,” ujar salah satu staf perwakilan.


“Baik, Pak.”


Semua traveller berhamburan, mereka kembali ke bus sewa yang tadi memberangkatkan mereka.


“Menjelang sadar, ada satu nama yang tadi Bapak teriakkan,” ucap staf itu memberitahunya. Belum sempat Yudha bertanya, dia kembali melanjutkan, “Vita.”


“Ya, sepertinya saya memang sedang dihukum oleh karena nama itu,” jawabnya dengan tatapan kosong.


***


TO BE CONTINUED.

__ADS_1


__ADS_2