TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Manusia Paling Aneh


__ADS_3

16.


Siang hari itu terasa berjalan lebih cepat. Karena saat ini, jam dinding sudah menunjukkan pukul satu siang. Padahal, Rahma merasa belum melakukan apa pun selain menunggu Arkana dan para rekannya melakukan rapat.


“Sepertinya, istri Pak Yudha mengenalmu,” kata Arkana kepada Rahma. Membuat wanita itu sontak menoleh dan menghentikan aktivitasnya yang tengah memainkan ponsel.


“Dia menyapamu tadi. Tapi secara tiba-tiba, Pak Yudha langsung mengalihkan topik. Aku bukan orang awam, aku bisa membaca situasi. Tindakan ini biasanya dilakukan oleh seseorang, jika dia merasa terintimidasi atau tak nyaman atas sesuatu hal yang terjadi padanya. Mungkin ada hal yang kalian tutupi karena suatu sebab. Bukan begitu?”


Tak berapa lama Rahma mengangguk. “Lebih tepatnya dia yang berusaha menutupi, bukan aku.”


Tampaknya, kali ini Arkana tidak terlalu memedulikan ucapan Rahma. Pria itu malah sibuk mengagumi pasangan tersebut, “Mereka pasangan yang serasi. Beruntungnya para lelaki bisa mendapatkan perempuan seperti dia.”


Rahma paham siapa 'dia' yang Arkana maksud.


“Bapak mengaguminya?” tanya Rahma sekadar memastikan. Kendatipun ia tahu jawabannya sudahlah pasti.


“Laki-laki mana yang tidak mengagumi perempuan baik-baik? Kelak istri seperti itulah yang bisa membuat para suami nyaman. Perempuan demikian juga yang banyak dicari oleh kaum laki-laki seperti kami untuk pelengkap hidupnya,” jawab Arkana terdengar menyengat di hati Rahma. Meski tak tercetus kata cantik dari bibirnya, namun semua keindahan itu sudah terwakilkan dari pujian yang baru saja diungkapkan.


‘Satu hal yang harus kamu ketahui, Pak Arkana. Dari riwayat yang kuketahui, untuk menemukan wanita baik-baik, kita harus menjadi baik terlebih dahulu. Karena kejahatan akan selalu menemukan kejahatan, begitu juga sebaliknya,’ batin Rahma tak ingin mengucapkannya secara langsung lantaran tak ingin terdengar seperti sedang menggurui. Rasanya memang tak layak jika mengingat track record dirinya sendiri selama ini.


“Apa Bapak tahu, ucapan Bapak yang terdengar tadi lebih dari sekadar mengagumi?” tanya Rahma kemudian.


“Mungkin aku hanya sedang rindu berumah tangga,” jawab Arkana sekadarnya.


Rahma tersenyum ironi. Dari semua orang yang mengagung-agungkan Vita dan kisah cintanya bersama Yudha, apakah mereka tahu, bahwa ada hati yang pernah dikorbankan di sini?


Meskipun itu sudah terjadi dan sudah berlalu begitu lama, namun apakah bekas bisa menghilang?


Jika dia tak sengaja mengingat kenangan, rasa sakitnya bukan sakit biasa. Mengukir, menggores, membelah, dan menyayat sedemikian tajam. Bahkan karena sebab kisah cinta itu, membuatnya sampai sekarang tak bisa menikmati apa yang dinamakan merdeka.


“Mereka adalah penghancur hidupku,” kata Rahma marah dalam ketidakberdayaan. “Awal kehancuranku adalah karena mereka.”


Arkana menaikkan alisnya tanda ingin mengetahui lebih jauh.


“Yudha adalah mantan suamiku,” Rahma menambahkan.


“Pantas,” ucap Arkana singkat.


“Dia melamarku lebih dulu, tapi malah menikahi wanita lain yang dia dapatkan dari pegunungan. Apesnya, dia menjadikanku istri kedua.”


“Kamu mau jadi istri kedua?” tanya Arkana tak sabar menanti jawaban.


“Saat itu aku sangat mencintainya. Yudha adalah gambaran seorang pria yang sempurna. Aku tidak rela dia lepas begitu saja dari tanganku. Setidaknya, aku ingin memperjuangkannya lebih dulu.”

__ADS_1


“Berarti kamu yang bodoh. Sebagian banyak pria akan lebih mencintai wanita yang pertama kali disentuhnya, kau paham?” tekan Arkana.


Rahma menunduk, “Waktu itu ... aku berpikir dan sangat yakin bahwa akulah yang akan menjadi pemenangnya karena aku adalah wanita yang pertama kali dicintai oleh Yudha. Tapi ternyata aku salah, aku kalah. Entah keistimewaan apa yang dimiliki oleh Vita sehingga dia selalu lebih unggul dariku. Padahal aku sendiri jauh merasa lebih baik dari segi apapun.”


“Kamulah yang terlampau sombong, kalau kamu menyadarinya,” kata Arkana tersenyum agar Rahma tak tersinggung dengan ucapan pedasnya.


“Aku tidak tahu ini dosa siapa. Aku merasa hidupku semakin jauh dari garis lurus.” Rahma menyandarkan kepalanya ke sofa. “Setelah kontrakku habis nanti, aku pastikan, aku mau berhenti dari pekerjaan ini.”


Arkana langsung beranjak dari tempat duduknya, lantas dengan segera, ia mengambil tas dan pura-pura sibuk memainkan ponsel. Terus terang ia agak tersentak dengan ucapan Rahma barusan. Tiba-tiba ia dihantui perasaan kehilangan. Namun untuk memaksa atau memohon padanya rasanya tidak mungkin. Sosok Arkana Dharmawan bukanlah lelaki pengemis wanita. Wanita bukan Rahma saja. Masih banyak perempuan di luar sana yang bisa ia nikahi kalau memang dia mau.


Sakit hati itu soal biasa. Dia bukan anak remaja tanggung yang sibuk menangisi nasib percintaannya. Urusan perasaan cinta itu bisa dilupakan atau diciptakan, tergantung dirinya sendiri bagaimana cara menyikapi. Dia tetap pada pola pikinya, andai Rahma membutuhkannya, pasti dia akan datang sendiri.


“Kau boleh pulang.” Arkana mengeluarkan amplop berwarna cokelat dari dalam tasnya dan ia letakkan di atas meja. Bermaksud memberikannya kepada wanita itu.


“Aku belum melakukan apa pun, Pak. Aku hanya duduk-duduk saja dari tadi,” jawab Rahma enggan menerimanya. Dia sering sungkan menerima pemberian Arkana tanpa ia melakukan tugasnya. Baginya, penjual dan pembeli harus sama-sama saling menguntungkan, atau biasa disebut win to win solution.


“Saat Ini aku membutuhkanmu malam hari. Kalau kamu tidak bisa menginap, maka pulanglah,” titah Arkana lagi tanpa menoleh. Dia lebih tertarik menatap keindahan di bawah sana, sedangkan tangannya dimasukkan ke dalam kantong saku. Ciri khas seorang atasan yang mempunyai kuasa.


Seharusnya, Rahma senang dan segera mengambilnya. Namun entah kenapa dia malah merasa tidak enak. Ini sama sekali bukan sifat asli seorang penjual jasa. Sepertinya dia memang tidak bakat menjadi seorang ....


“Pak, boleh aku bicara sebentar?” tanya Rahma.


“Maaf, aku sibuk. Bicara lain waktu saja.” Arkana meninggalkannya untuk mengangkat panggilan telepon yang baru masuk.


Rahma menuliskan sebaris catatan di sebuah kertas dan meletakkannya di bawah uang tersebut, sebelum akhirnya ia keluar dengan sia-sia.


Ia berjalan melewati sedikit lorong sampai ke depan lift. Namun saat lift terbuka—tanpa sengaja, ia malah mendapati Yudha keluar dari dalam sana dengan membawa kotak yang diyakininya adalah makanan.


“Ada perlu apa kamu menemui istriku tadi?” tanya Yudha tanpa basa-basi. Seolah tak mau kehilangan momen bertemu dengannya. Demikian karena mereka tidak mungkin bertemu secara disengaja. “Kalau ada perlu, bicara denganku. Jangan bicara dengannya tanpaku.”


“Sayangnya aku malas melihat apalagi berbicara denganmu!” jawab Rahma ketus.


Yudha yang ditinggalkan hanya mengedikkan bahunya. Bukankah kelakuan semacam ini adalah kelakuan orang yang aneh? Tidak waras?


‘Mungkin telah hilang rasa syukur dari padanya, sehingga dia selalu marah, hilang kesabaran, overthinking dan membenci semua orang. Bahkan mungkin dia pun membenci dirinya sendiri.


Aku yakin kamu butuh bantuan istriku, tapi kamu malu mengatakannya karena yang ada di pikiranmu hanyalah buruk sangka.’


Yudha masuk ke dalam kamarnya setelah sebelumnya dia menghubungi Vita lewat pesan. Supaya dia tidak kaget dengan kedatangannya.


“Assalamualaikum, Sweety.”


“Waalaikumsalam,” jawab Vita yang tengah duduk di sofa. Wanita itu segera mencukupkan aktivitasnya ketika Yudha mendekatinya duduk di sofa.

__ADS_1



“Kenapa ditutup?” Yudha bertanya.


“Kan ada kamu pulang, nanti bisa dilanjut lagi.”


Lantas Yudha pun menyodorkan makanan yang belinya. “Ini pesananmu Mamoy.”


“Terima kasih Papoy ....” kedua pupil mata wanita itu membesar melihat makanan hangat yang diterimanya. Bukan hanya tekwan saja, di dalam paper bag itu juga terdapat salad dan jus buah segar.


“Benar tadi kamu bilang mau tidur di sini?” tanya Yudha.


“Sebenarnya sayang karena sudah dibayar, tapi kasihan anak-anak kalau ditinggal emaknya sehari semalam.


“Kita tawarkan ke Alif saja siap tahu dia mau. Hitung-hitung sambil malam mingguan.”


Vita mengangguk. Melihat Yudha menghubungi adik kandungnya yang gesrek itu. Ya lah, terserah dia saja.


“Kita tiduran di sini sebentar sampai dia datang,” kata Yudha setelah menutup panggilan dan meletakkan ponselnya lagi.


“Mau si Alif?” tanya Vita terheran, “cepat banget jawabnya.”


“Cepatlah, kalau ada gratisan siapa juga yang mau menolak. Benar kan, bayi?” Yudha mendekatkan kepalanya ke perut istrinya dan mengusapnya pelan, “Papa kasih kamu nama Zunaira saja, ya.”


“Katanya kemarin mau di kasih nama Fatimah Azzahra, sekarang kok beda lagi?”


“Selama belum ditetapkan masih boleh berubah-ubah.”


“Kamu mah, panggilnya semau-maunya. Kadang Princes, Fatimah, Bontot, Buntelan, Maimunah, Zunaira, entah apalagi nanti,” dumel wanita itu dengan sederet unek-uneknya.


“Hebat kamu, hafal semua.” Yudha terkekeh. Kini dia mengubah posisinya dan menatap wajah sang istri, “Mamoy ... aku berencana untuk melanjutkan pendidikan.”


Vita langsung kaget mendengarnya, “Melanjutkan pendidikan? Di mana?”


“Di Bandung.”


****


Bersambung.


NB: Foto diambil dari YTB.


Jangan lupa tekan gambar jempolnya.

__ADS_1


__ADS_2