
Diterpa dengan berbagai kesibukan membuat Yudha jarang sekali mengunjungi istrinya minggu-minggu ini. Terlebih, dia juga harus mengurus surat perceraiannya dengan Rahma.
Wanita itu sudah keluar dari sel tahanan sekarang, Umi Ros telah mencabut laporannya. Dan pada akhirnya, mereka memilih jalan damai. Mungkin berhari-hari berada di sel membuat wanita itu memiliki jalan pikir yang lebih luas. Atau secara perlahan, dia sudah mulai dapat menerima takdirnya?
Seperti apa kata Yudha, “Di dunia ini, memang ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan.”
Semua tahu, betapa rumit dan panjangnya proses perceraian. Umumnya, proses tersebut memakan waktu enam bulan lamanya mulai dari awal proses pengajuan. Namun karena Yudha mampu, dia menyerahkan semuanya kepada pengacara.
Pengacara yang mencatat permasalahan rumah tangganya, kemudian memberikan berkasnya ke pengadilan agama.
Minggu pertama setelah pengajuan, surat panggilan sidang cerai dikirimkan. Kemudian minggu kedua, proses sidang pun dilakukan.
Yudha hanya hadir pada saat sidang pertama. Karena sidang kedua hanya mendatangkan beberapa orang saksi.
Tidak ada kendala selama persidangan lantaran karena keduanya sepakat untuk sama-sama bercerai. Pun karena Nely tidak pernah dihadirkan pada saat itu. Yudha meminta ayah mertuanya untuk bekerja sama dengannya agar urusan mereka lebih cepat selesai tanpa perdebatan lagi.
Kini mereka hanya tinggal menunggu akta cerai. Berdasarkan pemberitahuan, akta cerai baru keluar setelah empat bulan, semenjak pengajuan tersebut.
“Saya akan tetap memberimu kompensasi. Mungkin sekarang saya belum memikirkannya. Tapi nanti kamu sampaikan saja ke Pak Norman. Pengacara saya,” kata Yudha kepada Rahma ketika mereka keluar dari persidangan.
“Itu tidak perlu. Aku akan bekerja dan secepatnya menikah lagi setelah ini,” jawab Rahma.
Dia berkata demikian lantaran ingin mengetahui bagaimana ekspresi Yudha. Namun Yudha terlihat sama sekali tidak peduli sehingga membuat Rahma tersenyum ironi.
‘Dia membuangku setelah bosan. Ternyata seperti ini pria yang aku puji-puji selama ini.'
“Walau pun kamu tidak mau, saya akan tetap memberikannya,” kata Yudha menanggapi. “Kamu akan bahagia, Rahma. Kamu sudah bebas. Carilah laki-laki lain yang hanya sepenuhnya mencintaimu.”
“Oh, itu pasti. Kamu jangan khawatir,” kata Rahma dengan suara sedikit angkuh.
“Ya sudah, saya pergi dulu kalau begitu.”
Terlihat beberapa titik air mata mengalir ketika Yudha pergi meninggalkannya tanpa memedulikan dirinya lagi. Sungguh miris nasib wanita ini dengan segala kecerobohannya.
***
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, Yudha kembali datang ke tempat Vita. Karena siang dia sibuk, maka dia hanya bisa datang sore hari, sebelum Dara pulang. Selalu di jam yang sama.
“Seperti mempunyai selingkuhan,” gumamnya pelan ketika dia sudah tiba di depan rumah sewa itu. Kini tetangga Vita telah banyak yang tahu bahwa Yudha adalah suaminya karena sudah kedapatan datang berulang kali.
Namun makhluk yang bernama manusia tidak lepas dari kasrak-kusruk gunjingan. Mereka malah menyangka Vita adalah istri kedua, istri tersembunyi, atau istri simpanan, begitulah yang mereka pikirkan.
Tapi Vita tidak ambil pusing untuk memikirkannya. Yang jelas kenyataannya memang demikian. Dia hanyalah istri siri.
“Aku ke sini lagi karena mau memberitahumu, bahwa aku akan pergi ke Mekkah sama Abah besok sore,” kata Yudha begitu pria itu masuk ke dalam rumah.
Vita hanya mengangguk karena tak bisa mengatakan hal lain.
“Aku pasti merindukan kalian,” katanya lagi. Namun kini dia mengeluarkan ponsel untuk memotret baby Rayyan beserta ibunya.
“Jangan foto-foto aku. Anakmu saja,” ucap Vita murka dan menutupi wajahnya. Terang saja dia marah. Dia sedang tidak menggunakan hijab karena berada di dalam rumah. Penampilannya juga cukup berantakan. Dia hanya mengikat rambutnya secara asal. Pun dengan pakaiannya yang agak terbuka bagian atas dadanya. Membuat Yudha selalu menelan ludah susah payah bila berpusat pada bagian itu.
“Itu sah-sah saja.”
“Berapa hari di sana?” tanya Vita kemudian.
“Kenapa, takut kangen?” tersenyum menyebalkan, seperti tak mempunyai daftar dosa sama sekali.
Ekspresi Yudha langsung berubah. Kaget, lebih tepatnya. “Untuk apa ke sana?”
“Tidak apa-apa, hanya ingin pulang saja. Kan asalku dari sana. Sudah hampir setahun rumah itu kutinggalkan. Wajar kalau aku ingin pulang.”
“Tunggu aku pulang dulu. Kalian harus pergi bersamaku.”
“Tidak usah, aku mau pulang sama Dara.”
“Dara lagi, Dara lagi. Sudah berapa banyak gadis itu kamu repotkan?” Yudha tak mengerti dengan jalan pikiran Vita. Dia seperti sedang mati-matian sekali menghindarinya.
“Dia tidak merasa direpotkan, Mas. Hanya perasaanmu saja. Lagi pula dia malah senang kalau ada kami yang menemaninya.”
Benar, Dara malah justru merasa senang bisa serumah dengan Vita; orang yang ditemuinya di perjalanan dulu saat sedang frustrasi. Dia bisa dua kali lebih hemat karena sekarang semua tanggungan dibayar secara bergantian. Tak hanya itu, Dara juga tak terlalu lelah lagi, sebab ketika pulang, makanan sudah tersedia di atas meja. Rumah pun sudah terlihat bersih. Berbeda dengan dulu, karena apa-apa, selalu dia lakukan sendiri.
__ADS_1
“Berapa hari kamu pulang ke sana?” tanya Yudha.
“Sebosannya, kalau perlu ya selamanya,” jawab Vita tak sedang bersungguh-sungguh. “Tidak ada tanggungan aku di sini, Mas. Aku bebas tinggal di mana pun. KTP aku masih singgel, tempat tinggal yang tertera masih sama seperti tempat lahirnya, Rayyan anak ibu, KK masih sendiri. Jadi terserah aku saja.”
Jawaban Vita membuat Yudha tertampar. Teringat bagaimana dulu bagaimana dia menomor duakan wanita ini sehingga dia tak mempunyai status yang jelas.
Matanya kini menatap kepala Rayyan yang sedang tidur di pangkuan ibunya. Ya, dia berstatus anak ibu, bukan anak ayah. Rasanya memang sangat keterlaluan dan tidak tahu diri sekali dirinya saat ini. Terlihat jelas gambaran orang lain, seakan dia telah membuang mereka—lalu seenaknya dia bercita-cita untuk memungutnya kembali saat ia butuh.
“Aku seburuk itu,” ujar Yudha menyesali diri. “Maafkan aku, Vit. Beritahu aku bagaimana caraku menebusnya.”
“Mas Yudha tak sepenuhnya bersalah. Aku juga bersalah. Coba saja kalau waktu itu aku menolak untuk ....” Vita tersenyum, membiarkan Yudha menjawab sendiri maksud perkataannya.
“Kamu menikmatinya.”
“Karena aku berharap bisa jadi satu-satunya waktu itu.”
“Sekarang harapanmu sudah terkabul.”
“Tapi sekarang sudah tidak lagi.”
Hati Yudha kerap merasa teriris bila secara terang-terangan Vita mengatakan seolah dia tak membutuhkannya lagi. Namun mungkin apa yang Vita rasakan dulu lebih dari ini. Maka dari itu, dia sudah menyiapkan hati untuk menerima segala yang dikatakannya tanpa merasa perlu memikirkan lebih.
Yudha menggenggam tangannya. “Beri aku bekal,” ujarnya menatap penuh harap.
“Bekal apa?” tanya Vita tak mengerti.
“Aku akan pergi jauh,” ulang Yudha agar Vita mengerti maksudnya. “Hanya sebatas pelukan. Tapi itu pun kalau kamu mengizinkan.”
Vita tersenyum dan menatap bayinya. “Peluk dan cium dia saja kalau begitu.”
Meskipun kecewa dengan jawabannya, Yudha tak melayangkan protes. Namun setelah benar-benar mencium putranya, dia juga mencuri sebuah ciuman di pipi ibu dari anak ini!
***
To be continued.
__ADS_1
Boleh muak karena setelah ini hanya akan membahas kebucinan.
Maaf ya, telat terus & kurang maksimal. Lagi kurang sehat karena aku lagi diare. Kesibukanku kali ini ya bolak-balik kamar mandi😅