TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
M P Pengantin Kedaluarsa


__ADS_3

Yudha mengakhiri obrolannya ketika hari terasa sudah semakin sore. Dia mengingat ada ibadah yang belum dilaksanakan, namun sudah tertinggal beberapa menit yang lalu.


Usai berpamitan kepada tamu yang tersisa, dia menuju ke atas untuk menyusul istrinya.


“Han, tolong handle semuanya, ya. Tapi kalau sekiranya ada yang penting, Han telepon saja,” ucap Yudha kepada salah satu staf kepercayaan bernama Hanes. Orang yang ditugaskan untuk membantunya khusus hari ini.


“Baik, Pak Yudha,” jawab Hanes mengangguk patuh.


“Han bisa langsung pulang nanti setelah semuanya selesai.”


Orang itu kembali mengangguk.


“Abah, Umi sama Alif ke mana?”


“Sepertinya mereka sudah lebih dulu ke atas, Pak.”


“Baik kalau begitu, saya tinggal.”


Yudha berlalu menuju ke lift. Selesai sudah semua kerumitan hari ini dan menyisakan rasa lelah. Belum lagi perutnya yang kosong karena hanya diisi sedikit saja siang tadi. Belum sekalipun dia menemui makanan berat kecuali makanan-makanan ringan biasa.


Jika dalam kondisi seperti ini, justru pengantinlah yang terkadang terabaikan dan kurang diperhatikan.


Tiba di kamar tujuan, Yudha langsung mengetuk pintu—tak berapa lama, terbukalah pintu itu yang dibaliknya terlihat sosok cantik bertubuh mungil dengan pakaian minim. Memang bukanlah baju transparan serupa pakaian dinas malam, tetapi sangat menarik sekali hingga memperlihatkan bentuk-bentuk tubuhnya yang masih kencang.


Yudha tersenyum masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya kembali. “Ya Allah istriku, ini masih sore ....”


“Memangnya kenapa?” tanya Vita pura-pura tidak tahu. “Takut tergoda, ya?” seringainya dengan nakal.


“Takut khilaf, soalnya hari masih panjang. Masih ada acara makan malam sama keluarga nanti.”


“Khilaf juga tidak apa-apa, Mas. Sudah boleh.” Vita berjalan cantik menuju ke atas ranjang.


Yudha menggelengkan kepalanya menghilangkan pikirannya yang sedang berkelana.


Sejenak dia mengabaikan istrinya untuk masuk ke dalam kamar mandi. Mencuci tangannya dan segera mendekati buah hatinya yang sedang bergerak-gerak lincah di atas tempat tidur.


Padahal baru setengah hari, tapi rasanya seperti sudah sangat lama sekali tidak menemui anaknya.


“Papa kangen sekali sama kamu, Nak,” ujarnya seraya menghujani baby Ray dengan kecupan. Wangi bayi itu seakan menjadi candu untuknya.


“Terima kasih untuk semua kebahagiaan ini, Sayang,” kata Yudha juga mencium Vita. Tidak pernah bosan ia mengucapkan terima kasih untuk istrinya yang sudah berkorban nyawa menghadirkan buah cinta untuk mereka. Bukan hanya nyawa saja, bahkan kesakitan-kesakitan yang ia lakukan sebab karena kesalahannya yang lalu. Kemudian dengan kebesaran hati, Vita masih mau menerimanya sepenuh hati dengan tangan terbuka.

__ADS_1


Usai beribadah, mereka duduk di balkon sambil melakukan makan siang yang tertunda. Mereka juga berbicara banyak hal tentang keseruan mereka hari ini.


“Banyak yang memberiku kado, tapi belum aku buka satu pun. Penasaran,” ucap Vita menyayangkan.


“Kita buka sama-sama besok.”


“Kenapa Rahma tidak kamu undang, Mas?” tanya Vita. Dia hendak bertanya tentang hal ini, namun terus saja tertunda semenjak tadi.


“Itu tidak mungkin, tidak ada perlunya juga,” jawab Yudha seraya sibuk mengunyah makanan.


Sudah Yudha pertimbangkan dan pahami baik-baik. Tidak elok mengundang mantan pada acara pernikahan karena akan menuai kontroversi—demikian jika dilihat berdasarkan dari pengalaman yang sudah-sudah.


Hal seperti ini sering ia saksikan di media-media sosial. Terlebih, Rahma sebelumnya adalah istri sah dan Vita hanyalah istri siri. Rahma dikenal oleh banyak orang sedangkan Vita tidak. Tidak sedikit orang yang bakal menggunjingnya, karena sebagian besar manusia hanya menilai dari yang tampak, bukan yang tersembunyi.


“Eling, Mas. Makannya,” Vita mengingatkan Yudha karena pria itu terlihat seperti orang kelaparan sehingga satu meja hampir ludes dimakan olehnya.


“Apa itu eling?”


“Sadar.”


“Iya sadar aku lapar.” Tidak ingin kenyang sendiri, Yudha juga menuangkan beberapa makanan ke piring istrinya.


“Ya ampun, stop. Aku tidak bisa makan terlalu banyak.”


Bahkan saat ini pun Vita sudah berkali-kali meremang hanya karena kata-kata.


“Merinding.” Vita mengusap lengannya. Dari kemarin mereka selalu mendapat gangguan, alhasil mereka memutuskan untuk melakukannya hari ini. Ya, semoga untuk malam ini mereka tidak akan gagal lagi, batinnya begitu berharap.


***


Makan malam sedang dilakukan di restoran bawah, lantai satu; masih berada di dalam Hotel ini. Semua berkumpul terkecuali Alif. Umi mengatakan, Alif sedang patah hati karena gagal melamar seorang perempuan.


“Memang sebelumnya mereka sudah saling terhubung?” tanya Yudha penasaran sekaligus heran. Dia justru tak tahu apa-apa mengenai rencana adiknya itu. “Kalau langsung lamar tanpa saling berkabar dulu bagaimana ceritanya?”


“Sepertinya tidak, Nak. Salahnya sendiri juga,” jawab Umi Ros. “Menurut Vita, Dara itu bagaimana? Memangnya dia tidak memberitahukanmu kalau dia sudah bertunangan?”


“Aku baru tahu tadi, Mi. Aku juga kaget, karena tahu-tahu Dara sudah bawa tunangan,” Vita menjawab.


“Beberapa hari lalu, Alif bilang ke Umi katanya mau melamar Dara. Tidak apa-apa katanya kalau pun nanti masih sibuk kuliah. Itu bisa diatur. Tapi kejadiannya malah seperti ini. Kecewa sudah pasti.”


Abah menyahut, “Berarti belum jodoh. Jangan disayang-sayangkan. Kasih penjelasan untuk Alif supaya dia tidak terlalu berlebihan menyikapi kegagalannya. Gagal, sakit, kecewa itu soal biasa.”

__ADS_1


“Anaknya juga tidak tahu ke mana.”


Umi tidak sungguh-sungguh mencarinya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sudah menjadi kebiasaan anak keduanya ini memang hobi pergi dari rumah. Nanti dia akan kembali beberapa hari kemudian, sekiranya dia telah puas menginap di suatu tempat.


Tidak terlalu lama Yudha dan Vita berada di restoran itu. Setelah semuanya selesai, Umi dan Abah segera naik ke atas dengan dalil, “Orang tua tidak tahan sama udara dingin.”


Memang betul Hotel ini dingin, tetapi itu bukan alasan yang sebenarnya. Karena beliau mengerti apa yang biasanya terjadi jika sepasang pengantin mendapati malam harinya. Ya—meskipun bukan pengantin baru, melainkan pengantin kedaluwarsa.


Pada saat ini jam masih menunjukkan pukul delapan lewat beberapa menit. Tapi Vita tengah bersiap-siap untuk mempersiapkan jatah malam terbaik untuk suaminya.


'Memangnya mau melakukan itu harus menunggu tengah malam dulu?'


Wanita itu memakai lingerie koleksinya yang ia persiapkan menjelang pernikahan. Berkaca di cermin kamar mandi, dia memolesi wajahnya dengan sedikit sentuhan make up agar terlihat lebih segar.


Tok tok tok!


Pintu diketuk perlahan yang disusul dengan suara Yudha, “Masih lama?”


“Sebentar.”


“Aku hanya takut kamu kenapa-kenapa. Sudah lama sekali kamu berada di dalam.”


“Sebentar lagi selesai, Mas Yud ....”


Yudha memutuskan duduk di depan cermin, menunggu sambil memainkan ponselnya untuk mengusir rasa bosan.


Tak berapa lama, terdengar pintu terbuka. Terlihatlah pemandangan menggiurkan dari pantulan cermin di depannya—sehingga membuat pria itu menelan ludah dengan susah payah.


Tanpa dititah, perempuan itu duduk di atas pangkuannya, mengalungkan kedua tangannya ke leher dengan sangat menggoda.


Tidak ingin menunda-nunda, detik itu juga Yudha membawanya ke atas ranjang yang banyak ditaburi bunga-bungaan. Keduanya sempat menoleh melihat bayi mereka yang di tempatkan di bed terpisah.


“Aman,” ujar Yudha. Kemudian berlanjut untuk memberikan rang sangan- rang sangan kecil sebelum pertempuran sesungguhnya benar-benar terjadi. Tidak ingin egois, apa yang dilakukannya tak lain adalah untuk mempermudah jalan yang akan dilewatinya nanti.


Beberapa menit berlalu, setelah merasa apa yang dilakukannya cukup, Yudha menekuk kaki istrinya dan ....


Terjadilah malam kedua.


***


To be continued.

__ADS_1


Aku gak bisa nulis ginian. Bukan spesialis ahli ++. Aku pikir segini aja udah cukup, soalnya novel ini semi religi. Yang halal gak boleh dicampur sama yg haram. Begitulah yang kupelajari.


Pengumuman judul Alif sama Dara sudah aku umumin di ig @ana_miauw. 😙


__ADS_2