TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Ditemukan Oleh Alif Noran


__ADS_3

Sudah terhitung sepuluh hari Dara pergi meninggalkan Vita sendirian. Beruntung ada anak gadis teman Dara yang sering bermain ke kontrakannya, sehingga dia tidak terlalu merasa kesepian. Pada suatu kesempatan, mereka juga terkadang mengobrol untuk sekadar berbagi resep atau saling berbagi cerita.


“Aku kesal sama dia, dia tidak ada serius-seriusnya sama sekali denganku. Menganggapku seperti mainan!” kata gadis itu yang bernama Andari. Dia adalah salah satu mahasiswa jurusan Sistem Informasi di UI semester terakhir. Gadis tersebut sedang menceritakan kegondokannya kepada sang pacar.


“Jangankan meminta bertunangan, setiap kali aku meminta bertemu dengan keluarganya, dia selalu saja bilang nanti, nanti, nanti ... terus! Seolah ucapanku ini tidak penting sama sekali untuk di dengar,” sambungnya lagi dengan bibir dimonyongkan.


Vita mendekatinya dan memberinya satu gelas minuman coklat hangat. “Minum dulu biar tenang,” ucapnya sambil tersenyum.


Tangan Andari menyambut uluran tangan Vita. Kedua retinanya membesar melihat minuman hangat yang diterimanya. “Wah enak sekali ....” matanya terpejam menikmati aroma enak yang menguar dari cangkir itu.


Vita duduk di depannya, tangannya meletakkan gelas satunya lagi milik dirinya sendiri.


Minuman itu ternyata cukup efektif membuat bibir Andari sontak terdiam. Dia tak lagi membahas masalah pacarnya yang tidak pernah serius terhadapnya. Entah lupa, atau memang tak ingin membahasnya lagi. Namun tak lama berselang, Andari justru menanyakan hal lain, “Kapan Dara balik?”


“Katanya sih minggu depan,” Vita menjawab.


“Aku menunggunya. Aku sangat membutuhkannya untuk mengantarkanku ke kampus. Kamu kan tahu, aku tidak bisa menyetir apalagi naik motor.”


“Memangnya orang tuamu tidak pernah mengantarkanmu?”


“Mereka sibuk cari duit.”


“Terus kenapa tidak memesan atau mencari yang lain saja? Kan banyak.” Vita mencoba menyarankan opsi lain.


“Aku takut, Vit. Aku hanya percaya sama Dara, selain dia perempuan, pembawaannya juga halus, dia sangat berhati-hati sekali kalau menyetir. Berbeda kalau orang lain yang suka awut-awutan.”


“Tidak semuanya begitu,” ucap Vita jeda selama beberapa saat. “Eh, tapi susah ya, kalau sudah cocok.”


“Iya, itu kamu tahu.”


Andari mulai menyesap minuman yang di hidangkan untuknya. Sebelum akhirnya dia menanyakan perihal suaminya.


“Omong-omong, suamimu itu ke mana sih? Kenapa kamu bisa sampai tinggal di sini? Dengar-dengar, kamu istri orang kaya ya?” Andari sontak menutup mulutnya setelah berkata demikian. “Ups, maaf, aku suka kepo.”


“Tidak terlalu kaya juga, tapi cukup,” jawab Vita sangat sederhana.

__ADS_1


“Cukup kapal pesiarnya lima, pesawat jetnya satu, Hotelnya ada sepuluh, Villa-nya ada di berbagai tempat, istananya berlapis emas.”


“Kamu itu suka berkhayal!” kata Vita tergelak setelahnya.


“Kenapa kamu meninggalkannya? Apa dia laki-laki brengsek?”


Vita menggeleng. “Tidak, dia laki-laki terbaik yang pernah aku kenal.” Vita berucap sebelum ia memejamkan mata sejenak. Ia tersenyum dengan keteguhan yang menggetarkan hati. Mulai dari saat lalu ia berjanji, ia tidak akan lagi mengalah mendengar pertimbangan apa pun.


“Bohong. Kalau dia baik tidak mungkin kamu sampai pergi begini,” kata Andari tak percaya.


“Pergi dari suami bukan berarti dia tidak baik, ada alasan lain yang tidak bisa kuceritakan padamu. Tapi yang jelas, aku lebih bahagia hidup sendiri.”


“Iya deh, aku tahu, aku tahu,” kata Andari tanpa ingin mengorek lebih lanjut.


Kedua perempuan itu berbincang cukup lama. Andari juga menceritakan, awal pertemuannya dengan Dara dulu karena pernah memesan taksi online miliknya.


Semula mereka memang tidak saling mengenal, namun lama-lama Andari penasaran karena setiap kali Dara yang menjemput, titiknya selalu dekat. Setelah agak lama diperhatikan, rupanya mereka bersebelahan.


Rumah Andari berada di samping gerbang kontrakan ini persis. Dia tinggal dengan orang tuanya yang jarang pulang. Dan kesepian itulah membuatnya sering kelayapan mencari teman, seperti saat ini.


“Kapan-kapan saja, kamu kan mau ketemuan sama pacarmu. Nanti aku malah mengganggu.” Vita tersenyum, menolak dengan halus.


“Oh, iya juga ya?” Andari sedikit terkejut saat merasakan getaran di tangannya, teleponnya berbunyi. “Eh, sebentar, Vit. Dia menghubungiku.”


Andari menggeser tombol hijau dan menempelkan ponselnya di telinga, “Oh, kamu sudah ada di dekat sini? Ya, aku ada di sebelah. Sebentar lagi aku balik. Ya, aku ada di deretan kontrakan yang banyak ini, hu’um. Sebelah persis. Ya, ya sudah.” Andari menoleh, “Itu mobil pacarku, Vit. Aku pergi dulu, yah! Bye!”


Gadis itu berlari menuju gerbang.


Vita menutup pintu setelah mobil itu menjauh. Dia kembali duduk sendiri di pojok ruangan meratapi kesepiannya.


Di saat-saat inilah, ingatan tentang kebersamaannya bersama Yudha muncul. Dia merindukan peluknya, merindukan perhatian dan cara manis pria itu memperlakukannya. Tak jarang gairah itu menggebu dan meledak-ledak yang disebabkan oleh hormonnya. Dia menggigit bibir bawahnya, berusaha kuat menahan gejolak hasrat yang amat menyiksa.


“Terkadang aku tersiksa sekali hidup seperti ini,” gumamnya dengan mata yang basah. “Memang segala yang indah pada awalnya menipu mata, seperti fatamorgana.”


Ia termenung-menung di tempat duduk menatap ponsel miliknya tanpa melakukan apa-apa. Matanya berkaca-kaca. Selama ini, dia hanya terpaksa kuat oleh karena keadaan yang mendesak.

__ADS_1


TOK TOK TOK!


Lamunan itu buyar seketika manakala terdengar pintu diketuk.


“Apa itu Dara?” gumamnya sangat senang. Alangkah rindunya Vita kepada Dara yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri.


Wanita itu berjalan cepat ke arah pintu untuk menyambutnya. Namun pada saat pintu itu terbuka, “Da ....” senyumnya langsung memudar.


‘Alif!’ batinnya memekik. Tangan kecil itu berusaha menutup kembali pintu rumah, namun tenaganya tak sebanding dengan tenaga pria dibaliknya.


“Akhirnya kau kutemukan juga!” Alif menahan pintu dan membukanya lebar-lebar.


Bagaimana bisa pria itu menemukannya di tempat terpencil seperti ini?


Ya, tentu saja. Dia ada hubungannya dengan gadis tadi yang bernama Andari. Dia melihatnya barusan dari kaca mobilnya. Setelah menemui Andari sejenak, dia beralasan mempunyai urusan mendadak dan segera menemui Vita di tempat ini.


“Alif, Alif kumohon jangan paksa aku pulang denganmu.” Wajah Vita berubah menjadi pucat pasi. Wanita itu langsung menjatuhkan tubuh ke lantai dan menggeleng seraya menyatukan telapak tangannya.


“Tolong, Lif. Tolong ... jangan bilang sama Mas Yudha bahwa aku di sini.” Air mata itu meluruh tanpa diperintah. “Alif ...,” ucap Vita lagi terdengar begitu menghiba.


“Jangan seperti ini, Vit. Berdirilah!” Alif berusaha mengulurkan tangannya untuk membantu Vita agar dia berdiri kembali. “Kamu harus tahu, Abang sangat terpukul sekali dengan kepergianmu.”


Vita tetap teguh pada pendirian kendatipun berita itu sangat menyentuh hatinya.


“Aku tidak mau kembali kepada mereka. Jangan paksa aku. Apa pun yang kamu kabarkan kepadaku mengenai mereka, tidak akan membuatku merasa sedih atau pun welas. Tidak akan.”


Alif tertegun. Dia tak bisa mengatakan apa-apa lagi kepada wanita yang sekarang ini terlihat begitu terluka.


***


To Be Continued.


Novel ini akan mempunyai jalan yang berbeda. Tenang ya, aku punya banyak kejutan ke depan!


😍😘

__ADS_1


__ADS_2