
Bab 14.
Kabar bahagia ini terdengar sampai ke Beringin. Arok dan istrinya sangat senang saat pertama kali mendengar bahwa mereka sebentar lagi mereka akan memiliki cucu.
Hal yang paling mereka tunggu-tunggu setelah sekian lama tak mengendong bayi mungil yang berasal dari darah mereka. Sebab mereka hanya mampu memiliki satu anak. Itu pun dengan usaha yang susah payah, karena harus terlebih dahulu berjuang keras untuk menghadirkan Ros di tengah-tengah pernikahan mereka.
Menurut dari cerita yang Ros dengar, orang tuanya tersebut bahkan sampai mencari jalan pintas, tetapi sayangnya tetap tidak berhasil. Hingga keduanya berhenti pada satu titik karena lelah dan salah jalan. Namun pada saat mereka kembali ke jalan Tuhan, mereka malah di anugerahi buah hati. Oleh karena itulah, anak mereka diberi nama Rosyadah, bahasa Arab yang artinya, jalan yang lurus.
“Kamu sendiri, mau kasih nama anak kita siapa?” tanya Ros kepada suaminya.
“Anak pertama kalau nanti laki-laki, akan aku beri nama Yudha,” jawab Haikal tanpa setelah beberapa saat berpikir.
Ros mengerutkan dahi, “Alasannya?”
“Dia mengingatkanku saat perang.”
“Perang?” ulang Ros meminta Haikal menjelaskannya lebih lanjut.
“Iya, dia adalah bagian dariku yang mengingatkanku saat berperang dengan polisi,” kekeh Haikal selama beberapa lama, “em, sebenarnya bukan begitu. Aku hanya menyukai saja nama Yudha. Dia mempunyai artian yang bagus.”
“Kalau perempuan?”
“Kalau perempuan, nanti aku pikir-pikir lagi. Tapi, entah kenapa aku begitu yakin kalau dia laki-laki.”
“Kenapa begitu? Aneh.”
“Karena akulah yang membuatnya, jadi aku tahu.” Pria itu terkekeh menyebalkan seperti biasa.
“Itu kedengarannya lebih aneh lagi.”
“Tapi kau suka yang aneh-aneh, bukan?”
“Izh!” gemas, Ros melemparkan bantal ke tubuh suaminya.
Semula tidak ada yang aneh dari hubungan mereka. Kehamilan Ros yang tiap hari kian kentara memicu semangat Haikal dalam bekerja dan beribadah. Dan dengan sendirinya, kebiasaan-kebiasaan pulang malam pun kini mulai berkurang. Lantaran mengingat bahwa selalu ada yang menunggu kepulangannya di rumah.
__ADS_1
Sesekali mereka juga pulang ke Beringin untuk sekadar menjenguk orang tua, atau menginap di sana kala saat hari libur tengah tiba. Benar-benar menyenangkan. Seperti itulah gambaran pernikahan yang biasa dirasakan oleh sebagian banyak pasangan yang baru menikah.
Tetapi setiap rumah tangga, pasti mempunyai bencana sendiri dengan macam-macam permasalahan. Jika orang lain di uji melalui harta, kehilangan, kemalangan, atau perang saudara, namun Ros di uji dengan kursi ketiga di rumah tangganya.
Oh, Ya Tuhan....
Ros mengira bahwa palu godam telah menghantam kepalanya hingga remuk dan hancur tak bersisa, pada saat pria yang belum genap setahun jadi suaminya tersebut, mengatakan ingin menikah lagi.
“Apa maksudmu seperti ini?” sembur Ros begitu pria itu meminta izinnya secara terang-terangan.
“Aku hanya ingin meminta persetujuanmu. Kalau kau tidak mau, maka aku tidak akan melakukannya,” balas Haikal pasrah dengan jawaban sang istri.
“Tentu saja aku menolak, mana ada istri yang mau dimadu? Memangnya aku kurang apa? Tanyakan pada ibumu kalau ucapanku ini salah.” kendati begitu marah, tapi suara wanita itu memang tak pernah bisa lebih keras daripada suaminya.
“Kau adalah sebaik-baiknya seorang istri,” jawab Haikal tak lama berselang.
“Lalu kenapa kau ingin menikah lagi? Apa aku kurang cantik? Apa aku terlalu membosankan? Atau aku terlalu membangkang dengan suamiku?” tanya Ros disela tangisnya, "aku bisa menjadi mengubah diriku seperti yang kamu mau."
Namun kini Haikal menggelengkan kepala, “Dengar, tidak ada yang kurang dari dirimu. Kau terlalu sempurna untukku yang penuh dosa dan miskin ilmu ini.”
“Dia butuh bantuan dan perlindunganku, tapi kami tidak ada ikatan.” Haikal memeluk istrinya dan menyatukan kening mereka untuk menenangkannya, “Lebih baik aku jujur padamu daripada nanti aku menemuinya secara sembunyi-sembunyi yang malah akan menjadi sebuah prasangka.”
“Kenapa harus kamu orangnya? Menolong tidak harus menikahinya,” isak Ros terdengar kian menyesakkan.
“Ya, ucapanmu memang benar. Tantenyalah yang berwasiat sebelum meninggal, beliau menitipkannya denganku karena tidak punya orang lain lagi yang dekat dengannya.” Haikal menggenggam tangan Ros dan menatapnya lekat-lekat, “Aku tidak memaksa, kalau kamu memang tidak ridha, aku tidak akan melakukannya.”
Ros menggeleng, “Aku tidak akan sanggup berbagi dengan wanita lain. Tolong jangan rusak kebahagiaan kita.”
“Aku tidak akan melakukannya tanpa persetujuanmu, Ros.”
“Sekarang jelaskan, siapa dia dan kenapa kamu bisa dekat dengannya.”
Haikal mengangguk. Lelaki itu kemudian membawanya ke salah satu rumah sakit besar yang ada di kota Pariaman.
Di sebuah ruangan, terbaring seorang wanita dewasa dengan jarum yang menusuk tangan kirinya. Wajahnya pucat meski tak mengurangi kecantikan alami di wajahnya. Nayana Wulan Fajrani.
__ADS_1
“Dia adalah Naya, orang yang cukup aku kenal. Janda dari seorang laki-laki bernama Musfira,” ujar Haikal mulai menjelaskan, “Ibunya telah tiada semenjak kecil dan ayahnya sudah menikah lagi. Tiga tahun lalu, dia pernah aku selamatkan saat disiksa oleh suaminya dan aku beri tempat tinggal di rumah almarhum nenekku. Tapi selang beberapa hari... Ayah dan Bundo mengusirnya karena rumah itu mau di jual untuk biaya pindah ke kota,” paparnya menjeda sesaat.
Sedangkan Ros duduk di sampingnya dan melihat dengan tatapan sangat iba. Sebagai perempuan, ia tentu dapat merasakan penderitaan sesamanya.
“Tanpa aku ketahui, ternyata dia menyusul Eteknya ke kota ini dan tinggal bersama mereka. Tapi kemarin, Eteknya meninggal dan menitipkannya padaku karena Uni Naya sekarang hanya tinggal sendiri dan dalam keadaan sakit parah. Perkiraan dokter, usianya tidak akan lama lagi.”
Haikal meneruskan, bahwa dia menemukan Naya di tempat ini saat dia tengah menjenguk temannya—tepatnya seminggu yang lalu.
Dan Ros mendengarkan saja suaminya berkisah sampai selesai, tanpa berkeinginan untuk memotong agar semua tampak lebih jelas.
Pagi itu, Haikal mengatakan bahwa dia akan pergi menjenguk teman sesama rekan kerjanya di rumah sakit ini. Namun pada saat dia sampai, pria itu malah tak sengaja bertemu seorang pasien mirip wanita yang dia kenal, yakni Naya. Wania itu terbaring di atas brankar yang tengah di dorong menuju ke ruang perawatan.
Rasa penasaran, membuat Haikal mengejarnya untuk memastikan, benar atau tidaknya apa yang baru saja dia lihat.
“Dia memang Naya, seperti apa katamu,” jawab seorang perempuan yang tengah mendampinginya.
“Uni Naya sakit apa?” Haikal bertanya.
“Kanker trakea,” jawab wanita tersebut. Tak bisa berlama-lama, wanita yang bernama tidak diketahui namanya itu masuk ke dalam ruang rawat sehingga pembicaraan pun terhenti begitu saja.
Tetapi Haikal tak menyerah, karena keesokan harinya, dia kembali mendatanginya lagi.
Namun di saat yang bersamaan, dia malah mendapatkan kabar buruk. Sebab Etek Naya yang diperkirakan sudah sangat tua itu, juga masuk ke dalam IGD karena serangan jantung.
Dan di saat-saat terakhirnya, beliau sempat meminta berbicara dengannya yang tanpa di duga, untuk meninggalkan sebuah wasiat, yakni menitipkan Naya karena wanita itu kini hanya tinggal sebatang kara.
Ros tergugu setelah suaminya selesai membicarakan wanita di depannya tersebut. Namun setelah agak lama berpikir dan bisa kembali menguasai diri, Ros akhirnya mampu tegak berdiri. Ia menatap pria itu dan berujar dengan pasti, “Nikahilah dia... aku mengizinkanmu.”
Seketika Haikal terkesiap mendengar ucapan istrinya barusan. Bukankah ini jawaban yang dia mau? Tetapi kenapa dia justru merasa sakit sendiri saat mendengarnya?
***
Bersambung....
Aku gak mau ngubah outline, ya, gais. Jadi kalau agak nyeri ditahan aja dulu. Sebentar, kok. Soalnya nanti kalau di ubah, gak akan nyambung sama cerita yang sudah ada sebelumnya 🥰🌺
__ADS_1