
Sore harinya.
Perjalanan kembali menuju ke Jakarta penuh drama. Pasalnya sempat balik lagi ke rumah karena ada barang cukup penting yang tertinggal. Yakni botol-botol susu milik Rayyan.
Sebenarnya benda itu bisa saja ditinggal karena Yudha sangat bisa membelinya di toko-toko perlengkapan bayi. Namun kedua orang lelaki rupanya tak cukup untuk mengalahkan satu perempuan yang terkenal keras kepala itu. Alhasil, Alif berulang kali menggerutu dan hampir mencekik Abangnya sendiri karena tidak bisa mencekik orang lewat!
Seperti biasanya, mereka akan melakukan perjalanan malam hari karena berbagai alasan yang sebenarnya lebih baik daripada melakukan perjalanan siang. Selama itu, kedua laki-laki bergantian menyetir separuh-separuh jalan. Hingga akhirnya mereka pun selamat sampai tujuan. Tepat pada pukul jam setengah enam pagi.
Kedatangannya langsung disambut sukacita oleh Umi Ros dan juga Abah Haikal. Kedua orang tua itu bahkan sampai melupakan anak-anaknya sendiri yang justru diabaikan. Bayi kecil yang baru lahir kurang dari dua bulan lalu itu mengalahkan dua anak laki-laki yang sudah lebih dulu ada, semenjak dua puluh tahun silam.
“Aduh, aduh, gembul sekali ini wajahnya, rambutnya lebat, genteng, hidungnya juga mancung, nanti kalau besar kamu pasti banyak cambangnya!” terdengar suara Umi Ros dan juga Abah sedang bermain dengan cucu mereka. Sesekali bayi itu dicium dengan suara keras. Mungkin karena saking gemasnya, justru terlihat seperti hendak dimakannya hidup-hidup.
“Hati-hati, Bah. Itu bayi manusia, bukan boneka,” ujar Alif mengingatkan.
“Abah juga tahu,” jawab beliau dingin seolah tak ingin diprotes.
“Dari sana jam berapa, Nak?” tanya Umi Ros yang entah berapa kali memeluk menantunya kesayangannya.
“Tepat habis maghrib, Umi,” jawab Vita.
“Sepertinya posisi kita tergeser sekarang,” gumam Yudha kepada adiknya.
Alif menanggapi dengan tak kalah sinis. “Santet!”
“Heh!” sentak Yudha langsung memiting lehernya. Keduanya berkelahi—tidak sungguh-sungguh berkelahi, melainkan hanya sekadar bercanda saja.
“Kalian ini sedang apa?” tanya Vita membuat keduanya berhenti. Seakan wanita itu adalah sosok yang paling menakutkan.
“Tidak sedang apa-apa,” jawab Yudha mengelak.
Pada saat Vita masuk ke dalam kamar, wanita itu tertawa lucu. Ada-ada saja kelakuan kedua laki-laki itu!
Vita tersenyum pada saat dia melihat kamar yang ia tinggal beberapa bulan lalu. Bukan kamar Yudha, tentu saja dia tidak akan mau kembali ke sana lagi karena dapat memutar kembali kenangan buruk; kemesraan antara suaminya dan madunya.
Semarang, kamar ini lebih berwarna dan ramai barang daripada suasana yang dulu (polos). Yudha telah mempersiapkannya lengkap dengan keranjang bayi di sana, berikut dengan berbagai fasilitas untuk mempermudahkannya dalam mengurus bayinya. Membuat Vita merasa sangat diberkahi.
‘Kamu akan menjadi anak yang bahagia, Sayang. Semua orang di sini sangat menyayangimu,” batinnya mengharu biru.
Tak berapa lama, dia mendengar suara knop pintu diputar, disusul dengan suara telapak kaki seseorang yang masuk ke dalamnya.
“Dia marah terus dicium sama Opa sama Omanya,” ucap pria itu mengadu. Kemudian memindahkan Rayyan kepada istrinya.
“Bagaimana Ray tidak marah, mereka seperti ingin memakannya. Ray jelas takut.”
“Mereka terlalu gemas melihat anak kita,” kata Yudha kemudian memeluk mereka berdua. Di dalam dekapannya, wanita ini menangis tersedu.
__ADS_1
“Aku terlalu bahagia bisa disayangi oleh keluarga ini,” katanya disela isak.
“Apalagi aku,” Yudha menanggapinya. “Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk memperbaiki semua.”
“Asal kau jangan berani-berani mengulanginya lagi, kalau tidak mau aku—hmmhh. Ma-hmmmhh.”
“Aku tidak akan ingkar janji,” ujar Yudha setelah membungkam bibir istrinya dengan bibirnya sendiri. “Hanya seperti ini yang bisa menghentikanmu.”
***
Sarapan pagi itu sangat istimewa, semua anggota keluarga dapat berkumpul menjadi satu meja. Semua sudah berada di tempat duduknya masing-masing. Umi di samping Abah, Yudha di samping istrinya sambil menggendong putranya. Hanya Alif satu-satunya yang masih sendiri.
“Astaghfirullahaladzim ...,” ucap Alif menyebut nama Allah berulang kali. Agar hatinya yang tergoreng lekas di dinginkan.
Bagaimana tidak? Mereka semua berpasangan, menampakkan kemesraan di depannya.
Umi yang mengetahui hal ini hanya bisa tertawa melihat kegundahan anak keduanya yang selalu gagal dalam bercinta.
Pertanyaan Alif hingga saat ini masih sama, ‘Kapan aku nikah?’
“Nanti akan Abah bantu lagi,” ujar Abah juga mengerti apa yang sedang Alif pikirkan.
“Tidak usah, Bah. Pilihan Abah mengecewakan,” jawab Umi membelanya.
“Teman Abah bukan satu atau dua orang. Kalau kau mau. Kalau tidak mau ya tidak apa-apa.”
“Mau mencoba berapa kali ... Bah?”
“Baru juga sekali,” kata Abah lagi.
“Alif itu lagi suka sama Dara, Abah,” kata Yudha menyahut.
“Siapa bilang?” Alif menyanggah. “Dia itu setengah laki-laki.”
Vita pun ikut menyahut karena apa yang diucapkan Alif barusan menurutnya tidak benar. Dia mengenal betul siapa sahabatnya. “Dia seratus persen perempuan, Alif. Normal.”
“Tapi tomboy.”
“Kamu itu terlalu pilih-pilih, tidak boleh seperti itu,” Abah kembali menimpali.
Umi yang sedang menyentong nasi pun ikut berujar, “Seperti apa sih orangnya? Umi penasaran.”
Vita menjawab, “Nanti kalau resepsi Dara pasti datang, Mi. Sama keluarganya. Dia sudah bilang ke Vita kemarin.”
“Mumpung keluarganya datang, kalau kalian saling cocok, langsung dilamar saja.”
__ADS_1
Alif membuka suara dan Yudha sontak menyela, “Masalahnya itu—”
“Dara harus kuliah dulu sampai selesai. Masalahnya, Alif ingin calon istri yang minimal pendidikannya agak tinggi. Kalau tidak bisa di atasnya, minimal sejajar sama dia.”
Perkataan Yudha kemudian membuat Abah memberikan petuah kepada putra keduanya itu, “Kalau kamu terlalu selektif, ke depannya kamu akan semakin sulit menemukan pasangan. Semua orang pasti mempunyai kekurangan.”
“Benar kata Abah,” kata Umi membenarkan. “Jangan terlalu angkuh, merasa lebih tinggi dari orang lain juga bukan perbuatan yang baik. Sifat angkuh itu bukan hanya bisa menghalangi jodoh, tapi juga bisa merusak hubungan personalmu dengan teman-teman. Begitu ya, Nak.”
Alif hanya berdeham. Agak lama pria itu terdiam sepeti sedang memikirkan sesuatu sebelum akhirnya kembali melanjutkan sarapannya.
Sekitar dua puluh menit, satu persatu meninggalkan meja makan, menyisakan Yudha dan Vita saja karena harus bergantian menjaga sang buah hati selama mereka sarapan.
“Mas Yudha langsung berangkat pagi ini?” tanya Vita.
Detik berikutnya Yudha mengangguk.
“Memangnya tidak ingin istirahat dulu barang sehari? Tidak capek? Kita habis bepergian jauh, loh.”
“Tidak, aku tidak capek.”
Usai melakukan sarapan, Yudha membawa tas kerjanya masuk ke dalam mobil.
Sementara Vita, ia berada di depan teras menggendong Rayyan untuk menunggui suaminya bersiap-siap.
Hanya Yudha yang berangkat karena Alif langsung beristirahat setelah sarapan—mungkin dia kelelahan setelah melakukan perjalanan panjang semalam. Tidak ada history menyetir panjang dalam hidupnya selain malam kemarin dan hari ini.
Saat sudah benar-benar siap, Yudha kembali untuk mendekati mereka.
“Aku berangkat,” katanya setelah mengecup puncak kepala kedua orang tercintanya.
“Hati-hati, Mas.”
Namun Yudha justru tak menanggapi ucapannya. Dia malah mengutarakan hal lain.
“Kau tahu?” ucapnya jeda sesaat. “Hal seperti inilah yang dari dulu aku inginkan.”
“Seperti ini?” ucap Vita sambil mencium pipinya.
Yudha tersenyum. “Kalau seperti ini aku tidak bisa menjamin bisa berangkat kerja,” kata Yudha tak sedang bersungguh-sungguh. Namun berhasil membuat wajah istrinya panik seketika.
***
To be continued
Readers tersayang, jangan lupa tinggalin jempol likenya.
__ADS_1