TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Pintu Telah Tertutup


__ADS_3


Beberapa puluh menit berlalu, di ruang VIP.


Ruangan ini sebelumnya bukanlah ruangan yang Dara booking untuk Vita. Namun atas permintaan Yudha, Vita akhirnya pasrah saja akan ditempatkan di mana sesuai kehendak pria itu. Lagi-lagi dia sedang sakit dan tidak mungkin bisa mendebat siapa pun.


Terus terang Vita sedih dan kecewa. Sudah dia duga sebelumnya, Alif pasti akan memberitahukannya kepada Yudha dan keluarga mereka. Tetapi ia tak benar-benar memikirkan hal ini lantaran pada akhirnya dia akan ditemukan juga nantinya. Namun kenapa harus secepat ini?


‘Kalau sudah begini, siapa yang harus kusalahkan selain diriku sendiri?’


Dilihatnya, pria itu sedang duduk di samping box bayi. Dia baru saja selesai mengazani putranya. Tak sedikit pun mata itu berpaling dari keindahan pangeran kecil yang kini masih terpejam dengan gulungan pakaian hangat yang dikenakan. Sedang jemarinya sedang terjulur menusuk pelan pipi gembul sang anak sambil bersenandung pelan—hanya dia saja yang tahu lagu apa itu.


‘Kalau aku tidak sakit, mungkin aku sudah memilih untuk menghindarinya.’


Vita menggigit bibir bawahnya kuat. Dia merasa canggung berada dalam satu ruangan dengan Yudha. Selama ini, ia sudah berusaha mati-matian untuk terbiasa tanpa kehadiran pria itu di sampingnya. Jangan sampai pertahanannya runtuh lagi, batinnya berpikir.


Tak lama kemudian, apa yang dikhawatirkannya terjadi juga. Laki-laki yang paling ia hindari, berjalan mendekatinya, mengambil posisi duduk paling dekat.


Ada beberapa saat mereka jeda dalam keheningan, sebelum akhirnya, Yudha mengawali pembicaraan. “Aku datang bukan untuk merayumu, apalagi meminta maaf,” ujarnya sangat hati-hati. "Karena aku menyadari seberapa besar kesalahanku, dan aku yakin kamu akan menutup rapat-rapat pintu maaf itu."


Keheningan panjang kembali membentang. Vita diam dengan wajah yang begitu gelisah. Tampak jelas meski dia sedang membuang muka.


“Aku ke sini karena ingin menemani saat-saat tersulitmu. Jadi biarkan aku ikut andil dalam segala kesulitanmu, karena ini merupakan tugasku sebagai seorang suami. Maaf, kalau kamu tidak menyukainya,” ujarnya lagi.


Tiba-tiba pintu terdengar dibuka secara paksa, BRAK!


Pintu itu menimbulkan bunyi yang sangat nyaring sehingga mengagetkan bayi yang awalnya sedang tidur tenang tersebut.


“Hentikan kebiasaanmu itu, Dara,” ucap Alif pada saat perempuan itu masuk dengan cara demikian. Mereka masuk bersamaan setelah lama menunggu di luar sampai terkantuk-kantuk.


“Hehehe ... maaf. Aku tidak sengaja.” Gadis itu meringis, menatap Vita untuk meminta pembelaan.


“Tidak di sini, tidak di sana, kamu selalu membuka pintu dengan keras." Alif kembali menggerutu. Teringat ketika ia bertamu di kontrakan. Cara Dara menutup atau membuka pintu, tak jauh berbeda. "Ponakanku jadi bangun ‘kan?”


Yudha sontak berdiri, mengangkat tubuh mungil putranya dan mendekatkannya pada ibunya. Dia sendiri tidak tahu cara menenangkan bayi seperti apa.


“Ya ampun. Lihat bayi jadi kepingin punya sendiri,” celetuk Dara yang seketika ditanggapi oleh Alif.


“Nah, bikinlah!”


“Nanti kalau nemu tanah liat,” jawab Dara asal.


“Mau di kasih nama siapa, Bang? Vit?” tanya Alif kemudian.

__ADS_1


Vita dan Yudha saling menatap. Bertanya-tanya lewat matanya. Walaupun Vita berhak memberi nama pada putranya, tetapi dia juga harus tetap meminta izin. Agar kelak nantinya tidak menimbulkan pertanyaan bagi keluarganya kalau seandainya tidak cocok.


Namun konteks ini berbeda jika mereka tak bertemu hari ini. Karena sesungguhnya Vita telah menyiapkan nama spesial untuk putranya jauh hari sebelum bayinya terlahir.


Tetapi bagi Yudha, dia justru merasa tidak berhak. Dia menyerahkan seluruhnya kepada Vita, karena dialah yang sudah berjuang keras sendiri selama ini. Sangat tidak tahu diri sekali kalau tahu-tahu, pria itu datang dan langsung memberinya sebuah nama tanpa persetujuan. Karena belum tentu, Vita akan menyukainya.


Alif berdecak, “Yah, malah pandang-pandangan.”


Ucapan Alif barusan membuat keduanya melepas pertautan mata mereka. Vita kembali memfokuskan tatapan matanya lagi ke bawah. Tersenyum kagum melihat putranya yang saat ini tengah membuka mata. Bayi itu melihatnya dengan tatapan jernih seolah sedang mengenali lebih dalam wajah ibunya. Tubuh kecilnya bergerak-gerak, kemudian mulutnya berbunyi rengekan-rengekan gemas, seperti akan kembali menangis.


“Kamu mau menyusui, Ta?” tanya Dara.


“ASI aku belum keluar ...,” jawab Vita dengan perasaan getir. Wanita itu menatap Dara. Berharap gadis itu mengerti bahwa ia akan melakukan sesuatu yang tidak boleh dilihat oleh laki-laki di sampingnya.


Dara langsung menangkap sinyal. Tatkala Vita berusaha untuk melakukan tugasnya--menutup dadanya dengan selembar kain, dia langsung membalikkan tubuh Alif. “Jagalah pandanganmu dari yang haram wahai kaum Adam!”


“Ya sudahlah, aku keluar saja. Lagi pula aku juga mau cari makan,” kata Alif kemudian.


“Aku ikut deh, perutku juga keroncongan,” ucap Dara. “Aku tinggal dulu ya, Ta. Nanti kami pasti balik lagi.”


“Iya, Dar.”


Keduanya kembali keluar. Mereka merasa keduanya masih butuh lebih banyak bicara.


“Mau aku panggilkan suster?” tanya Yudha begitu mereka keluar. Vita tampak kesulitan mengusahakannya sendiri. Bibirnya juga meringis merasakan sakit di ujung dadanya karena sudah berulang kali mencoba meng-ASI-hi, namun belum juga berhasil.


“Tidak usah,” jawabnya sambil menggeleng. “Ini sudah bisa, walau sedikit.”


Melihat Vita seperti itu membuatnya ikut merasakan ngilu. “Apa yang bisa aku bantu?”


“Tidak ada ... aku bisa sendiri.”


Tak berapa lama, mata bayi itu kembali terpejam. Tautan bibirnya pun terlepas dari pu ting ibunya.


“Mau sampai kapan kamu akan bersembunyi dariku, dari kami semua?” tanya Yudha setelah jeda keheningan selama beberapa saat.


“Aku tidak sekejam itu, aku pasti akan datang nanti pada kalian semua. Tapi tidak sekarang,” jawab Vita tanpa mau menatap matanya. Jangan ditanya bagaimana kabar jantungnya. Setelah sekian lama berpisah, debaran itu masih tetap sama seperti dulu.


Suasana menjadi hening lagi seperti tadi. Mereka benar-benar tidak tahu bagaimana caranya bersikap. Yudha yang tak ingin berbicara banyak lantaran takut, takut wanita ini menolaknya. Dan Vita, dia wanita yang masih belum siap membuka lagi luka lama.


“Dia membutuhkanku,” kata Yudha setelah beberapa saat kemudian.


“Selama ini dia tidak membutuhkanmu. Kaulah yang membutuhkannya karena ... karena putrimu dari Rahma telah tiada.”

__ADS_1


Ya, dia telah mengetahui semua ini dari Alif. Dia memberitahunya beberapa hari yang lalu melalui pesan.


Yudha menggeleng. “Kau terlalu jauh berprasangka.”


“Aku tidak akan pernah memberikannya padamu, Mas. Sampai kapan pun.”


Gesture tubuh wanita itu menunjukkan ketakutan. Dia menggendong putranya dengan sangan posesif, takut bila sewaktu-waktu Yudha mengambil anak itu darinya. Sialnya, lagi-lagi air mata itu menetes tanpa diperintah. Padahal sebelumnya ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk menjadi wanita yang kuat.


“Inilah yang kutakutkan setelah kamu mengetahui semuanya dariku. Aku takut kamu memisahkan kami.”


Terdengar helaan napas dari Yudha. Sulit sekali bicara dengan Vita, karena salah sedikit saja bisa memecahkan selembar kaca.


“Aku tidak akan memisahkan kalian,” kata Yudha dengan sangat hati-hati.


“Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi ... tolong jangan menjadi orang yang kejam. Aku sudah banyak mengalah selama ini. Biar aku bahagia dengan caraku sendiri,” katanya lagi sambil tersedu.


“Kamu salah paham. Aku tidak akan pernah mengambilnya darimu. Aku hanya ingin hadir di saat-saat kesusahanmu dan memperkenalkan diri bahwa akulah ayahnya.”


Ada jeda sebentar, sebelum Yudha kembali melanjutkan kata-katanya, “Kamu harus tahu, aku sudah memilihmu waktu itu. Tapi kenapa kamu malah pergi? Aku hampir gila mencarimu.”


“Sampai kapan pun aku tidak akan pernah percaya denganmu lagi....”


“Sebegitu bencinyakah kamu denganku, sehingga kamu keberatan sekali untuk kudekati?”


“Aku sangat trauma, Mas. Aku takut kamu mengajakku kembali ke neraka yang kamu ciptakan.”


“Simpan energimu. Tekan keras kepalamu itu. Kita akan bahas lagi nanti setelah kamu pulih.”


“Tapi sebaiknya jangan terlalu banyak berharap. Sekarang atau nanti aku tetap tidak akan memberikanmu ruang untuk memperjuangkan kami. Aku tidak mau dimadu. Aku juga tidak ingin kau memilihku dan membuang Rahma begitu saja. Dia wanita yang kamu pilih sendiri. Jangan egois. Jadilah laki-laki yang konsekuen dengan pilihannya.”


Deg....


Yudha meredup. Kilat sakit menyelimuti hatinya. Sepertinya dia sudah tidak mempunyai harapan lagi. Pintu hatinya benar-benar telah tertutup.


Percakapan itu terpaksa dicukupkan karena takut menimbulkan pertengkaran yang bisa semakin menyulitkan Yudha untuk bertemu dengan anaknya. Namun beberapa saat kemudian, terdengar pintu diketuk. Suara Umi Ros dan Abah mengucap salam.


***


T B C


Btw makasih vote& semua hadiahnya kemarin yaa😍😘


Ada yang mau nyumbang nama buat baby boy?

__ADS_1


Nama yang menurutku paling keren nanti masuk ke episode selanjutnya.


__ADS_2