
“Assalamualaikum,” sapa Yudha dan Alif bersamaan.
“Waalaikumsalam,” Vita menjawab dengan mengulurkan tangannya. Tak lupa, agar keduanya merasa semakin tergoreng, Yudha mengecup kening Vita di depan mereka juga. Saling menatap penuh cinta, seperti saat pertama jatuh cinta dulu.
“Ya Allah,” gerutu Dara mendesahkan napas. Dia menutup wajah dengan satu telapak tangannya meski bola matanya masih terlihat dari sela-sela jari.
“Lif, apa kabar?” tanya Vita kepada adik iparnya yang sedang cengar-cengir karena melihat kemesraan mereka yang sebetulnya cukup kurang wajar dan tidak tahu tempat itu.
“Baik,” jawab Alif singkat. Dia mengambil posisi duduk tak jauh dari Dara duduk. Keduanya hanya saling melirik sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya lagi.
Mungkin keduanya tidak terlalu paham bagaimana caranya harus bersikap. Padahal mereka sudah lama tak bertemu, tapi tak saling bertanya kabar atau bersalaman seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang.
Sementara Yudha dan Vita masuk ke dalam. Meninggalkan kedua insan yang dari awal hanya berbicara melalui mata.
Setelah mencuci tangan, Yudha langsung mendekati anaknya. Menggendongnya dan tentu saja menciumnya untuk melebur rasa rindu setelah beberapa hari ini tak bertemu.
“Sayangnya Papa jam segini sudah bangun?” ujarnya begitu bahagia. Ya, dia menjadi pria yang paling bahagia saat ini karena telah berhasil mendapatkan segalanya.
“Kamu mau minta mahar apa dariku?” tanya Yudha setelah beberapa saat kemudian.
“Apa saja, yang mudah, yang tidak memberatkanmu.”
“Aku akan mempersiapkan yang paling spesial untukmu,” kata Yudha. Kemudian berujar penuh dengan penuh rasa bersalah. “Maaf, dulu aku tidak memberikanmu apa-apa.”
“Tidak apa-apa, Mas. Tidak ada yang menuntutmu juga. Aku tahu betul keadaanmu dulu seperti apa.”
“Sebentar,” ucap Yudha. Meletakkan kembali Rayyan di atas ranjang, Yudha mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
“Loh, itu ‘kan?” Vita terkejut dengan benda beludru merah yang baru saja Yudha keluarkan. “Aku sudah menjualnya,” katanya mengakui.
“Dan sekarang aku kembalikan. Ini akan tetap menjadi milikmu sampai kapan pun.”
Vita menerima dan membuka isinya. Masih utuh. “Aku sempat menyesal karena menjual benda ini. Tapi aku butuh biaya sehari-hari selama beberapa bulan itu.”
“Tidak apa-apa, aku paham.”
“Tapi bagaimana bisa?”
“Waktu itu Umi tidak sengaja melihatmu di Mall tempatku membeli benda ini.”
“Umi melihatku?”
Yudha mengangguk. “Ya, Umi dan Abah melihatmu saat sedang berbelanja. Setelah mengetahui kamu berkeliaran di sana, Umi menghubungiku dan kami langsung menyelidikinya. Saat itulah kami tahu bahwa kamu pergi dalam keadaan hamil besar,” ujarnya menjelaskan.
Vita memejamkan matanya sejenak. Kemudian berkata lirih, “Aku tidak bermaksud menyembunyikan Rayyan dari kalian, Mas. Pikirku, aku akan mempertemukan kalian di saat yang tepat.”
“Aku mengerti,” sela Yudha penuh penyesalan.
__ADS_1
“Ini bukan sepenuhnya salahmu, Mas. Kalau aku uraikan lagi masalah ini, kita semua mempunyai andil dalam membuat kerumitan rumah tangga kita.”
“Aku akan memperbaikinya.”
“Ya, harus. Awas saja kalau kamu begitu lagi!” suara Vita mendadak meninggi.
“Janji,” kata Yudha singkat.
“Jangan Cuma mengobral janji, sudah seperti kandidat saja. Awas kalau kau bohong.”
“Hei, hei, sedang apa itu?” sayup-sayup terdengar suara Dara melerai keduanya. “Baru ketemu sudah berantem.”
Keduanya mendadak hening. Entah apa yang selanjutnya mereka lakukan. Dara dan Alif kembali saling melirik.
“Apa lihat-lihat.” Mata Dara melebar melihat Alif yang sedang kedapatan melihatnya secara diam-diam.
“Masalah?” tanya Alif tak kalah sinis. “Aku punya mata.”
"Lihat yang lain kan bisa."
"Tentu saja. Aku juga malas melihatmu."
Pada saat hari sudah mulai beranjak siang dan matahari mulai menampakkan sinarnya, Vita mengajak semua orang yang ada di dalam rumah untuk melakukan sarapan.
Bukan roti, omelet, susu, atau lain-lain makanan orang kaya pada umumnya. Di sini Vita justru menyediakan nasi putih dengan dua macam tumisan dan lauk pauk lain.
Dalam keadaan demikian, kedua manusia jomlo hanya sekadar bercakap-cakap dan sesekali melayangkan pandang ke arah lawan bicaranya.
“Kamu sudah bersiap-siap?” tanya Yudha ketika matahari sudah agak tegak ke atas.
Mereka sedang berada di kamar, sedangkan kedua manusia lain yang tadi pagi berada di sini itu sedang keluar. Melihat sejumlah warga yang katanya sedang memotong kambing untuk akikah anak-anak mereka.
Mungkin karena tidak pernah melihat peristiwa pemotongan secara langsung seperti itu sehingga mereka begitu menikmati tontonan tersebut.
Agak aneh, memang. Namun tampaknya mereka memang lebih nyaman di luar sana daripada menunggui suami istri yang sedang dimabuk asmara. Sesungguhnya menciptakan dunia sendiri itu jauh lebih indah daripada apa pun!
“Belum.”
“Biar aku bantu.”
“Itu tidak perlu.”
“Kenapa tidak perlu? Kamu sibuk, biarkan aku membantunya.” Yudha melihat barang-barang istrinya yang sudah dikeluarkan dari lemari dan di letakkan di atas ranjang—yang kemungkinan akan dilipat untuk dimasukkannya ke dalam koper.
“Aku bisa melakukannya sendiri.”
Namun sewaktu Vita meninggalkan kamar untuk meng-ASI-hi bayinya di ruang tengah, Yudha mengerjakan lanjutan pekerjaan tersebut sampai selesai. Membuat Vita terkejut pada saat wanita itu kembali.
__ADS_1
“Mas Yudha yang mengerjakan semuanya?” tanyanya dengan mata melebar. “Aku sudah bilang biarkan, kenapa malah kau kerjakan juga?” ujarnya setengah kesal. Bukan apa-apa, dia malu terhadap benda privasi yang seharusnya tidak disentuh oleh laki-laki.
Yudha memilih diam sehingga membuat Vita bertanya ulang, “Mas Yudha?”
“Bukankah kau sibuk? Aku tidak terpaksa dan aku senang melakukannya. Hanya seperti itu saja kamu bersikap seperti ini, jangan berlebihan.”
“Tapi besok-besok, kamu jangan pegang-pegang barang haram perempuan lagi.”
“Aku akan melakukannya lagi,” jawab Yudha bersikeras.
“Kalau begitu, kau anggap apa aku ini?”
“Kau adalah istri terbaikku.” Yudha berucap sambil menyambar tubuh Vita ke dalam pelukannya. Vita memang masih malu-malu. Wajar kalau dia masih merasa demikian. Dia belum mengenal lebih jauh. Mereka hanya menyatu kurang lebih dalam waktu tiga bulan saja. Karena setelahnya, Vita memilih untuk pergi.
“Kalau seandainya ada juri pemilihan istri terbaik di dunia, kamulah pemenangnya!”
“Bohong.”
“Aku bersungguh-sungguh.”
“Lain kali jangan seperti tadi lagi.” Vita kembali mengingatkan. “Kalau mau membantuku, bantu yang lain saja. Tapi jangan menyentuh soal pakaian.”
“Iya, istriku. Aku tidak ingin berdebat denganmu. Maafkan aku, ya.”
“Tidak perlu meminta maaf.”
“Hanya seperti itu saja kamu marah. Aku melakukannya dengan senang hati, tapi kenapa kau malah tidak suka?”
“Aku malu ... kan itu banyak benda terlarangnya.”
“Aku sudah biasa melihatnya.”
“Lebih besar mana punyaku sama punya dia?” tanya Vita tak bermaksud apa-apa.
Yudha sontak melebarkan matanya. “Eh, apa pula yang kau bahas.” Lelaki itu lekas-lekas kembali menangkap dan mengungkung tubuh istrinya. “Jangan bahas lain soal, nanti kamu cemburu lagi.”
“Aku hanya bertanya.”
“Lain kali jangan tanyakan hal itu yang bisa membuat hatimu sendiri luka.”
Vita tersenyum geli. Pria di atasnya itu takut sekali jika dirinya marah, kesal atau benci. Kemungkinan dia memang takut hal buruk kembali terulang.
“Ya aku memang selalu sakit hati kalau mengingat hal itu.”
“Aku akan mengobatimu,” ujar Yudha mendorong pintu tanpa peduli hal lain lagi!
***
__ADS_1
To be continued.