TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Welcome Home!


__ADS_3

Bab 25.


“Waduh, kurang tahu, Pak. Mungkin lagi pada di atas kali, ya,” jawab security.


“Tapi hari ini mereka tidak ada yang pergi, kan?” Yudha bertanya lagi.


“Umi sama Abah sempat pergi, sih, Pak. Tapi setahu saya, mereka sudah pulang.”


Yudha mengangguk-anggukkan kepala. Mungkin benar apa kata security tadi, bahwa mereka sedang ada di atas, pikirnya demikian. Sebab andai mereka pergi, atau barang kali ke rumah Alif, pasti security akan mengetahuinya. Toh, mereka akan lewat depan sini, tidak ada jalan lain.


“Ya, sudah, tolong bawakan barang-barang saya ke dalam ya, Pak. Minta sama Mbak Ratih suruh bereskan nanti malam, usai salat tarawih.”


“Baik, Pak,” security tersebut mengangguk sopan. Detik itu juga beliau dan sopir pick up menurunkan barang-barang dan dimasukkannya ke dalam rumah melewati pintu samping.


Yudha sendiri menuju ke pintu mobil depan. Dia menggantikan Vita membopong anak ke empatnya yang masih tidur dengan sangat nyenyak. Sementara ketiga anaknya yang lain, sudah turun lebih dulu dan berlarian masuk ke dalam rumah. Mereka terlihat sangat riang.


Pun dengan Vita. Wanita cantik yang selalu memakai pakaian syar’i tersebut—turun dengan membawa tas dan sedikit barang-barang milik anaknya yang dianggap penting.


“Kebas paha aku, dua jam mangku dia,” kata Vita bermaksud membicarakan anaknya yang satu ini.


“Nanti aku obati,” bisik Yudha mengerlingkan mata dan membuat Vita berbalas menatapnya waspada. Entah apa isi pikirannya tersebut. Yang jelas, kalau positif pasti tidak separah itu lirikannya.


“Pasti ....”


“Pasti apa?” sela Yudha mengelak, “maksudku nanti aku kasih balsem. Pikiranmu itu yang ngeres.”


“Dih, zaman apa ini masih di suruh pakai balsem,” cebiknya agak sengit, “aslinya begitu, kan? Aku hafal apa isi pikiranmu, Mas. Aku nikah sama kamu itu sudah hampir delapan tahun. Bahasan mana yang aku tidak tahu mengenai kamu?” ujarnya lagi mematahkan sanggahan suaminya barusan.


“Ya, kamu memang benar. Mungkin semua suami akan selalu terlihat sempurna di mata orang-orang. Tapi sebenarnya, hanya istrinya saja yang tahu seburuk apa dia.”


Vita terkekeh, “Apa Mas mau tahu kekuranganmu di mana saja?”


“Sampai sekarang, aku belum pernah bisa memakaikan baju anak-anakku,” jawab Yudha mengakui kekurangannya yang satu ini, “di matamu, aku selalu salah kalau untuk urusan yang satu itu.”


“Terus?” tanya Vita mengorek lagi kebiasaan-kebiasaan suaminya yang paling tidak ia sukai.


“Naruh handuk dan pakaian kotor sembarangan, ngambil baju sampai lipatan atasnya berantakan. Terus habis itu, kamu ngambek, malamnya, selimut langsung naik sampai kepala. Tapi aku peluk terus sampai pagi.”


Vita yang dari tadi menahan tawa sontak tergelak sampai tak sengaja membangunkan si Zunai. “Kamu sadar kalau itu salah, tapi besoknya di ulang terus.”


“Aku suka kamu banyak omong.”


“Enak saja. Darah tinggi aku, Mas.”


“Mama....” Zunaira mengulurkan tangannya meminta pindah haluan.


“Iya, Sayang. Ini Mama,” balas Vita mengusap kepalanya, “kaget, ya? Mama ketawanya agak keras.”


“Mau sama Mama....”

__ADS_1


“Sama Papa aja kenapa, sih?” protes Yudha. Dia heran. Kenapa seorang anak tiap kali akan selalu memanggil mamanya ketika mereka baru saja bangun tidur, main dari luar, pulang sekolah, mau makan—atau apa pun itu. Padahal, dirinya ada di sana dan selalu siap membantu mereka. ‘Hmm, kalau aku kurang banyak berperan di sini, jangan terlalu disalahkan, ya. Ini bukan kemauanku.’


“Sudah kebiasaan,” ujar Vita akhirnya menggendong Si Bontot. Namun baru saja mereka masuk ke dalam rumah sekitar beberapa langkah, terdengar suara letusan beberapa balon sehingga ke semuanya sontak memekik keras. Disusul oleh suara semua orang-orang rumah yang menghampirinya.


“Welcome home! I'm happy to see you again,” ucap Dara.


“I'm glad you arrived safely,” ucap Alif.


Vita dan Yudha melihat satu-persatu manusia yang ada di sana, Umi, Abah, Alif, Sakira, dan juga anak-anak mereka. Namun ternyata ... bukan hanya ada mereka saja, di sana. Tapi ada satu keluarga lainnya yang dulu pernah menjadi anggota keluarga di sini.


Ya, orang itu adalah Rahma. Dia memang sengaja di undang oleh semua orang rumah agar mereka bisa saling menjaga silaturahmi . Terlebih sekarang, mereka sudah legawa. Jadi, tidak ada salahnya. Damai itu indah.


“Selamat kembali lagi di rumah ini, anak-anakku,” ucap Umi Ros memeluk mereka terlebih dahulu satu-persatu, baru kemudian Abah. Sedangkan Zunaira sendiri meminta turun karena melihat banyak teman-temannya bermain di sana.


“Selamat atas keberhasilanmu, Nak. Amalkan ilmu yang sudah kamu dapatkan agar bermanfaat, terutama untuk dirimu sendiri, baru kemudian orang lain,” pesan Abah kepada putranya, kemudian beralih kepada menantunya sendiri.


“Bah,” ucap Vita bersalaman dengan pria itu.


Abah tersenyum, “Terima kasih sudah mendampingi putraku sampai detik ini dan mau bersabar dalam menghadapi ujian hidupnya.”


“Sama-sama, Bah. Apa yang Vita lakukan semata-mata hanya ingin menjadi seorang istri yang baik.”


“Ya, kalian memang menantuku yang paling baik,” ujar Abah Haikal kepada kedua menantunya tanpa bermaksud membedakan.


Kini pandangan mereka beralih kepada Rahma dan suaminya. Mereka saling mendekat dan tersenyum.


“Mbak,” sapa Vita terlebih dahulu, kemudian saling memeluk untuk meleburkan rasa kebencian yang pernah bersarang di dada.


“Kita sama-sama pernah bersalah, sebaiknya ... lupakan saja semua itu, Mbak. Aku pun sudah ikhlas.”


Keduanya merenggangkan pelukan, tersenyum dan memeluk lagi. Membuat haru bagi siapa saja yang melihatnya. Tidak ada pembicaraan lain lagi tentang masa lalu pada saat itu—karena keduanya khawatir, bakal membuka luka lama atau konflik yang pernah terjadi. Jadi, semua masalah akan ditutup rapat-rapat, demi anak-anak mereka. Biarlah mereka anggap bahwa orang tuanya tak pernah punya cacat, supaya perilaku ini tak menjadi cerminan buruk ketika mereka dewasa nanti.


“Pak Rio?” sapa Yudha memeluk pria tersebut, “Pak Rio sudah sehat?”


“Iya, aku sembuh 100% dan ini karena bantuan kalian,” balas Rio sangat berterima kasih, “karenamu aku bisa sehat dan bisa kembali berkumpul dengan istri dan anak-anakku.”


“Bantuan Tuhan, Pak. Aku hanya sebagai perantara.”


“Apa pun itu, aku tetap berterima kasih. Karena nyawaku akhirnya dapat tertolong.”


“Sama-sama, Pak.” Yudha tersenyum dan menepuk pundaknya.


“Baiklah Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu semuanya, karena azan sudah terdengar, sebaiknya kita berbuka puasa dulu dengan yang manis-manis,” pengumuman dari Alif menggema di meja makan. Membuat semua orang menoleh ke arahnya. Pria itu sudah mendahului semua orang, karena saat ini, dia sudah mulai menyiduk nasi sebanyak mungkin.


“Lihatlah, pemirsa, ini kelakuan suamiku sekarang. Maka jangan heran kalau sekarang perutnya tidak sixpack lagi,” ucap Dara begitu melihat kelakuan suaminya pada saat berbuka puasa.


“Semua laki-laki pernah tampan pada masanya,” balas Yudha juga melakukan hal yang sama.


“Makan saja yang banyak, olahraga Cuma jadi cita-cita,” Vita menyahut.

__ADS_1


“Yang penting hidup,” balas Alif yang sangat dibenarkan oleh Yudha juga. Kalau untuk soal urusan makanan, mereka satu frekuensi.


“Ya, betul, jaman Umi muda juga dulu begitu. Abah masih gagah. Sekarang lihat ... tinggal sisa gambarnya saja.”


“Gini-gini juga kamu masih suka. Semalam, cuma pergi ke dapur saja langsung dicariin. Abah, kamu di mana, Bah! Sudah malam, ngapain pergi-pergi ke dapur,” balas Abah Haikal menirukan gaya bicara istrinya, membuat semua orang tertawa geli.


“Umi Cuma takut. Abah nyasar ke mana. Kan orang bangun tidur suka ngelindur.”


“Abah kalau hilang, cari saja ke dapur, pasti lagi cari kopi.”


“Hebat, sudah senja masih kuat minum kopi,” ujar Rio.


“Semua makanan, minuman masuk diperutku. Tapi suka dilarang-larang. Bikin kesal,” jawab beliau juga melakukan hal yang sama. Minum, memakan korma dan lain-lain.


“Demi kesehatan....” balas Umi Ros, “perbanyak makan buah, jangan terlalu banyak minum kopi.”


“Kopi juga buah. Apa salahnya?” katanya tetap keras kepala dan tetap tidak mau dilarang-larang. Orang tua memang cenderung lebih susah diberitahu. Rata-rata, mereka seolah balik jadi anak kecil lagi yang selalu hidup suka-suka. Padahal selepas minum itu, biasanya langsung diare atau sakit perut. Inilah yang membuat kedua orang tua itu ribut hampir setiap hari. Ya, hanya soal makanan!


“Mungkin besok-besok, sembunyikan saja kopinya, Mi,” bisik Dara, “daripada kita tidak kontrol.”


“Iya,” balas Umi Ros juga berbisik. Kini beliau menatap Rahma dan suaminya, “Ayo-ayo, makan, Nak. Nanti kita salat jamaah sama-sama setelah ini.”


Semuanya berbuka puasa dengan khidmat dan saling bergurau satu sama lain. Apalagi anak-anak yang memang di posisikan duduk di kursi kecil khusus tak jauh dari mereka. Duduk masing-masing melingkari meja layaknya keluarga juga yang tengah berkumpul.


Ah, bulan Ramadan ini sangat indah. Mereka begitu menikmati kebersamaan ini.


🌺🌺🌺


Tamat.


Akhirnya selesai juga season kedua dan ketiga ini.


Yah, nanti kangen sama mereka dong, Thor.... (detergen)


Insyaallah aku bakal hadir lagi sekuel dari novel ini. Sekali lagi, insyaallah... abis lebaran, ya. Kisah Rayyan dan pasangannya kelak. Bukan religi, tapi yang namanya setting di Indonesia, pasti sebagian banyak memang beragama muslim, ya. So, jadi mungkin novelnya akan seperti ini nanti. Tapi bukan poligami, aku bikin novel begini pun karena tema lomba pada saat itu, “berbagi cinta” yang diselenggarakan oleh NovelToon.


Penasaran gimana nanti ceritanya, Thor.... (detergen)


Yang pasti bakalan seru karena nanti dia aku pasangkan dengan ... siapa, ya? Wkwkwk.


Aku bocorin sedikit kisi-kisinya, ya. Rayyan ini adalah laki-laki yang soleh, akan aku pasangkan dengan cewek yang agak brutal, yang di mana nanti Rayyanlah akan menyadarkannya jadi lebih baik.


Terpenting, jangan di hapus dulu dari rak kalian. Kalau enggak, kalian follow instagram aku @ana_miauw, biar kita bisa kenal lebih jauh, siapa sih, penulis random ini? Dan apa saja karya yang sudah dia tulis?


Terima kasih dan minta maaf yang sebesar-besarnya bilamana ada kesalahan yang sengaja atau tidak disengaja. Untuk sementara ini aku mau vakum sebentar, insyaallah mau fokus beribadah sampai lebaran.


Sampai jumpa lagi pemirsa, selamat berpuasa dan lebaran, mohon maaf lahir dan batin.


Dadah! Love you so much!

__ADS_1


Berikan komentar terbaikmu di sini, nanti paling menarik aku post di instagram, ya!


 


__ADS_2