
8.
Mungkin hari ini adalah hari terakhir dia berada di Beringin karena esoknya, dia harus secepatnya pergi dari sini. Ada banyak planning ke depan yang belum ia selesaikan—terutama, menyusul orang tuanya yang dia yakini sedang menunggu.
Untuk itu, dia terlebih dahulu menyampaikan niatnya melamar Ros, sekaligus meminta pendapat, bagaimana yang paling baik menurut mereka. Di ruang tamu rumah Ros, semua keluarga berkumpul; Beren, Ros, Arok dan juga istrinya. Hanya laki-laki saja yang berbicara, karena perempuan lebih banyak menyimak.
“Memangnya kamu akan pergi berapa lama?” tanya Arok.
“Beri aku waktu satu minggu.”
“Ya, sudah tidak apa-apa. Kami tunggu satu minggu ke depan.”
“Tapi kalau hanya melamar dulu bagaimana, Bang? Aku belum bisa menikahi Ros dalam waktu dekat.”
“Kenapa?”
“Aku masih ingin melanjutkan pendidikan.”
“Berapa lama?”
“Tidak bisa ditentukan seberapa lamanya. Tapi aku harus masuk ke pesantren untuk lebih memperdalam ilmu agamaku yang masih sangat minim ini, Bang,” jawab Haikal yang sebenarnya mulai mengeluarkan keringat dingin. Semalaman, dia sudah mengumpulkan mental, memutuskan untuk jujur dengan mengatakan siapa dirinya sebenarnya—tetapi hari ini ... ia tetap saja maju mundur. Masih ada rasa takut yang mendera. Ia takut kalau-kalau kopi mendidih yang ada di atas meja mengguyur tubuhnya. Oleh karenanya, dia mencoba menyingkirkannya terlebih dahulu.
Sempat-sempatnya dia memikirkan itu!!
“Kupikir kamu sudah lulus.”
“Belum,” kata Haikal mulai menghindari kontak mata, “maaf, Bang... aku mau berterus-terang. Sebenarnya ... ada yang aku sembunyikan.”
Tak hanya Arok, raut wajah semua orang yang ada di sana langsung berubah ketika mendengar pernyataannya barusan. Semakin gemetarlah tubuh Haikal pada saat itu. Niscaya gesture tubuh ini sangat kentara andai mereka menyadarinya.
“Maksudmu?” tanya Arok.
“Aku bukan Ustaz Salman seperti yang kalian kenal.”
Mereka terdiam, sebab menyimak dia melanjutkan penjelasannya.
‘Kamu harus berani mengakui kesalahanmu, Kal. Harus! Jangan jadi pengecut!’
Terlebih dahulu Haikal menghela napas, sebelum akhirnya berujar dengan pasrah, “Aku Haikal Al Fatir, putra dari pasangan Kauman dan Dawiya. Aku bukan Ustaz Salman seperti yang kalian anggap selama ini. Aku hanyalah seorang pemuda biasa yang kebetulan nyasar pada saat dicari oleh polisi beberapa waktu lalu.”
__ADS_1
Namun senyuman Arok kali ini membuatnya bingung sehingga ia bertanya-tanya dalam hatinya. Hah, bukankah seharusnya dia marah?!
“Sebenarnya, kami juga sudah tahu.”
Deg.
Ucapan Arok barusan membuat Haikal sontak melebarkan mata.
“Kemarin waktu kamu pergi, Pak RT datang ke sini dan menyampaikan, bahwa seorang pandai agama kiriman pemerintah itu memang tidak datang. Mereka bilang, menjelang Bulan Ramadan, semua ustaz sudah banyak yang memanggil. Jadi kami tidak terlalu kaget waktu kamu bilang seperti ini. Tentu saja kami sempat kecewa, karena kamu membohongi kami. Tapi ya, sudah. Toh, kamu juga kenapa mau saat kami todong malam itu. Anehnya, kamu tetap mengajar dengan baik,” papar Arok dengan uraian panjang.
Haikal menunduk dalam, seberapa malunya jelas tak dapat di ukur. Dia ketahuan berbohong dan mereka memakluminya!?
Seumur hidup, baru sekali ini dia merasa wajahnya seperti sedang dilempari kotoran penuh.
“Apa yang harus aku sampaikan ke semua warga, Bang?” tanya Haikal dengan napas tertahan. Batu besar seakan menyumpal tenggorokannya.
“Tidak perlu, kami justru berterima kasih atas ilmu agama yang sudah kamu bagikan. Tidak pernah orang-orang di sini begitu bersemangat untuk mengaji. Mungkin, kamu memang bukan kiriman pemerintah, tapi kiriman Tuhan untuk kami. Kalau merasa diri kurang baik, jangan katakan apa pun, tutupi saja aibmu, jangan kamu bongkar karena Tuhan pun menutupinya.”
Air mata Haikal seketika tumpah. “Aku merasa berdosa karena sudah membohongi mereka.”
“Mungkin kamu membohongi mereka, tapi aku yakin, tidak dengan kajian yang kau berikan selama ini.”
“Kami memaklumi karena sejatinya memang tidak ada yang sempurna.”
Terasa sebelah tangan menepuk pundaknya membuat Haikal menoleh. Beren memeluknya. “Sudahlah, kau tak perlu sampai segitunya. Tetaplah mengaji untuk kami.”
“Aku sudah tidak punya muka lagi, Bang. Aku terlanjur malu karena sejatinya aku sama dengan kalian yang tidak tahu apa-apa.”
Arok menyela, “Lanjutkanlah pendidikanmu, jadilah seorang pandai agama sesungguhnya.”
Haikal mengangguk. “Sekali lagi tolong maafkan aku.”
“Sudah, tak apa. Berangkatlah, tapi sebaiknya kau lamar dulu putriku. Bawa orang tuamu kemari. Tidak mungkin aku batalkan rencana kalian—apalagi, Ros sudah tergila-gila padamu.”
“Ayah?!” pekik Ros membuat semua orang serentak tertawa. “Kenapa kalian senang sekali menggodaku?” bibirnya sudah mengerucut, matanya sudah mengembun pertanda hujan sebentar lagi akan turun.
“Aku suka melihat kau menangis. Makanya jangan cengeng,” ujar Arok membuly anaknya sendiri. “Sudah besar, masih saja kolot.”
“Aku segera ke sini membawa Ayah dan Bundo, Bang,” ujar Haikal serupa orang yang sedang berjanji.
__ADS_1
“Ya, aku pegang janjimu.”
🌺🌺🌺
Satu-persatu masalah sudah selesai. Ternyata tidak semengerikan yang dia bayangkan. Tuhan mempermudah jalannya dalam menuju kebaikan. Tidak salah dari sebagian buku yang pernah dia baca, bahwa Tuhan akan mempermudah jalan seseorang jika dia tidak mempersulit orang lain, demikian pula sebaliknya.
Malam ini, dia pun kembali mengajar seperti kemarin. Dan sebagai penutup, dia menyampaikan permintaan maafnya, sekaligus berpamitan bahwa dia besok sudah tidak mengajar di tempat ini lagi.
“Apa nanti Ustaz bakal ke sini lagi?” tanya salah seorang pria tua.
“Insyaallah, doakan, ya, Pak. Semoga selalu saya selalu diberi kesempatan datang ke sini. Kebetulan saya umumkan sekalian, insyaallah minggu depan, saya akan melamar putri Pak Arok. Mohon doa restunya, semoga kami sampai pada tahap pernikahan.”
“Alhamdulillah....” jawab semuanya serentak hingga semua mata pun tertuju kepada salah satu gadis yang tengah duduk di pojokan. Huhh, entah apa rasanya. Rasanya Ros ingin terbang ke awan karena telah di akui di depan umum seperti ini. Dia merasa sangat dispesialkan oleh pria itu. ‘Serasa jadi artis dadakan!’
“Ciye, selamat, ya. Ternyata diam-diam tokcer juga, kamu, Ros. Pakai susuk apa?” tanya salah satu temannya.
“Apaan, sih!” cebik Ros menyanggah ucapan mereka, “ya, aku pakai susuk. Susuk yang buat masak.”
“Itu namanya sutil!”
“Serah!”
Keesokan harinya, Haikal pun bersiap-siap. Dia membereskan semua barang-barangnya untuk dimasukkan ke dalam tas—berikut buku-buku yang selama ini dia beli. ‘Ini lebih banyak dari saat pertama kali aku datang.’
Namun, ada yang tidak bisa ia bawa, yakni amplop yang selama ini ia dapatkan dari sana sehingga dia menyerahkannya kepada Beren. “Ini buat kamu saja, Bang.”
“Lah, kenapa malah kau kembalikan? Ini dari jamaah, sebagai bentuk rasa terima kasih mereka untukmu, Ustaz.”
“Jangan panggil aku Ustaz Salman lagi. Panggil aku Haikal Al Fatir.”
“Tidak bisa. Lidahnya sudah ke patri,” kata Beren menjulurkan lidahnya. “Biar saja mereka tetap memanggilmu begitu biar kau semakin menyesuaikan.”
Beren pun mengembalikan uang itu ke dalam tas Haikal. “Ini uang halal, kau pakai sajalah besok untuk melamar Ros. Itu lebih bagus.”
“Tapi, Bang. Untuk Abang mana?”
“Cukup doakan aku semoga cepat dapat jodoh.”
“Ya sudah, kalau begitu. Semoga bulan ini Abang dapat jodoh.”
__ADS_1
“Aamiin,” Beren menanggapinya dengan senyuman lebar. Nyatanya doa ini terkabulkan. Kelak dalam satu bulan itu, Beren mendapatkan jodohnya. Pria itu menyangka hal ini bukanlah sebuah kebetulan semata. Karena selama ini, doanya belum pernah dikabulkan. Dia yakin dirinya diberi jodoh melalui doa Ustaz Salman.