
24.
Seperti apa kata dokter beberapa bulan lalu, hamil dengan placenta previa masih bisa melahirkan secara normal selama placenta tidak menutupi jalan lahir. Demikian juga yang selalu Vita harapkan mengenai kondisinya. Namun ternyata, dokter tetap tidak menyarankannya untuk melahirkan secara normal karena ini terlalu berisiko. Dan setelah melakukan berbagai pertimbangan, akhirnya Vita tetap melakukan operasi sesar.
“Aku belum jadi ibu kalau di sesar,” ucap Vita ketika mereka masih menunggu kedatangan dokter ke ruang operasi.
“Kata siapa?” Yudha bertanya.
“Kata ibu-ibu yang lain.”
“Aneh,” kata Yudha menanggapi pernyataan itu. Teori dari mana yang mengatakan melahirkan sesar belum menjadi ibu? Lantas jika demikian, apakah si ibu akan di panggil Tante oleh anaknya sendiri?
“Cukup ambil yang baik dan buang yang buruk kalau kamu bergaul dengan siapa pun mereka.”
“Aku deg-degan parah.” Vita memegangi bagian dadanya yang terasa berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Sama, Moy. Apalagi aku,” jawab Yudha mengelus perut istrinya.
“Yang penting jangan sampai pingsan,” kata Vita tersenyum di tengah kepanikannya, “doakan aku terus, ya.”
“Itu sudah pasti. Kami semua mendoakanmu,” jawab Yudha duduk tak tenang. Apalagi pada saat melihat beberapa team dokter masuk dengan membawa sejumlah peralatan perangnya. Padahal ini bukan yang pertama Yudha mendampingi istrinya bersalin. Dia pernah menemani istrinya melahirkan Rayyan dan si kembar. Tetapi rasa takutnya masih tetap sama seperti dulu.
“Maaf kalau selama ini aku belum jadi istri yang baik buat kamu ya, Mas. Kalau aku masih selamat, aku titip anak-anak, tapi janji jangan menikah lagi supaya kita bisa ketemu lagi di sana.”
“Hush, bicara yang baik-baik saja. Kamu itu Cuma mau di sesar, bukan mau di belah dua. Siapa juga yang mau menikah lagi?” Yudha memegangi kepalanya yang mulai pening mendengarkan ucapan istrinya. Di duga wanita ini mulai melantur karena mempunyai kekhawatiran berlebihan.
“Jangan putus istighfar....”
Vita mengangguk, kini bibirnya mulai bergerak mengucapkan kalimat penggugur dosa tersebut.
“Pegang tanganku,” pinta Vita pada saat operasi sudah mau dilakukan. Bukan hanya itu saja—Vita juga kembali meminta agar Yudha bisa mencondongkan wajahnya lebih dekat. Padahal, dia merasa wajahnya sudah hampir menempel.
Yudha yang sedari tegang lantas tertawa. “Ya Allah, istriku... harus sedekat apalagi? Ini sudah dekat, lho?”
“Takut suaminya kabur ya, Bu?” sahut dokter satunya dan di timpali oleh dokter yang lain.
“Sambil di cium istrinya juga tidak apa-apa, Pak.”
__ADS_1
“Malulah, Dok....”
“Kami pura-pura tidak tahu saja,” balas dokter membuat semua tim dokter di sana lantas tertawa.
Selama proses operasi, Alif dan Dara pun berencana memesan kamar rawat inap untuk mereka. Keduanya sempat adu mulut karena pendapat mereka tak pernah sama.
Namun begitu, Aliflah yang selalu banyak mengalah. Pria itu pun sebenarnya heran. Jika akhirnya Daralah yang tetap menjadi pemenang—kenapa pula mereka harus membuang-buang energi untuk berdebat lebih dulu?!
“Pokoknya selain VVIP, view-nya juga harus yang bagus. Kalau bisa yang langsung menghadap ke Monas dan istana negara,” pinta Dara mengajukan sebuah persyaratan agar ia juga merasa nyaman saat ikut menginap.
“Jangan ngawur, kamu Ra. Ini di Jakarta Timur bukan di Gambir.”
“Harusnya tadi ke rumah sakitnya yang mahal, di Kencana, kan, bisa.”
“Keburu brojol kalau kita harus ke Jakpus dulu,” balas Alif tak habis pikir. Memangnya bayi bisa di ajak kompromi, “Hei, bayi, kamu lahirnya tahun depan saja!” ya, memangnya ada?
“Ini Si Umi VC, Lif...” ujar Dara begitu melihat ponselnya bergetar. Sedangkan Alif hanya menanggapinya dengan deheman saja.
“Waalaikumsalam, Umi...” Dara menjawab salam dari beliau. Dia mengarahkan kameranya ke seluruh ruangan setelah Umi menanyakan di mana dia dan suaminya sekarang.
“Jadi sudah mulai SC sekarang?”
“Iya, Nak... kamu sendiri juga jangan terlalu capek. Kalau capek minta Alif carikan penginapan terdekat supaya bisa selonjoran.”
“Kasih tahu juga, Mi, supaya dikurangi lari-larinya,” sahut Alif di samping Dara. Terus terang ia butuh dukungan untuk menceramahi istrinya itu.
“Kalau dia merasa baik-baik saja, kuat, ya, tidak masalah. Umi juga dulu waktu hamil kamu hawanya pengen lari maraton.”
Alif memutar bola matanya malas, ternyata Uminya lebih pro dengan menantunya daripada anaknya sendiri.
“Orang hamil tidak selemah itu, Alif. Dara cuman hamil, bukan sakit kronis. Jadi biarkan dia melakukan hal-hal yang dia sukai selama masih dalam batas wajar.”
“Tuh, dengar, kan?” kata Dara semakin mengolok-olok, ditambah lagi dengan menjulurkan lidahnya membuat pria itu semakin dongkol.
“Kabari Umi terus bagaimana perkembangan mereka, ya. Umi sama Abah belum bisa tidur kalau belum mendengar kabar baik.” Terlihat di sana Umi sama Abah masih mengenakan pakaian salatnya, pertanda masih mendoakannya dari jauh.
“Iya, Umi tenang saja, hengpon jadul siap mengirimkan berita paling akurat.”
__ADS_1
“Insyaallah Umi sama Abah menyusul besok.”
“Abah sekalian suruh cabut gigi, Mi,” kata Alif menyarankan karena dia pening mendengarkan abahnya yang terus mengaduh.
“Inginnya sih, begitu, tapi tensi Abah malah semakin naik, apalagi setelah melihat menantu mules tadi.”
Bukannya keluarga tidak diperhatikan kondisi Abahm Sebenarnya, Abah sudah wara-wiri datang ke rumah sakit untuk mencabut gigi. Namun, berkali-kali itu juga beliau mendapati tensinya naik. Mungkin karena beliau selalu tegang acap kali melihat seragam dokter. Alhasil, mereka biarkan saja Abah seperti itu hingga kondisinya benar-benar siap, daripada harus mengambil risiko.
Di ruangan operasi, suasana yang tadinya tegang kini telah berganti rasa haru yang luar biasa saat pertama kali mereka mendengar suara tangisan bayi mungil. Ibu dan bayinya sehat, normal tanpa kurang suatu apa pun.
“Ya Allah, ini anakku?” tanya Yudha tidak percaya saat pertama kali menggendong anak ke empatnya. “Ini yang kemarin ada di dalam perut Mama?”
Si kecil kembali memekik keras.
Sang suster mendekat untuk memakaikan penutup kepala pada bayi sembari bertanya, “Masih belum percaya, ya, Pak?”
“Iya, masih belum percaya,” jawab Yudha. Ia mendekati istrinya, memberikan wanita itu kesempatan untuk melihat anak ke empat mereka.
“Namamu Ranya Sera Zunaira,” kata Yudha tepat di telinga bayinya setelah selesai di azankan. Nama Ranya sendiri adalah kata yang berasal dari Arab. Ketiga kata itu mempunyai arti yang indah bila digabungkan, Ranya Sera Zunaira, yang berarti anak perempuan cantik yang memiliki kebaikan hati dan tutur kata baik. Seperti harapan mereka.
“Zunaira, itu nama panggilanmu,” kata Yudha sekali lagi sambil mencium tangan mungilnya. Dia kemudian mengambil gambar putrinya tersebut untuk dikirimkan kepada kedua orang tuanya yang telah menanti kabar mereka semenjak tadi.
Tak lupa dia juga mengucapkan terima kasihnya kepada sang istri karena sudah berjuang melahirkan anak-anaknya ke dunia.
“Kamu adalah kesempurnaan untukku yang banyak sekali kurangnya,” ujar Yudha menatap istrinya yang lemah dalam sakitnya. “Aku jadi makin cinta sama kamu, Moy.”
“Aku juga... jangan lupa Umi sama Abah dikabari secepatnya.”
“Iya, sudah.”
Keduanya larut dalam kebahagiaan saat melihat si bayi mulai menggapai sumber kehidupannya.
***
Bersambung
Yang komennya paling menarik biasanya aku cap populer, lho🥰 🌺
__ADS_1
Luv!