TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Kepulangan Baby Zunaira


__ADS_3

28.


Setelah mobil jemputan datang, Vita di papah masuk oleh kedua orang yang sangat menyayanginya, yaitu Yudha dan satu lagi best friend forevernya, yakni burung Dara.


Vita duduk di tengah bersama Umi Ros yang memangku Zunaira yang masih tidur nyenyak. Alif, Yudha dan Dara duduk di belakang, sementara Abah duduk di samping kemudi.


Saat ini Abah tidak lagi mengaduh seperti kemarin karena gigi sialannya sudah dicabut. Namun yang jadi masalah adalah, makanan Abah kini telah berbeda dari sebelumnya karena beliau tidak bisa lagi mencerna makanan yang lebih keras. Ciri khas kakek-kakek tua.


“Umi yang bakalan pusing ini, mah. Soalnya harus pintar cari masakan yang lunak-lunak,” kata Umi Ros begitu semua orang sudah naik ke tempatnya masing-masing.


“Kasih tahu saja terus,” Yudha menimpali.


“Enak saja, orang Minang sukanya rendang.” Abah membantahnya. Beliau seolah lupa apa yang baru saja di sampaikan oleh dokter pagi tadi.


“Nah iya, rendang di ganti tahu saja kan, bisa.”


“Mana enak?”


“Yang penting bisa makanlah, Bah. Kata Abah jadi manusia harus selalu bersyukur.”


“Bersyukur memang harus, tapi tahu terus juga jangan. Membosankan,” kata Abah lagi tak mau kalah.


Beberapa saat ketika mereka sedang membahas soal tahu, terdengar kedua orang ribut di bagian belakang.


“Geser dikit napa?” suara Dara.


“Sudah, sebelahku ada Abang. Mana bisa aku geser lagi,” jawab Alif lebih keras. “Kalau mau yang lega silakan duduk di atas mobil.”


“Berisik saja kalian,” Yudha melirik keduanya yang berisik dengan memberi tatapan peringatan. “Mau berangkat ribut, pulang juga ribut.”


“Ini adikmu maunya nempel aku terus, Mas,” Dara mengadu kepada kakak iparnya.


Alif membela diri, “Idih, siapa juga yang mau nempel, dosa kamu buka aib suami.”


“Semua orang juga tahu kamu itu buaya buduk.”


“Keturunan Abah itu, mah. Abah waktu masih muda kan, sama kayak Alif persis,” kata Umi Ros membuat seseorang di depan menoleh.


“Apalah ini, orang lagi diam di colek-colek juga.”


“Abah pernah slengean juga seperti Alif, Umi?” tanya Dara penasaran. “Tapi mungkin tidak separah ini, ya?”


“Iya, tapi beliau berubah semenjak menikah. Harapan Umi, Alif juga begitu,” jawab Umi Ros tanpa menjelaskannya lebih lanjut untuk menjaga perasaan suaminya. Karena beliau memang tidak suka masa lalunya di ungkit-ungkit kembali. Ada sebuah cerita yang pahit di sana dan betapa keras perjuangannya untuk berhijrah. Bukan hanya itu saja, dia juga diberikan berbagai pilihan-pilihan sulit yang tidak bisa ia putuskan. Bukan tidak tegas, tetapi karena tuntutan yang memaksakannya sehingga menyisakan luka yang begitu menganga sepanjang hidupnya tanpa semua orang ketahui.


“Pak, nanti berhenti di supermarket sebentar, ya. Saya mau beli sesuatu,” ujar Yudha kepada sang sopir. Ada beberapa keperluan yang akan dia beli, titipan dari istrinya sewaktu mereka masih berada di rumah sakit.


Setelah beberapa lama Yudha turun ke tempat yang dituju, pria itu kembali dengan membawa dua kantong berisi diapers bayi serta beberapa kotak susu anak-anak. Dia sudah sangat hafal dengan berbagai macam kebutuhan semacam ini. Hanya satu hal saja yang tidak bisa ia lakukan—yakni memakaikan baju anak-anaknya. Sebab kalau untuk yang satu itu ... entah kenapa dia selalu salah di mata sang istri. Katanya kurang paslah, tidak matching lah, warnanya tabrakanlah dan lain-lain sebagainya membuat kepalanya pusing tujuh keliling.


“Sudah, Pak?” tanya Pak Sopir ketika Yudha kembali menutup pintu.


“Sudah...” Yudha menjawab

__ADS_1


“Untung bawa barangnya kemarin tidak terlalu banyak, jadi mobilnya muat,” kata Dara saat mobil mulai keluar dari area parkir. Yudha akui mobilnya memang selalu penuh, padahal dia sudah membeli yang super besar, pikirnya.


“Gampang kalau mobilnya penuh, yang laki-laki suruh berdiri saja di pintu sambil teriak; rambutan, bulus, rambutan, bulus, rambutan,” sahut Umi Ros membuat mereka sontak tertawa.


“Tapi muka-muka sepertiku kurang cocok jadi kenek angkutan, Mi. Pantasnya jadi model panas,” Alif ikut menyahuti.


“Iya, panas, nanti tinggal dipanggang di neraka bagi yang suka foto-foto hot begitu.”


“Bikin wanita bahagia katanya pahala.”


“Wanita yang mana dulu?” tanya Umi lagi, “kalau wanitanya bini tetangga nanti kamu malah dapat pahala bencana.”


“Pahala Kencana kali ah, Mi.”


“Aduhh, ssshh ....” Mati-matian Vita menahan tawa karena takut jahitannya lepas.


“Eh, sudah-sudah bercandaan terus kalian, kasihan yang nahan perihnya jahitan,” ujar Alif kemudian sehingga membuat Yudha langsung melayangkan protes.


“Lah, kamu sendiri yang bercanda dari tadi, malah menyalahkan orang. Lempar tangan sembunyi batu.”


“Kelabik, Mas,” ucap Vita, kali ini dia ikut menyahut walau kata-katanya juga ikut di pelesetkan.


“Terus menyalahkan siapa, dong? Umi? Mana bisa?” kata Alif terkekeh, “wanita itu selalu benar, karena mereka adalah ras terkuat di bumi.”


Lagi-lagi semuanya tergelak tawa, mereka baru berhenti ketika Zunaira menangis karena haus. Yudha segera mengorek tas bayi mencari kain penutup untuk diberikan kepada istrinya.


“Uluh, uluh, kena matahari dia jadi matanya susah kebuka,” Dara berkomentar sambil menatap kagum gadis kecil cantik yang bergerak-gerak di atas pangkuan ibunya tersebut. “Rambutnya tebal, banget, Ta.”


“Waktu hamil aku suka banget makan bubur kacang hijau. Jadi mungkin ngefek ke bayi, kali, ya?”


“Ada Vita sedikit, tapi lebih dominan ke papanya memang. Kelihatan sekali Yudha yang mupeng.”


Vita menahan tawa mendengarkan perkataan Umi barusan yang memang ada benarnya.


“Apa mupeng?” Yudha bertanya dengan polosnya.


“Kupikir abangku ini agak pintar, tapi ternyata mupeng saja tidak tahu,” kata Alif terdengar mengejek.


“Pada main rahasia-rahasiaan. Apa sih artinya, Moy?”


“Ngebet, Mas,” jawab Vita.


“Ya Allah, Mi. Memangnya ada hubungannya?” tanya Yudha setelahnya.


“Ada dong, makanya update.”


Yudha tak menyangka bahwa uminya ternyata cukup gaul juga.


“Sudah nennya, Zun?” tanya Dara begitu Zunaira kembali tidur nyenyak dengan satu tangan yang di angkat di atas kepalanya. “Dia nennya sedikit-sedikit, tapi sering, ya?”


Umi Ros membenarkan, “Makanya ibunya jadi kurang tidur terus. Nah, ini tugas laki-laki nanti,” beliau menunjuk putra pertamanya, “kamu harus lebih pintar membagi waktu. Anakmu empat masih kecil-kecil, harus bisa adil sama ke empatnya, harus adil sama istrinya juga. Kamu harus paham, banyak kasus baby blues sekarang dan faktornya tidak jauh-jauh dari kelelahan, kurang tidur dan stres. Mungkin terdengar membahayakan, tapi jangan sampai itu terjadi.”

__ADS_1


“Iya...,” jawab Yudha terdengar berat, ‘bahkan sebelum istriku baby blues, aku sudah terkena duluan,’ lanjut Yudha dalam batinnya.


Sebab dia baru saja mengalami berbagai macam permasalahan di dalam usahanya—namun selalu disimpan di dalam kepalanya sendiri lantaran tak ingin sang istri ikut memikirkannya.


Demikianlah sebenarnya yang dirasakan oleh para suami di dunia ini tanpa perempuan ketahui. Tetapi terkadang, masih banyak perempuan yang mempunyai pemikiran egois—dengan menuntutnya untuk sempurna melebihi kemampuan yang mereka miliki. Padahal mungkin, di kepalanya sudah banyak menahan beban yang besar.


“Tinggal aku...” ujar Dara selanjutnya dengan perasaan was-was, “apa aku bisa lahiran normal?”


“Sesar saja,” kata Alif segera. Dia berkata seperti itu karena terlalu khawatir dengan istrinya.


Umi yang mendengar langsung menyarankan yang terbaik, “Kalau bisa normal, ya normal sajalah, Lif. Terkecuali kalau memang ada faktor medis yang mengharuskannya di operasi.”


“Tuh, dengar,” ucap Dara melirik ke sebelah.


Sesampainya di rumah, kepulangan mereka langsung disambut oleh semua orang termasuk ketiga anak-anak. Terlebih, Umar dan Mauza yang langsung meminta Omanya menurunkan Baby Zunaira agar mereka bisa lebih melihat dengan jelas.


“Mana, aku mau lihat, aku mau lihat!” seru Umar sangat antusias.


“Aku juga, aku juga!” ucap Mauza tak kalah seru.


Umi Ros pun terlebih dahulu untuk membawa bayi itu ke dalam. Begitu juga dengan Vita yang di antar oleh Dara masuk ke dalam kamarnya agar wanita itu bisa segera berbaring.


Di ruang tengah, Mauza dan Umar ters


enyum bahagia melihat wajah adik mereka. Keduanya bahkan terus mencium dan berusaha menyentuh tubuhnya dengan sangat gemas.


“Papa ada bayi, itu bayi,” ujar Umar memberitahu papanya dengan menunjukkan tangannya ke arah Zunaira.


Yudha memberikannya pengertian, “Iya, itu adiknya Kaka Umar. Di sayang ya, adiknya. Di jaga, jangan sampai nangis.”


“Adiknya Umal,” Umar mengulang.


“Senang, ya. Punya adik baru, nanti tambah satu lagi dari Onti,” sahut Alif sambil mengangkat tubuh kecil Mauza tinggi-tinggi sehingga membuat gadis kecil itu menjerit-jerit.


“Omnya nakal, Moja mau tulun, mau tulun!”


Namun begitu, Alif tetap menggodanya dan membawanya ke lantai dua bersama Abah.


“Om culik.”


“Moja mau tulun!”


“Tidak boleh.”


Berbeda dengan Umar dan Mauza, Rayyan justru berlari ke dalam kamarnya sendiri dan menangis di sana. Ada ketakutan terbesar dalam hatinya setelah ia menyadari, dialah anak terbesar di keluarga ini dan keadaannya pun, pasti akan di nomor terakhir kan di banding dengan adik-adiknya yang lain.


****


Bersambung.


Bulan depan insyaallah next prekuel Abah & Umi Ros ya?

__ADS_1


Siap semuanya?


Kan, kisi-kisinya udah kelihatan ya, jadi aku cuma menceritakan sedikit detailnya kenapa mereka dipersatukan 🥰


__ADS_2