TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Kembali Menemukan Pengganti


__ADS_3

Vita masih menangis haru pada saat melihat Yudha sedramatis itu menyikapi kabar bahagia ini. Ekspresi inilah yang sangat ingin dia lihat dulu pada saat mereka mengalami sebuah permasalahan rumah tangga, hingga menyebabkan perpisahan.


Masih teringat jelas, di mana tes itu ia buang karena lebih dulu kecewa mendengar kabar kehamilan madunya—sehingga ia mengurungkan niat untuk memberitahu kabar yang sama darinya.


Tetapi kini semua masa-masa itu telah berlalu. Vita berharap tidak akan pernah ada lagi batu-batu besar penghalang jalan hidupnya, selain kerikil kecil yang bisa dengan mudah dapat disingkirkan.  


Yudha menghapus air matanya dan menatap matanya dalam, teduh dan penuh cinta. “Jangan pernah pergi lagi dariku Sweety,” ujarnya serupa pria sejati yang tengah berjanji. Kemudian kembali mendekap tubuh mungil itu ke dalam dadanya. “Aku akan menjaga kalian seumur hidupku.”


***


Rahma masih dalam suasana berduka setelah kepergian ibunya yang wafat empat puluh hari lalu.


Kini dia sedang mengunjungi pusara beliau dengan membawa sebait doa. Di depan makam, wanita itu sempat menangis tersedu selama beberapa lama. Kehilangan masih terukir jelas di dalam lubuk hatinya. Namun menurutnya, seperti ini lebih baik daripada beliau harus menahan ketersiksaan di atas tempat tidur selama berbulan-bulan.


“Tapi sekarang Ibu sudah tidak sakit lagi, Bu. Semoga dosa-dosa ibu gugur oleh karena sakit itu—dan tenang di alam sana,” ucap Rahma seraya menaburkan kembang ke gundukan tanah yang masih basah.


Meskipun ibunya bersifat demikian semasa hidupnya, tapi Nely tetaplah ibunya. Dari rahimnyalah Rahma dilahirkan dengan regangan nyawa. Darah beliau mengalir di tubuhnya. Rahma tidak pernah membenci ataupun mendendam. Rahma sangat mencintainya. Dan bila dipikir-pikir, apa pun yang ibu lakukan terhadapnya semata-mata demi dirinya ... meski cara yang beliau lakukan, salah.


Setelah membacakan suratan, Rahma langsung berpamitan karena panas matahari sudah semakin terik menampar kulitnya walau pun tertutup sempurna.


“Rahma pulang ya, Bu. Rahma janji akan sering-sering ke sini.” Rahma tersenyum mengusap nisan itu dan menganggapnya seolah nyata.


“Rahma ...,” panggil seseorang tak jauh darinya.


“Rio?” ucapnya agak terkejut. Rahma langsung berdiri ketika melihat pria itu berjalan mendekat.


“Maaf, aku dari tadi mengikutimu. Aku hanya ingin memastikan apakah betul itu kau.”


Rahma tersenyum. “Iya, aku sedang mengunjungi makam ibuku,” jawabnya. “Kamu sendiri?”


“Aku juga habis mengunjungi makam istriku di sana.” Rio menunjuk ke arah lain yang tak jauh dari mereka berdiri. “Kebetulan aku melihatmu tadi, jadi aku langsung ke sini.”


Rahma mengangguk.


“Turut berduka cita atas meninggalnya ibumu, ya.”

__ADS_1


“Iya, makasih Ri,” jawab Rahma. Kemudian mereka keluar bersama menuju ke tempat parkir sembari mengobrol santai membahas penyebab meninggalnya ibunya.


Rahma menceritakan: tidak diketahui secara pasti apa penyebabnya beliau tutup usia—karena pada saat itu (Rahma bangun tidur), ia mendapati tubuh beliau sudah dingin. Napasnya hilang, detak jantungnya pun tak terdengar lagi.


Sedangkan Rio sendiri, dia tidak menceritakan lebih detail karena istrinya sudah meninggal setahun yang lalu—tepatnya tak lama pada saat mereka bertemu di rumah sakit. Pria itu mengatakan, istrinya tidak kuat lagi melawan ganasnya kanker yang menyerang tubuhnya selama bertahun-tahun.


“Mereka sudah tenang disisi-Nya,” ucap Rahma ketika mereka sudah berada di samping mobil.


Jarak antara makam ibunya dan parkir mobil sangat jauh sehingga membutuhkan waktu lumayan lama untuk berjalan kaki.


“Kita harus ikhlas,” sambung Rahma lagi.


“Tentu,” kata Rio pasti. “Setiap orang yang hidup pasti akan mati bukan?”


“Kamu benar.” Rahma tersenyum. Dia kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Kunci mobil. “Sudah siang, Ri. Aku harus pulang.”


“Tapi sebelum kamu pulang, apa aku boleh mengatakan sesuatu?” Muka Rio terlihat sangat serius. Manik matanya menghunjam dalam ke ulu hati. Menembus ke kedalaman yang sebelumnya gelap tanpa cahaya—setelah kegagalannya berumah tangga dengan seorang pria di sana.


“Ada apa, Ri?” tanya Rahma heran dengan roman muka pria di depannya. “Kelihatannya serius sekali. Santai saja, kita berteman sudah lama bukan?”


Deg.


Bagai dipukulkan gendang di telinganya. Jantung Rahma berdetak lebih kencang. Rahma diam untuk menyimak apa yang akan Rio sampaikan selanjutnya. Sesungguhnya dia telah mengerti ke mana arah pembicaraan ini akan berlabuh.


“Aku ingin melamarmu,” ucapnya begitu yakin sehingga Rahma terdiam seribu bahasa.


“Aku ingin kau menjadi istriku, melengkapi separuhnya diriku yang pernah hilang. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Aku ingin mencintaimu dengan cara yang dihalalkan.”


Rahma tercekat. Dia bingung menyikapi pertanyaan ini. Memang sudah tidak ada lagi sisa-sisa cinta Yudha di dalam hatinya. Perasaan itu telah menguap bersama leburnya rasa kecewa—karena cintanya yang sungguh-sungguh telah dipermainkan oleh takdir dunia.


“Say yes, Rahma. Cinta pasti akan hadir jika hati kita terbuka untuk dan mau menerima,” kata Rio lagi.


“Aku mempunyai banyak kekurangan,” jawabnya lantaran tidak tahu harus menjawab dengan cara lain.


“Aku pun begitu. Tolong jangan menolakku.”

__ADS_1


“Bisakah kau memberiku kesempatan untuk berpikir?”


“Percuma saja kau menyuruhku menunggu kalau pada akhirnya kau mengatakan iya.”


“Rio ...,” de sah Rahma mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia hanya bingung. Mereka belum terlalu dekat. Rahma belum mengenalinya lebih jauh. Dia takut salah pilih lagi seperti dulu. Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah.


“Aku sendiri, Rahma. Dan kau adalah satu-satunya. Aku berjanji untuk tidak akan memasukkan Rahma-Rahma yang lainnya. Percayalah.”


Rahma terdiam untuk berpikir sesaat.


“Terima aku atau kamu akan terus berada dalam kesepian.”


Rahma dilema. Namun apa yang dikatakan Rio adalah benar. Dia butuh seorang suami. Dia ingin mempunyai anak-anak yang lucu. Dia juga ingin hidup berumah tangga lagi dan mengubur masa lalunya. Dan mungkin hanya Rio seoranglah yang mau menerima keadaannya sekarang ini.


Memang Rio tidak segagah Yudha, tapi wajah pria itu jauh lebih luwes. Dari cara bicaranya, dia penyabar dan penyayang.


“Tapi aku janda ...,” ucapnya setelah terdiam beberapa saat. “Memangnya keluargamu nanti tidak apa-apa?” tanyanya untuk memastikan. Rahma hanya tidak mau Rio melupakan itu.


“Apa salahnya? Aku juga janda. Janda laki-laki.”


Rahma tersenyum mendengar kalimat lucu tersebut. Kemudian dengan kepala menunduk, dia pun mengatakan dengan pasti, “Baiklah aku terima lamaranmu.”


“Yes! Aku diterima!” Mendapatkan angin segar membuat Rio juga tak kuasa mengu lum senyum bahagianya.


Namun kemudian Rahma langsung menyembur kesal. “Kau benar-benar tidak waras. Melamarku di kuburan seperti ini!”


Rio seketika tergelak sampai sudut matanya agak berair. Agak lama dia seperti itu sebelum akhirnya dia kembali berujar, “Aku akan segera membawa orang tuaku ke rumahmu. Dan kita akan secepatnya menikah.”


Entah perasaan apa yang menyelubunginya. Rahma tidak bisa menjabarkan lagi rasa bahagianya karena telah menemukan kembali kasih yang telah lama hilang.


Kata cinta memang selalu lebih indah daripada segalanya.


Pada bulan berikutnya, mereka pun akhirnya melakukan pernikahan.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2