TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Akad Nikah Kedua


__ADS_3

Bab 16.


Beberapa hari telah berlalu. Kini hari pernikahan itu telah tiba. Hari di mana dua orang manusia akan mematahkan hati seorang wanita sekaligus istri yang sangat hebat.


Tak pernah menyangka. Kebahagiaan yang Ros idam-idamkan setelah sekian lama, harus berakhir seperti ini. Salah besar kalau dia mengira akan menjadikan satu-satunya dalam hidupnya.


Beberapa orang kini sedang bersiap menuju ke rumah sakit, termasuk Haikal yang sudah siap dengan mengenakan pakaian pengantin.


Sebagai tanda baktinya sebagai seorang istri, Ros sendirilah yang membantu memakaikan pakaian tersebut. Setelan pakaian berwarna biru tua, senada dengan pakaian yang dikenakan oleh Naya di sana. Sedangkan Ros sendiri memakai abaya mewah berwarna putih yang hijabnya menutupi dada.


Tidak ada lagi air mata yang mengalir. Tiba-tiba saja—ia seperti diberi kekuatan lebih oleh Sang Maha Kuasa untuk dapat menyaksikan akad nikah kedua suaminya, hari ini.


“Maaf karena ini menyakitimu,” ujar Haikal sebelum mereka pergi.


“Aku ikhlas,” balas Ros tersenyum, dari matanya yang indah memancarkan ketulusan, “pergilah, kami akan menemanimu.”


Haikal terlebih dahulu mencium istrinya serta anaknya yang terus bergerak seolah ikut merasakan kepedihan ibunya. Ros memahami hal itu, tetapi dia menyimpannya sendiri dengan baik.


Dengan mengucap basmalah, mereka pun segera melakukan perjalanan.


Sesampainya di sana, beberapa orang menyambut kedatangan mereka. Termasuk Naya yang entah kenapa sudah jauh lebih sehat daripada sebelumnya. Tampak lebih cantik dengan riasan sederhana dan memakai hijab dengan warna senada.


Entah kenapa, Naya seperti mempunyai semangat untuk hidup lebih lama lagi. Wanita itu berpikir, Haikal menikahinya karena rasa suka seperti dirinya yang selalu diam-diam mengagumi, bukan karena sebuah wasiat atau lain sebagainya. Wanita itu salah sangka. Hal ini baru dia ketahui setelah beberapa lama kemudian.


Dalam hal ini, Ros juga sedikit merasa dicurangi. Sebab Ros pikir, yang dia lihat selama ini, Naya tengah dalam keadaan sakit parah. Tetapi kenapa hari ini dia tampak sehat? Apakah dengan menikahi suaminya membuatnya sembuh seketika?


Sebagaimana manusia biasa, dia pun pernah berpikir sedikit buruk. Umur Naya yang diperkirakan dokter tidak akan lama lagi—menguntungkan baginya agar tetap menjadikan dia istri satu-satunya. Tetapi ternyata ... lagi-lagi dugaannya salah.

__ADS_1


“Baik, kalau semua sudah siap, sebaiknya kita mulai saja,” ujar penghulu yang beberapa menit lalu tiba di sana. Para laki-laki dipisahkan ke pojok ruangan, lalu duduk sesuai dengan syarat pernikahan. Pengantin laki-laki di apit oleh dua saksi, yang di depannya duduk seorang penghulu yang menjabat tangan.


Sementara Ros sendiri duduk tak jauh dari Naya, keduanya sempat menatap sekilas dan sama-sama tersenyum. Mereka kemudian saling memeluk ketika kata sah terucap dari bibir suaminya.


Ros sempat mengalihkan pandangan ke arah lain pada saat Haikal mendekati istri keduanya untuk melakukan prosesi. Yakni memasukkan cincin yang dibalas dengan cium tangan dan cium kening.


Ada setetes air mata yang mengalir dari kedua bola mata Ros, tetapi langsung diusap dengan punggung tangannya.


Dawiya mengetahui hal ini kendati menantunya itu berusaha keras menyembunyikannya. Tak tega membuat perempuan yang sudah berusia hampir enam puluh tahun tersebut segera memeluknya erat.


“Tabahkan hatimu, ya,” bisik Dawiya yang malah membuat pertahanan wanita itu semakin runtuh. Tangisnya seketika meledak dan meminta izin keluar untuk menyendiri selama beberapa lama. Ya, sangat wajar kalau Ros demikian. Semua orang sangat memahami hal tersebut.


🌺🌺🌺


Sepulang dari rumah sakit, Ros langsung menuju ke rumah. Dia tak ke mana-mana dan malah justru menyibukkan diri untuk mengalihkan pikirannya dari rasa sakit. Ini lebih baik daripada ia terus menangisi keadaan. Sebab ia bertanggung jawab pada makhluk lain yang sedang bergantung pada dirinya.


Sementara Haikal sendiri, dia masih berada di rumah sakit. Ditinggal di sana oleh keluarga-keluarganya sebagaimana seorang pengantin yang hanya memerlukan waktu berdua saja. Sembari saling mengenal lebih jauh lagi.


Namun yang membuat Naya menjadi heran, kenapa Haikal yang dia kenal pecicilan sekarang lebih banyak melamun? Berdiam diri dan membaca sesuatu yang tidak ia ketahui apa artinya.


Sebelumnya mereka memang asing karena tak ada hubungan apa-apa selain teman. Tetapi hari ini, kenapa lebih asing lagi? Padahal, keduanya telah mempunyai status.


“Aku ingin sekali bisa pulang,” ujar Naya memecah kesunyian.


Haikal menoleh, “Cepat sembuh agar kau bisa pulang.” Pria itu kembali memusatkan pandangannya pada buku yang dia pegang. Menganggap ucapan Naya hanyalah angin lalu.


Naya agak kesal, tetapi dia memilih memendamnya sendiri lantaran tak ingin terjadi perdebatan lebih lanjut.

__ADS_1


Selama tiga malam itu, mereka berinteraksi seperti biasa tanpa melakukan hal lebih. Benar-benar masih sangat asing dan butuh beberapa waktu agar keduanya menjadi lebih dekat. Namun begitu, Haikal tetap menunjukkan tanggung jawabnya sebagai seorang suami—dengan melakukan banyak hal membantu menyediakan semua yang Naya butuhkan.


Pada hari ke empat, Haikal pulang dan langsung memasuki kamar istri pertamanya. Di sana, dia menemukan wanita yang tengah sibuk melipat pakaian dan membereskan kamar. Ros baru menyadari suaminya datang setelah mendengar pria itu mengucap salam.


“Waalaikumsalam,” jawab Ros mendekati dan mencium tangannya dengan takzim. “Gimana keadaan Uni Naya? Apa dia sudah jauh lebih baik?” tanyanya.


Haikal heran, “Kenapa harus dia dulu yang kau tanyakan?”


“Habis kalau menanyakanmu, sudah pasti kau baik-baik saja sekarang. Sehat walafiat,” jawabnya dengan suara yang sabar dan pelan seperti biasa. Matanya menatap penuh cinta pria di depannya. Sedangkan tangannya mengusap lembut dari pundak ke bagian dada.


Dijamin, lelaki mana pun akan luluh dengan perlakuan seperti ini. Suasana hati menjadi tenang, dan emosi yang dibawanya dari luar sontak memudar dan berganti menjadi rasa kasih yang luar biasa.


“Apa saja yang kau lakukan selama beberapa hari ini?”


“Banyak sekali. Aku menjahit, mengerjakan pekerjaan rumah, periksa ke klinik, dan lain-lain.”


“Periksa ke klinik?” ulang Haikal bertanya, “lalu bagaimana keadaan kalian?”


“Kami baik-baik saja, sehat insyaallah.”


Lantas Haikal mengusap lembut perutnya dan mendoakan agar persalinan istrinya kelak dimudahkan. Selamat dan sehat, baik ibu mau pun sang anak.


Hingga pada saatnya tiba, lahirlah bayi laki-laki ke dunia. Anak pertama Haikal yang diberi nama Yudha Al Fatir. Nama yang sebelumnya pernah mereka rencanakan. Anak yang kelak akan memiliki jalan hidup yang hampir sama dengannya. Yang membuatnya seperti dejavu. Atau kisah yang berulang.


** *


To be continued.

__ADS_1


Janga lupa votenya laiknya juga biar nulisnya semangit.


__ADS_2