
“Sudah, Om,” kata Umar setelah beberapa saat kemudian.
Pria itu kemudian memakai masker dan memakai sarung tangan untuk membantu membersihkannya.
“Besok pupnya sama Om lagi, ah,” ucap Umar setelah semuanya beres.
Mata alif langsung melebar mendengarkan selorohnya. “Enak saja,” katanya agak kesal. ‘Memangnya aku tidak punya kerjaan!’
“Bisa, Lif?” tanya Umi Ros begitu keduanya keluar dari kamar mandi.
Alif hanya mengangguk. Lalu kembali memakaikan Umar diapers lagi beserta celana pendeknya yang sudah Umi persiapkan.
Keduanya bahkan bekerja sama menyuapi dua anak kecil ini sampai menemaninya tidur siang karena memang sudah waktunya.
‘Ternyata seperti ini ya, mengurus anak?’ batin Alif sembari membayangkannya ke depan. Tadinya dia pikir, mempunyai banyak anak akan terasa menyenangkan meskipun merepotkan. Tetapi setelah dia melihat sendiri kenyataannya, ternyata tidak hanya sebatas membesarkannya saja. Ada tanggung jawab besar yang akan dia pikul ke depannya nanti, apalagi di jaman sekarang yang sudah berada dalam kemajuan teknologi. Dari kakaknyalah dia belajar banyak tentang banyak hal. Ternyata orang terdekatlah yang membuatnya mengerti, ‘oh jadi seperti ini ya, yang namanya poligami? Oh, jadi seperti ini, ya, mempunyai banyak anak dengan jarak yang cukup dekat.’
Ternyata pernikahan itu tidak sebatas menjabat tangan penghulu. Ada dua manusia yang harus membicarakannya secara matang tentang langkah mereka ke depan dan segala jenis perencanaannya, baik secara finansial, pendidikan, tempat, atau urusan tunda-menunda kelahiran anak-anak mereka. Pastinya agar kejadian seperti yang dialami Vita tidak terulang pada keluarganya juga kelak.
Sesegera mungkin Alif menyelesaikan pekerjaannya. Sepertinya hari-hari ini tidak akan terlalu sibuk lagi selain hanya mengurus laporan keuangan keluar. Banyak yang terhenti begitu saja kecuali anak-anak OB yang masih berkeliaran untuk membersihkan area kantor.
Pandemi benar-benar telah melumpuhkan usahanya.
“Kalau begini terus bagaimana ya, Mi?” tanya Alif ketika mereka berada di dalam mobil perjalanan pulang. Selama ini ia tak pernah mengeluh, tetapi khusus untuk hari ini, dia ingin berkeluh kesah dengan orang tuanya.
“Jangan khawatirkan soal rezeki, apalagi berprasangka buruk terhadap kuasa Allah. Akan ada masanya semua ini selesai dan kita bisa memulai hidup lagi seperti biasa, seperti dulu,” kata Umi Ros tersenyum kepada putranya yang tengah fokus menyetir. Namun masih terlihat di spion tengah.
“Kasihan mereka yang kita rumahkan, Mi. Pasti mereka kebingungan sekarang. Dengar cerita kanan-kiri membuat kita terenyuh.”
“Kita akan membantu semampu kita, Nak. Tenanglah. Semua pasti mengerti keadaan perusahaan kita seperti apa. Mereka sudah melihatnya sendiri. Kita melakukan semua ini bukan tanpa sebab,” ucap Umi Ros, menjeda sejenak, “Umi yakin mereka pasti tengah memikirkan jalan keluarnya sendiri-sendiri. Tidak mungkin mereka hanya berhenti pada satu titik, semua punya cara masing-masing mencari jalannya.”
Beliau mempercayai suatu hal, tidak ada satu pun makhluk di bumi melainkan Allah yang memberi rezekinya.
***
Yudha menutup pintu setelah ia masuk ke dalam ruangan tempat istrinya di rawat. Tanpa mengetahui dua orang yang sedang membuntuti.
__ADS_1
“Astaga, kok kami ditinggal, Mas? Jahatnya,” ucap Dara memberengut kesal, “apakah kamu melupakan anakmu?”
Pria itu tak menjawab, dia hanya berbalik badan, menggendong Rayyan untuk mendekatkan dia ke ibunya.
“Maafin Kaka ya, Pa?” ucap Rayyan lagi membuat hati Yudha terenyuh. Dibalik kerasnya kepala anak pertamanya ini, ternyata dia mempunyai jiwa yang begitu baik. Rayyan hanya menuntut perhatian ibunya, ya, itu saja. Tetapi kondisinya saja yang kurang tepat sehingga menyebabkan ibunya demikian.
‘Dia tidak tahu apa-apa.’
“Iya, Sayang. Mama pasti maafin Kaka,” jawab Yudha akhirnya.
Ketiganya melihat Vita yang masih terpejam dengan wajah yang pucat pasi. Sedangkan di tangan kanannya tertusuk jarum infus.
Dara duduk di samping kiri Vita dan berujar pelan, “Ta, bangun dong, Ta. Aku butuh teman ghibah, nih.”
Yudha berdecak, bisa-bisanya perempuan itu menyuruh istrinya bangun hanya karena tak mempunyai teman untuk ghibah. Ck! Ada-ada saja!
“Mau bilang apa sama Mama?” tanya Yudha berbisik di telinga putranya. Namun Rayyan menggeleng, dia semakin mendusel di dada ayahnya sembari menahan tangis. Tidak ada yang ingin diucapkannya selain berharap agar mamanya segera bangun.
Perlahan Yudha mendekat dan mencium kening istrinya, sehingga Dara segera mengalihkan pandangan.
“Cepat sembuh, Sweety. Aku baru menyadari betapa berharganya senyummu di dalam rumah. Semenit pun tanpa suaramu dunia kami terasa sunyi. Setelah ini, aku akan memberikan waktuku lebih banyak lagi untuk kalian, terutama untukmu.”
Waktu cepat bergulir, hingga akhirnya tepat pada saat maghrib, Vita sadarkan diri dan wanita itu langsung mencari-cari di mana anaknya. “Mas? Rayyan mana? Rayyan mana?” ucapnya sangat panik.
“Ssssh, tenanglah. Kamu tenang, Rayyan tadi dibawa pulang sama Dara,” jawab Yudha menahan tubuhnya yang hendak beranjak.
“Anak kita gimana, anak kita?” dia meraba-raba perutnya, “dia baik-baik saja ‘kan?”
“Anak kita sehat,” jawab Yudha. Tak lama kemudian, wanita itu menangis. Merasa bersalah karena tidak bisa menjaganya dengan baik sehingga menyebabkan anak mereka hampir celaka.
“Jangan menyalahkan diri sendiri, aku juga bersalah, aku punya peranan paling besar karena telah membuat keputusan yang salah. Seharusnya, aku tak mengizinkanmu pergi sendiri tadi pagi.”
Kemudian, Yudha menjelaskan penjelasan dokter mengenai placenta previa yang dideritanya. Juga apa saja yang harus ia hindari sampai waktunya nanti dia melahirkan.
“Jadi aku harus caesar lagi, ya?” tanya Vita setelah semuanya terdengar jelas.
__ADS_1
“Ini yang terakhir kalinya, tapi setelah ini kamu harus di steril, demi keselamatan kamu juga. Kita sering teledor, nanti bisa-bisa kamu hamil lagi.” Yudha terkekeh mengingat betapa pelupanya mereka kalau sudah menyangkut urusan bercampur.
“Memangnya boleh?” tanya Vita. Sebab dalam agamanya, dia pernah mendengar bahwa hal ini jatuhnya di haramkan. Lagi pula, dia merasa dirinya masih sangat muda, tapi sudah di steril. Ini terdengar menyeramkan.
“Sesuai dengan kaidah, kalau untuk keselamatan boleh saja. Karena Islam tidak bukan agama yang menyulitkan dan Allah menghendaki kemudahan.”
Vita tersenyum, wajahnya perlahan-lahan memerah karena cairannya kini telah tercukupi. “Maaf kalau aku menyusahkanmu, Mas. Padahal, kamu sendiri sedang banyak masalah.”
“Sama sekali tidak. Ini memang sudah tugasku melindungimu.”
“Kita akan tambah anak satu lagi, berarti total kamu jadi seorang ayah dengan lima anak,” ucap Vita mengingatkan yang telah tiada dari rahim mantan istri suaminya.
“Iya, seandainya dia masih hidup, pasti dia sudah sebesar Rayyan.” Yudha tersenyum mengingat wajah anak pertamanya itu yang tidak beda jauh dari wajah Rayyan, dia seratus persen gennya. Bahkan potretnya pun masih ada.
“Sudah lama kita tidak ke sana menjenguknya, Mas.”
“Tapi doaku tidak pernah putus,” balas Yudha.
“Kita akan ke sana nanti setelah aku keluar dari sini, ya,” pintanya terdengar begitu tulus. Sebab anak itu adalah anaknya juga.
Yudha mengangguk, “Iya, bisa kita atur nanti waktunya. Yang penting kamu sembuh dulu.”
‘Entah terbuat dari apa hatinya, padahal keluarganya pernah berniat memisahkan kita. Bahkan membuatmu berjalan kepayahan seorang diri. Terima kasih, Sayang. Kamu selalu yang terbaik.’
***
Bersambung.
Tolong ingatin kalau ada typo di komentar paragraf, ya. soalnya aku gak revisi lagi.
Maaf telat juga hehehe🤭
Readers: Gapapa thor, jan banyak omong, yang penting update aja lah
oke, oke oke, Lup lup lup 🥰🥰
__ADS_1