
Bab 15.
“Apa yang membuatmu mengizinkanku?” tanya Haikal setelah beberapa saat.
“Lalu, aku harus seperti apa?” jawab Ros yang sudah lebih tegar daripada sebelumnya. “Kenapa kau malah bertanya seperti ini? Atau kau lebih suka aku menolaknya?”
“Jangan ambil keputusan dalam keadaan emosi.”
"Aku tidak sedang emosi, aku sadar dan aku memahami penderitaannya," jelas Ros sangat yakin.
Haikal menarik tangannya, berniat untuk membawanya keluar, “Sebaiknya kita pulang. Kita masih punya banyak waktu untuk memikirkannya, Ros.”
“Lalu dengan siapa dia tinggal?”
“Banyak suster di sini.”
“Kami pulang dulu, Ni...” Ros menatap sekali lagi wanita yang tengah terbaring lemah tersebut, sebelum keduanya keluar dari ruang rawat inap.
Tidak ada pembicaraan lagi selama perjalanan. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
‘Kenapa kami harus terjepit dengan takdir yang sedemikian sulit?’ batin Ros bertanya-tanya. Sangat sakit membayangkan andai suaminya bersanding dengan Naya. Tetapi setelah ia pikir-pikir lagi, apakah mungkin, ini adalah jalan surga baginya? ‘Bukankah ada banyak jalan surga lainnya, mengapa harus jalan seperti ini yang Kau takdirkan untukku, Wahai Tuhanku?’
Haikal pun demikian. Ingin marah tapi kepada siapa dia harus melampiaskan. Dia merasa ini ujian untuknya. Oleh karenanya, dia memilih untuk memendam, bahkan hingga bertahun-tahun lamanya kelak.
Namun begitu, tidak ada yang boleh membenci sebuah poligami, karena di dalam agama, poligami adalah sebuah syariat.
Tidak perlu jauh-jauh. Ros sering melihat di acara-acara kajian salah satu masjid yang dia datangi. Seorang penceramah, datang dengan membawa dua, tiga, atau empat istri beserta anak-anaknya. Dan yang membuatnya heran adalah, mereka sangat akur dan terdidik satu sama lain. Bayangkan, setinggi apa ilmunya?
Kembali kepada mereka berdua.
Perbedaan begitu kentara di mata orang tua saat keduanya tiba di rumah, sehingga membuat Kauman dan Dawiya bertanya-tanya sendiri, apa gerangan yang sedang terjadi?
Namun pada akhirnya, Dawiya tidak bisa menahan diri untuk bertanya kepada putranya, “Ada apa? Apa kalian sedang ada masalah?”
Tak berapa lama, Haikal mengangguk.
“Oh... pantas saja,” katanya dengan mengangguk-angguk membenarkan apa yang ia lihat, “tapi ya, begitulah. Yang namanya rumah tangga pasti selalu punya masalah, entah itu salah paham, berbeda pendapat, sama-sama ego dsb. Kami sudah tua, jadi sangat paham masalah seperti itu. Kuncinya adalah komunikasi.”
__ADS_1
“Masalahnya ini beda, Bun.”
“Seberat apa pun masalahmu, jangan lama-lama marahannya, tidak baik.” Dawiya menepuk pundaknya dan hendak meninggalkannya segera. Tetapi baru satu kali beliau melangkah, Haikal menahannya sehingga beliau menoleh, “Apo, lai?”
“Aku mau menikah lagi, Bun.”
“Eh?” Dawiya langsung terkesiap, “jangan bercanda kamu, istri lagi hamil jangan buat ulah.”
“Aku sungguh-sungguh.”
“Apa maksudmu ini, ha? Kaget Bundo mendengarnya,” ujarnya dengan bahasa Minang yang kental. “Siapa pula yang meracuni pikiranmu. Baru benar pikiranmu kemarin, sekarang sudah kacau lagi.”
“Naya, Bun. Naya...” ujar Haikal membuat Dawiya menjadi semakin bingung. “Aku ingin meminta pendapatmu.”
“Ayo, bicarakan dengan kami,” kata Dawiya akhirnya memberi putranya kesempatan untuk menjelaskan. Perempuan ini mempunyai ruang kepala yang lebih lebar setelah belajar banyak hal tentang ke agamaan. Terutama, pentingnya mendengar sampai selesai sebelum menghakimi.
🌺🌺🌺
Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk Haikal mempertimbangkan keputusan besar ini. Dia juga sampai mendapat kecaman dari orang tua dan kedua mertuanya sendiri, meski pada akhirnya mereka menyetujui asalkan bisa berbuat adil. Sebab jika tidak, Arok akan menarik kembali putri mereka dan membawanya pulang.
Bahkan saat ini, dia sampai ke terbang ke Jawa tengah untuk menemui Kyai Hasyim Ashari; sahabat, atasan, sekaligus konsultan spiritualnya. Selain bersilaturahmi, tujuannya ke sana adalah untuk meminta pendapat.
Haikal menunduk dalam, menyadari dirinya yang penuh lumpur dosa tersebut.
“Seorang suami dituntut untuk mampu mendidik istri-istrinya. Dan wanita yang terdidik adalah wanita yang mampu mengendalikan emosi dan kecemburuannya kelak jika kalian bersama,” lanjut Kyai Hasyim, “pertanyaan selanjutnya, apakah kau sudah mendapatkan izin dari istri pertama?”
“Sudah, Kyai.”
“Betul, sudah kau tanyakan dia baik-baik?”
Haikal mengangguk, “Sebelumnya, dia memang tidak rela. Tapi setelah melihat orangnya sendiri, dia merasa iba dan mengizinkanku untuk menikahinya.”
“Apa kau juga tahu dengan segala konsekuensinya?” tanya Kyai lagi untuk memastikan, “sering kali poligami dijadikan sebuah alasan, yakni syariat. Merasa dirinya mampu hingga dia menikahi lebih dari satu wanita. Padahal kebanyakan, bukan itu alasan yang sebenarnya. Mereka cenderung menuruti hawa naf su. Tetapi dalam kondisi yang kau alami, sedikitnya aku memahami bahwa niatmu bukan demikian. Semoga kau bisa menjalankan amanat,” papar Kyai Hasyim tersenyum. “Aku hanya menasihati, semua keputusan ada di tanganmu karena kaulah yang akan menjalaninya. Lakukanlah salat istikharah, agar kau lebih yakin. Sebab ibadah sunnah ini sangat dianjurkan untuk dikerjakan ketika dihadapkan pada dua masalah agar diberikan pilihan terbaik oleh Allah.”
“Terima kasih atas nasihatnya Kyai. Insyaallah, Ilmu yang kau berikan sangat bermanfaat.”
“Sama-sama, jangan lupa terus berkabar. Sudah berapa bulan kandungan istrimu?” tanya Kyai tersenyum.
__ADS_1
“Tujuh bulan, Kyai. Sebentar lagi.”
“Alhamdulillah... aku doakan semoga persalinan istrimu lancar. Nanti kalau anakmu sudah besar, masukkan dia ke pesantrenku. Sekarang, memang masih dalam tahap pembangunan, tapi mungkin jika dana lancar, inyaallah tahun depan akan jadi.”
“Wah, saya ikut senang mendengarnya.”
“Apa tidak ada rencana pindah ke Pulau Jawa agar kita bisa lebih dekat?”
“Sekarang belum, entah mungkin nanti.”
“Baiklah, aku doakan, kelak kau pindah ke sini.”
“Kalau sudah di doakan sama Kyai seperti ini, kemungkinan akan dikabulkan,” kekeh Haikal.
“Semoga saja begitu,” balas pria lebih tua darinya tersebut. Keduanya pun berlanjut membicarakan seputar usaha dan keagamaan. Sampai kemudian, Haikal pun tidur di sana sebelum esoknya kembali terbang ke Pariaman melalui Bandara Jendral Ahmad Yani.
Namun sesampainya kembali di Padang, Haikal langsung di protes oleh istrinya, “Katanya Cuma satu hari, tapi dua hari baru pulang,” sindirnya dengan melirik tajam.
“Maaf, kami mengobrol terlalu lama. Jadi kemalaman dan terpaksa tidur di sana.”
“Biasa. Aku sudah sangat hafal kebiasaan kaum adam. Laki-laki kalau sudah ketemu sama temannya jadi lupa daratan,” sahut Dawiya agak kesal. “Sudah, jangan pergi-pergi terus, nanti istrimu melahirkan kamu tidak tahu.”
“Masih dua bulan lagi, Bun.”
“Tapi sebaiknya jangan ditinggal-tinggal dulu. Atur keberangkatanmu ke Mekkah mulai dari sekarang. Sekiranya ada jadwal pergi menjelang kelahiran, lebih baik dilimpahkan saja dari sekarang ke yang lain.”
“Iya, tahu,” jawab Haikal bernada ketus.
“Eh, mau apa, ini?” protes Ros memberontak saat ditarik masuk ke dalam kamar.
“Mau memelukmu,” seperti apa katanya barusan, dia pun merapatkan tubuhnya ke dada sang istri. Hingga detik ini pun, dia merasakan debaran yang menggila, apalagi setelah dua hari mereka tak bertemu.
“Kal! Hei, Kal. Kami mau bicara dulu, sebentar!” seru suara Bundo dari luar.
“Itu ada Bun hmmh—” tapi bentuk protes Ros tak terselesaikan oleh karena benda yang mengatup bibirnya. Mereka pun meleburkan rindu dengan cara melakukan penyatuan seperti biasanya. Tak peduli pintu diketuk selama beberapa kali.
Bersambung.....
__ADS_1
Selamat sahur, jangan lupa vote ya 😘🥰
Kyai Hasyim Asyari itu memang sudah muncul di awal-awal bab, ya. Ada yang masih ingat?