TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Melihat Menantunya


__ADS_3

Keesokan harinya.


“Kak!” panggil Rahma yang entah ke berapa kali. “Aku minta maaf, okay?” Rahma menghentikan tangan suaminya yang saat ini sedang sibuk melingkarkan jam ke tangan kirinya.


Yudha tidak mau menatap. Dia melepaskan tangan itu, kemudian berganti mencari barangnya yang lain. Dia membuka laci untuk mengambil ikat pinggang.


“Kak, bicaralah denganku. Dari semalam kamu diam saja. Aku tidak nyaman kamu mendiamkanku,” ujarnya dengan uraian air mata.


Yudha masih memilih untuk diam, dia hanya berusaha menahan diri untuk tidak meledak karena itu dapat memperparah keadaan. Lagi pula sekarang dia harus lebih berhati-hati, karena apa yang Rahma lakukan bisa terulang kembali di kemudian hari.


“Kak ...,” panggilnya sekali lagi.


Yudha hanya menatap sekilas, lantas melanjutkan pekerjaannya. Memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.


Namun Rahma tidak menyerah, dia terus membuntuti Yudha agar ia bisa mendapatkan maaf darinya.


“Wajar kalau kamu marah. Tapi coba kamu berada di posisiku. Sudah berapa lama kamu seperti ini?” kata Rahma memeluknya dari belakang. “Tidak ada teman lagi yang bisa kuajak bicara. Aku bingung harus berbagi kesusahanku dengan siapa, Kak.”


Yudha berbalik badan. Tidak tahan berdiam diri, akhirnya pria itu membuka suara, “Lalu kalau aku tidak menidurimu, kamu akan mengatakannya juga?”


Rahma menggeleng. Kali ini dia tidak bisa menjawab.


“Habis sudah harga diriku di depan mereka, Rahma. Tidak ada lagi yang tampak di mata mereka selain keburukan. Keburukan yang akan mereka ingat sampai kapan pun yang bisa mereka ungkit-ungkit jika sewaktu-waktu aku kembali melakukan kesalahan.”


“Aku minta maaf, Kak ... aku janji tidak akan mengulanginya lagi,” kata Rahma sangat memohon. “Plis ....”


Yudha menghela napasnya. “Terus terang aku sangat kecewa,” ujarnya menjeda sesaat. “Aku akan memaafkanmu, tapi jangan dekati aku dulu sekarang ini. Aku akan datang sendiri nanti kalau aku sudah jauh lebih baik.”


“Apa tidak ada lagi cinta untukku?” tanya Rahma kemudian. “Kamu berubah.”


“Bukan masalah cinta atau tidak cinta. Jangan kaitkan masalah ini dengan lain hal. Sekarang ini aku kecewa padamu. Tidak ada yang lebih menyebalkan setelah aib kita diumbar ke mertuanya sendiri, kau paham?”


“Asal Kakak tahu, aku juga kecewa denganmu. Bahkan sejak dari awal pernikahan.”


Yudha langsung menyorot tajam. Kata-kata ini sangat ganjil dan tidak bisa diterima begitu saja di telinganya.


“Kamu menyesal menikah denganku?” tanyanya dengan lantang.


Seketika Rahma mendongak, “Kenapa Kak Yudha bertanya seperti itu?”


“Jangan mungkir. Bukankah kamu tadi bilang, kau kecewa denganku semenjak awal pernikahan?”


Rahma tidak menjawab.


Yudha kembali melanjutkan, “Aku tidak pernah memaksamu untuk tetap menikah denganku. Dari awal sudah kukatakan, aku sudah beristri, serta merta aku menjelaskan segala risikonya dan ketidakmampuanku mendidik kalian. Tapi Ibumu tetap memaksaku untuk menikahimu, bagaimana pun keadaannya. Masih ingat?”


Seketika Rahma pucat pasi.

__ADS_1


“Kamu yang mengkhianatinya,” katanya dengan lirih setelah hening beberapa saat. “Aku hanya ingin memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi hakku. Aku tidak merebut siapa pun. Kamu milikku. Wajar bila aku menuntutnya karena kamu telah meminangku sebelumnya, Kak. Aku tidak sepenuhnya salah. Kamu pun lebih-lebih bersalah.”


“Ya, dan kamulah yang paling benar di antara kami.”


Rahma kembali menyela, “Seharusnya kamu tidak perlu menikahinya secara sungguh-sungguh jika kalian memang terpaksa. Atau kalian memang sudah belok sejak awal? Itu bisa saja terjadi karena manusia adalah tempat salah dan khilaf. Jawablah sejujurnya, Kak.”


“Vita tidak seperti yang kamu tuduhkan,” kata Yudha yang lagi-lagi membuat Rahma tertampar. “Dia memang frontal, tapi dia mempunyai sisi lembut yang tidak kamu ketahui.”


“Apa posisiku sudah tergeser sekarang?” tanya Rahma sesenggukan. “Apa yang sudah dia lakukan sehingga dalam waktu singkat sudah membuatmu begitu berubah?”


“Dia tidak melakukan apa pun selain menunjukkan diri yang sebenarnya.”


DEG!


Wajah Rahma berubah pias.


“Jangan pancing-pancing aku dulu dengan masalah ini.”


Yudha mengakhiri perselisihan ini dan segera menuju ke bawah. Tanpa sarapan, tanpa minum, tanpa menyapa siapa pun yang ditemuinya di rumah itu, berapa kali pun Uminya dan Alif memanggil-manggil.


Tatkala dia meninggalkan rumah, hatinya semakin dalam keadaan retak. Yudha pun bingung. Hatinya selalu terasa lebih sempit daripada besarnya masalah yang dihadapinya.


Sesampainya Yudha di ruang kantornya, dia langsung duduk, lalu mengatupkan wajah itu dengan kedua telapak tangannya kuat-kuat. Dia memang telah muak melihat isi dunia ini yang penuh dengan kepalsuan. Yang ingin dia lihat adalah sosok Vita sekarang. Entah di mana wanita itu berada. Ada kerinduan begitu besar yang Yudha rasakan sehingga dia merasa kehilangan separuh hidupnya.


Bukan rindu ingin bercumbu, tetapi hanya ingin sekadar melihatnya. Dia ingin menghamburkan diri, memeluk wanita itu agar bisa sedikit mendapatkan ketenangan.


Sementara di rumah semua anggota sedang mempertanyakan tentang hal ini kepada Rahma. Umi bertanya, kenapa Yudha bersikap seperti ini lagi. Padahal kemarin, anak pertamanya itu sudah terlihat jauh lebih baik.


“Apa kalian habis bertengkar?” tanya Umi Ros hati-hati pada saat mereka melakukan sarapan.


Semua pasang mata tertuju kepada Rahma. Alif, Umi mau pun Abahnya. Menunggu wanita itu mengucapkan jawaban.


“Maaf Umi. Kak Yudha memang agak sensitif akhir-akhir ini,” jawabnya setelah beberapa saat kemudian.


“Dia masih rawan. Jangan singgung hal-hal bisa yang memicu pertengkaran dulu. Takutnya malah bertambah parah,” kata Umi Ros memberi pesan.


Kemudian beliau melanjutkan ucapannya lagi. “Tidak apa menjadi istri yang banyak mengalah. Perbaikilah mumpung masih ada waktu. Hidup ini terlalu singkat dan sangat mubazir sekali kalau hanya di isi dengan pertengkaran yang tidak ada gunanya. Sesekali beri suamimu kabar baik supaya dia sejenak bisa melupakan masalahnya.” Umi berusaha tersenyum untuk membesarkan hati menantunya. “Kita hadapi sama-sama. Kita keluarga bukan? Adukan masalah putra Umi kepada kami saja ... ya?”


Rahma mengangguk. “Maafkan Rahma Umi. Maaf belum bisa jadi menantu yang baik.”


“Semua butuh proses. Jangan khawatir.”


Abah dan Alif tak ingin memberi komentar karena takut salah. Semenjak kejadian kemarin, mereka justru lebih waspada kepada anak ini lantaran takut wanita itu mengadukan sesuatu lebih banyak lagi kepada keluarganya.


“Kalau dia menceritakan kita kepada orang tuanya, Abah jadi tidak nyaman, Mi,” kata Abah setelah mereka jauh dari rumah. Keduanya berada di perjalanan hendak menuju ke Mall untuk membeli beberapa kebutuhan rumahnya.


“Kita manusia biasa, banyak sekali kekurangan. Kalau mereka sudah tahu kekurangan-kekurangan kita—Abah jadi kehilangan muka di hadapan mereka.”

__ADS_1


“Umi juga bingung, Bah.” Umi memijat pelipisnya. “Ya sudahlah. Umi jadi pusing mengurus anak kita yang satu ini. Kita cari hiburan saja sendiri ya, Bah.”


Abah tersenyum. Benar juga apa kata istrinya. Pusing.


Setelah memarkirkan mobil mereka di basemen, mereka menaiki lift menuju ke lantai satu. Mereka berkeliling dengan membawa satu trolley untuk memenuhinya dengan berbagai macam kebutuhan pokok rumah tangga yang sudah menipis.


Abah mendorong trolley, sementara Umi memasukkan barang-barang yang dipilih seperti: beras, minyak, gula, teh seduh, kopi, sabun-sabun dan lain sebagainya. Mereka menuju ke kasir setelah semua belanjaan terbeli. Namun karena merasa masih ingin memasuki outlet pakaian, mereka menitipkan barang tersebut ke penitipan—untuk kemudian kembali berkeliling.


“Abah mau beli celana panjang,” ucap Abah pada saat itu.


“Celana panjang Abah kan masih banyak. Masih kurang?” Umi balik bertanya.


“Sudah sempit.”


“Makanya, tumbuh itu ke atas, bukan ke sebelah.”


“Padahal sudah olahraga.”


“Berarti kurangi makan-makanan berlemak mulai sekarang.”


“Abah tidak bisa janji. Suka tergiur sama nasi Padang.”


“Jangan terlalu sering, demi kesehatan juga.”


Keduanya menuju ke tempat outlet pakaian. Tetapi Umi tiba-tiba Umi menarik baju suaminya yang berjalan mendahuluinya. Pandangannya fokus ke satu titik dan jantungnya berdebar-debar.


“Ya Allah, Abah. Ada orang mirip menantu kita, Bah.”


Abah seketika menoleh. Arah pandang matanya mengikuti tangan istrinya yang menunjuk ke sebuah tempat perhiasan.


Bila diperkirakan, tempat itu berjarak kurang lebih sepuluh meter dari tempat mereka berdiri. Di sana, ada wanita dengan tinggi tubuh sedang. Dia memakai tunik berwarna putih, pasmina berwarna coklat muda dan celana longgar dengan warna senada, sedang berjalan keluar dari toko itu.


“Mana?” Abah menajamkan penglihatannya.


“Itu!” kembali Umi menunjuk.


Tak ingin kehilangan jejak. Keduanya berjalan cepat untuk membuntuti wanita tersebut. Namun karena banyaknya orang yang berlalu lalang dan memakai warna yang sama membuat Umi dan Abah kesusahan mencari.


“Umi yakin?” tanya Abah memastikan. “Apa mungkin itu hanya mirip saja?”


“Umi yakin tidak salah melihat. Postur tubuhnya sama persis.”


“Ayo kita cari lagi. Kalau memang benar, dia pasti masih ada di sekitar sini,” kata Abah kemudian. “Hubungi Yudha segera!”


***


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2