TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Sesempit Apa Dunia Ini?


__ADS_3

10.


Keesokan harinya, Vita dan Yudha menuju ke TPU (Tempat Pemakaman Umum) sesuai dengan janjinya kemarin pada saat mereka masih berada di rumah sakit.


“Sebenarnya kita bisa ke sana kapan-kapan, mengingat kondisimu yang belum pulih benar,” ujar Yudha ketika mereka sudah hampir tiba di lokasi. “Tapi memangnya aku bisa melarangmu?”


“Aku sudah terlanjur janji, Mas,” jawab Vita tersenyum. “Jangan khawatir, aku baik-baik saja.”


“Ya sudahlah, lagian sudah sampai di sini juga, tidak mungkin aku mengajakmu  putar balik,” kata Yudha akhirnya mengalah.


Mobil mulai memasuki TPU, kemudian menuju ke tempat parkir mobil. Keduanya turun bertuntunan tangan menuju ke lokasi di mana makam anaknya berada.


“Aku agak lupa-lupa ingat tempatnya, Mas,” kata Vita melihat ke sekeliling. Yudha memakluminya, sebab akhir-akhir ini Vita sibuk di rumah hingga mereka jarang berkunjung. Namun bukan berarti mereka melupakannya—sama sekali tidak. Karena doa mereka kepada Albyna tak pernah putus.


“Itu,” Yudha menunjuk nisan yang ada di sebelah kirinya.


‘Albyna binti H. Yudha Al Fatir, Lc.’


“Apa kamu bisa berjongkok?” tanya Yudha yang lupa meminjam kursi di pos. Vita yang hanya terdiam, membuat Yudha menyimpulkan sendiri akan kesanggupan istrinya. “Ya sudah, kamu berdiri saja.”


Yudha berjongkok dan mulai membacakan doa untuk putri pertamanya. Angin semilir mulai meniup-niup tubuh mereka, membuat baju putih keduanya beterbangan. Seiring dengan air mata yang mengalir.


‘Hai Albyna, ini Mama. Selamat lima tahun umurmu, Nak. Maaf, kami terlambat mengucapkannya. Tapi sejauh ini, kami tidak pernah melupakanmu. Kamu tetap putri pertama kami yang akan selalu kami doakan yang terbaik.’ Vita mengusap air matanya yang terus berjatuhan. Ia merasa kasihan kepada anak ini karena dia tak sempat merasakan indahnya dicintai oleh kedua orang tuanya.


Vita tidak peduli Albyna buah cinta siapa dan dari rahim mana dia dilahirkan. Dia adalah bayi yang lahir dalam keadaan suci.


‘Tenang di sana ya, anak baik. Bantu doakan ibumu dari sana agar beliau kembali ke jalan yang benar. Ketahuilah, ibumu sedang keliru,’ batin Yudha juga memanjatkan doa.' Dia mengusap nisan itu sebelum akhirnya beranjak berdiri untuk mencium pipi istrinya.


“Kok kamu malah cium aku?”


“Wakil,” kata Yudha terkekeh, melihat istrinya dan nisan anaknya bergantian. “Aku tidak bisa menciumnya, jadi aku cium mamanya saja.”


Vita tersenyum, “Kamu mah, modus.”


Tak jauh dari mereka berdiri ada Rahma yang juga tengah berdiri melihat mereka berdua. Wanita itu memilih untuk menunggu sampai mereka benar-benar pergi daripada harus bertemu apalagi bertegur sapa dengannya. Ih, ogah!

__ADS_1


“Memangnya sesempit apa sih, dunia ini. Heran, kenapa lagi-lagi aku harus ketemu sama mereka berdua. Lagian ngapain mereka datang ke sini?” gumam Rahma sangat geram, “ck! Kurang kerjaan sekali. Sok baik. Anakku itu meninggal dalam keadaan suci, tidak butuh doa dari orang-orang kotor seperti kalian.”


Setelah Vita dan Yudha pergi, Rahma menuju ke sana. Dia tidak berdoa. Hanya menangis dan menceritakan semua keluh kesahnya saja pada almarhumah sang anak.


“Apa kamu tahu, By. Papa tiri kamu lagi sakit sekarang. Sakitnya tambah parah. Mama ingin nyusul kamu saja, By. Dunia terlalu kejam buat Mama.”


Kalimat itu berulang tercetus dari mulutnya, meski berulang kali juga dia kembali tersadar bahwa ucapannya adalah sebuah kesalahan. Sebab masih ada dua adik Albyna yang harus ia tanggungjawabi masa depannya. Terlebih Dirly yang masih bergantung hidup pada ASI-nya.


Ponsel berdering membuat Rahma cepat-cepat membuka tasnya. Takut kalau-kalau itu adalah kabar penting dari rumah.


“Oh, Sinta. Kupikir suster,” gumamnya ketika melihat layar ponsel.


“Rah, aku ada kerjaan kalau kamu mau. Kamu butuh uang ‘kan?” ucap seorang perempuan dari seberang.


“Iya, butuh banget. Daripada aku jual rumah atau jual mobil. Itu kebutuhan pokok yang tidak mungkin aku jual, Sin. Aku butuh kendaraan untuk pergi ke mana-mana.”


“Tapi sejauh ini kamu masih ada baby sitter?”


“Masih.”


“Okay. Berarti kamu aman kalau misalkan sewaktu-waktu nanti mereka kamu tinggal pergi.”


“Di Hotel Avenz*l saja nanti malam.”


Panggilan di tutup. Rahma sontak menatap kosong ke langit. Pikirannya menerawang, tengah membayangkan segala sesuatu.


‘Aku sudah siap dengan apa pun yang terjadi padaku ke depannya.’


***


Waktu terasa begitu singkat hingga tak sadar kini usia kandungan Dara sudah menginjak empat bulan dan Vita hampir sembilan bulan. Kedua perempuan itu semakin sering bertemu, bahkan hampir setiap hari karena terkadang—Dara malah sengaja minta menginap di rumah umi mertuanya meskipun mereka sudah punya rumah sendiri.


“Jadi kamu bangun rumah niatnya buat apa sebenarnya? Buat pajangan?” tanya Abah Haikal kepada anak keduanya ketika berada di belakang. Tadinya, mereka tengah membahas semua usaha yang masih bisa beroperasi di tengah pandemi seperti saat ini.


“Bukan gitu sih, Bah. Sepertinya Dara memang lebih aman di sini untuk sementara. Apalagi kalau anakku lahir. Dia pasti masih belum bisa mengurus sendiri.”

__ADS_1


“Jual saja rumahmu atau di sewakan, daripada mubazir. Nanti bisa jadi sarang setan.”


“Astaghfirullah,” sontak Alif menyeru tak terima rumahnya dikatakan sarang setan.


“Rumah yang sudah lama jarang di tempati memang seperti itu. Apa pula kau heran.” Abah tak mau kalah.


Tak berapa lama kemudian, Umi Ros datang untuk membawakan minum. “Umi cari-cari ternyata kalian ada di sini,” ujarnya sambil meletakkan nampan ke atas meja.


“Ada apa gerangan, Hj. Rosyadah Eminata?” tanya Alif.


“Dosa kamu, sama orang tua begitu,” gerutu Umi Ros. “Aku kutuk jadi tempe, baru tahu kamu.”


“Lah, memang namanya Rosyadah Eminata,” kali ini Abah Haikal membela Alif. “Sejak kapan namamu ganti jadi Tukiyem?”


Umi mendelik sebal kepada suaminya yang kurang asem.


“Begini,” kata Umi beberapa saat setelah duduk di samping Alif dan menatap putranya tersebut. “Usia kandungan istrimu kan sudah empat bulan, jadi rencananya, Umi mau mengadakan empat bulanan.”


“Memangnya perlu?” tanya Alif terdengar konyol.


“Apa sebegini bodohnya anak kita, Bah?” tanya Umi Ros kepada suaminya. “Apa-apa kok tidak tahu. Tahunya apa dia?”


‘Aku tahunya cuma bikin,’ batin Alif sembari tersenyum. Pikirannya sontak melanglang buana ke sebuah tempat bersama Dara.


“Selain ini sebuah tradisi, tasyakuran empat bulanan itu memang perlu. Sebagai bentuk rasa syukur sekaligus meminta perlindungan pada Allah, agar sang bayi di dalam kandungan selalu diberi keselamatan sampai lahir,” sahut Abah Haikal menjelaskan kenapa acara ini harus dilakukan.


Umi menambahkan, “Juga di doakan oleh banyak orang, supaya anakmu kelak jadi anak yang saleh atau salihah.”


“Alif pikir itu hanya untuk tradisi saja, tidak dilakukan pun tidak masalah.”


“Tapi sebaiknya tetap dilakukan, jangan hanya melihat dari sudut pandangmu sendiri. Mertuamu nanti akan marah karena mengira putri dan cucunya di sini tidak diperhatikan.” Abah Haikal selalu mengajarkan anak-anaknya dari perspektif yang berbeda, menjadi diri orang lain agar mereka sama-sama dapat memahami.


“Ya sudah, terserah Umi saja,” kata Alif akhirnya.


“Apa Pak Hilman sudah sembuh?” tanya Umi Ros. “Kalau sudah, kita bisa undang mereka ke sini. Lagian Razka juga sebentar lagi mau akhir semester. Sekalian ajak mereka liburan. kalau mau menginap juga di sini banyak kamar kosong.”

__ADS_1


Alif hanya mengangguk. Terus terang, ia tidak terlalu nyaman jika ayah mertuanya berada di sini terlalu lama. Dia terlalu kaku untuk sekadar berbasa-basi atau mengobrol karena permasalahan yang pernah ada di antara mereka. Tapi demi Dara ... apa boleh buat?


 


__ADS_2