TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Merasa Bersalah Dengan Ray


__ADS_3

“Ma...” panggil Rayyan saat bocah itu baru saja pulang dan melemparkan tasnya ke atas sofa.


Vita mengusap kepalanya dan menatap matanya lekat-lekat, bermaksud untuk memberikannya pengertian dengan nada lembut, “Jangan di lempar, Sayang. Harus diletakkan dengan baik.”


Tapi Rayyan tak mau mendengarkan dan melanjutkan keluhannya, “Besok Mama ikut, jangan sama Suster ....”


“Mama belum bicara sama Papa. Nanti kalau Papa sudah pulang, ya.”


“Kenapa harus bilang sama Papa?” tanya Rayyan mengentak. Papa lagi, papa lagi, pikirnya.


Kenapa sih, haru izin sama papa? Bukankah kalau izin dulu, seringnya tidak di izinkan? Bisa kan pergi diam-diam dan hanya mereka saja yang tahu? Rayyan benci kalau papa melarangnya pergi sama mama. Memangnya mama hanya milik adik-adik saja dan dirinya tidak berhak? Pikir Rayyan sedemikian panjang.


Rayyan memang mempunyai kecemburuan, Vita sangat memahami meski anak ini tak bisa mengungkapkannya.


“Kan harus izin dulu, tidak boleh main pergi, Nak ....”


“Malas ah!” Rayyan ngambek. Bocah itu berjalan cepat masuk ke kamarnya sendiri.


Vita menghela napasnya, “Marah kan anakku?” ucapnya kemudian.


Ratih yang melihatnya lantas tersenyum. “Jangan terlalu di pikirkan, Bu. Nanti juga sembuh sendiri.”


“Nanti tolong bujuk dia makan siang ya, Mbak.”


“Siap, Bu.”


Vita kembali mengawasi si kembar yang sedang bermain air di halaman rumah. Dia memang membebaskan anak-anaknya untuk bermain apa pun—di bawah terik sinar matahari atau hujan. Tujuannya adalah supaya daya tahan tubuhnya kuat, terbiasa dan tidak gampang sakit.


Sebab yang ia ketahui, terlalu memanjakan atau mengekang anak untuk tak bermain ini itu malah bisa membuat mereka menjadi kurang pengetahuan, lemah dan cenderung kurang bisa mengatasi kesulitan atau masalahnya sendiri.


“Bajunya Moja basyah,” ucap Mauza mengadu begitu melihat mamanya keluar.


“Iya, nanti diganti, Nak.” Vita tersenyum. “Tapi kalau sudah ganti nanti tidak boleh main air lagi, ya.”


“Hu’um....”


Seperti inilah aktivitas sehari-hari di rumah ini ketika hari-hari biasa. Berbeda kalau hari libur; Sabtu-Minggu karena semua orang berada di rumah. Tapi sudah dua minggu belakangan ini tidak berlaku bagi Yudha karena pria itu sibuk.


“Coba kalau ada apa-apa mau cerita sama istrinya, berbagi sama aku. Walau aku Cuma bisa mendengarkan, tapi minimal bebannya kan bisa sedikit berkurang.”


Wanita itu duduk di teras, memantau semua usahanya sambil mengawasi anak-anak. Sampai akhirnya, mereka pun bosan dan meminta untuk mandi dan digantikan pakaian yang baru. Setelah itu, menemani mereka untuk tidur siang.

__ADS_1


Malam harinya ketika mobil Yudha terdengar berhenti di depan rumah, wanita itu segera keluar untuk menyambutnya.


“Itu bawa apa, Mas?” tanya Vita ketika mendapati suaminya membawa beberapa kotak makanan.


“Ini tadi aku pengen pizza. Tidak enak kalau makan sendiri.” Pria itu mencium pipi dan merangkul istrinya masuk. “Sekalian buat bocil-bocil. Mana mereka?”


“Ini sudah jam sembilan, Mas. Kamu itu pulangnya terlalu malam, jadi mereka tidak punya kesempatan buat sekadar ngobrol sama papanya,” Vita menanggapinya dengan setengah protes. “Kamu ingkar janji lagi.”


“Maaf, aku sama Alif lagi ada banyak masalah di kantor. Tolong jangan berpikir berlebihan kalau aku diam. Kami hanya ingin yang terbaik untuk kalian.”


“Tapi, Mas?” Vita keberatan karena merasa tidak dilibatkan sama sekali dalam hal ini.


“Tenanglah, kami sedang berusaha menanganinya. Jangan khawatir,” jawab Yudha masuk ke kamar setelah meletakkan oleh-olehnya ke atas meja. Pria itu kemudian melepas semua atribut di tubuhnya hingga tanpa sisa.


“Aku tahu semua travel agents sedang mengalami penurunan akibat pandemi. Bahkan, banyak yang sampai gulung tikar. Apa usaha kita juga sedang demikian?” tembak Vita dengan semua dugaannya. Dia telah mempelajarinya dari berita-berita terkini.


Yudha tak menjawab, namun juga tak mengiyakan. Pria itu malah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri karena di rasa hari sudah cukup malam—dan dia belum melakukan ibadah empat rakaatnya.


Tapi apa yang terjadi pada saat ia sudah berdiri di bawah kucuran air shower?


Pintu kamar mandi malah terbuka disusul dengan munculnya wajah sang istri.


“Aku belum mendapat jawabannya, jadi aku akan terus mengikutimu ke mana pun.”


“Ya sudah, terserah,” jawab Yudha tak mau ambil pusing.


“Itu punggungnya di gosok,” kata Vita cerewet kepada suaminya yang terlihat mandi asal-asalan, “jangan lupa telinganya, ketiaknya, bla ... bla ... bla ...” membuat kepala Yudha menjadi semakin pening. Tapi juga tak berani berkomentar saat Ibu negara sedang mengeluarkan taringnya.


“Pakai handuknya sampai kering, nanti bisa panuan kamu, Mas.”


“Kalau pun panuan tidak akan kentara,” jawab Yudha membanggakan kulitnya yang putih bersih.


“Iya, percaya ....”


Vita menunggu suaminya menghadap kiblat dengan khusyuk tanpa meninggalkan sunahnya sebagai pelengkap. Sampai beberapa menit kemudian, pria itu bangkit, terlebih dahulu melipat alas ibadahnya, mengecas ponselnya, kemudian terlebih dahulu melihat anak-anaknya.


“Sudah nyenyak semua rupanya,” gumamnya saat keluar kamar dan melakukan makan malam yang sudah terlewatkan.


“Besok Rayyan minta ditemani aku pergi,” ucap Vita bermaksud meminta izin duduk di samping Yudha untuk menemaninya, “ada kegiatan outbound ke Jambore.”


“Kan ada suster,” Yudha menanggapi.

__ADS_1


“Itu sudah kami bahas tadi pagi, tapi ternyata anaknya mintanya sama aku. Malah ngambek pas pulang sekolah. Aku jadi merasa bersalah...” Vita menunduk, dia selalu terbawa perasaan kalau membahas persoalan yang menyangkut anak-anaknya. “Dia pasti merasa dibedakan. Padahal bukan niatku begitu. Aku pun ingin memperlakukan mereka semua sama rata, tapi ... dia sepertinya belum bisa memahami dengan baik.”


“Jangan terlalu dipikirkan,” ucap Yudha lantaran tak bisa menanggapinya dengan cara lain. “Pasti di sebuah keluarga selalu ada masalah-masalah seperti ini dan itu soal biasa.”


Kali ini Vita memilih untuk mendengarkan.


“Begini saja, biar kamunya tenang. Umar sama Mauza ikut aku ke kantor, jadi kamu bisa tenang mengantar Rayyan. Yes and yes?” dia tak sedang ingin memberikannya pilihan.


“Mas yakin bawa mereka?” tanya Vita untuk memastikan. “Nanti kalau mereka rewel bagaimana?”


“Gampanglah itu,” jawab Yudha menarik tubuh istrinya ke atas pangkuan. “Tadi pagi aku tak sempat menciummu bukan?”


“Iya, jahat. Kamu bikin moodku hari ini hancur.”


“Aku pikir kamu memang lagi sensitif juga,” kata Yudha setelah selesai menenggak minumnya sampai tandas. “Aku akan memberikanmu banyak untuk melunasi hutangku tadi pagi.”


“Hacih!” terdengar suara bersin dari lantai dua membuat keduanya kelimpungan dan segera menjauhkan diri. Sangat jelas karena posisi meja makan dan tangga sangatlah dekat.


“Apakah jam segini mereka belum beristirahat?” Yudha berbisik.


“Bukankah Mas Yudha sudah tahu kebiasaannya?”


"Hmm... nonton berita." Yudha berdecak pelan, “Berita jahanam.”


Akhirnya Vita terkekeh. Orang seusia beliau sepertinya memang kurang baik jika terlalu banyak menonton berita yang membuatnya selalu tegang dan darah tinggi. Tapi sayang, memangnya siapa yang berani melarangnya?


Begitu pikir mereka yang sebenarnya berbeda dari sudut pandang orang itu sendiri. Pria tua itu ingin turun, tapi urung karena sang istri melarangnya, lantaran takut mengganggu kenyamanan anak dan menantunya.


“Awas kalau Abah turun sekarang!” ucap Umi Ros penuh ancaman.


“Apa pula kau melarangku turun, saya ini haus,” ucap Abah tidak suka di atur-atur.


“Tahanlah dulu sampai mereka masuak, pai ka dalam.”


“Alah kariang tenggorokan ini, Umi.”


“Tahanlah dulu sabanta sajo. Mereka baru punya waktu berdua, jangan diganggu.” bersamaan dengan itu juga, Abah justru kelepasan bersin yang langsung dibungkam oleh istrinya.


***


Kalau masih punya vote tolong di sumbangkan ya, readers syantik kesayangan otorr

__ADS_1


__ADS_2