
3.
Beren terkekeh mendengar pengakuan pemuda ini. Ternyata seorang pemuka agama bisa memuji perempuan juga. Dia pikir, orang alim seperti Ustaz Salman akan jauh-jauh menghindar atau menahan diri dari semua godaan—tetapi nyatanya tidak. Pemuda ini terlihat lebih merakyat meski tetap dalam batasan.
“Kalau begitu, saya permisi dulu, Ustaz,” pamit Ros undur diri. Wajahnya terlihat memerah. Begitu kentara karena wajahnya yang putih bersih. Mungkin andai pria, dia akan biasa-biasa saja tatkala di puji demikian oleh lawan jenis—namun bagi perempuan tidak. Tentu saja mereka akan terbawa perasaan. Apalagi pada saat menandai bagaimana cara Ustaz tersebut melihatnya.
“Tunggu!” ucap Haikal menghentikan Ros yang hampir saja keluar pintu.
“Ya, ada apa, Ustaz?” tanyanya dengan wajah yang menunduk menyembunyikan kegelisahannya. Sejujurnya, ia baru mengenali perasaan aneh ini. Dia menduga-duga, “Apa masakan saya kurang enak?”
“Tidak, aku belum mencobanya,” jawab Haikal membuat Ros sontak mendongak.
Jadi, apa maksudnya?
“Lain kali tutup tubuhmu. Semua yang ada dalam diri perempuan itu aurat, termasuk suaramu. Suaramu juga aurat. Jadi kalau bicara sama laki-laki jangan terlalu lembut. Harus galak biar mereka tidak salah mengartikan.”
Kenyataan barusan tak sepenuhnya benar. Haikal memanfaatkan keluguan gadis ini agar lelaki lain tak berani mendekati Ros sebelum dia memasuki hatinya lebih dulu. Demikianlah cara buaya darat menandai sesuatu yang disenanginya.
“Jadi saya harus galak sama semua laki-laki gitu?” tanya Ros tampak bingung dengan aturan yang baru saja ia dengar. “Sama Ustaz Salman juga harus galak?”
“Tidak seperti itu juga, Uni. Sama saya, sama orang tua, saudara, tentu jangan galak-galak. Nanti mereka bisa tersinggung.”
Ros meringis. “Ya, baiklah. Terima kasih penjelasannya, Ustaz. Nanti saya minta Bunda buat beli baju kurung.”
“Bagus,” ujar Haikal mengangkat jempolnya.
Usai Ros pergi, Beren mendekati Sang Ustaz dan duduk di sampingnya. “Ustaz kelihatannya tertarik,” katanya sambil cengar-cengir sepeti mak comblang, “dia masih sendiri, lho. Ustaz juga masih sendiri ‘kan?”
“Aku masih bujang!” tekan Haikal.
“Ting-ting?” tanya Beren lagi membuat pemuda ini sontak melebarkan mata.
“Apalah arti pertanyaanmu ini? Tentu saja aku masih ting-ting!”
“Maaf, maaf Ustaz. Aku bukan bermaksud membuatmu tersinggung. Seharusnya aku tak perlu bertanya seperti itu tadi,” Beren meringis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Tapi kalau Ustaz mau aku bisa membantunya.”
“Tidak perlu,” sela Haikal, sebab dia tak yakin dengan penampilan orang ini karena dia pun masih jomblo, “lebih baik kau cari jodoh untuk diri sendiri saja daripada repot-repot mengurusi orang. Aku sudah kurus, jadi tak perlu kau kurusi!”
Beren terbahak, “Hahahah! Ternyata selain galak, kau lucu juga, Taz.”
__ADS_1
Usai sedikit berbincang, mereka kemudian melakukan sarapan gulai kambing yang disediakan oleh Ros barusan. Memang enak. Haikal menilai-nilai sendiri makanan yang masuk ke dalam perutnya. Bahkan dalam keadaan sadar—dia sampai menandaskan dua piring nasi berukuran besar, padahal dia tidak sedang kelaparan.
Sungguh suatu kebiasaan buruk yang sudah lama tidak dilakukannya jika bertemu dengan semacam makanan. Masakan bundonya pun belum tentu cocok di lidahnya seperti ini, pikirnya.
‘Sudah cantik, pintar masak lagi. Nanti kalau aku punya istri seperti dia, bahhh! Perut sama kepala bawah bisa aman sepanjang zaman. Wkwkwkwkwkwkwk.’
“Omong-omong, tadi Ustaz tidak salat subuh?” tiba-tiba Beren bertanya.
“Subuhlah, masa tinggal,” jawab Haikal dengan suara agak ketus seperti biasa.
“Tapi saya lihat Ustaz bangun siang,” kata Beren amat berterus-terang.
“Aku bangun sebelum kau bangun. Aku tidur lagi karena masih sangat lelah dan mengantuk. Hanya tidur beberapa jam saja aku semalam. Jadi maklumi sajalah!”
“Oh... lain kali kalau kau bangun bangunkan aku juga, ya!”
Haikal mengangguk. Hari sudah mulai siang pada saat itu. Dan anehnya, dia mendengar keributan banyak orang di luar.
“Ada apa, ini Bang Beren? Kenapa ribut sekali?” tanya Haikal tak habis pikir.
Beren yang pada saat itu masuk ke dalam langsung menjawab, “Mereka mau melihat Ustaz katanya. Seperti apa, sih, Ustaz yang dikirim pemerintah?”
“Untuk apa mereka melihatku? Aku bukan tontonan.”
“Ya, sudah! Kau tetap dampingi aku.” kepala Haikal semakin pening dibuatnya, atau jangan-jangan, mereka akan bertanya soal keagamaan. Oh, sungguh terlalu! Apa yang bisa ia jawab nanti?
Dan benar, tatkala keluar, Haikal melihat banyak orang di sana yang mungkin berjumlah puluhan orang. Seperti kemarin lagi, mereka berlomba-lomba berusaha untuk meraih tangannya. Namun dengan tegas, Haikal menolak untuk diperlakukan seperti itu.
“Jangan coba-coba kalian sentuh tanganku!” teriaknya setengah kesal.
“Mohon maaf, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, anak-anak—semuanya! Ustaz ini tidak suka dicium tangannya. Lagi pula berdosa bersentuhan dengan perempuan. Jadi lebih baik dilihat saja!” ucap Beren memberi mereka pengertian.
“Jadi mulai kapan kami bisa mengaji, Ustaz?” tanya salah seseorang.
‘Aduh... apa pula yang harus aku ajarkan ke mereka? Mana aku bisa?’
Oleh karenanya, Haikal mencoba memberi alasan untuk mengulur-ulur waktu, “Perbaiki dulu masjid kalian agar lebih nyaman ketika ditempati. Barulah setelah itu aku umumkan kapan kita bisa mengaji,” ujarnya menjelaskan. Beruntungnya keputusan ini langsung disetujui oleh semua warga. Hingga pada hari itu, mereka disibukkan untuk memperbaiki masjid.
Sementara Haikal sendiri masuk ke kamar, Otaknya kembali berpikir keras. Apa yang harus dia lakukan?
__ADS_1
Apa dia kabur saja sekarang?
Tapi, apakah posisinya sudah aman dari kejaran polisi?
Lalu, bagaimana dengan gadis itu?
“Kenapa aku harus memikirkan Ros? Aku bahkan bisa mendapatkan gadis lain yang lebih ehmmm, ya ... lebih ehmm.” dia mendadak kesulitan mendeskripsikan keindahan yang terbayang dalam pikirannya.
Ah, tetapi daripada pusing, Haikal memilih untuk memejamkan mata. Namun baru beberapa menit bermimpi, seseorang kembali membangunkannya sehingga membuatnya langsung tersentak.
“Oh, Ya, Tuhan... sangat pantas jika kampung ini di namakan Kampung Beringin. Karena memang banyak godaan setannya!”
Beberapa saat, Beren kembali mengetuk pintu dan memanggil, “Ustaz Salman!”
“Ada apa, Bang Beren?” tanyanya ketika keluar.
“Em, em, itu. Aku mau ke pasar membeli beberapa bahan bangunan untuk memperbaiki masjid. Apa Ustaz mau menitip?” ucapnya ragu-ragu. Dia takut kena marah lagi.
Haikal agak terdiam sejenak untuk berpikir. Dia memang membutuhkan banyak hal, terutama pakaian serta dalaman. Tidak ada lain lagi kecuali yang menempel di badan saja. Sesaat kemudian—akhirnya dia pun menjawab dan memutuskan untuk ikut.
Namun karena masing-masing mempunyai tujuan yang berbeda, akhirnya keduanya memutuskan untuk bertemu lagi di satu titik.
Haikal membeli beberapa pakaian yang bentuknya sama seperti yang dia pakai. Tak lupa, ia juga membeli beberapa buku tuntunan salat, iqra, dan sebagainya untuk dia hafal, agar penyamarannya semakin sempurna. Karena dia yakin, dirinya belum aman. Di luar sana, polisi masih gencar mencari pelakunya.
“Entah bagaimana nasib teman-temanku. Aku tak tahu mereka selamat atau tidak. Bundo juga pasti mencariku. Sudah lama aku tak pulang! Ahh iehiedhieshwswxb!!!”
Tak mau ambil pusing, dia pun gegas pergi ke tempat lain untuk kembali mencari Beren.
Kelak pada akhirnya, langkah penyamarannya serta buku-buku yang dia baca nanti, malah membuatnya merasa nyaman. Demikianlah cara ajaib Tuhan mengubah hati seseorang—dan dia baru menyadari hal itu setelah beberapa waktu berlalu.
Beberapa jam kemudian, Haikal dan Beren berhasil tiba di rumah. Keduanya bergotong royong untuk membawa masing-masing bagian agar terasa ringan.
Dan tanpa sengaja, dia kembali bertemu dengan Ros. Namun dengan tampilannya yang sudah berbeda. Gadis itu sudah menutup auratnya dengan sempurna dan terlihat semakin anggun.
“Nah, begini lebih anggun,” katanya memuji lagi. Di saat itulah Haikal melihat senyum Ros yang paling manis sehingga menular padanya.
Keduanya menatap selama beberapa lama, kemudian tersenyum, lalu menatap lagi, tersenyum lagi, dan menatap lagi—begitu seterusnya sampai akhirnya mereka tak kuasa menahan tawa.
Entah apa yang lucu—tetapi pada saat itu, Ros sampai menutup wajahnya dengan kedua tangan karena merasa sangat malu.
__ADS_1
°°°
To be continued.