
Ada pun jenis-jenis wanita seperti ini, pikir Yudha. Sekeras-kerasnya kepala Vita—dia tidak pernah menyuruhnya untuk menceraikan istrinya yang lain.
Vita memang pernah sangat berharap menjadi satu-satunya, tetapi dia mempunyai bahasa yang lebih halus, “Pilih aku atau dia?” kemudian dia menyerahkan semuanya, karena laki-lakilah yang nantinya akan memutuskan.
Bahkan sebelum Yudha memutuskan, wanita itu justru memilih untuk mundur. Dalam keadaan demikian, Yudha baru menyadari bahwa Vita selalu lebih unggul dalam bersikap. Dia selalu lebih mengutamakan perasaan orang lain ketimbang dirinya sendiri.
Tetapi Yudha tak ambil pusing. Biar ini menjadi urusannya saja. Dia tak ingin lagi berdebat atau mendengarkan setiap ucapan Rahma lagi yang terkesan terlalu banyak sekali menuntut.
“Aku pergi dulu,” pamitnya. Yang diangguki oleh Rahma.
“Jangan bertindak konyol,” pesan Yudha pada wanita itu.
“Bersikaplah sebaik-baik kamu sebagai seorang manusia yang mempunyai Tuhan. Bunuh diri, putus asa atau sebagainya bukanlah sebaik-baik seorang Muslimah. Kamu sangat tahu itu. Dan satu lagi ...,” sela Yudha. “Jangan memaksakan kehendak. Perlu kamu ketahui, apa pun yang terjadi pada saya dulu, tentang bagaimana cara kami menikah, itu sudah menjadi takdir. Tidak ada sekecil apa pun peristiwa di dunia ini terjadi secara kebetulan. Dan mungkin Vita adalah jodoh saya. Tolong lapangkan hati untuk menerima. Terkadang dalam hidup ini memang ada hal-hal yang tidak bisa kita paksakan.”
“Cepat pergi!” usir Rahma menahan isak. “Aku membencimu.”
“Saya akan membantu mengeluarkanmu nanti,” jawab Yudha dengan sabar.
“Tidak perlu,” jawab Rahma terdengar ketus. “Bu saya mau masuk sekarang.”
“Baik, Bu.” Seorang sipir membantu membawa Rahma kembali ke selnya.
Yudha menghela napas. Dadanya bergemuruh, teringat bagaimana wanita itu yang hampir menghilangkan nyawanya. Lalu dengan mudah dia bersikap seperti orang yang tak pernah mempunyai kesalahan.
Pria itu meninggalkan Lapas. Dia menuju ke kantor untuk kembali bekerja seperti biasa. Pekerjaan telah menumpuk. Semua karyawan mogok bekerja. Mereka menuntut kenaikan gaji di saat keadaan perusahaan menengah ke atas ini pemasukannya sedang tidak stabil. Suasana saat ini sedang krodit karena dia tak benar-benar mengurusi perusahaannya dengan lebih serius. Selama ini, Yudha terlalu sibuk memikirkan masalah pribadi, yakni masalah istri-istrinya.
“Ke depannya kalau seperti ini terus kita bisa kolaps, Bang,” ucap Alif ketika adiknya itu masuk ke dalam ruangannya. “Ada solusi?”
“Ambil dana pribadi dulu untuk memenuhi keinginan mereka.”
“Abang punya?”
Yudha mengangguk. Uang itu sebenarnya adalah anggaran yang ia sediakan untuk membeli rumah. Namun sepertinya dia perlu berbicara dengan Abah untuk membantunya nanti.
“Kita harus segera menyelesaikan ini, Lif.”
Detik itu juga Alif menghubungi staf-staf bawahannya untuk melakukan rapat dadakan. Beruntung semua berjalan dengan lancar sehingga masalah cepat terselesaikan dengan baik, dan aktivitas bekerja kembali normal seperti biasa.
***
__ADS_1
Sesuai janji, minggu berikutnya Yudha datang untuk menemui Vita dan juga putranya. Dia seperti sedang kembali ke zaman beberapa tahun silam. Yudha bagaikan seorang remaja yang sedang memperjuangkan pujaan hatinya; menaklukkan seorang gadis.
Di samping tempat duduknya terdapat beberapa barang bayi; seperti pakaian, makanan, produk susu, berikut barang-barang yang Vita perlukan.
Terlalu sibuk membuatnya hampir melupakan hal sepenting ini. Seolah melupakan sesuatu bahwa dia belum pernah membelikan satu pun barang untuk anaknya yang diperlukan sehari-hari.
“Maaf, Vit. Tapi mulai dari sekarang kamu akan lebih aku prioritaskan,” gumamnya pelan. “Vita anggraeni. Namamu bagus.”
Beberapa menit kemudian, mobilnya telah sampai di sana. Secara kebetulan, Vita juga sedang berada di depan mengayun-ayunkan Rayyan dalam gendongannya.
Senyum kaku menyambut Yudha pada saat pria itu turun dari mobil. Kemudian dengan gerak cepat, dia menurunkan barang-barang tersebut. “Aku bawa ke dalam ya,” izinnya menatap lembut.
“Siapa yang belanja sebanyak ini?” tanya Vita heran dengan banyaknya barang-barang bawaan Yudha.
“Aku sendiri.”
“Tambah sempit rumah ini nanti, Mas.”
“Maka dari itu, kalian pindah saja ke tempat yang lebih luas,” ujar Yudha setelahnya. “Atau mau tinggal sama Umi sama Abah lagi?”
Vita sontak menggeleng. Bukan menolak, lebih tepatnya dia enggan menjawab.
‘Yang benar saja, masa aku disuruh tinggal sama Rahma lagi? Kamu benar-benar tidak peka, Mas. Atau memang kamu tidak punya pikiran, astaga....’
Setelah semua barang dimasukkan ke dalam rumah, Yudha mendekatinya. Menatap penuh cinta putranya yang ada di dalam gendongannya. “Dia tidak rewel ‘kan?”
“Tidak ... dia anak yang baik dan pengertian sekali.”
Saat Yudha mencondongkan wajahnya untuk mencium putra mereka, hati Vita langsung berdesir. Adakah di dalam hati Yudha, untuk memperlakukannya sama seperti putranya?
Dan dalam sekejap, pria itu sudah mengambil Rayyan dari gendongannya. Walau Yudha masih terlihat kaku, namun dia tampak berusaha dan sangat berhati-hati.
“Ehm,” Vita berdeham untuk mengusir rasa gugup. “Dari kantor sudah makan, Mas?” tanyanya begitu malu. Sesaat kemudian dia menyesal telah menawarkan makan untuk lelaki yang masih berstatus suaminya tersebut.
“Belum,” jawabnya jujur. Dia memang ke Cafe pada saat siang, tapi untuk melakukan rapat. Tak terpikirkan olehnya untuk makan-makanan berat. Pun ketika perutnya sudah mulai merasakan lapar, hari malah sudah terlanjur sore. Dia merasa harus segera kembali ke sini, namun juga mampir ke berbagai tempat untuk membeli barang-barang bayi. Akhirnya, dia melupakan perut laparnya.
“Sekalian saja aku makan di sini, aku juga kangen masakanmu,” sambung Yudha lagi tanpa beralih dari bayi kecil di pangkuannya.
Tanpa Yudha ketahui, Vita memutar bola matanya malas. ‘Dasar modus.’
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, tercium aroma wangi masakan dari dapur. Meletakkan Rayyan ke box bayi, pria itu mendekatinya secara diam-diam.
Melihat Vita memunggunginya seperti ini membuatnya teringat akan kenangan pada beberapa bulan silam, saat mereka berada di rumah Vita.
Bayangan visualisasi wanita inilah yang waktu itu membuat hasratnya menggelegak, kemudian berhasil meruntuhkan pertahanannya. Kelelakiannya terpancar di sana untuk pertama kali.
Tanpa bisa menahan diri lagi, Yudha memeluknya dari belakang dan membuat tubuh itu terasa sedikit tersentak.
“Eh.... Jangan seperti ini, lepas ...,” ucapnya tanpa tapi tanpa pemberontakan. Ini bena-benar aneh.
“Jangan menolak. Kamu akan menyesal kalau seandainya ini menjadi pelukan terakhirku,” ancamnya sedang berusaha untuk merayu. Dia memang bukan perayu yang baik.
“Kamu itu modus.”
“Ssttt ... diamlah.”
Vita luluh. Hatinya memang menolak, tetapi tubuhnya berkhianat. Terus terang Vita juga rindu pria ini. Apalagi tubuhnya yang telah lama tak tersentuh, membuatnya meremang walau hanya diperlakukan sedemikian remeh.
‘Hei, tubuh. Tolong bekerja samalah denganku. Jangan berlebihan bereaksi. Ini hanya sebatas pelukan.’
“Aku merindukanmu,” ucapnya pelan dan merdu. “I love you.”
“I hate you.”
“Bohong.”
Namun beberapa saat kemudian, Vita mencium aroma tak sedap dari depannya. “Ya ampun bawang gorengku gosong,” serunya sambil menoleh. “Ini gara-gara kamu.”
“Aku hanya memelukmu. Tidak melakukan apa pun. Lain kali kalau masak itu jangan sambil terpejam.”
“Tidak, kamu yang salah. Kenapa pula kamu harus pegang-pegang. Dasar pengganggu.”
Yudha menggeleng. Tak habis pikir. Wanita memang selalu benar.
***
TO BE CONTINUED.
__ADS_1