
Bab 17.
Kabar lahirnya anak pertama Haikal dengan istri pertamanya telah sampai di telinga Naya melalui suaminya sendiri setelah ia kembali ke rumah yang dia tempati. Yakni rumah almarhum eteknya.
Dokter telah mengizinkannya pulang karena Naya mengatakan, dia merasa lebih baik berada di rumahnya sendiri, kendati masih selalu dalam pengawasan dokter.
“Andai aku juga bisa punya anak seperti perempuan lain,” gumam Naya merasakan kesedihan yang luar biasa sekaligus iri kepada kakak madunya itu, “mau sampai kapan aku sendiri? Aku juga ingin merasakan menjadi seorang ibu ....”
Dia mengusap lembut perutnya sendiri, “Apakah benar kalau aku memang mandul?”
Oleh karenanya, dia ingin membuktikannya sendiri, apakah hinaan yang selama ini di lontarkan oleh mantan suaminya tersebut memang benar?
Hari ini adalah kedatangan Haikal. Naya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini karena dia hanya memiliki waktu tiga hari.
Naya pun bersolek, mempercantik diri seistimewa mungkin di hadapan lelaki yang kini telah sah menjadi suaminya.
Sejujurnya dia pun heran. Kenapa sampai detik ini Haikal tak mau menyentuhnya sedikit pun? Bahkan untuk sekadar bergenggaman tangan dengannya.
Menatap dirinya sendiri, Naya pun kembali bergumam, “Apa aku harus seperti Ros dulu agar dia mau melihatku?”
Naya akui, dia sangat jauh sekali dari Ros dalam segi apa pun. Ros memiliki semuanya yang tidak bisa lelaki tolak keindahannya. Ros adalah wanita muda, memiliki mata yang indah, tutur kata yang lemah lembut, seorang muslimah yang taat, serta wanita yang subur. Sedangkan dirinya?
Ah, apalah dirinya yang tak memiliki arti apa-apa ini....
“Lalu kalau dia sudah cukup memiliki Ros, kenapa dia harus menikahiku dan memberikanku harapan? Kenapa tidak dia biarkan aku mati saja secara perlahan-lahan tanpa mereka beri pertolongan? Apa karena dia kasihan melihatku?”
Sebelum menikah, Haikal hanya mengatakan bahwa pria itu ingin segera menikahinya karena ingin melindungi dirinya yang telah sendiri. Demikian dengan perlakuan dan perhatian yang selama ini diterimanya di rumah sakit, dia mengira Haikal mempunyai perasaan yang sama sepertinya. Tetapi setelah diperhatikan lebih jauh ... ternyata pria itu memang biasa bersikap baik kepada semua orang, bukan dengannya saja.
Naya kebingungan dan akhirnya menangis sendiri. Namun segera dia usap setelah mendengar suaminya datang.
“Aku menunggumu,” ucap Naya begitu Haikal masuk ke dalam rumah.
Haikal menatapnya, bertanya-tanya lewat matanya.
__ADS_1
“Ada yang ingin aku bicarakan,” sambung Naya.
“Bicarakan saja, tidak perlu sungkan.”
“Bagaimana kabar Ros dan bayinya sekarang?”
“Oh, itu... ya, mereka sehat dan baik-baik saja. Alhamdulillah,” jawab Haikal lebih antusias menjawab pertanyaan ini. Membuat Naya langsung meredup karena obrolan tentang Ros selalu lebih menarik daripada semua rentetan pertanyaan lainnya. Namun, dia segera sadar diri.
“Kalau boleh, aku ingin menemuinya,” pinta Naya.
“Tentu saja boleh. Lagi pula, Ros juga selalu menanyakanmu.”
“Baiklah, kita ke sana sekarang,” kata Naya memutuskan.
Setelah bersiap-siap, mereka pun menuju ke sana dengan kendaraan roda dua. Kebetulan, tempat mereka tidak terlalu jauh.
Ros sedikit terkejut melihat suaminya kembali ke rumah dengan istri keduanya. Namun, dia berusaha bersikap tenang dan baik-baik saja di depan mereka.
“Naya ingin menjenguk kalian,” kata Haikal begitu tiba.
“Terima kasih, Ros.”
Kemudian, Ros mengajaknya masuk ke dalam kamar untuk melihat bayinya. “Dia baru saja minum susu, terus langsung tidur lagi. Ya, bayi memang banyak tidur, kan,” kata Ros memberitahu sekaligus membenarkan letak bayinya yang kurang benar.
“Sepertinya dia terlalu banyak bergerak,” kekeh Naya melihatnya.
“Anak laki-laki memang tidak bisa diam, Ni,” kata Ros menanggapi, “aku titip sebentar ya, Ni. Aku sedang merebus air di belakang.”
“Ya, silakan, Ros....”
Naya tersenyum mengagumi paras anak ini. Wajahnya peraduan antara mereka berdua. Mata yang besar, jelas turunan dari uminya. Sedangkan bentuk kepala dan hidung, turunan dari abinya. Kakinya pun terlihat panjang, mewarisi kaki abinya.
“Nanti kalau kau besar, pasti kau juga tinggi dan bercambang seperti abimu.” Matanya mengembun pada saat dia mengangkat bayi kecil tersebut dan mengayunkannya perlahan.
__ADS_1
“Aku juga ingin punya anak,” kata Naya kepada Haikal. Seperti ini yang dikatakannya pada saat Ros telah melintas ke belakang.
“Tentu, bukankah ini anakmu juga?” balas Haikal menanggapi perkataan istri keduanya barusan. Entah sedang berpura-pura atau memang tidak memahami maksudnya sehingga lagi-lagi Naya seperti dipermalukan.
“Iya, ini anakku juga,” jawab Naya menatap kosong.
Selama sehari penuh Naya berada di sana. Untuk sesaat, dia menyesal telah memutuskan untuk datang kalau hanya untuk melihat kemesraan dan kebahagiaan mereka. Itu belum seberapa, karena yang lebih sakit lagi—melihat kedekatan mertuanya dengan Ros.
Ros terlihat begitu disayangi oleh semua orang. Sedangkan dirinya? Ditanya pun hanya seperlunya saja.
Memang mereka tidak bermaksud untuk memamerkannya, tetapi bukankah itu terlihat di depan matanya?
Dalam hati ia meneriaki dirinya yang begitu bodoh, “Kenapa aku harus datang ke sini? Kenapa aku harus melihat kemesraan mereka? Hai, Naya. Kamu hanyalah seorang janda yang dipungut oleh lelaki kaya yang kebetulan hanya kasihan padamu. Jangan pernah berharap lebih.”
Malam harinya, ketika pulang. Naya kembali bersedih sehingga menimbulkan kecurigaan.
“Kenapa kamu jadi murung seperti ini, Nay?” tanya Haikal melihat istri keduanya demikian.
Naya menggeleng, “Tidak apa-apa,” kilahnya, “mungkin hanya perasaanmu saja.”
‘Mungkin aku harus memiliki anak dulu agar aku diberi perhatian yang sama,’ batinnya menerka-nerka. Wanita itu pun mencoba menggoda suaminya demi hubungan mereka agar bisa mempunyai sedikit kemajuan. Ya, kalau tidak dia sendiri yang memulainya, lantas siapa lagi?
Pria itu pun terkesiap. Istri yang selama ini ia kenal pendiam, kini duduk di pangkuannya dengan perilaku menggoda. Seorang istri yang belum pernah ia sentuh, menuntutnya karena merasa memiliki hak yang sama.
Haikal sadar, bukan seperti ini cara dia memperlakukan kedua istrinya. Dia harus tetap berlaku adil meski tetap ada perbedaan rasa di hatinya. Tetapi kelebihan yang dia miliki, dia tak pernah mengatakannya kepada siapa pun, tentang siapa yang paling dicinta dan tentang siapa yang lebih unggul terkecuali dirinya sendiri. Itulah yang dinamakan keadilan.
Pun dengan Ros. Dari bulan ke bulan, sampai tahun berikutnya, dia mulai memahami bahwa cinta bukanlah segalanya. Dunia tidak akan berakhir walau tanpa cinta.
"Tidak berpengaruh apa-apa bagiku walau suamiku terbagi. Karena aku mendapat banyak kasih sayang dari banyak orang, terutama Tuhan....
“Kuyakini di luar sana masih banyak wanita yang mengalami nasib sama sepertiku, tapi buktinya mereka masih baik-baik saja. Seperti aku juga,” gumam Ros lagi, tersenyum sembari menitah putra pertamanya yang sudah mulai bisa berjalan. Tapi dia sudah hamil lagi, anak keduanya.
🌺🌺🌺
__ADS_1
Bersambung.