TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Datang Menepati Janji


__ADS_3

9.


Demi mendapatkan kualitas bicara yang lebih baik, sebelum Haikal pergi, dia terlebih dahulu meminta izin kepada Arok untuk berbicara empat mata dengan putrinya, Ros. Meski pada awalnya mereka harus berdebat dulu.


“Hanya sebentar saja, Bang. Sebentar. Kami hanya sekadar mengobrol saja, tidak lebih,” mohon Haikal entah yang ke berapa kalinya kepada Arok. Memang sulit membujuk lelaki tua tersebut.


“Ya, sudah. Tapi nanti aku temani kalian.”


Hah, yang benar saja! batin Haikal tak habis pikir dengan keputusan yang kedengarannya sangat konyol itu.


Haikal kembali meyakinkan Arok, “Kami hanya ingin berbicara empat mata saja, sungguh!”


“Mau empat mata atau dua mata pun, aku akan tetap menemani kalian, paham!”


“Aku janji tidak akan menyentuhnya sedikit pun. Aku mohon tinggalkan kami berdua saja. Ini urusan anak muda, orang tua tidak perlu tahu.”


“Bahh!” Beren hampir tersedak manakala mendengar Haikal berani menyebut abangnya adalah orang tua. Selama ini, tidak ada yang berani mengucapkan demikian padanya selain anak ini.


Loh, memang sudah tua, kan? Beren pikir, sepertinya Arok memang membutuhkan cermin yang besar agar dia berkaca, pikirnya.


Tak terelakkan, lirikan tajam pun Arok tujukan kepadanya sebelum pria itu memfokuskan tatapan matanya kembali kepadanya calon menantunya tersebut, “Tidak bisa. Memang kemarin aku percaya betul denganmu. Tapi kali ini sudah tidak lagi karena kamu sudah ketahuan berbohong,” Arok tetap bersikeras.


“Kami butuh waktu berdua untuk membicarakan urusan kami. Ini penting, Bang. Sambar gledeklah kalau aku berani berbuat macam-macam.”


“Sudahlah, Yah... hanya sebentar saja. Mereka juga butuh bicara untuk saling mengenal lebih jauh. Kasihan. Masa mau ngomong berdua saja dilarang,” kata istri Arok menengahi mereka berdua. Heran, masalah seperti itu saja harus ribut.


“Tapi, Bun... aku yang bertanggung jawab atas anak kita. Nanti kalau mereka tak sadar terhasut dedemit, akulah yang akan disiksa.”


“Sejauh itukah kau menilai putrimu?” sambar istrinya lagi dengan menatapnya tajam, “dia anak gadisku yang taat.”

__ADS_1


Atas permintaan istrinya, akhirnya Arok pun terpaksa menyetujui. Tetapi dengan catatan, tak boleh terlalu jauh darinya agar dia masih bisa mengawasi.


“Ros?” ucap Haikal begitu terpisah dari kedua orang tua gadis ini dan juga omnya. Mereka memilih tempat di depan rumah Beren. Duduk di kursi terasnya dengan posisi bersisian namun dengan jarak cukup jauh.


“Mereka seperti tidak pernah merasakan muda saja, mengawasi kita sampai segitunya,” ujar Haikal lagi sambil sesekali melihat Arok di sana yang tengah berdiri macam sebuah kamera pengawas.


“Ayah memang begitu. Sudah dari dulu. Makanya aku tidak punya teman laki-laki,” Ros menanggapi.


“Ah, sudahlah, kita abaikan saja,” kata Haikal tak mau ambil pusing, “Ros, setelah kejadian kemarin, apakah perasaanmu denganku masih tetap sama?”


“Tentu saja aku kecewa kamu ternyata  bohong. Beruntung pikiranku masih waras. Kalau tidak—aku bakal menolakmu.”


“Bukan karena masih waras, tapi karena masih cinta,” kata Haikal percaya diri dan membuat Ros semakin sebal, tapi tak berdaya saat melihat senyuman manisnya.


Lihatlah, ternyata dia pintar menggoda, genit sekali.


“Kelanjutan hubungan kita bagaimana setelah ini?” pria itu bertanya lagi, “aku melamarmu minggu depan, insyaallah. Kamu persiapkan saja semuanya. Tapi masalahnya, aku juga harus sekolah lagi, seperti apa yang aku katakan tadi dengan ayahmu. Terserah kamu, pilihannya ada dua, mau menungguku sampai selesai, atau langsung menikah tapi jarang bertemu? Aku tidak mungkin bisa membawa istri. Jadi aku hanya bisa mengunjungimu beberapa bulan sekali ketika aku sedang libur. Coba pikirkanlah dulu.”


Agak lama Ros berpikir sebelum ia menjawab, “Mungkin lebih baik aku ditinggalkan dalam keadaan masih sendiri. Tapi tolong jangan kecewakan aku. Kamu harus kembali untuk memenuhi janjimu.”


“Pegang janjiku, Ros. Suatu saat aku akan kembali lagi untuk menikahimu, lalu membawamu ke kota untuk hidup di sana.” Mungkin membangun usaha dengan istri bisa membuatnya lebih semangat lagi, pikirnya.


“Baiklah kalau seperti itu, tapi tetap kirimkan kabar untukku melalui surat, ya?”


“Iya,” jawab Haikal tersenyum, kemudian berujar sangat pelan, “aku mencintaimu, Ros... dan ini pertama kalinya aku bilang cinta.”


“Aku juga,” balas Ros lebih pelan lagi.


Haikal tersenyum. Bahkan saking senangnya, dia sampai refleks hampir menggenggam tangan Ros jika saja deheman keras seseorang di seberang sana tak mengingatkannya. Sehingga perbuatan itu pun batal terjadi.

__ADS_1


“Aku pamit pergi sebentar, Ros. Minggu depan aku bawa calon mertuamu ke sini. Mereka sangat baik dan aku yakin mereka akan menyukaimu.”


“Iya, kamu hati-hati,” jawab Ros juga sangat senang mendengar hal ini.


“Jangan kangen, ya.”


“Izh! Kau ini memang menyebalkan!” Ros tersenyum. Perempuan memang sulit dipahami karena mereka sering berpura-pura.


Tidak ada pembicaraan lagi sebelum akhirnya Haikal pamit pulang dengan menumpang kendaraan coak milik salah satu warga.


🌺🌺🌺


Puluhan purnama pun terus berlalu semenjak di adakannya acara tukar cincin tersebut. Semua keluarga sudah sepakat bahwa mereka harus menunda pernikahan sebelum Haikal bisa melanjutkan pendidikan agar dia bisa menjadi manusia yang lebih baik.


Jodoh pasti bertemu, mereka yakin akan pepatah itu. Namun selama itu juga, mereka tak pernah lupa untuk berkabar lewat surat karena pada saat itu, teknologi canggih belum tersedia. Mungkin sudah ada, tetapi masih sangat jarang orang yang menggunakannya.


Kini, Haikal sudah semakin dewasa dengan seribu pesonanya. Umurnya sudah 25 tahun, bukan lagi anak kemarin sore yang terkenal dengan kenakalannya.


Dia bertubuh proporsional, lebih bersih dan terawat, sangat tampan berikut attitude-nya. Seperti tanpa cela, apa pun yang wanita cari, ada pada lelaki ini. Dawiya dan Kauman saja sampai tak menyangka, ‘Hah, benarkah ini anak kita?’


Haikal kini sudah menetap tinggal di kota bersama kedua orang tuanya yang sudah sukses dengan usaha baru mereka. Berawal dari pedagang kecil hingga merangkak menjadi distributor ikan basah ke toko-toko besar di kota Pariaman.


Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa usaha dan waktu mengubah nasibnya. Mereka bahkan sudah mampu berangkat ke Mekkah untuk melakukan rukun Islam yang ke lima. Yakni ibadah haji.


Waktu terasa begitu singkat hingga tiba saatnya pernikahan pun segera dilakukan.


“Sekarang adalah saatnya,” gumam Haikal pada saat bercermin sembari memakai pecinya. Hari ini mereka akan menuju ke sana untuk menepati janji.


***

__ADS_1


To be continued.


Selamat sahur!


__ADS_2