TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Karma Yang Dibayar Kontan


__ADS_3

Untuk ke sekian kalinya Yudha pulang tanpa membawa istrinya di sampingnya. Malu? Ya, tentu saja. Karena keluarga pasti beranggapan bahwa dia telah gagal membujuknya kembali. Tetapi yang terpenting, Vita sudah menyetujuinya. Sekarang hanya tinggal masalah waktu saja.


Yudha sudah sampai di dekat rumah sekarang. Mulutnya berulang kali menguap karena menyetir selama semalaman suntuk.


“Sudah sampai di mana, Mas?”


Pesan itu di terima dari my wife. Baru saja.


Bersyukurlah pria itu karena Vita menanyakannya, berarti dia mengkhawatirkannya.


“Sudah dekat rumah,” balasnya. “Kenapa?”


“Cuma bertanya.”


'Sebenarnya bukan itu jawaban yang kumau.'


“Jangan terlalu lama di rumah.”


“Ya.”


Yudha menggerutu. “Ya ampun, singkat sekali.”


Di saat banyak perempuan yang menyukai dan mengejarnya, wanita ini justru mengabaikannya. Benar-benar luar biasa. Dia memang wanita mahal.


Mobil telah sampai di garasi. Pria itu menurunkan kopernya serta oleh-oleh yang dititipkan oleh Vita untuk Umi Ros. Yang terdiri dari buah salak, kue-kue kering, serta keripik khas Banjar yang kemarin mereka beli bersama di toko oleh-oleh khas kota itu.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam,” jawab suara dari dalam yang disusul oleh si pemilik suara. “Eh, sudah pulang, Nak? Mana cucu Umi?” arah tatapan Umi mencari-cari sosok tersebut.


“Mereka tidak ikut, Mi.”


Usai Yudha mengatakan demikian Umi Ros langsung kecewa. Sangat kentara terlihat di raut wajahnya. “Dia tidak mau balik lagi ke sini?” tanyanya hati-hati.


“Bukan tidak mau, tapi masih betah di rumah.”


“Oh ... syukurlah.” Umi Ros mengusap dadanya lega.


“Ya sudah ayo masuk-masuk. Kita bicara di dalam. Sini biar Umi bantu bawakan barangmu.” Umi Ros meraih paper bag yang ada di tangan kiri putranya.


“Itu oleh-oleh dari Vita,” kata Yudha memberi tahu.


“Apa ini Nak?”


“Buka saja, Mi. Banyak makanan di dalamnya,” jawab Yudha kemudian meminta Bi Retno untuk membongkar isi kopernya supaya bisa dirapikan kembali. Dipisahkan dari yang bersih mau pun yang kotor.


“Jadi kalian tidak jadi putus ‘kan?” Umi memang tidak ingin menyebut kata cerai, maka beliau menggantinya dengan kata istilah.


“Alhamdulillah ... tidak.”


“Bagaimana, kalian mau resepsi di mana?”


“Mintanya di sini, tapi sederhana saja. Vita tidak terlalu suka keramaian.”


“Ya sudah, nanti biar Umi bantu mengurus semuanya. Di gedung atau di rumah?”


“Di Hotel saja.”


Umi mengangguk-anggukkan kepalanya. Keduanya juga sempat melakukan panggilan video ke ponsel Vita, karena beliau (Umi) ingin mengetahui kabarnya dan ingin melihat sedang apa cucunya saat ini.

__ADS_1


Bayi laki-laki itu sudah bisa tersenyum yang bisa dipamerkannya ke kamera. Pipinya sudah semakin menggembung karena mabuk susu, rambutnya pun sudah semakin lebat dan semakin aktif merespons jika diajak bicara oleh lawan bicaranya.


"Ya Allah lucunya, ih gemas Umi sama kamu, Nak ...."


Hingga tak lama kemudian, ketika panggilan ditutup, mereka menyadari ada sosok lain yang bergabung bersamanya.


“Eh, kau sudah bangun, Lif. Tumben,” ujar Yudha setelah menoleh ke belakang. Yudha bertanya seperti itu karena waktu masih sangat pagi sekali. Masih setengah lima.


“Sudahlah. Memangnya aku kafir.”


“Kenapa itu muka?” tanya Yudha ketika mendapati wajah adiknya yang begitu muram.


Umi terkekeh. “Masih sebal dia. Kemarin mau dijodohkan sama Abah, tapi kecewa sama calonnya.”


Yudha menahan tawa, “Kenapa memangnya?”


“Jangan bilang-bilang, Umi,” kata Alif melarang Uminya bicara. Malu lebih tepatnya. Namun dari tertawanya beliau sudah dapat menggambarkan seperti apa si calon tersebut.


Yudha tahu, bagaimana kriteria wanita yang Alif idam-idamkan selama ini. Dia memang memiliki standar yang tinggi. Bukan karena jauh jodohnya, tetapi karena terlalu sibuk memilih.


“Sukses dulu saja Lif, nanti cewek-cewek pasti akan mendekat sendiri,” kata Yudha memberi saran.


“Aku sudah sukses. Uangku banyak. Rumah, mobil sudah punya. Kurang apa?”


“Kurang sombong,” Abah menyeletuk. Beliau keluar dari kamarnya dan duduk bergabung. Ke empatnya menikmati teh pagi sambil menikmati oleh-oleh yang Yudha bawa dari kampung halaman istrinya.


“Tapi kalau pria sukses biasanya yang mendekati, yang mata duitan,” sambung Abah lagi.


“Berarti Alif harus pura-pura miskin biar dapat wanita baik-baik begitu, Bah?”


“Ya tidak seperti itu juga, konsepnya Bambang!” sahut Yudha geram.


“Itu namanya jodoh!” Umi menoyor kepala putra keduanya karena gemas. Ada saja pemikiran konyol yang keluar dari kepalanya. “Jodoh itu datang dari mana saja, tidak disangka-sangka. Sama seperti rezeki.”


“Memangnya sudah ngebet sekali mau nikah, kamu Lif?” tanya Yudha.


Tanpa dapat dicegah, kepala itu mengangguk dengan sendirinya.


“Kemarin sama Deana tidak mau,” kata Abah lagi membuat Umi tergelak melihat bagaimana raut muka kecut putra keduanya. Jelas-jelas anak itu tidak mau sama dia!?


"Geli aku Bah ...."


***


"Masih belum ada yang menghubungi?" tanya Nely kepada putrinya, Rahma. Mereka berada di ruang tamu saat ini. Rahma masih mencari-cari lowongan kerja di kertas kabar.


"Belum."


“Bagaimana, apa Yudha sudah menghubungimu tentang uang itu?”


Rahma masih menganggur sampai saat ini sehingga berulang kali Nely menanyainya. Terlebih, butik juga sedang sepi. Ayah sudah pensiun. Keuangan mereka benar-benar telah menipis. Maka tidak ada yang Nely harapkan selain uang tersebut.


“Sudah, Bu. Sabar, lagi di urus. Kan tidak bisa langsung. Semua membutuhkan proses,” jawab Rahma pelan.


“Ibu yakin Yudha jatuh miskin dan tidak bisa menikah lagi setelah dia membayar uang satu M sama kita, biar saja dia begitu.”


“Istigfar, Bu. Tidak boleh mendoakan yang buruk-buruk. Takut kembali ke diri sendiri.”


“Alah kayak kamu sudah benar saja menasihati ibu segala.”

__ADS_1


Rahma tak menjawab. Tapi Sedikitnya Rahma sudah menyadari bahwa apa yang dilakukannya kemarin adalah kesalahan. Selanjutnya, dia akan membuka lembaran baru. Dia berjanji tidak akan menikah dengan laki-laki yang telah beristri.


Mungkin oleh karena itulah Tuhan menghukumnya. Ia kehilangan anaknya karena Vita kehilangan suaminya. Sungguh nyata sekali karma dari Tuhan.


“Perlu ditindak lanjuti ini. Kalau tidak, mereka pasti akan lupa.”


“Ibu ... tidak usah. Sabar saja, Bu. Mereka tidak akan lupa. Kita sedang tidak kelaparan, untuk apa datang ke sana. Malu, Bu. Malu. Jangan cari gara-gara lagi,” larang Rahma menahan tubuh ibunya yang hendak meninggalkan rumah.


“Lepas, kamu itu apa-apaan!” Nely mengibaskan tangan anaknya.


“Nanti, Ibu jangan ke rumah. Kak Yudha kemarin sudah berpesan, kalau mau ketemu di luar saja. Rahma harus buat janji dulu.”


“Bohong dia!” sembur Nely. “Kamu mau saja di bodoh-bodohi olehnya. Itu hanya upaya supaya kita semakin sulit untuk menemuinya. Ibu tidak percaya!”


“Ibu ...!” seru Rahma hampir menangis. Ia malu sekali kalau Ibu kembali ke sana dan mencak-mencak terhadap keluarga mertuanya lagi.


“Ibu, sudah, Bu. Biar Rahma saja nanti yang mengurusnya. Ini urusan Rahma, bukan urusan Ibu. Ini jangan pergi, tetap di rumah!”


“Diam kamu!” bentak Nely seraya menyangking tasnya.


Rahma kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil ponsel. Dia menghubungi ayahnya segera yang sedang berada di luar, untuk meminta tolong. Namun baru saja akan menelepon ayahnya, terdengar suara tabrakan keras dan barang-barang berjatuhan dari arah luar.


Rahma segera berlari untuk melihat apa yang terjadi. Matanya membelalak ketika ternyata suara tersebut berasal dari suara kecelakaan.


Ibunya telah terkapar di aspal kering. Menurut keterangan warga, Ibunya tertabrak sepeda motor pengangkut gas saat dirinya akan menyeberang jalan.


“Kamu buta, ya! Ini siang-siang, loh. Mata kamu ditaruh di mana?!” seru wanita tua itu menolak untuk di tolong oleh warga setempat.


“Maaf, Bu. Lain kali kalau mau menyeberang jalan itu tengok kanan-kiri dulu,” jawab si penabrak yang terlihat gemetaran. Sesungguhnya ia tidak sengaja. Kecelakaan ini murni terjadi karena kelalaian si ibu bodoh ini.


“Saya bantu berdiri, Bu.”


“Tidak usah!” serunya menolak.


“Ayo Bu, Rahma bantu, ya. Rahma kan sudah bilang, jangan keluar dulu tadi.” Rahma mengulurkan tangannya.


“Diaaam banyak ngomong sekali kamu jadi orang!” Nely mengibaskan tangan anaknya, namun pada saat dia berusaha berdiri sendiri, dia tidak bisa melakukannya. Anggota tubuh bagian kakinya mendadak tidak bisa digerakkan.


“Kenapa, Bu?” tanya Rahma panik.


“Ibu tidak bisa berdiri, kaki ibu sakit.”


Pada saat Rahma menyingkap bagian kakinya, Rahma terkejut. Dia melihat tulang kering kaki kiri ibunya sedikit menonjol.


“Kaki Ibu patah ...,” ucap Rahma menangis tersedu.


Nely seketika histeris di tengah-tengah kerumunan itu. “Tidak mungkin! Tidaaaaak!”


***


To be contiued.


Kalian pasti puas lihat orang lain menderita. Hayo ngakuuu!


Karena aku juga.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2