
Bab 1.
36 tahun lalu. Sumatra Barat.
🌺🌺🌺
“Sudah jelek, sakit-sakitan, mandul, tak mati-mati! Menyusahkanku saja kau, sialan! PLAKK!” ujar seorang lelaki di duga suaminya menampar istrinya sendiri yang sedang kurang sehat. Beberapa pukulan juga diterimanya sampai wanita itu jatuh terjerembap ke tanah.
“Ampun, Bang... ampun,” ucapnya lemah dan tidak punya keberanian untuk melawan.
“Heran, aku kenapa aku sampai menikahi wanita tidak berguna seperti ini?!” katanya lagi dengan bahasa Minang. Kekerasan kembali terjadi, tendangan mendarat di area punggungnya sampai sang wanita terkulai lemah hingga tak lagi keluar suara dari bibir pucatnya.
“Pergi kau dari sini! Pergi!” pria itu menunjukkan jalan dan hendak menendangnya kembali. Namun sebelum hal itu kembali terjadi—datang seorang pemuda secara tiba-tiba dengan pakaian awut-awutan, memukulnya terlebih dahulu.
“PANT*K!!” umpatnya dengan bahasa paling kasar. Tak terelakkan, perkelahian pun akhirnya terjadi. “Beraninya kamu sama perempuan, tidak punya otak, kau kanci*ng!”
“Kau yang pant*k. Anak kemarin sore saja kamu belagu, sialan!”
Sementara mereka berkelahi, wanita yang bernama Naya itu bangkit. Dia masuk ke dalam rumah untuk mengambil beberapa pakaiannya untuk dia bawa pergi.
“Berani kau keluar tanpa seizinku, kau kutalak!” seru suaminya pada saat mendapati dia keluar dengan membawa tas besar.
Aneh, bukankah dia tadi yang mengusirnya pergi? Dasar laki-laki gila!
“Talaklah, Bang. Talak... aku juga sudah tak sanggup lagi hidup denganmu...,” jawab Nayana dengan isakan tertahan.
“Ya, kutalak kau. Dasar mandul!” serunya sehingga dalam sekejap, status mereka telah berubah.
Seorang pemuda yang pada saat itu semakin geram dengan orang ini, lantas menghabisinya dengan brutal. Dia bahkan hampir membunuhnya jika saja tak ingat bahwa membunuh itu dosa.
Pemuda itu adalah tetangga sekaligus teman yang hampir mendengarkan jeritan Naya setiap hari. Geram dengan perlakuan pria ini membuat jiwa mudanya cukup terusik.
“Uhuk! Uhuk!” pria itu terbatuk-batuk sampai berdarah.
“Kau siksa dia setiap hari seperti seorang budak, tidak punya otak memang, kau ini bajingan!”
“Brengsek kau, apa urusanmu memukuliku, hah? Orang yang kupukuli bukan ibumu, jadi kau tidak perlu ikut campur!” seru pria itu, meski telah babak belur.
“Bukan seperti itu caramu memperlakukan perempuan, dasar sinting!” usai berkata demikian, Haikal berlari mengejar Naya yang sedari tadi pergi ke arah kiri. Tepatnya ke arah desa sebelah.
Sebenarnya, bukan hanya dia saja yang terusik dengan perlakuan suami Naya yang seenaknya. Namun tidak ada yang berani menegur karena takut dilukai juga. Semua orang menciut di hadapan preman tersebut—tapi tidak dengan Haikal karena dia juga sama-sama mempunyai jiwa pemberontak. Hanya saja, bukan makhluk seperti ini yang menjadi sasarannya.
“Uni! Uni!” panggil Haikal mencari wanita tersebut. Hingga tak lama kemudian, sosoknya berhasil ia temukan. Mungkin karena sakit, jadi diatak bisa berlari lebih cepat lagi. “Uni tunggu!”
Wanita bertubuh kecil itu menoleh, “Apa?”
“Tunggu sebentar, kamu mau ke mana?”
__ADS_1
Naya berhenti setelah Haikal berdiri di hadapannya. Pria itu melihat dengan iba wanita di depannya, wajahnya lebam kebiruan, matanya hampir tak terlihat karena bengkak di sekitarnya.
“Keadaanmu sangat memprihatinkan. Sekeras apa dia memukulmu?”
“Jangan halangi aku,” jawab wanita itu mengalihkan soal.
“Kau mau ke mana?”
Menggelengkan kepala, Naya menjawab, “Aku tidak tahu... yang penting aku pergi. Aku tidak mau ketemu sama orang itu lagi,” jawabnya lirih.
Tiba-tiba petir menyambar, langit juga menggelap pertanda hujan akan turun.
“Sepertinya akan hujan lebat. Bagaimana kalau sebaiknya Uni ikut aku sementara?”
“Rumahmu dekat rumah Bang Musfira. Aku takut nanti keluargamu ikut terkena masalah.”
“Bukan ke rumahku. Ayolah!” tanpa menunggu jawaban, Haikal menariknya ke rumah almarhum neneknya yang tak jauh dari sana.
“Mungkin rumah ini jelek, tapi kupikir, ini cukup nyaman. Aku juga sering tidur di sini kalau sedang ada masalah sama Bundo,” kata Haikal pada saat mereka sudah sampai di rumah yang kelihatannya sederhana, namun sudah terbuat dari tembok yang cukup kokoh. Di saat yang bersamaan, hujan juga turun sangat deras.
“Apa aku boleh tinggal di sini sementara, Kal?” tanya Naya sendu.
“Boleh. Selama rumah ini belum dijual.”
“Tidak selama itu juga, kalau aku sudah dapat tempat pasti aku akan pergi.”
Di saat demikian, Haikal masih melihat air mata Naya yang menetes. Oleh karenanya, dia berujar, “Sudahlah, untuk apa kau menangisinya. Justru harusnya kamu bersyukur sudah lepas dari orang sinting itu.”
“Aku Cuma sedih, apa aku tak layak untuk diperlakukan lebih baik?”
“Sebelumnya sudah kubilang, jangan sampai kau menikah dengan laki-laki itu hanya karena merasa tak laku-laku. Tapi kau tetap saja menerimanya.”
Benar. Naya menikah dengan Musfira dua tahun lalu pada saat Naya berusia tiga puluh tahun. Terpaksa karena dianggap tidak laku-laku. Dia dijodohkan oleh orang tuanya demi menutupi rasa malu mereka. Celakanya, Naya malah mendapat lelaki yang buruk, temperamen, dan suka menyiksanya karena masalah sepele. Hal ini dimulai sejak mengetahui Naya tak kunjung bisa melahirkan keturunannya.
“Aku tak punya pilihan,” jawab Naya dengan air mata yang masih mengalir.
“Sekarang sudah tahu, kan? Pasti kau menyesal.”
“Kalau tahu begini, lebih baik aku tak menikah selamanya daripada harus menikah dengan orang yang salah.”
“Sudah begitu kau tidak mau pergi. Bahkan kau bertahan sampai dua tahun lamanya.”
“Tidak semudah itu perempuan pergi, Kal. Aku ini seorang istri. Kami mempunyai ikatan sakral. Kalau saja cerai itu mudah—bisa dilakukan oleh perempuan, maka sudah aku lakukan. Tidak semudah itu,” Naya mengulang.
“Tapi kalau aniaya sepanjang hari? Apa kamu akan tetap bertahan di sana? Mau menunggu sampai mati?”
“Kamu tidak tahu pernikahan itu seperti apa,” sela Naya.
__ADS_1
“Aku sangat tahu, itu karena kau mencintainya, bodoh!”
“Mencintai atau tidak mencintai sebuah pernikahan layak dipertahankan.”
“Ah... persetan dengan semua itu.”
“Aku percaya semua orang perlahan-lahan bisa berubah, apalagi dirinya,” kata Naya lagi.
“Dajal tetap dajal,” ujar Haikal tak mau kalah. Dia kemudian menyudahi aktivitasnya dan meminta Naya untuk meneruskannya sendiri. “Aku harus pergi sekarang. Kalau kamu mau tinggal, tinggallah. Kamu tahu bagaimana caranya bertahan hidup.”
Naya mengangguk, “Terima kasih atas pertolonganmu, Kal....”
Pemuda itu langsung pergi menembus hujan tanpa menjawab pertanyaannya.
Dia Haikal Al Fatir, putra dari pasangan suami istri Kauman dan Dawiya. Usianya masih 22 tahun. Usia yang bisa dikatakan masih sedang nakal-nakalnya.
Sebagai seorang tetangga, Naya pernah menggendongnya sewaktu masih kecil. Namun siapa sangka dia sekarang malah lebih besar dan lebih tinggi darinya. Gagah dan berbadan tegap. Di desanya, dia terkenal cukup baik. Tapi sayang, di luar sana, dia menjadi seorang pencuri harta orang-orang kaya meski hasilnya bukan hanya untuk di masukkan ke dalam kantong sendiri. Melainkan dibagikan kepada orang yang membutuhkan. Terdengar aneh, bukan?
Malam ini, Haikal dan dua temannya mempunyai target. Yakni rumah gedong besar milik seseorang yang katanya seorang pejabat negara.
Awalnya, mereka merasa aman-aman saja, namun tanpa diketahui, mereka ternyata sedang dijebak oleh beberapa orang aparat kepolisian dari kejauhan. Beruntung mereka sudah sangat profesional sehingga akhirnya bisa lolos dari sana, meski ketiganya harus terpencar ke segala arah.
Gelap membuat Haikal tak sengaja menyusup ke dalam rumah seseorang. Di sana, dia mendengar riuh suara beberapa polisi tengah mencari keberadaannya.
“Hei, di mana, kau? Keluar atau peluru ini melubangi anggota tubuhmu!” teriak salah seorang polisi yang disahuti oleh yang lainnya.
"Keluar kau, bedebah!"
Otaknya berputar, mencari cara untuk menyelamatkan diri. Dan mungkin kali ini keberuntungan tengah berpihak padanya karena pada saat dia menoleh, dia melihat jemuran gamis laki-laki berwarna putih, tergantung di belakang punggungnya.
Gegas ia memakai baju itu meski masih terasa basah, lalu mencari celah untuk berlari mencari musala terdekat. 'Mungkin aku bisa bersembunyi dibalik pakaian ini dan berpura-pura beribadah di sana.'
Haikal percaya bahwa pakaian ini dapat menyelamatkan dirinya dari kejaran masa. Namun tanpa ia duga sebelumnya, cara ini malah justru menimbulkan masalah lain. Sebab dia malah dikira salah seorang warga adalah seorang pandai agama yang dikirim oleh pemerintah untuk mengajar di desa ini.
“Ya Allah... Ustaz. Kami menunggumu dari kemarin, akhirnya kau datang juga,” ucap lelaki tua itu meraih tangannya, “izinkan aku mencium tanganmu yang suci ini.”
Haikal sontak menarik tangannya, “Eh! Apa-apaan ini?”
“Tanganmu itu suci.”
“Tidak, tanganku kotor!”
“Aku yakin tanganmu suci.”
“Tidak! Jangan coba-coba kau mencium tanganku!” Haikal menggelengkan kepalanya, 'bisa-bisanya orang ini mengira aku adalah orang yang pandai agama—sedangkan Alfatihah saja aku tak hafal!'
🌺🌺🌺
__ADS_1
Ini setting tahun 1985, ya. Mungkin akan sedikit jadoel.