
15.
Tangan Rahma terulur untuk mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali. Sehingga membuat wanita yang berada di dalamnya langsung tertuju ke sumber suara dan bertanya-tanya.
“Apa Mas Yudha balik lagi?” gumam Vita setengah meragukannya, “tapi kalau itu Mas Yudha pasti tinggal masuk, dia bawa kartu sendiri. Atau dia bellboys? Kalau iya, apa yang mau di antarnya? Kami tidak membawa barang.”
Wanita itu hendak beranjak membuka pintu, namun dia langsung teringat dengan pesan Yudha sebelum pergi. “Aku tinggal dulu ya. Kamu istirahat. Kalau ada yang mengetuk, intip dulu siapa orangnya. Kalau bukan aku, kamu telepon dulu. Ingat, jangan ceroboh.”
Lagi, pintu terdengar diketuk tiga kali, membuat Vita menjadi lebih panik.
“Duh, aku jadi takut ....” Vita berjalan mengendap, matanya menyipit mengintip dari lubang kecil untuk melihat siapa dibalik pintu ini—hingga kemudian ia terkejut saat mengetahui siapa orangnya. “Hah, Mbak Rahma? Ada keperluan apa dia ke sini?”
Pikirannya maju mundur, dia ingin berbuat tega untuk mengabaikannya, tapi hati perempuan tetap tidak bisa dibohongi. “Apa ada sesuatu yang mau dia bicarakan hanya denganku, tanpa ada Mas Yudha?” Vita kembali bermonolog, namun lagi-lagi dia kembali ke belakang mengingat pesan Yudha sebelum meninggalkannya. “Kamu harus mematuhi suamimu, Vita. Dia berpesan seperti itu tadi karena ingin kamu aman.”
Oleh karenanya, dia segera menghubungi Yudha untuk memberitahunya.
“Alhamdulillah, kamu mengangkat teleponku, Mas,” ujarnya setelah pria itu mengangkat panggilannya.
“Kenapa? Aku sudah mulai rapat. Apa kamu butuh makanan?”
“Bukan, Mas. Ini ada orang yang mengetuk pintu—”
Yudha langsung menyela, “Kamu ingat apa pesanku tadi?”
“Ingat, Mas. Makanya aku konfirmasi ke kamu dulu.”
“Siapa orangnya?” tanya Yudha segera.
“Mbak Rahma.”
“Mau apa dia? Jangan dibuka, biarkan saja.”
“Iya, Mas.”
“Kamu tidur saja. Tunggu sampai aku kembali.”
__ADS_1
Vita kembali mengiyakan dan menutup telepon. Bahkan sampai saat ini pun, pintu masih terdengar diketuk berulang-ulang. Dia membiarkan saja Rahma demikian sampai dia lelah dan pergi dengan sendirinya.
“Maaf, Mbak ... kalau kamu mengajakku bertemu, harus ada Mas Yudha denganku.”
Terus terang ... ada sedikit rasa takut Rahma melukainya karena Rahma yang sekarang, bukan lagi Rahma yang ia kenal beberapa tahun lalu.
Sementara di luar, Rahma mende sah kecewa. Dia menyandar di dinding sambil meratapi nasibnya. “Aku tahu kamu ada di dalam, tapi sepertinya kamu juga jijik denganku. Sama seperti yang lain....”
Dari lubuk hati yang terdalam, sesungguhnya ia memerlukan bantuan untuk keluar dari masalah ini. Tapi, bagaimana caranya?
Dan bukan tidak mungkin, Vita dan Yudha tengah menduga-duga sesuatu tentang keberadaannya di sini. Ironisnya, dia tak bisa berbuat apa-apa, apalagi membela diri.
***
Seorang moderator menutup diskusi karena sudah mencapai kesepakatan bersama. Semua yang hadir di acara rapat tersebut saling memohon diri untuk pergi meninggalkan area. Begitu juga yang dilakukan oleh Yudha dan Arkana. Kedua orang ini, saling menjabat sebelum pergi.
“Saya duluan, Pak Yudha. Maaf buru-buru,” pamit Arkana menenteng tas mewahnya. Dan dengan bangga dia juga mengatakan, “sudah ada yang menunggu soalnya. Nanti kalau ada apa-apa, kita bisa berkabar lagi lewat pesan.”
Yudha hanya mengangguk dan tersenyum sekadar menanggapi orang itu. Tidak mungkin tidak, ucapan Arkana barusan jelas membayang di pikirannya—apa gerangan yang akan terjadi nanti di antara para berdua. Tentu sangat paham karena dia bukan anak kecil yang baru saja menetas. Rasa kepeduliannya tiba-tiba muncul, sebab dia meyakini ... ini ada hubungannya dengan suaminya yang sedang sakit parah. Kalau dipikir-pikir, kasihan sekali nasib wanita itu.
‘Ya Allah ... ampuni dan sadarkan Rahma segera. Aku iba melihatnya seperti ini. Dia pasti sedang terdesak.’
Arkana tersenyum lebar pada saat dia masuk ke dalam kamar yang dipesannya. Pria itu tersenyum melihat perempuan di depannya yang sudah memakai setelan gaun cantik.
“Kali ini aku akan membayarmu dua kali lipat kalau kamu bersedia menginap,” ujar Arkana begitu duduk di sofa.
“Tidak, Pak. Aku harus pulang. Aku punya anak-anak dan suami yang harus aku urus,” jawab Rahma menolak dengan bahasa yang halus agar Arkana tak tersinggung.
“Sembuhkan suamimu, pindahkan dia ke rumah sakit yang lebih bagus. Aku merekomendasikannya ke Singapura,” kata lelaki berusia 35 tahun itu dengan tegas. “Aku yang akan membayar biayanya.”
“Benarkah?” tanya Rahma. Lantas mendekat dan duduk di samping pria itu untuk menunjukkan betapa berterima kasihnya dia kepada lelaki ini.
“Tapi tentu harus ada syarat yang harus kamu lakukan.”
“Apa?” tanya Rahma segera.
__ADS_1
“Ceraikan dia setelah sembuh, lalu menikahlah denganku.”
DEG!
Spontan Rahma menggelengkan kepala, membuat lelaki di sampingnya itu tersenyum sarkastik.
“Kenapa?” tanyanya menatap Rahma. “Suamimu itu penyakitan, kurang materi, kamu butuh bahagia, anak-anakmu juga butuh sekolah dan masa depan yang bagus. Saat ini hanya aku yang bisa mewujudkannya.” Arkana kembali menegaskan, “Pikirkan lebih realistis, perempuan tidak hanya membutuhkan cinta saja.”
“Tapi ....”
Lelaki itu lekas beranjak, dia tak membutuhkan jawaban Rahma. Andai dia memang membutuhkannya, dia pasti akan datang sendiri, sesederhana itu dia berpikir.
Lalu apa hubungan mereka selama ini?
Tentunya hubungan gelap yang menghasilkan pundi-pundi uang. Keduanya di hubungkan oleh seorang mucikari.
Bila ada yang bertanya kenapa mereka menjadi dekat—adalah saat Rahma terlihat ragu-ragu dan menangis setelah melayani Arkana waktu pertama kali.
Terang saja pria itu bingung. Namun dari sinilah akhirnya Arkana tertarik untuk mengetahui lebih jauh seluk-beluk perempuan ini, sehingga ia tahu, bahwa sebenarnya Rahma adalah wanita baik-baik yang sedang terjepit keadaan.
Arkana pun berpikir, banyak wanita seperti ini di luar sana, tapi mereka memberikan dirinya secara cuma-cuma kepada kekasihnya. Bukan karena keadaan seperti yang Rahma alami. Wanita ini bahkan sampai bersumpah dengan uraian air mata, dia tidak akan pernah melakukannya jika tidak sedang terdesak. Fakta lain yang Arkana ketahui, dirinya ternyata adalah pe langgan pertamanya.
Selama setahun ini, tidak ada yang menunjang kehidupannya. Suaminya sedang meregang nyawa di rumah sakit dan sangat membutuhkan biaya, demikian penjelasan Rahma yang tersangkut di pikirannya, sehingga dengan sendirinya timbul belas kasih yang lama-lama menjadi rasa nyaman.
“Lebih baik kau menjadi simpananku. Menjadi simpanan satu laki-laki masih lebih baik daripada kamu harus bertemu dengan beberapa pria yang berbeda-beda di luar sana,” ujar Arkan beberapa waktu lalu, membuat akhirnya Rahma menyetujui keputusan gila ini. Meski akhirnya ia selalu menyesal dan bernoda setiap kali bertemu.
“Tapi ingat, jangan pernah berhubungan dengan suamimu sebelum masa kontrakmu habis. Aku tidak mau kau bercampur dengannya. Paham!”
Rahma melakukan perjanjian kontrak dengan lelaki itu selama setahun dan bisa bertambah sewaktu-waktu jika ia memang masih membutuhkan uang.
Arkana sendiri adalah seorang pengusaha transportasi pariwisata yang sudah hidup sendiri selama lima tahun. Statusnya duda satu anak. Kesepianlah yang membuatnya mencari wanita bayaran—namun bukan semata-mata untuk bercinta, tapi juga untuk sekadar mengobrol menemani kesunyiannya di kala berjalan sendiri.
Tapi siapa sangka ... dia malah terjerat dengan permainan yang ia buat sendiri. Dia akui telah bermain perasaan—satu hal yang seharusnya ia hindari. Sebab Rahma masih berstatus istri orang.
***
__ADS_1
To be continued.
Likenyajanganlupa👍👍