TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Mendekati Persalinan


__ADS_3

Vita tersenyum saat melihat Dara baru saja turun dari kendaraan yang ditumpanginya. Beberapa menit yang lalu, dia memang sudah dihubungi olehnya bahwa posisinya sudah dekat. Kini Vita menyambutnya, membantunya membawakan barang yang menurutnya paling ringan.


“Biarkan saja di situ, nanti aku balik lagi, Ta,” kata Dara melarangnya untuk membantunya.


“Tidak apa-apa, Dar. Aku bawa yang paling ringan.” Vita tetap kekeh untuk menenteng barang tersebut yang diperkirakan berisi berbagai macam makanan.


“Ya sudah, kamu memang orang yang paling tidak bisa dilarang,” kata Dara akhirnya mengalah. Kemudian gadis yang setengah tomboy itu mengeluarkan uang cash untuk membayar tanggungan kendaraan.


“Adikmu sudah sembuh benar?” tanya Vita disela-sela kerepotan mereka.


“Alhamdulillah sudah. Memang belum masuk sekolah sih, tapi sudah ceria lagi. Dia sudah bisa main sama teman-temannya.”


“Syukurlah kalau begitu.”


“Oh, iya. Ada salam dari ibuku. Kemarin kamu dititipin banyak sekali oleh-oleh.”


“Aku merepotkanmu ya?”


“Sama sekali tidak, Ta. Itu oleh-oleh gampang dicari kok." Pandangan Dara mengarah pada kardus yang ada di tangan Vita. "Di situ ada kremesan, pia, bolu kering, terus rempeyek dan masih banyak lagi.”


Sementara di tempat lain yang tak jauh dari mereka, ada seorang pria yang sedang mengamati keduanya tanpa mereka ketahui. Ah, alangkah cantiknya senyum wanita itu, alangkah indahnya dari keseluruhan yang terlihat, batinnya memuji kepada salah satunya.


Agak lama dia menunggu di sana. Tujuannya adalah; agar kedua wanita itu terlebih dahulu bebenah dengan oleh-olehnya. Jeda beberapa saat kemudian, barulah akhirnya dia datang untuk menghampiri. Mungkin seperti inilah kiranya sikap yang baik, agar acara bertamunya tak terlalu merepotkan banyak orang.


‘Jadi ini teman baikmu itu?’


Pria itu datang dengan membawa satu buah tangan. Sebelum ia sampai di sini, dia terlebih dahulu mampir di toko kue. Entah disukai atau tidak nantinya, Alif tidak tahu. Tapi yang jelas, tidak enak bertamu dengan tangan kosong.


Namun apa tujuannya kemari?


Tentu saja untuk menjenguk kakak ipar satunya. Sebab sudah beberapa bulan semenjak kedatangannya, dia sudah tidak pernah datang kemari lagi selain ke rumah Andari.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Terdengar bunyi gaduh di dalam sana dan saling bertanya siapa kira-kira tamu yang datang di pagi hari begini?


“Iya, Mas. Cari siapa, ya?” seorang perempuan melongok dari pintu kontrakan tersebut. Keningnya mengerut. Melihatnya dari atas sampai bawah untuk mengenalinya.


“Mau cari Vita.”


“Kamu suaminya?” ujarnya sontak menuding.


“Bukan, aku adik iparnya.”


“Masa adik ipar segede ini? Bohong ah.”

__ADS_1


Brak!


Dara kembali menutup pintu dan membuat Alif sempat terlonjak.


‘Betina jenis apa ini, tidak sopan sama sekali.’


“Siapa, Dar?” tanya Vita begitu wanita itu mengambil hijabnya lagi yang sudah sempat dilepas.


“Mengakunya si adik ipar.”


“Adi ipar?” ulang Vita untuk memastikan.


Dara mengangguk.


“Aku memang punya adik ipar, belum lama ini dia datang ke sini.” Ya, adik ipar besar maksudnya.


“Oh gitu. Cobalah kamu lihat. Aku menutupnya tadi. Soalnya takut detektif rahasia.” Dara terkekeh geli. “Aku parnoan. Takut kamu kenapa-kenapa.”


“Ya sudah, aku lihat ya.”


“Mangga.”


Vita membuka pintu masuk. Baru saja pintu itu terbuka, wajahnya hampir menabrak bungkusan yang disodorkan padanya. “Ya ampun, Alif, ba, ta tsa!”


“Jim, kha, kho,” Alif meneruskan dan sontak membuat Vita tergelak.


Vita menerimanya, “Apa ini?” tanyanya seraya melihat-lihat. “Kalau mau datang ya datang saja, tidak perlu repot-repot bawa makanan segala. Kayak datang ke rumah siapa.”


“Aku tidak sengaja mampir tadi,” elaknya.


“Ayo masuk,” ajak Vita ke dalam. “Itu namanya Dara,” Vita memperkenalkan perempuan yang tadi membuatnya terlonjak kaget.


“Maaf sudah membuatmu kaget. Soalnya aku tidak tahu kalian akrab,” kata Dara menyapa.


“No problem.”


Vita terlebih dahulu menuangkan minum, sebelum dia menemani Alif duduk di sana.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Alif.


“Kami sehat. Abah sama Umi gimana?”


“Sehat juga,” jawab Alif, tak lama kemudian dia bergantian bertanya, “Sekalipun Abang tidak pernah kau tanyakan.”


“Dia sudah pasti baik-baik saja,” jawab Vita dengan perasaan teduh. Perlahan, dia sudah mulai bisa meredam rasa sakitnya. “Ada orang yang mencintainya lebih daripada aku. Jadi aku tidak pernah merasa khawatir atau berlebihan memikirkannya.”


“Salah. Kamu tetap lebih baik, dari semua yang kamu pikir bisa menggantikan posisimu.”

__ADS_1


“Jangan racuni aku dengan jalan pikiranmu, Lif. Aku tidak akan terpengaruh lagi.”


“Benar kata Abang, kamu memang keras kepala,” kata Alif kemudian. “Aku datang ke sini hanya untuk mematikan keadaanmu.”


Vita mengangguk.


Alif kembali melanjutkan, “Cerita ini berbeda kalau Abang sudah mengetahuinya. Karena hanya aku yang tahu, jadi aku merasa bertanggung jawab pada kalian berdua. Tapi percayalah, ini bukan karena apa pun.”


“Iya aku mengerti, Lif. Kami baik-baik saja kok. Terima kasih karena sudah mau peduli dengan kami.”


“Tanggal berapa perkiraan lahir?”


Vita refleks menyentuh perutnya. “Oh, iya. Aku belum memberitahukanmu, ya?” tanyanya antusias. “Perkiraan tiga minggu lagi. Aku benar-benar sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya.”


Vita masih menatap ke bawah, melihat satu-satunya harapan dan kebahagiaan yang tersisa. Bibirnya tersenyum, tetapi matanya berkaca-kaca. Sesungguhnya bukan seperti ini jalan rumah tangga yang dia harapkan dalam hidupnya. Namun, ya sudahlah. Memang sudah menjadi nasibnya demikian.


“Baiklah. Aku usahakan tiga minggu ke depan, tidak pergi ke mana-mana dulu,” kata Alif menjawab.


“Tidak usah sampai segitunya, aku kan ada Dara.”


Namun Alif tidak peduli. Dia akan tetap datang nanti dan akan tetap memberikannya kejutan yang sudah dia rencanakan sendiri.


***  


Sementara di tempat lain, Rahma sedang kesulitan sendiri. Semenjak terjadi tragedi jatuh terpeleset di dapur, dia sudah tidak pernah merasa nyaman lagi dengan perutnya karena sebentar-sebentar mengalami flek. Seolah-olah dia memang tidak diberi kesempatan untuk melakukan apa pun, karena sedemikian lemah kondisinya.


Yudha pun bingung dengan kondisi Rahma. Dia sangat manja sekali sehingga menyulitkannya melakukan berbagai hal. Pria itu benar-benar lelah fisik dan mental. Tertekan. Terjerat. Terbelenggu. Sebutan apa pun pantas baginya. Dia memang benar-benar pria yang menyedihkan.


Demikian kondisi ini sangat berbeda dengan yang dirasakan oleh Vita. Wanita itu bebas melakukan apa saja, bekerja, berlari, bahkan melompat sekalipun kalau bisa. Dia bahagia. Dia ceria menjalani hari-harinya yang sedang mulai merintis usaha pakaian online shop, dengan modal seadanya.


“Kak, aku flek lagi,” ucap Rahma pada suatu siang kepada suaminya.


“Tetap di situ, jangan ke mana-mana,” kata Yudha dengan sabar. Dia segera menghubungi dokter untuk berkonsultasi. Setelah itu, dia segera membawa istrinya masuk ke dalam mobil, menuju ke rumah sakit.


Terkadang tak sampai hati pria itu membentaknya, menyalahkannya atau bersuara ketus. Semua kesalahan ini tak sepenuhnya berawal dari Rahma. Ada orang lain yang ikut campur dan mendesak dia agar menjadi paling utama di hati Yudha. Yang tanpa mereka ketahui telah tergeser posisinya.


“Sakit lagi?” tanya Umi Ros setelah Yudha pergi meninggalkan rumah. Beliau tahu, tidak patut baginya bertanya seperti ini. Sebab semua kesakitan adalah musibah yang datang dari Yang Kuasa. Tetapi rasanya sudah sangat sering sekali dan membuat kerepotan bagi banyak orang.


'Azab' batin Alif menyahut.


“Jangan berkata seperti itu, Umi,” kata Abah menasihati. “Ada putramu di sini. Kau harus mencontohkan hal yang baik padanya.”


Namun istrinya itu tak peduli. “Kasihan sekali anak kita ....”


***


To be continued.

__ADS_1


 


__ADS_2