
Sore itu, setelah mengganjal sedikit perutnya di cafe terdekat, Rahma kembali memasuki ruang ranap tempat suaminya dirawat. Dia duduk di sampingnya dan menggenggam erat tangannya sembari mengajaknya bicara. “Kak, cepat bangun, cepat sembuh....”
Tidak ada pergerakan dari pria itu selain sudut mata yang mengalir tetes air.
“Katanya kamu ingin mengajak kami liburan ke Labuan. Kamu jangan lupa sama janjimu, janji itu hutang.”
Rahma rindu masa-masa berdua dengannya. Dialah satu-satunya orang terbaik yang ia miliki dan yang paling mengerti keadaannya selama ini.
“Aku capek Kak, aku capek karena harus terus bolak-balik ke rumah sakit,” isak Rahma mengusap pipinya dengan punggung tangan. “Bukankah kamu juga bosan? Ayo bangun, Kak, Dirly sama Feby kangen sama ayahnya.”
Dirly adalah anak laki-laki yang masih bayi. Sedangkan Feby adalah anak perempuan pertamanya, berusia tiga tahun.
“Aku harus mencari uang ke mana lagi untuk biaya pengobatanmu, apa kamu tidak kasihan, ha?” tanya Rahma menuntut, “apa lagi yang harus aku jual? Harga diri?”
Uang ratusan juta sudah melayang, dia bahkan telah menjual rumah mereka untuk membayar biaya pengobatan suaminya. Beruntung, ayahnya baik hati sehingga mengizinkannya untuk tinggal bersama di rumah lamanya. Meski tak lama kemudian, beliau pun menyusul istrinya pergi.
Dia bahkan pernah menemani Rio berobat di Semarang saat dalam keadaan berbadan dua. Menjalani kemoterapi selama hampir dua minggu berturut-turut. Meskipun waktu itu sel kanker sudah dinyatakan bersih, tapi siapa sangka, bahwa sel itu kembali tumbuh karena tidak pernah kontrol lagi secara rutin. Sebab mereka lupa karena sedang bahagia dengan kelahiran anggota keluarga barunya, yakni anak kedua.
Terhitung dua kali Rio permadi masuk ruang isolasi karena leukositnya turun. Belum lagi radiasi yang ia jalani setelahnya selama berulang kali sehingga membuat Rahma berontak, ia tak kuat lagi menjalani harinya yang begitu berat. Padahal dia sudah sepenuhnya menerima pria ini, tapi lagi-lagi, Tuhan membentangkan jarak untuk urusan percintaannya.
Ah, sebanyak apa pun dia mengeluh, Tuhan tak pernah mau mendengarnya. Itulah yang membuatnya ragu akan adanya Dia di dalam hidupnya sehingga ia berubah.
“Aku mau menikah denganmu untuk bahagia, karena aku yakin kamu bisa membahagiakanku, memberikan warna cerah dalam hidupku yang sebelumnya suram—bukan malah membebaniku dengan penyakitmu ini, brengsek, sialan,” umpatnya pelan sambil terisak. “Aku juga punya banyak masalah. Aku sudah capek. Aku capek! Kenapa bukan aku saja yang mati? Aku bergantung padamu, Kak.”
Meski begitu, Rahma menciumnya. Memeluknya karena dia sangat sayang.
Agak lama Rahma melow seperti itu sampai dia dikejutkan bunyi dering ponsel.
“Iya, Sus,” ucap Rahma begitu panggilan terhubung.
“Bu, ASIP habis. Dirly sepertinya haus karena dia nangis terus.”
“Kasih susu formula dulu, sebentar lagi aku pulang, ya.”
“Baik, Bu.”
Rahma segera berjingkat dan meraih tasnya kemudian berjalan cepat memasuki mobil, menyetir sendiri menuju ke rumah.
“Cih, sebentar lagi ini mobil ini juga pasti di jual,” gerutunya kesal, “ambil semua Tuhan, ambil semuanya dariku!” dia memukul-mukul setir mobilnya. Sungguh tak habis-habisnya penderitaan yang ia rasakan karena karma yang menurun dari orang tuanya.
__ADS_1
***
Tiga hari kemudian, akhirnya Vita sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Kondisinya sudah cukup baik, dia sudah kembali beraktivitas seperti biasa meski tetap dalam batasan.
Beruntung, ia memiliki ibu mertua seperti Umi Ros yang sangat mengerti keadaannya. Tak pernah berkomentar ini itu yang membuatnya tidak nyaman.
‘Coba kalau aku di rumah orang lain. Habislah aku.’
“Rumah ini sepi tanpa kamu tahu, Ta,” ucap Dara pagi hari, ketika mereka sedang duduk santai bersama di ruangan tengah, menikmati weekend sambil nyemil makanan sehat.
“Kamu lebay, kan banyak bocil-bocil,” ujar Vita menanggapi. “Katanya kamu tidur di sini kemarin, iyakah?” dia memastikan kabar yang ia dengar dari suaminya kemarin.
Dara mengangguk, “Kita berdua tidur di kamar anak-anak. Pengen menemani mereka sementara kalian tidak ada di rumah.”
“Oh, ya?” kata Vita antusias.
“Yeah!”
“Kok bisa? Memangnya muat ranjangnya?”
“Bisalah, aku sama Alif tidur di bawah, pakai kasur tambahan.”
Tetapi yang membuatnya tidak nyaman adalah Alif—sebab pria itu akan terus membangunkannya dengan segala cara jika permintaannya tak dituruti. Oleh karenanya dia harus bolak-balik ke kamar sebelah untuk melakukan ibadah.
Mereka akan kembali bergabung ketika hari menjelang pagi. Terdengar merepotkan memang. Namun yang membingungkan, Dara sendiri tak kuasa menolak permintaannya, sehingga ia merasa dirinya juga sama-sama konyol.
“Makasih, Dar. Sudah mau membantu menjaga telur-telurku.”
“Izh, jahara,” jawab Dara terkekeh. "Anak sendiri dibilang telur. Memangnya kalian mama sama papa ayam."
Wanita ini terlihat sangat bahagia. Ternyata memiliki pasangan yang tepat adalah kunci rumah tangga adem-ayem.
“Lagi ngapain?” tanya Yudha. Parfum maskulin menyegarkan langsung menguar di sekitar ruangan begitu pria ini keluar dari kamar. Dia telah siap mengenakan pakaian joging lengkap dengan topinya.
“Mau buat roti selai buat kamu,” jawab Vita tersenyum menoleh. “Mau joging sama siapa?”
“Sama Alif,” jawab Yudha, dan tanpa sungkan, pria itu memeluk dan mencium istrinya di depan Dara. Membuat Dara lagi-lagi memalingkan muka kesal. Seperti tidak ada tempat lain saja pikirnya.
Namun tak berapa lama dia merasa harga dirinya terselamatkan, karena Alif datang di waktu yang tepat. “Aku tahu, kamu mau dicium juga.” pria itu mencium dengan serangan lebih ganas.
__ADS_1
“Oh ... my hulk, my love, oh my crocodile darat,” Dara meracau tak jelas.
“Itu sih, bukan ciuman sayang. Tapi kamu memang lagi naf su, Lif,” Yudha menyahut.
“Aku pakai dua-duanya.”
Untung semua anak-anak di bawah umur masih tidur sehingga mereka tak sampai melihat. Kecuali orang-orang rumah yang memang sedang berkeliaran mengerjakan pekerjaannya.
“Kami juga bisa,” sahut suara di depan pintu kamar.
Kedua pasang suami istri itu sontak menoleh ke sumber suara. Di sana mereka mendapati Abah mencium dan memeluk istrinya, sama seperti yang mereka lakukan.
Alif menoleh ke abangnya, “Anjir, Abah juga tidak mau kalah.”
“Bahaya, kita bisa punya adik lagi, Lif,” Yudha menimpali.
“Mana bisa, Umi alah menopause, alah, karumuik,” kata Abah kemudian.
“Ih, si Abah, maraguan Umi, ya!” sahut Umi Ros tak terima. “Sabaleh lai Umi masih sanggup kalau Abah mau.”
“Iya, tapi namuah buek apo kalau mau tambuah lai?”
“Dha, Lif, ini Abah kalian. Kan tadi beliau yang mulai menghina. Ya kan?” Umi Ros mencari pembelaan.
Kedua orang tua tersebut akhirnya saling adu mulut karena tak ada yang mau mengalah. Mereka memang sering berdebat seperti ini, tapi berdebat setengah bercanda, bukan berdebat jeder-jeder yang bisa mengagetkan banyak orang.
“Aku ingin masa tua kita tetap seperti itu nanti,” bisik Yudha di telinga istrinya yang kemudian diaminkan olah Vita.
“Selamat pagi pemirsa, kembali bersama saya Dara puspita, dan di sebelah kiri ini adalah suami saya, Alif noran,” ucap Dara mendadak menjadi presenter dalam acara live ini.
“Baik,” Alif menanggapi. “Kami akan membawakan sebuah acara perkelahian....”
Dara kembali menyambung, “Di acara Kabar-Kabur, untuk mengabarkan berita-berita teraktual, tajam dan tidak terpercaya, yang akan kami rangkum dalam acara Kabar-Kabur pagi ini.”
Vita dan Yudha berdecak, “Dasar eror,” ucap keduanya bersamaan.
***
Bersambung.
__ADS_1
Nikmati saja alurnya, ya. Nanti Rahma juga aku ceritain banyak kok, sampai selesai 😘 Sabar, ya. Kan baru permulaan.