TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Cemburu Dengan Ros


__ADS_3

 


18.


Naya membuang tes kehamilan yang baru saja dipakainya ke pembuangan sampah di belakang rumah. Lagi-lagi, wanita itu menelan segumpal kekecewaan. Selalu—saja seperti itu di penghujung bulannya. Menanti-nanti harapan yang kosong.


Batinnya sangat sakit dan cemburu setelah mendengar kakak madunya itu hamil lagi. Sementara dia—sekali pun belum pernah.


“Tidak mungkin Haikal yang bermasalah, karena Ros sudah akan mempunyai dua anak. Pastilah aku sendiri. Sebab aku sudah menikah dua kali—dan satu pun aku tak punya. Berarti benar apa kata Musfira. Aku ini memang mandul.”


Naya pun sesenggukan, “Aku bukan wanita yang sempurna. Seharusnya aku bersyukur karena masih ada laki-laki yang mau menerimaku segala kekurangannya... bukan malah terus mengeluh seperti ini. Maafkan aku yang tidak tahu diri ini, Ya Allah.”


“Sedang apa?” tanya Haikal yang baru saja masuk ke dapur. Sontak Naya langsung menghapus air matanya meski kecurigaan tetap tidak bisa dihindari.


“Apa aku menyakitimu?” tanya Haikal peka. Dia mengangkat wajahnya yang menunduk menghindari kontak mata.


Naya menggelengkan kepala, “Tidak. Kamu tidak pernah menyakitiku. Kalian begitu baik dan aku merasa beruntung memiliki keluarga seperti kalian,” elaknya begitu kentara.


“Lalu, apa yang membuatmu demikian?”


“Mungkin, aku hanya terluka dengan harapanku yang terlalu tinggi.”


“Apa yang kamu harapkan?” tanya Haikal memaksanya untuk jujur, “katakan, apa kesalahanku biar aku perbaiki.”


“Aku ingin punya anak, Kal... aku ingin punya anak,” lirih Naya setelah beberapa lama, tatapan matanya sangat sendu, “tetapi setiap bulan yang kutunggu selalu seperti ini hasilnya,” sambungnya lagi dengan genangan air mata yang membasahi pipi.


Haikal segera memeluk istrinya untuk berupaya menenangkan, “Nay, aku tidak pernah menuntutmu untuk bisa memberikanku seorang anak juga. Jadi, jalanilah semua apa adanya. Mungkin saja memang belum, dan Allah masih ingin kau lebih bersabar lagi.”


“Mana mungkin? Bahkan aku sudah hampir menopause. Usiaku sudah 37 tahun.”


Sedikitnya Naya mengetahui, di usia ini sudah sangat mengkhawatirkan bagi perempuan untuk bisa mengandung.

__ADS_1


“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini kalau Tuhan sudah berkehendak,” kata Haikal berusaha membesarkan hati istri keduanya. Meski ia telah diberi tahu oleh dokter, bahwa pengobatan yang selama ini dilakukan memang mengganggu alat reproduksi wanita ini.


“Kenapa kamu menikahi perempuan yang banyak kurangnya ini, Kal? Kenapa tidak kau ceraikan saja aku agar aku tidak merasa tertekan.”


“Mungkin sudah jalan hidupku seperti ini. Secuil pun aku tak pernah berniat untuk menceraikan salah satu dari kalian, kecuali kematian.”


Naya memandangnya penuh arti, kata-kata Haikal barusan, yang entah kenapa terus terlintas dalam benaknya. Seharusnya aku memang sudah mati, jadi aku tak mengganggu kebahagiaan kalian.


Beberapa menit berlalu, setelah Naya tenang, Haikal membawanya untuk bertemu dengan Ros. Pria itu mengira bahwa Naya hanya kesepian saja sehingga cara berbicaranya sedikit melantur.


“Kenapa kau bawa aku ke sini?” protes Naya begitu mereka sampai di depan rumah mertuanya. Wanita itu tidak terlalu menyukai tempat ini karena bisa membuat hatinya semakin cemburu. Namun sayangnya, suaminya kurang peka.


“Kita akan berbicara dengan Ros. Dia akhir-akhir ini sering mabuk, jadi Yudha bisa sering tinggal di tempatmu dulu supaya kau tidak terlalu kesepian.”


Naya menunduk dalam. Dia tak kuasa melawan meski pikiran suaminya sering bertolak belakang dengannya.


Dan seperti biasa, Ros adalah orang yang paling hangat menyambut kedatangan adik madunya tersebut.


“Uni?” serunya begitu wanita itu membuka pintu, “ayo, masuk, masuk.” Dia pun menoleh kepada suaminya yang tersenyum, “Bi?” panggilnya dengan sebutan demikian yang nanti akan berubah seiring berjalannya waktu.


“Ampun, Ya Rabb. Sakit pinggang nenek, cu. Kamu itu tidak mau diam.”


Melihat hal itu, Naya langsung berinisiatif menggapainya. “Biar dia denganku, Bun.”


“Ya, sudah, berhubung ada yang menggantikan, Nenek mandi dulu, ya,” ujar Dawiya menjawil hidung cucunya.


“Ros, ke depannya, nanti Yudha akan lebih sering bersama Naya. Apakah boleh?” pinta Haikal dengan hati-hati begitu Dawiya pergi. Namun tanpa mereka ketahui, ternyata Dawiya mendengarkannya dari kejauhan. “Naya sering kesepian, dia butuh teman.”


Setiap wanita mempunyai kepribadian yang berbeda-beda. Tidak seperti Ros, Naya memang tipe wanita yang cenderung terlalu memikirkan perasaannya. Jadi dia hanya terpaku di situ saja. Padahal sebenarnya, Naya bisa mengalihkan pikirannya dengan menyibukkan diri dan melakukan berbagai hal.


“Bolehlah. Uni Naya kan, Uminya juga. Jadi boleh sekali,” balas Ros sangat setuju. Sebab ia juga butuh banyak beristirahat. Dia sangat senang karena merasa di untungkan seperti ini. “Sekalian buat pancingan, Ni... siapa tahu, karena dekat sama anak-anak, jadi nular hamilnya.”

__ADS_1


“Oh, iya? Memangnya bisa?” tanya Naya sangat antusias.


“Katanya sih, begitu.”


“Mitos,” sahut Haikal.


“Eh, kalau tidak percaya ya, sudah. Terserah.” Ros mengedikkan bahunya, sebelum ia mengingat sesuatu, “Sebentar, aku ambilkan minum.”


“Ros, aku bisa mengambilnya sendiri,” cegah Naya.


“Tidak apa-apa, jangan sungkan.” Ros tak mengindahkan ucapannya. Dia menuju ke belakang dan kembali dengan membawakan nampan yang berisi minum dan beberapa suguhan kue.


Selama seharian Naya berada di sana, bahkan sampai memutuskan untuk menginap karena hari sudah terlanjur malam. Kebetulan, memang ada kamar yang kosong di lantai dua.


Awalnya, dia memang seperti terpaksa datang ke tempat ini. Tetapi setelah dijalani, ternyata berteman dengan Ros, cukup menyenangkan juga. Selain periang, Ros juga sangat menghargai dirinya. Pendengar yang sangat baik dan tidak pernah menyela ucapannya. Oleh karenanya, kesedihannya bisa sedikit terobati.


Namun, itu dirasakannya sebelum ia kembali mengalami sesuatu. Karena malamnya, dari atas sana, dia melihat keromantisan dan kehangatan sebuah keluarga kecil. Ros, Haikal dan anak mereka sedang bercanda dan tertawa di gelaran alas duduk.


Entah benar atau hanya perasaannya saja. Sebab menurut penglihatannya, hanya dengan Roslah, Haikal bisa tertawa lepas seperti itu.


Sungguh Naya cemburu melihat bagaimana Ros diperlakukan oleh Haikal yang terlihat selalu memaksa. Berkebalikan dengannya yang selalu memulai dulu, sementara Haikal hanya pasrah atau baru terpancing kemudian.


Naya menyadari satu kesalahan, “Seharusnya aku tidak boleh mengintip kemesraan mereka.”


Padahal, Haikal sudah berulang kali menasihati: seorang istri tidak boleh mengintip kebersamaan suaminya dengan istri lain, juga tidak boleh memamerkan kemesraannya dengan di depan istri yang lain untuk saling menjaga perasaan.


Tapi sebenarnya siapa yang salah di sini?


Naya, atau mereka berdua?


🌺🌺🌺

__ADS_1


Bersambung.


Insyaallah beberapa bab lagi selesai, kok. Sabar, ya. kalau cepat-cepat nanti ada yang kelewat.


__ADS_2