TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Plis, Mama, Kali Ini Aja ....


__ADS_3

Setelah membayar, Yudha mendapati ponselnya berbunyi pertanda panggilan masuk.


“Umi,” ucap Yudha bermaksud memberitahu Alif karena pria itu menatapnya penuh tanya.


“Ya, hallo, Mi.”


Terdengar suara riuh anak-anaknya dari seberang. “Umi sudah sampai di depan kantor ini, bareng sama Umar sama Mauza.”


“Kami juga sebentar lagi balik ke sana.”


“Memangnya kalian ada di mana?”


“Habis makan mie ayam di luar.”


“Ya sudah, Umi tunggu, ya. Ini anak-anakmu rewel banget, tanya-tanya mamanya terus, Uminya pusing, jadi disusulkan saja ke sini.”


“Iya, iya, masuk saja langsung ke ruangan Yudha, tapi tolong laptopku di singkirkan dulu. Takutnya di pencet-pencet sama mereka,” pesan Yudha sebelum akhirnya panggilan ditutup dan keduanya masuk ke dalam mobil.


Seharusnya Mauza dan Umar hari ini memang ikut dengannya seperti janjinya semalam, karena Vita hari ini menemani Rayyan di pergi outbound di sebuah tempat wisata tak jauh dari sekolahnya.


Namun tadi pagi, anak kembarnya itu masih tertidur lelap saat ia akan berangkat kerja, sehingga Umi Ros melarangnya untuk membangunkan mereka secara paksa. Alhasil, beliaulah yang meminta untuk menjaga mereka walau akhirnya disusulkan ke kantor juga karena rewel.


“Memangnya belum pulang istrimu?” tanya Alif.


“Belum,” jawab Yudha. “Kalau pun sebentar lagi pulang, aku akan menyuruhnya beristirahat dulu. Repot kalau langsung ketemu si kembar ini, rusuh dan bar-bar semua. Kasihan dia, kalau malam, selalu mengeluh capek.”


Alif terkekeh. “Menurut penilaianku, Mauza itu seperti mamanya persis, Bang. Lincahnya, keberaniannya, keras kepalanya juga sama. Kalau Umar dia sedikit lebih tenang, mungkin keturunan sepertimu.”


“Hanya sedikit, mereka lebih dominan mamanya,” kata Yudha menanggapi seraya terkekeh juga.


“Aku masih ingat yang dulu,” celetuk Alif bermaksud mengingatkan Yudha tentang masa lalu kelam Abangnya sehingga ia ikut terlibat.


“Yang mana?” jawab Yudha tetap fokus ke depan.     


“Almarhumah Ibu Nely.”


Yudha hanya tersenyum tanpa mau berkomentar banyak, “Doakan saja semoga tenang di sana.”


“Untung aku tidak punya ibu mertua sepertinya.”


“Jangan sampai. Semoga ibu mertuamu senantiasa baik, seperti yang kita kenal.”


“Hanya ayahnya saja, tapi sekarang ... ya, Abang tahu sendiri.”


“Stroke karena apa, Pak Hilman?” tanya Yudha akhirnya.


“Mengetahui menantu kesayangannya punya istri baru sebelum anaknya benar-benar di cerai. Padahal pada saat itu, Dara di ketahui pergi dari rumah Chandra selama sebulan.”


“Rumit.”


“Lelaki mesuum. Semuanya di embat.”

__ADS_1


“Semua lelaki memang begitu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, sebenarnya perempuanlah yang syahwatnya lebih besar daripada laki-laki, hanya saja, mereka diberikan rasa malu sebagai pengendali, sementara kita tidak.”


Jeda sebentar Yudha melanjutkan, “Coba kalau di dunia ini semua makhluk di sama ratakan, pasti di dunia ini bisa minim perselingkuhan. Tapi bukankah perbedaan yang diciptakan oleh Tuhan karena maksud dan tujuan tertentu?”


Alif hanya menyimak tatkala Yudha menjelaskan banyak hal tentang ajaran agama yang lebih banyak dia ketahui. Dalam hal kebaikan, kita memang tidak perlu melihat siapa yang menyampaikan, namun dengarkanlah apa yang di sampaikan, seperti itulah kiranya yang selalu Abah Haikal ajarkan kepada keduanya.


Beberapa menit kemudian setelah sampai, keduanya langsung menuju ke lantai tiga, di tempat Umi Ros dan cucu-cucunya berada.


“Assalamualaikum!” seru Yudha ketika pintu terbuka. Sontak kedua anak-anaknya itu langsung berteriak dan menubruk tubuhnya.


“Papaaa!”


“Aku mau sama Papa!” ucap Mauza mengulurkan tangannya meminta untuk di rengkuh lebih dulu.


“Ih, aku yang boleh, kamuna jangan. No no no!” ucap Umar saling berebut.


“Aku yang boleh, kamu jangan!”


“Aaaaa!” keduanya berteriak keras, membuat telinga berdenging.


“Iya, iya, ini Papa peluk semuanya anak-anak Papa.”


“Tobat, deh,” ujar Alif bergumam sendiri menatap uminya tersenyum melihat kedua cucunya. Duduk bergabung, Alif kemudian memeluk orang tuanya tersebut, “Alif sama Umi saja, deh.”


“Oh, iya, dong. Harus.” Umi tersenyum melihat betapa manjanya anak kedua ini yang beliau tahu banyak akal bulusnya.


“Jangan lupa, bikinin aku sup daging paporit,” bisik Alif membuat Umi Ros segera menjauhkan tubuhnya.


Alif terkekeh. Bukan tanpa alasan dia meminta uminya yang memasakkannya. Baginya, masakan Umi dan istrinya tetaplah berbeda meski dia tak pernah mengatakannya secara terang-terangan.


Untuk sesaat, mereka mengesampingkan semua masalah agar tidak merusak semua kebahagiaan yang sedang tercipta. Umi Ros, Abah, semuanya pun tahu, namun mereka juga memilih untuk tidak membahasnya dan lebih mempercayakan semua kepada anak-anaknya. Lantaran mereka yakin, Alif dan Yudha pasti bisa mengatasinya sendiri.


***


Sementara di tempat lain, Rayyan merasa begitu riang karena hari ini mamanya lebih banyak bersamanya daripada adik-adik.


Dan demi bisa lebih lama lagi dengan Mama, Rayyan pun mencoba mengulur-ulur waktu untuk mampir ke timezone dan playground untuk main di sana, tanpa ia tahu bahwa mamanya sudah begitu kelelahan karena terlalu banyak berjalan.


“Duh, Ya Allah, perutku kencang,” keluh Vita meringis sembari mengusap-usap perutnya. Terus terang ia ingin mengajak anaknya pergi sekarang juga, tapi tidak tega karena takut mematahkan hatinya lagi. Teringat tadi pagi Rayyan mengatakan, “Kaka mau pergi main sama Mama, hari ini aja ya, Ma. Tapi jangan sama adik-adik, plis ....”


Ting!


Bunyi ponsel berdering membuat dia segera mengalihkan pandangannya ke dalam tas untuk segera mengambilnya—yang ternyata adalah pesan masuk dari Dara.


Dara: Kalian ada di mana, woy!


Tetapi karena sedang malas mengetik, akhirnya Vita memutuskan untuk menggunakan panggilan telepon.


“Hei, kalian ada di mana?” ucap Dara begitu panggilan terhubung. “Rumahnya sepi kayak kuburan. Semuanya pergi kecuali suster sama emaknya.”


“Aku sekarang ada adi Junction menemani Rayyan main, Dar. Tadi pagi aku anterin anakku yang satu ini ke Jambore, ada kegiatan outbound. Terus pulangnya minta mampir ke sini.”

__ADS_1


“Lha terus Mauza sama Umar ke mana?”


“Kalau mereka berdua juga pergi, berarti lagi disusulkan ke kantor ketemu papanya. Aku belum sempat menghubungi mereka lagi.”


“Ah, aku jadi pengen nyusul ke kantor.”


“Susul saja kalau kamu mau. Hitung-hitung sambil main atau mau surprize Alif barang kali.”


“Atau kamu mau ke sana sekalian bareng aku?” Dara memberikan tawaran.


“Maaf, Dar. Aku lagi kram, kakinya juga sakit dibawa jalan, jadi setelah ini aku mau langsung pulang saja.”


“Ya Allah, Vita ... kenapa kamu diam-diam bae!” ujar Dara agak menyentak. “Lain kali jangan begini, Ta. Bahaya kalau ada apa-apa. Mana Cuma berdua.”


“Tidak apa-apa, Dar. Jangan khawatir, aku bisa jaga diri, lagi pula kami di antar sama sopir ke sininya.”


“Ta, plis, kamu itu selalu menggampangkan banyak soal. Memangnya sopirmu itu mengantarmu sampai ke dalam? Pastinya dia menunggu di mobil ‘kan? Sudah, aku susul kamu ke sana sekarang! Tetap tunggu di situ,” tegas Dara tak mau di bantah.


Panggilan langsung di tutup. Vita tersenyum bangga kepada adik perempuannya itu yang selalu sigap membantunya di dalam semua kesulitan. Bahkan dari dulu kala, sebelum Dara menjadi istri Alif.


“Mama! Aku mau main itu juga!” seru Rayyan menunjuk kereta mini yang berjalan memutari kedalaman Mall.


“Tapi habis ini kita pulang ya, Nak ...” ucap Vita dengan suara lembut agar anaknya pun demikian, seperti yang selalu dia ajarkan.


“Tapi Kaka masih mau main di sini,” jawab Rayyan menghiba.


“Iya, sebentar lagi, sebelum Onti Dara datang.”


“Tidak mau!” tolak Rayyan dengan keras. “Kakak mau di sini sampai besok!”


“Semua Mall itu tutup jam 10 malam, Sayang. Semua orang bakal pergi sebelum tutup. Memangnya Kaka mau tidur sendirian di sini?”


“Mama bohong!”


“Memangnya Mama suka bohong sama Kaka?”


“Plis, Mama ... Kaka mau pulang besok, Kaka mau pulang besok ...” mohon Rayyan setengah menangis.


“Kaka—ssshh ...” desis Vita merasakan kencang di sekitar perutnya. Membuat bocah itu jadi panik.


“Mama!” jerit Rayyan menarik perhatian semua orang yang melintas di dekatnya.


***


Bersambung.


Kita ketemu sama Rahma besok, ya.


Intinya seperti yang aku bilang sebelumnya, nggak usah tebak2an pelakor, aku sudah sering menulis & malang melintang di berbagai PF, dan yang banyak aku ketahui, konflik itu bukan Cuma masalah lakor aja🥰.


Sebelumnya aku juga nggak pernah bikin konflik poligami kejam kalau nggak karena lomba ehehe.

__ADS_1


Salam santun... semoga selalu bahagia di mana kalian berada.


__ADS_2