
Yudha pulang dalam keadaan yang bahagia tentunya. Tidak menyangka bahwa dia telah berhasil mencuri ciuman di pipi wanita itu.
Ah, hanya ciuman. Tetapi telah berhasil membuat sebagian jiwanya melayang. Rasanya seperti menemukan barang yang berharga yang pernah hilang—padahal hanya sebatas itu mereka melakukan kontak fisik. Bukan penyatuan tubuh seperti yang dulu pernah mereka lakukan.
Apa seperti ini, rasanya orang yang benar-benar sedang kembali jatuh cinta?
Vita memang sempat cemberut dan memukulinya. Namun bukan cemberut dalam arti kata marah besar. Pun dengan ocehannya barusan, dia terlihat tak sampai hati memarahinya.
“Ray, bantu Papa, Nak. Kamu harus bantu Papa supaya Mama mau balik sama Papa lagi,” gumamnya sambil menatap serius jalanan yang ditelusurinya.
Sekitar empat puluh menit, akhirnya dia sampai di depan rumah. Umi Ros menyambutnya dengan senyuman di depan pintu.
“Umi cemas sekali kamu tidak pulang-pulang. Mana besok mau pergi,” ucap Umi Ros begitu Yudha turun dari mobilnya. “Habis dari mana saja?”
“Biasa, Umi,” Yudha menjawab dengan senyum semringah. Keduanya masuk dengan berangkulan seperti yang biasa mereka lakukan.
Umi Ros memang hebat, beliau berhasil mendidik kedua putra mereka sehingga mereka sangat dekat dan sangat terbuka dengan kedua orang tuanya.
“Apa ada kabar baik?” tanya Umi Ros setelah melihat wajahnya. “Atau kalian sudah rujuk?” beliau tersenyum.
“Belum, Mi. Tapi sekarang sudah jauh lebih lunak dibandingkan sebelumnya.”
“Sepertinya perjuanganmu akan berat. Tapi jangan khawatir. Perempuan senang diperjuangkan. Maju saja terus. Tebalkan muka. Tidak apa-apa kalau kali ini kamu terlihat rendah. Nanti lama-kelamaan pasti dia akan luluh.”
Yudha mengangguk. Beban yang ada di pundaknya selama ini sudah mulai berkurang hingga badannya kembali terlihat berisi dan bersemangat.
“Makan dulu, habis ini nanti Umi bantu packing bajumu. Umi mau menitip doa, Bi Retno, terus Pak Satpam juga. Nanti dicatat ya, doanya biar tidak lupa.”
“Aku juga mau titip. Supaya lekas dapat jodoh,” sahut Alif yang sudah lebih dulu duduk di meja makan.
“Kalau sudah ada calonnya tinggal lamar saja, Lif,” kata Yudha setelah menarik kursi di samping Alif. Pun yang dilakukan Umi dan Abah juga di posisi paling ujung.
Alif sontak menjawab, “Masalahnya, aku masih kurang yakin sama dia.”
“Kenapa?” tanya Yudha lagi.
Alif mengedikkan bahu. Dia meragu dengan Andari. Gadis itu ... suka mengajaknya gila.
__ADS_1
“Abah jodohkan saja kamu sama anak teman Abah,” kata Abah menyahut.
Berbeda dari biasanya, suasana makan malam benar-benar terasa hangat malam ini meskipun masih ada yang kurang. Umi Ros melirik kursi yang kosong di samping Yudha. Tidak ada lagi satu pun menantunya di sana.
“Jangan main jodoh-jodohan, Abah. Nanti kalau ada apa-apa orang tua yang disalahkan. Biar di memilih sendiri sesuai dengan keyakinannya,” kata Umi kemudian.
“Tapi memilih sendiri juga belum tentu benar,” kata Abah sambil melihat ke arah ke putra keduanya. “Lihat saja tampangnya. Bukan perempuannya yang tidak meyakinkan, tapi wajah anak kita.”
Umi dan Yudha sontak tergelak hingga hampir tersedak.
“Mukamu ini muka laki-laki berandal,” kata Abah lagi membuat raut wajah Alif menjadi kian masam.
Bagaimana tidak meyakinkan?
Rambutnya gondrong, berjanggut, dan penampilannya sangat awut-awutan. Dia sangat suka sekali memakai celana jeans robek dan kaos oblong yang agak kumal. Sungguh sangat berbeda sekali dengan Abangnya yang selalu berpakaian rapi dan juga wangi setiap saat.
Umi berkomentar, “Cobalah kau cukur rambutmu itu, Lif. Sudah berapa lama penampilanmu begitu. Jelek dilihat. Kamu itu keturunan Abah Al Fatir kok kaya keturunan Fir’aun.”
“Ya Allah teganya,” gumamnya pelan.
“Kamu itu ganteng, kalau kamu mau merawat diri,” lanjut Umi Ros lagi.
‘Berantakan seperti ini saja sudah banyak yang mengejar-ngejar, apalagi kalau berubah penampilan. Tidak tahu saja Umi ini,’ batinnya menggerutu namun penuh percaya diri.
“Cantik apa tidak, Bah?” tanya Alif, kemudian menambahkan, “Maunya yang seperti Vita. Cantik, muda, mandiri, tidak manja, poko—” belum sempat selesai bicara, tatakan piring langsung melayang. Yudha yang melemparnya sehingga kedua laki-laki dewasa itu saling tabok.
“Aaahhaaaaa cemburu dia!” Adiknya itu benar-benar suka sekali mengejek hingga Yudha semakin murka.
***
Perjalanan sudah mulai dilakukan. Kini Yudha dan Abah Haikal sudah tiba di bandara Jeddah setelah mengudara selama kurang lebih sepuluh jam.
Tugas Yudha di sini adalah untuk mendampingi Abah Haikal sebagai muthawif dalam menjamu para jamaah. Bekerja sama dengan tour guide, untuk menciptakan suasana agar lebih menyenangkan dan lelah sedikit tersamarkan.
Sesekali ia juga menggantikan mengisi tausiyah jika memang beliau sedang kelelahan. Mungkin karena di usianya yang sudah tidak muda lagi—maka tak jarang Abah mengeluh sakit pada kakinya yang sudah mengalami pengapuran.
Umrah plus memakan waktu tiga belas hari, tergantung paket perjalanan tambahan yang diinginkan, misal ke Turki, Dubai, atau ke Al Aqsa.
Yudha sangat menikmati ibadah ini. Merupakan suatu kesempatan emas untuk lebih mendekatkan diri lagi kepada Sang Pencipta. Ia akui betapa jauh jarak antara dirinya dan Tuhan selama ini sehingga kehidupannya sangatlah berantakan. Seandainya dia melibatkan Tuhan di dalam setiap permasalahannya, pasti catatan hidupnya tidaklah demikian.
__ADS_1
Selalu ada hikmah di balik setiap kejadian. Karena sesuatu yang telah Tuhan berikan kepada hambanya tidak akan pernah sia-sia. Semuanya pasti mengandung hikmah yang luar biasa, namun kita saja yang tidak bisa secara cepat untuk memahaminya.
Sejenak Yudha mengingat kejadian besar yang hampir saja menghilangkan nyawanya pada saat itu. Seandainya kejadian itu tidak pernah ada, pasti dia masih berada dalam belenggu Rahma dan juga keluarganya—dan yang pasti dia akan semakin sulit untuk mendapatkan Vita dan putranya lagi.
***
Dua minggu kemudian.
Vita sudah berada di kampung halamannya beberapa hari ini. Rumah sudah bersih manakala dia datang. Karena sehari sebelumnya, dia telah meminta tolong kepada sepupunya untuk membersihkan rumah. Mereka juga sempat bertemu kemarin, sekadar menanyakan kabar dan melihat bayinya saja. Ya, begitulah. Mereka memang tidak terlalu dekat!
Pagi ini sangat dingin. Rayyan masih terlelap di kamarnya setelah semalam sempat begadang. Jam tidur bayi itu memang masih belum teratur. Vita masih saja kesulitan kalau untuk masalah yang satu ini.
Vita tersenyum membuka jendela samping rumah. Udara segar masuk menyambutnya.
Di depannya adalah halaman agak luas yang ditumbuhi rumput liar yang sudah lama tidak terawat. Pohon salak juga masih banyak bertebaran di sekitar sini, karena daerah ini memang penghasil salak pondoh terbesar di Jawa tengah.
Sedangkan di sebelah kiri, tepatnya di belakang rumah, adalah ladang luas terbentang dan sungai yang jernih. Lebih tepatnya sungai yang dulu pernah ia singgahi bersama Yudha. Di sanalah mereka pertama kali melakukan kontak fisik hingga kemudian dia jatuh cinta.
Mata itu terpejam agar bisa mengingat dengan jelas detail cerita perjalanan cinta ini. Sekuat apa pun ia berusaha melupakan semua yang terjadi, namun tetap tidak bisa. Vita bukan orang yang mudah melupakan.
Entah berapa lama dia terpejam. Matanya mengalir tetes demi tetes air mata. Wanita itu bersedih karena merasakan kehampaan luar biasa. Dia sangat merindukannya saat ini. Bayang-bayang saat mereka bersama selalu saja menghantuinya tanpa henti.
Sanggupkah? Sanggupkah dia bercerai dengan laki-laki itu?
Lalu bagaimana dengan nasib putranya, Rayyan? Apa yang hendak ia katakan padanya ketika anak itu dewasa nanti--jika mereka benar-benar memutuskan tali pernikahan?
Namun sepuluh menit telah berlalu, dia tersentak tatkala merasa tangan kekar melingkari pinggangnya. Vita sontak menoleh dan membalikkan tubuhnya.
Antara sadar dan tidak sadar dan tanpa dapat menahan diri, tangan itu menangkup wajah tampan pria di depannya. “Apa aku sedang berhalusinasi?”
Dia menggeleng, “Tidak, ini memang aku. Aku datang semenjak tadi. Tapi sepertinya kamu sedang melamun sampai tidak mendengar apa pun.”
Vita masih terdiam dalam keterkejutannya. Matanya justru berkaca-kaca. Hingga beberapa menit kemudian, Vita memejamkan mata pada saat Yudha mengecup keningnya lembut.
“Setelah aku pergi selama beberapa waktu, apa kamu tetap ingin meminta bercerai dariku?” tanya Yudha dengan suara lembut dan merdu.
“Tidakkah kamu rindu mengulang masa-masa ini?” katanya kembali mencondongkan wajah untuk mengecup bibirnya. Membuat tubuhnya menggigil seketika.
***
__ADS_1
To be continued.
Likenya jangan lupa.