
Bab 11.
“Cukup lama juga kalian menunda, ya,” kata Pak RT disela-sela pembicaraan, “patut di acungi jempol. Biasanya bangsa muda-mudi seperti kalian, masih banyak yang coba-coba. Baru beberapa hari saja kalau tidak cocok ya, tidak akan berlanjut hubungannya. Pun sebaliknya, kalau cocok ya, langsung menikah.”
“Itulah yang dinamakan jodoh, Pak,” balas Haikal menanggapi ucapan beliau.
“Di pesantren mana kau belajar?” tanyanya lagi.
“Pesantren An Nur. Tadinya di Pesok, tapi Bundo kurang setuju karena terlalu jauh dari mereka. Agak susah kalau sewaktu-waktu mereka mau berkunjung.”
“Jadi orang tuamu memang sudah benar-benar menetap di kota, ya?”
“Iya, usaha mereka memang di sana. Di Pesok pun sudah tidak ada rumah lagi, jadi mau pulang ke mana juga bingung. Mungkin sesekali kami mengunjungi sepupu, itu pun tidak sampai menginap. Hanya mampir sebentar saja.”
Pak RT menganggukkan kepalanya. Hanya beberapa orang tamu yang tersisa di sana, yakni bapak-bapak tua yang memang gemar berkumpul seperti ini. Menikmati asap dan ngobrol sambil minum kopi yang berkali-kali itu juga dituang air panas dan gula lagi. Sungguh terlalu!
Sementara itu, Ros pamit undur diri dan beranjak dari tempat duduknya. Haikal mengawasi saja ke mana perempuan itu pergi, yang ternyata masuk ke dalam kamar pengantin mereka. Pikirannya sudah mulai membayangkan yang tidak-tidak tentang apa yang akan terjadi malam nanti. Oh My God!
Sesungguhnya, dia ingin sekali untuk sekadar mendekap wanita itu setelah lama berpisah. Tetapi sayang, dia masih belum bisa melakukannya karena banyak sekali iklan yang berseliweran.
“Memangnya sekarang kesibukanmu apa, Ustaz?” lagi, seorang laki-laki setengah baya bertanya. Dan yang membuatnya heran, mereka masih saja memanggilnya dengan sebutan demikian. Terang saja dia sangat keberatan, namun tidak bisa menyuarakannya.
“Untuk sementara ini hanya membantu orang tua saya, Pak. Tapi ke depannya, saya sudah mempunyai pandangan, kebetulan, kemarin ada yang menawarkan saya jadi Mutawwif,” jawab Haikal tak lama berselang.
“Wah, sering ditinggal dong nanti istrinya,” timpal Pak RT membuat semua orang kemudian tertawa.
“Tidak sepanjang hari juga, Pak. Insyaallah banyak di rumah.”
“Iyalah, kasihan. Masih pengantin baru, lagi. Nanti perginya kalau sudah agak bosan.”
“Tapi kalau untuk yang satu itu sepertinya tidak ada bosan-bosannya, Pak. Orang saya yang tua-tua juga masih sering,” timpal yang lain malah buat bercandaan. Beruntung tidak ada anak-anak di sana.
Beberapa menit berlalu. Tamu-tamu menjengkelkan itu sudah mulai pergi meninggalkan rumah Arok dan tempat pun mulai dibereskan oleh orang-orang yang memang ditugaskan untuk membantu mereka. Pun dengan Haikal, dia juga turut membantu menggabungkan lagi kursi plastik yang nantinya akan dikembalikan kepada orang yang menyewakannya.
“Sudah, biar kami saja, Ustaz. Masa pengantin yang repot. Pengantin itu duduk manis, hehe...” celetuk salah satu emak-emak dan sontak disahuti juga oleh ibu mertua.
“Biar saja, Nak. Kamu makan dulu, gih. Semenjak datang, Bunda belum melihat kamu makan. Sebentar, Bunda panggilkan Ros,” wanita itu kemudian mengetuk pintu kamar untuk memanggil putrinya, “ealah, itu suamimu diambilkan makan dulu, malah duduk santai di sini.”
“Aku lupa sudah punya suami,” kekeh Ros menatap bundanya.
__ADS_1
“Masa baru akad tadi sudah lupa? Sudah sana! Suaminya di ajak ngobrol atau apa, jangan malah sibuk sendirian.”
“Ros, malu, Bun.”
Bunda tersenyum, “Nanti lama-kelamaan juga biasa....”
“Iya.”
Tak berapa lama, Ros keluar dan mengajak suaminya makan di dalam rumah.
“Kita makan di sini saja,” ujarnya begitu mereka duduk berhadapan. Sangat kentara bahwa gadis itu begitu canggung saat berbicara dengannya. Berbeda kalau mereka berkirim pesan.
“Sudah, cukup,” kata Haikal menghentikan Ros yang tengah mengambilkan nasi. “Duduklah, aku bisa mengambilnya sendiri.”
Seperti disengaja, selama mereka melakukan makan siang yang terlambat, tidak ada tanda-tanda orang yang lewat di sana. Ada pun beberapa orang yang membereskan perabotan, tetapi mereka lebih memilih melewati jalan samping rumah demi tidak mengganggu pasangan pengantin yang sedang berduaan ini.
“Ramai sekali, dari kapan mereka mulai bekerja?” tanya Haikal memecah kesunyian.
“Sudah dari kemarin, Ustaz. Makanya banyak yang sampai teler.”
“Kan, aku sudah bilang jangan panggil Ustaz lagi,” protes Haikal.
“Kapan kita pindah ke kota?” tanya pria itu seraya mengambil lauk yang lain.
“Terserah kamu saja.”
“Kalau minggu depan memangnya boleh?”
“Bilang saja sama Ayah, sama Bunda,” jawab Ros pasrah. Surga pertama dirinya sekarang adalah suami yang harus dia ikuti ke mana pun pergi.
“Ya sudah, nanti aku bicarakan dengan mereka,” kata Haikal kembali melanjutkan makannya.
Setelah itu, Haikal membersihkan diri dan menuju ke musala untuk menunaikan salat Maghrib karena waktunya telah tiba.
Waktu tiga tahun mengubah banyak sekali hal di daerah ini. Jalan sudah semakin lebar dan halus, rumah-rumah sudah semakin modern, demikian dengan kendaraan yang juga sudah banyak yang memiliki.
“Alhamdulillah dapat orang sini, ya, Ustaz. Jodoh memang misteri. Niat memberi kajian, malah dikasih jodoh,” salah seorang mengajaknya berbicara usai melakukan salat.
“Alhamdulillah, saya juga sama sekali tidak menyangka.”
__ADS_1
“Ke depannya mau tinggal di sini atau di kota?”
“Kami akan tinggal di kota, Pak. Kebetulan usaha saya di sana.”
“Bapak doakan semoga sukses.”
“Aamiin... aamiin....”
Menjelang isya, Haikal kembali mengambil air wudhu. Seperti pemuda yang lain, dia juga terlebih dahulu berkumpul dan bersenda gurau dengan mereka sampai malam menjelang. Barulah setelah itu, dia pulang dalam keadaan campur aduk. Tak ada bedanya siang tadi dengan malam ini membayangkan apa yang nanti akan terjadi.
‘Bisa besok ‘kan?’ batinnya berharap. Dia ingin membuat dirinya lebih tenang dulu karena masih terasa gugup. Tetapi masalahnya apakah bisa?
Tidur dengan seorang wanita yang dia cintai dalam satu ranjang. Wew!
Suasana sudah sepi waktu itu. Seperti yang Ros bilang, semua keluarga sedang tepar karena sudah terlalu lelah dari kemarin pagi untuk menyiapkan acara.
Tiba di depan pintu kamar, dia mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Tak langsung masuk karena tak ingin Ros kaget dengan kedatangannya. Sebab dia tidak tahu apakah Ros sudah dalam keadaan siap?
“Masuk saja, tidak dikunci,” sahutnya dari dalam membuat tubuhnya semakin merinding.
Perlahan, dia pun mendorong pintu dan masuk ke dalamnya. “Assalamualaikum, istriku....”
Dan di sana, perempuan paling cantik dengan senyuman paling manis pun menyambutnya, “Waalaikumsalam, Pak suami.” Ros mengulurkan tangannya untuk bersalaman, dan dibalas dengan kecupan di kening yang dalam dan penuh cinta.
“Kangen,” ujar Haikal kemudian memeluk Ros dengan sangat erat. “Sudah berapa lama kita tak bertemu?”
“Baru kemarin.”
“Tapi kemarin belum bisa pegang-pegang.”
“....” Ros mencubit kecil perutnya sehingga pria itu pura-pura mengaduh.
Keduanya tersenyum dan mendekatkan wajah untuk menyatukan keningnya, hingga tak berapa lama, muncul naluri yang membumbung dan mendesak keduanya untuk berbuat lebih. Turun ke bawah dan saling menyatukan bibir.
“Cantiknya istriku. Sudah siap rupanya,” kekeh Haikal melihat istrinya telah memakai pakaian yang tipis.
“Spesial untukmu,” balas Ros masih dalam pelukannya.
Tadinya, Haikal berniat untuk menunda kegiatan ini karena merasa dirinya belum siap. Mungkin bisa ditunda sampai besok atau lusa, pikirnya. Namun suara lembut Ros serta pakaian yang dikenakan, telah meruntuhkan imannya. Menggodanya untuk membawanya ke atas ranjang. Melakukan ibadah pertama mereka.
__ADS_1
Bersambung.