
22.
“Bi?” sapa ros begitu suaminya tiba di rumah pada pagi harinya, “kamu pulang? Mana Uni? Sudah ketemu?” cecarnya dengan sederet pertanyaan.
“Naya sudah ada di rumahnya.”
“Alhamdulillah,” kata Ros merasa lega. Akhirnya pencarian mereka selama ini berhasil.
“Ba’a kabar Naya, Kal?” tanya Kauman dan Dawiya bersamaan.
Saat di tanya demikian, tiba-tiba saja Haikal langsung terdiam selama beberapa lama.
“Kenapalah suamimu ini, Ros?” tanya Dawiya heran, “ditanya malah diam saja. Kesambet? Kalau lapar makanlah dulu. Pakai paru, atau babat? Bundo baru saja selesai masak.”
Ros dan Kauman tertawa bersamaan, ada-ada saja. Anaknya sedang pilu seperti itu malah diduga kelaparan. Kebangetan.
“Aku sudah makan tadi di sana,” jawab Haikal akhirnya. Dia pun mendekati istrinya untuk mengajaknya berbicara empat mata.
“Ada apa, sih?” tanya Ros sangat ingin tahu begitu mereka ada di dalam kamar.
“Naya memintaku untuk tidur di sana selama beberapa hari.”
“Ya, kalau dia memerlukanmu silakan saja. Tidak mungkin aku melarangnya,” jawab Ros sedikit kecewa. “Ada apa sebetulnya? Keadaan Uni baik-baik saja, kan?”
“Keadaannya sangat mengkhawatirkan.”
“Hah?” kejut Ros dengan mata yang sedikit dibelalakkan, “kenapa tidak dilarikan ke rumah sakit saja supaya cepat mendapat penanganan?”
“Sudah kubujuk, tapi tetap tidak mau.”
“Ya Allah, nanti bisa bahaya, loh, Bi....”
“Kau tahu betapa keras kepalanya dia.”
Ros terdiam membenarkan perkataan suaminya. Kerasnya perjalanan hidup Naya membuat hatinya juga ikut mengeras. Sedikitnya ia tahu, Naya ingin mempunyai kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya, namun di saat dia sudah memiliki suami yang diinginkan, dia malah harus berbagi. Hati wanita mana yang tidak terluka?
“Nanti kau bisa menyusul ke sana, jangan lupa bawa anak-anak.”
“Aku takut...” desis Ros memikirkan segala kemungkinan terburuknya, “Bundo sama Ayah juga?”
Haikal mengiyakan, “Ini termasuk permintaannya juga. Tidak perlu takut.”
“Baiklah, kami segera bersiap-siap.”
🌺🌺🌺
__ADS_1
Tidak seperti beberapa waktu lalu, kali ini ... Dawiya dan Kauman bersikap lebih baik setelah Naya kembali. Demikian karena sudah mendapat peringatan dari putranya agar tetap berbuat baik kepada Naya, bagaimana pun keadaan serta kekurangannya.
“Aku harap kau bisa bersikap lebih dewasa setelah ini. Kalau ada masalah, lebih baik kau ceritakan dan selesaikan baik-baik. Jangan main kabur-kaburan lagi, kasihan anak dan menantuku, mereka kelelahan karena terus mencarimu,” kata Dawiya ketika wanita itu masuk ke dalam kamar menantunya.
“Maafin Naya, Bun. Maafin Naya...” lirih Naya saat mereka saling memeluk satu sama lain.
“Apalagi kami sebagai orang tua, pasti kesalahanku denganmu lebih banyak.”
Kauman ikut menyahut, “Damailah dengan hatimu, menantuku. Kadang dalam hidup ini memang ada hal-hal yang tidak bisa sejalan dengan apa yang kita inginkan. Karena aku pun begitu. Jadi tidak ada gunanya menentang semua keadaan karena hanya akan menyakitkan, buang-buang energi dan waktu saja. Lebih baik gunakan waktu kita untuk hal yang lebih bermanfaat,” papar beliau sambil tersenyum, “kau kami terima baik sebagai seorang menantu di sini, walau kami tahu, awalnya kau adalah sebuah amanat.
"Harus kau tahu, orang tua seperti kami memang mengesalkan, banyak omongnya. Tidak denganmu saja, dengan Ros juga kami keras. Tapi anehnya, kuping dia ternyata sangat tebal. Padahal dia di ceramahi dan disalahkan setiap hari oleh istriku. Aku baru tahu bahwa ada menantu sebebal dia di saat aku sendiri pun, suaminya, kadang muak dengan istriku sendiri.”
Dawiya tersenyum mengingat semua kecerewetannya lantaran merasa tersindir. Berani-beraninya dia ngomong di depan. Awas saja nanti kalau pulang, kuhabisi kau!
“Tapi seperti inilah kami. Hanya cover nya saja terlihat kasar. Dalamnya sebenarnya kami cukup perasa. Kami harap kau tidak menilai kami terlalu buruk. Bukannya kami sedang mengungkit-ungkit, tapi aku hanya ingin lebih membuka pikiranmu, menantuku. Haikal tidak sekaya dan sejaya yang kau kira. Usahanya masih merintis. Apa yang dia miliki sekarang—tidak jauh dari bantuan orang tua. Ada saatnya dia terjatuh, dan apabila ada yang kurang, kami yang akan memenuhinya.”
Naya terisak. Berarti termasuk dengan pengobatanku juga, kah?
“Sudah, jangan menangis. Tenangkan pikiranmu. Katakan pada dirimu sendiri, kamu bisa sembuh.”
Naya kembali mengucapkan permintaan maafnya. Rasanya ia begitu malu di depan kedua mertuanya yang ternyata begitu baik meski tak pernah mengatakannya secara terang-terangan. Apa selama ini dia salah sangka? Oh, Ya Tuhan....
Setelah kedua orang tua itu keluar, Ros memasuki kamar Naya dengan membawa serta kedua anaknya. Bertujuan untuk mengenalkan kedua anaknya karena yang besar sudah mulai mengerti.
“Waalaikumsalam,” jawab Naya dengan lirih. Matanya lagi-lagi mengembun, apalagi saat melihat kedua bayi-bayi kecil mendekatinya.
“Salim sama Umi Naya, Sayang,” Ros memberikannya pengertian kepada anak pertamanya. Sedang yang kecil, masih tertidur nyenyak.
“Uminya Abang ada dua?” tanya Yudha menunjukkan dua jarinya.
“Iya, Umi Abang ada dua.”
“Dia sudah lahir, Ros?” Naya menunjuk bayi kedua yang ada di dalam gendongan Ros, “saat aku pergi, dia masih ada di dalam perutmu.”
“Ya, dia sudah lahir. Sehat.”
“Siapa namanya?” Naya bertanya.
“Abinya memberi nama dia Alif Noran.”
“Alif?” ulang Naya tersenyum, “nama yang bagus.” Wanita itu menerima Alif sewaktu Ros mempersilakan untuk mengambilnya. “Mereka anakku juga.”
“Iya, Ni. Mereka akan memanggilmu dengan sebutan yang sama sepertiku.”
“Sampaikan kepada mereka kalau sudah besar, aku menyayanginya, Ros.”
__ADS_1
Ros mengangguk. Hari itu adalah hari pertama dan terakhir Naya menggendong Alif dalam hidupnya.
🌺🌺🌺
Dua hari berlalu, keadaan Naya terlihat semakin membaik. Haikal sempat senang karena Naya juga sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasa dan bisa makan apa saja yang disenanginya. Pria itu terlena oleh kesehatannya sehingga ia bisa kembali pulang ke rumahnya sendiri untuk menemui istri pertama dan kedua anaknya.
Tetapi sampai tiba giliran Haikal ulang ke sana, dia kejutkan oleh keadaan Naya yang kembali melemah. Wanita itu mengatakan bahwa dia mengalami sesak napas.
“Kita ke rumah sakit sekarang, ya,” kata Haikal memangku kepalanya setelah mereka melakukan salat malam.
“Jangan,” tolak Naya disertai gelengan kepala. “Biarkan aku tetap di sini.”
“Kenapa kau selalu menolak kalau kubawa ke rumah sakit? Kalau terjadi apa-apa denganmu nanti bagaimana?” terlalu panik dan khawatir membuat pria itu sampai mengeluarkan keringat dingin.
Naya mengalihkan pembicaraan, “Tolong katakan sekali lagi kau mencintaiku, Kal....”
“Aku mencintaimu, Naya. Ketahuilah, aku juga melihatmu, kau ada di sini.” Haikal meminta Naya untuk menatap matanya.
“Cintai aku dalam setiap napasmu, seperti kau mencintai Ros juga.”
“Aku akan selalu begitu, kalian adalah bagian dari hidupku yang tidak akan pernah kutinggalkan.”
“Peluk aku sekali lagi...” rintih Naya dengan buliran air mata. Saat Haikal sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memeluk, terasa napas itu sudah semakin putus-putus.
“Tugasmu sudah selesai, Kal. Terima kasih sudah membimbingku sampai detik ini. Karena kamulah aku bisa menjadi lebih baik dan tahu caranya untuk kembali. Aku mencintaimu, Kal... aku bangga bisa menjadi istrimu. Kamu adalah suami terbaik yang pernah aku miliki.”
“Tolong, jangan tinggalkan aku. Aku ingin bersamamu lebih lama lagi,” tubuh Haikal bergetar diiringi isak tangis. Baru sekali ini dalam hidupnya, di umur 28 tahun, ia merasakan tangis sesak yang tertahankan.
“Uhuk, uhuk!” Naya tersedak. Dari wajahnya, dia tampak begitu menderita dalam kepayahan. Kini tubuhnya semakin melemah. Dan pada saat Haikal melepaskan pelukan, wanita itu menatap kosong. Sekosong jiwanya yang telah pergi.
Sakit tak tertahankan membuat pria itu pun berteriak sekeras mungkin. Sama sekali tak menyangka, bahwa dia telah menjadi saksi atas kepergian seseorang yang meregang nyawa di pangkuannya.
Haikal meletakkan kepala istrinya di sajadah. Dia ke ruang tengah guna melebarkan tikar, lalu kembali ke kamar untuk mengangkat tubuh istrinya dan ia rebahkan di sana.
“Pergilah dengan tenang, dosamu telah banyak yang gugur karena sakitmu,” bisiknya setelah mencium kening istrinya, “kelak, kita akan dipersatukan di tempat yang sama.”
Haikal terlena dengan kesehatan Naya selama beberapa hari belakangan ini sehingga dia terlalu bahagia. Tanpa dia tahu, bahwa semua itu hanyalah sebuah tipuan.
🌺🌺🌺
Bersambung.
Nulis beginian sampai hidung mampet.
Tar malem gak nulis, ya. Suami ai lagi kurang sehat.
__ADS_1