TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Apa Yang Akan Terjadi?


__ADS_3

Yudha menggeram kesal manakala mendengar kabar mengejutkan dari Jakarta. Terdengar sampai di telinganya bahwa mertuanya baru saja menuntutnya satu miliar.


Tidakkah mereka ingat bahwa Rahma pernah hampir merenggut nyawanya? Bahkan dengan berbaik hati mereka melepaskan Rahma dari bui tanpa embel-embel apa pun. Hanya satu hal yang Yudha minta, jangan pernah ganggu dia lagi. Itu saja sudah cukup. Namun itu tidak menjadi baik untuk mereka karena pada akhirnya, mereka tetap bersikap pongah dan tidak tahu diri.


Detik itu juga, Yudha langsung menghubungi Rahma untuk mempertanyakan kebenaran ini. Sungguh keterlaluan!


“Apa maksudnya ini, Rahma?” ucap Yudha begitu telepon tersambung.


“Maaf, Kak. Aku juga tidak tahu apa yang kamu maksudkan,” jawab suara dari seberang yang ternyata juga sama-sama tidak tahu apa-apa.


“Ibumu menuntut saya satu miliar. Ibumu ini benar-benar tidak waras!”


“Iya, kemarin ibu memang ke rumah Umi, beliau ingin menuntut apa yang akan menjadi hakku. Aku sama sekali kalau yang diminta sama beliau sebanyak itu,” jawab Rahma terdengar tidak enak hati. “Ya sudah, begini saja. Atas nama Ibu aku minta maaf ....”


'Segampang itu dia meminta maaf, setelah apa yang mereka lakukan. Mereka telah menyinggung perasaanku! Ya Allah betapa bebalnya keluarga keledai betina ini.'


“Untuk ke depannya, tolong tahan ibumu untuk tidak datang ke rumah. Jika sewaktu-waktu kamu atau beliau mempunyai urusan dengan saya, silakan temui saya. Kalau saya tidak ada, tolong tunggu sampai saya pulang,” tegas Yudha dengan nada kesal.


“Baiklah, nanti saya usahakan. Maafkan ibu saya, Kak.”


“Sampaikan ke beliau, SABAR. Saya pun memikirkannya. Seharusnya kamu jelaskan apa yang saya sampaikan kemarin di luar pengadi—”


Panggilan terputus dengan tidak menyenangkan. “Kenapa juga jadi dia yang marah?!”


Vita yang mendengar itu lantas mengernyit. Kepada siapa Yudha berbicara? Kenapa sampai segitunya? Namun Vita tak berani bertanya.


“Baru saja mandi, sekarang sudah basah lagi bawahnya,” gumam Vita pada Rayyan yang baru saja mengeluarkan seni. Gegas ia menggantikannya kembali karena bayi itu sudah berteriak-teriak, mungkin merasa tidak nyaman.


“Mau aku bantu?” tawar Yudha mendekat. Berusaha menampilkan wajah senormal mungkin. Ini masalahnya, Vita tak perlu tahu karena dia tak ingin membebaninya.


Vita menoleh, “Boleh, memangnya bisa?”


“Belajar.”


“Ya sudah, ini baju gantinya. Ini tisu basahnya,” kata Vita mendekatkan semua peralatan.


“Gimana caranya?” Yudha meringis. Dia masih terlalu takut memegang kaki kecil yang kulitnya masih keriput tersebut.

__ADS_1


“Angkat dua kakinya sama tanganmu, Mas. Lalu satu tanganmu lagi untuk mengambil kain di bawahnya.”


“Oke.”


Vita memperhatikan gerak pria itu untuk mengangkat tubuh anaknya. Terlihat sangat berhati-hati sekali. Bahkan saking ketakutannya, dia sampai mengeluarkan keringat dingin di sekitar pelipis.


“Sudah ... terus?” tanya Yudha ketika kain basah itu sudah disingkirkan dari tubuh anaknya. Dia yang tidak tahan sampai menutup hidungnya berkali-kali.


“Tinggal bersihkan badannya pakai tisu basah, terus kasih krim yang ini untuk selang kangannya, terus pakai bedak. Terakhir, ulangi lagi seperti tadi, angkat dua kakinya sama satu tanganmu, terus satu tanganmu lagi untuk menaruh celana pendek baru di bawahnya.”


“Ya, ya. Aku bisa.” Menjawab dengan yakin.


Vita tersenyum geli melihatnya. Yudha tampak bekerja keras sekali untuk bisa melakukan semua itu.


“Sudah,” katanya sambil tersenyum girang.


Terhitung dua malam Yudha tidur di sini. Mereka tidur satu kamar, karena kamar yang lain masih agak kotor lantaran belum sempat dibersihkan. Kedua orang dewasa itu mengapit si kecil yang selalu tidur di tengah-tengah.


Tak jarang, jika malam menangis, mereka juga bekerja sama untuk saling membantu. Yudha pun merasa tidurnya benar-benar berkurang ketika berada di sini. Maka dari itu, kadang siangnya ia gunakan untuk tidur selama beberapa lama.


Seperti kelakuan orang-orang pada umumnya, mereka pun mendadak menjadi mesin kalkulator. Menghitung dari mereka menikah hingga berapa hari umur si bayi tersebut. Namun setelah dipikirkan cukup lama—akhirnya mereka pun menyadari, bahwa semua tuduhan mereka dulu adalah tidak benar. Karena umur si bayi dan umur pernikahan mereka terhitung normal. Tidak ada yang aneh mau pun ganjil.


...***...


“Aku hanya punya waktu seminggu,” ucap Yudha menyinggung tentang keberadaannya di sini.


Ya, ini sudah hari ke empat semenjak Yudha berada di kampung halaman istrinya. Rasanya memang lebih damai hidup di sini. Namun dia juga tak mungkin selamanya untuk tetap tinggal, sebab ada segudang pekerjaan yang ditinggalkannya.


“Mas Yudha mau pulang, pulanglah! Pasti kamu banyak pekerjaan,” jawab Vita tanpa beban. Wanita itu memang sudah terbiasa dengan kesendiriannya. Maka dia tidak pernah khawatir kalau harus berdua lagi seperti semula.


“Padahal tidak seperti itu jawaban yang ingin kudengar,” Yudha menjawab dengan nada kecewa.


“Lalu harus bagaimana? Apa aku harus menangis-nangis seperti ‘Mas jangan pulang, jangan tinggalkan aku, aku masih ingin kamu di sini, aku cinta padamu.’ Menggelikan.” Vita memperagakan bagaimana jika dirinya bersikap demikian.


Yudha tersenyum menanggapinya. “Tapi kamu benar, tidak mau ikut denganku?”


“Aku masih ingin di sini, jadi biarkan aku di sini sepuasku.”

__ADS_1


Yudha mengusap-usap pipi istrinya yang ada di sampingnya sekarang. Mereka sudah semakin dekat setelah Yudha menceritakan semua tentangnya yang telah lalu. Dan Vita dengan keikhlasan hatinya, mau mendengarkan semua ceritanya tersebut.


“Abah ingin bertemu dengan Rayyan. Beliau ingin bertemu dengan cucunya. Jangan terlalu lama di sini.”


Vita mengangguk, “Insyaallah.”


Detik berikutnya mereka mendengar rintik-rintik hujan yang terdengar dari atap genteng. Namun secepat kilat, rintik itu terdengar lebih keras dan lebat.


“Cucian!” pekik Vita teringat jemurannya. Sontak wanita itu melompat keluar untuk mengangkat jemurannya tanpa memedulikan pakaiannya yang kebasahan. Hanya Vita yang tahu, berapa jumlah pakaian anaknya yang tidak terlalu banyak mempunyai stok—maka dia terlihat sepanik itu.


Yudha berlari menyusulnya dengan membawa payung. Namun terlambat, Vita sudah terlanjur basah kuyup.


Wanita itu tergelak ketika dia kembali masuk dengan mendapati pakaiannya demikian.


“Lain kali kalau mau keluar waktu hujan, seharusnya bawa payung dulu.”


“Tidak keburu, Mas. Nanti bisa basah semua pakaian dia.”


“Tapi daripada kamu kehujanan.”


“Anggap saja itu pengorbanan seorang ibu untuk anaknya.” Karena merasa dingin, Vita mengusap-usap lengannya sambil bergidik.


Tak berapa lama, ia merasa tubuhnya melayang di udara sehingga membuatnya memekik tertahan.


“Kamu sudah jauh lebih berat dibandingkan dulu,” ujarnya terkekeh. Pria itu membawanya ke kamar dan meletakkannya di ranjang. “Bajumu kuyup, lepaskan saja.” Tangan pria itu terulur untuk melepas kancing baju depannya. Baju kancing busui yang biasa digunakannya untuk mempermudah diri dalam meng-ASI-hi.


“Tapi ...,” ucap Vita ragu. Berusaha menjauhkan tangan itu darinya.


“Kamu bisa masuk angin,” ujarnya serupa laki-laki yang sedang memperdaya.


Pipinya langsung merah. Tanpa bisa menolak, Vita menerima apa pun yang sedang dilakukannya. Mungkinkah hal itu akan terjadi? Pria itu sudah menghitung hari dengan benar.


***


 TO BE CONTINUED


 

__ADS_1


__ADS_2