
Hampir petang keduanya hingga sampai di rumah.
Banyak yang membuat mereka menjadi lama, seperti disengaja, pria itu mengulur-ulur waktu untuk bisa berduaan dengan istrinya. Sebab, Yudha tidak akan mungkin bisa melakukan kemesraan di rumah. Banyak mata-mata yang mengintai tindak-tanduk mereka.
Kalau dalam hal-hal seperti ini, justru Yudhalah yang menginginkan hidup terpisah dari orang tua.
Namun disisi lain, ada yang dia pertimbangkan. Dia tidak bisa menjadi anak yang egois. Ada Abah dan Umi yang harus dia pikirkan hari tuanya. Tidak ada lain yang lebih membahagiakan mereka selain berdekatan dengan anak cucunya dan bisa melihatnya setiap hari.
“Kalau menurutmu, bagaimana baiknya?” tanya Yudha pada malam hari. Di saat keadaan telah sepi dan semua orang telah menemui mimpi-mimpinya.
Vita memiringkan tubuhnya menghadap Yudha. Tidak seperti kemarin, hari ini mereka bisa tidur dalam keadaan tenang, tanpa gangguan setan mana pun.
“Aku juga kasihan sama Umi,” ujarnya menanggapi. “Tapi rumah yang Mas Yudha bilang waktu itu belum di DP ‘kan?”
“Belum,” Yudha menjawab. “Aku menunggu persetujuanmu. Barang kali nanti kamu tidak cocok dengan rumah yang kupilih, bisa panjang urusannya. Aku tahu pasti seleramu berbeda denganku.”
“Kalau aku di sini juga tidak apa-apa sebetulnya.”
“Tapi kalau kita butuh waktu berdua bagaimana?” Yudha menyela segera. “Di sini banyak orang.”
“Mesra-mesraan ‘kan bisa di kamar saja, Mas. Memangnya tidak bosan mau mesra-mesraan terus?”
"Aku tidak akan bosan kalau berurusan denganmu."
"Gombal." Vita mencubit hidung mancung pria di depannya itu.
"Jadi mau tetap di sini saja?"
Vita mengangguk. "Aku sayang sama Umi sama Abah, Mas."
“Baiklah kalau begitu maumu,” kata Yudha merasa bangga karena orang tuanya dapat diterima dan dicintai oleh wanita pilihannya. "Terima kasih sudah mau menyayangi mereka."
"Itu harus. Lagi pula orang tuaku juga sudah tidak ada. Jadi kupikir, mereka adalah orang tua kedua yang Allah kirimkan untukku."
Detik kemudian, pria itu beranjak dari ranjang. Membuka laci dan mengambil beberapa berkas miliknya untuk diserahkan kepada istrinya.
“Ini semua milikku yang akan menjadi milikmu. Saat ini sedang diproses oleh notaris di kantor PPAT. Biasanya memakan waktu sampai satu bulan atau lebih semenjak waktu pengajuan.”
“Ternyata kamu sungguh-sungguh, Mas?” tanya Vita tidak percaya.
Wanita itu menerima beberapa salinan berkas aset-aset berharga milik suaminya. Mulai dari beberapa hektar tanah yang ada di Subang, Lombok, kemudian unit ruko di kota ini yang sedang disewakan. Namun belum termasuk saham dan lain-lainnya, sebab sebagian banyak masih milik bersama.
“Aku tidak tahu bagaimana cara meyakinkanmu. Tapi aku percaya, di tanganmu pasti akan jauh lebih aman,” jawab Yudha kemudian.
Mata Vita berkaca-kaca. Terharu. “Ini banyak sekali.”
“Simpanlah.”
__ADS_1
“Makasih, Mas.” Vita menghamburkan diri ke dekapan suaminya.
Yudha menyambut pelukan itu, “Selamat, kamu sudah berhasil memenangkan hatiku.”
***
Seminggu kemudian.
Siang hari yang terik itu memancarkan keindahan birunya langit yang dihiasi sedikit awan kapas yang bergelantungan. Cerahnya hari ini seolah ikut merayakan kebahagiaan dua insan yang telah berhasil melewati ujian besar di dalam hidupnya.
Akad nikah ulang dilaksanakan yang hanya dihadiri oleh beberapa orang terdekat. Namun lebih ramai di acara resepsi yang mengundang hingga sampai dua ratus orang.
Memang tidak semegah dulu pada saat Yudha menikah dengan Rahma, tetapi entah kenapa kali ini pesta pernikahannya lebih khidmat dan istimewa karena di ridhoi oleh banyak pihak. Terlebih, sudah hadir buah hati yang akan mewarnai hari-hari mereka.
Setelah acara sambutan dilaksanakan, Vita dan Yudha dipersilakan untuk masuk ke dalam aula pernikahan. Jika tadi saat akad mereka mengenakan konsep busana putih (agar lebih sakral), sekarang mereka mengenakan gaun dan jas berwarna abu-abu. Sangat serasi.
Tak henti-hentinya Yudha menoleh ke samping. Dia begitu takjub hingga berkali-kali bertanya, "Apa benar ini istriku?"
Pangling karena sangat 'wow' hingga ia hampir tak mengenalinya. Semua orang yang belum mengenal Vita tidak akan mengira bahwa wanita itu baru saja melahirkan. Sebab tak ada bekas apa pun, tubuhnya tetap langsing seperti seorang gadis.
Tari-tarian menyambut kedatangan mereka dengan diiringi musik yang meriah. Kini sepasang raja dan ratu sudah menduduki kursi singgasananya.
Beberapa saat kemudian, keduanya diperintahkan berdiri untuk menyambut kehadiran para tamu undangan.
“Selamat, ya. Semoga sakinah, mawadah, warahmah,” ucap Jodi yang hadir bersama istrinya. Berbeda dengan dulu, kali ini Jodi lebih memperlihatkan senyum bahagianya melihat sahabatnya telah menemukan wanita yang terbaik.
“Ya, sama-sama. Ternyata ini jodohmu yang sesungguhnya.” Jodi memeluk haru sahabatnya tersebut.
“Tolong doakan, semoga ini yang terakhir untuk kami.”
“Pasti. Semoga kalian selalu bahagia.”
“Kita akan lanjut lagi nanti,” ucap Yudha kepada sahabatnya itu.
“Tenang. Aku mengerti.”
Keempatnya tidak dapat berbincang lebih lama karena masih banyak tamu-tamu yang lain yang mengantre di belakang tubuh mereka.
Agak lama setelah tamu berkurang, Vita menggumam. “Dara mana, ya, Mas? Katanya mau datang.”
Sudah semenjak semalam, gadis itu tidak dapat dihubungi. Entah kenapa.
Yudha menoleh dan menjawab, “Kalau Dara sudah berjanji, pasti dia akan datang.”
“Tapi seharusnya dia membalas pesanku.”
“Itu dia!” Jari Yudha mengacung kepada salah seorang yang sedang melambai-lambaikan tangannya dari kejauhan.
__ADS_1
“Ya ampun, Dara!” Vita menyeru dengan wajah yang begitu semringah.
Tanpa memedulikan banyak orang yang melihatnya, gadis itu berlari kecil meninggalkan keluarganya ke atas panggung. Dia menyingkirkan beberapa orang untuk dapat segera bertemu dengan sahabatnya.
“Aaaakhh!” keduanya berteriak dan berpelukan sampai melompat-lompat kecil sehingga menimbulkan getaran di panggung.
“Astaga!” Yudha panik melihat keduanya demikian. Kelak kalau tidak disadarkan, guncangan ini bisa merobohkan pelaminan. “Berhenti!”
Keduanya berhenti dan menjawab bersamaan dengan satu kata singkat, “Oke.”
Adegan ini disaksikan oleh banyak orang sehingga menimbulkan gelak tawa seisi ruangan.
“Alhamdulillah, ya, Bah. Anak-anak kita bahagia,” ujar Umi Ros yang sedang melihat dari kejauhan.
Mereka duduk bersama Ratih (putri Bi Retno) yang ditugaskan untuk mengurus baby Ray sementara selama resepsi.
“Iya, Mi. Semoga tidak ada lagi huru-hara. Dan semoga, anak kedua kita juga bisa segera menyusul. Biar beban kita agak berkurang.”
Bicara soal anak kedua kita, membuat Umi teringat dengan Alif. “Lah iya, Alif mana ya, bah? Kok tidak kelihatan semenjak tadi.”
“Tadi Abah masih lihat di sekitar sini, lagi cari makanan mungkin,” Abah menjawab sambil mencari-cari anak nakal mereka.
“Katanya mau melamar Dara?”
“Abah tidak tahu. Tapi kalau memang betul begitu, Abah bersyukur.”
Tanpa mereka ketahui, tak jauh dari mereka berada, Alif sedang di luar gedung. Duduk sambil menikmati asap kenikmatannya. Dalam keadaan hingar-bingar dan bahagia ini, dia justru tak sedang baik-baik saja.
Dia kecewa karena Dara ternyata sudah membawa laki-laki lain selain keluarganya. Dara memperkenalkan pria itu sebagai pasangan.
"Oh iya, kenalkan. Ini...."
"Tunangannya," Ayah Dara memotong ucapan anaknya.
Kata itu terngiang-ngiang dalam benaknya.
Bahkan yang paling menikam jantungnya, mereka memakai baju cuople yang sangat serasi.
Ah, apa mungkin ini balasan dari Tuhan karena dia terlalu pilih-pilih dan terlalu menyepelekan seseorang?
“Bagaimana denganku?” gumamnya menatap langit biru.
***
To be continued.
Penting! Wajib dibaca!
__ADS_1
Untuk kelanjutan cerita Alif, kalian bisa follow instagram aku @ana_miauw supaya dapat kisi-kisi judulnya, info terbit dan kapan update. Jadi sudah jelas ya. Kalau masih ada pertanyaan silakan isi kolom komentar atau DM langsung ke ig aku biar cepat dibalas. Terima kasih.