
14.
Rahma terdiam sebab karena keterkejutannya. Dia juga tak berniat membuka suara untuk menghindari pertanyaan lain dari Arkana—terutama hubungan rumit di antara mereka yang tidak patut untuk diceritakan. Rasanya itu tidak perlu.
Tentu saja Yudha merasa tak nyaman karena langsung dihadapkan dengan situasi seperti ini. Ia merasa serba salah. Mau berterus-terang pun rasanya tidak mungkin. Entah kenapa dia malu mengakui bahwa Rahma adalah mantan istrinya. Bukan wajahnya yang buruk, namun ... penampilannya, karena menurutnya Rahma terlalu terbuka. Andai Rahma bisa berpakaian lebih sopan lagi, mungkin sedikit tak masalah pikirnya.
Sebagai manusia, wajar bila Yudha bertanya-tanya dalam hati, apa yang sedang dilakukan oleh wanita ini di sini? Anehnya, mereka hanya berdua. Apa dia tidak takut dengan bahaya fitnah? Bukankah Rahma sangat paham dampak dari bahaya ini?
Tak mau terjadi sesuatu hal, Yudha cepat-cepat mengalihkan pertanyaan Pak Arkana dengan pembicaraan lain. “Perkenalkan ini istri saya, Pak,” Yudha menoleh ke istrinya yang tersenyum dibalik maskernya. Meski begitu, dia masih tetap terlihat cantik, wajahnya putih bersih, teduh dipandang dan menyejukkan mata bagi siapa saja yang melihatnya.
Vita mengatupkan tangan dan sedikit menganggukkan kepala.
“Wah, cantik sekali istrinya, Pak Yudha. Adem melihatnya,” kata Pak Arkana menanggapi dengan tatapan dan senyuman yang sulit diartikan. “Saya jadi percaya dengan kata-kata yang sering saya dengar di khalayak, bahwa seburuk-buruknya lelaki, pasti akan mencari wanita yang baik untuk dijadikan masa depannya.”
Deg.
Rahma sontak merasa tertampar dengan kata-kata yang barusan dilontarkan oleh Arkana. Setengah mati dia menahan diri agar tak kentara bahwa dirinya memang sedang tersinggung dengan ucapan lelaki sialan ini. ‘Hei, Pak Arkana! Seandainya Bapak tahu, perempuan juga tidak bakal mau menikah dengan lelaki tukang celup seperti Anda! Aku melakukan ini juga karena terpaksa, aku butuh uang darimu.’
“Memang betul, Pak,” jawab Yudha sekadar menanggapi.
“Lagi hamil berapa bulan?” tanya Arkana lagi, “eh silakan duduk.”
Yudha mengajak istrinya duduk, baru kemudian dirinya sendiri. “Sudah jalan delapan bulan,” jawabnya.
“Anak ke berapa?”
“Ke empat,” jawab Yudha menahan senyum. Membuat lelaki di depannya tertawa.
“Saya kira kalian pasangan yang baru menikah, ternyata sudah mau empat anaknya. Awet muda berarti.”
“Alhamdulillah....”
Merasa dikacangin membuat wajah Rahma memerah. Tak ada guna ia berada di sini, pikirnya. Ada keinginan untuk cepat-cepat pergi dari hadapan mereka. Toh, Arkana juga tadi sudah menyarankannya menunggu di kamar jika rekan-rekannya sudah mulai berdatangan.
__ADS_1
Sampai hati sekali Yudha tak mau menyapanya. Atau pria itu memang benar-benar malu dengan raga ini?
Jangankan menyapa, lelaki itu selalu membuang pandangan atau menunduk apabila Rahma tak sengaja menemukan sorot matanya. Hanya di hadapan Yudha saja dia merasa begitu hina.
“Maaf, Pak, saya ada sedikit urusan. Jadi saya tinggal dulu, ya,” pamit Rahma kepada Arkana dan beranjak dari tempatnya duduk.
“Silakan Bu, Rahma,” jawab Arkana sedikit menyembunyikan sesuatu di antara mereka berdua. Kendatipun gelagatnya bisa ditebak, bahwa mereka terlihat cukup dekat. Detik berikutnya Arkana mengalihkan pandangan ke depan, “Sambil menunggu rekan kita yang lain, sebaiknya sambil pesan minum dulu, Pak. Silakan,” lelaki berusia setengah baya itu menyodorkan buku menu kepada Vita dan Yudha.
“Terima kasih,” Vita menjawab. Dia melebarkan buku menu tersebut untuk menutupi wajahnya. ‘Kenapa aku merasa geli melihat Pak Arkana? Tatapannya benar-benar aneh. Aku jadi kurang nyaman kalau begini.’
Vita juga mengetik pesan yang dia kirim ke nomor suaminya sendiri.
Vita: Maaf, Mas. Aku kurang nyaman sama tatapan Pak Arkana. Bisakah kamu pesankan kamar saja, biar aku menunggu di sana. Kamu pasti bisa beralasan kalau beliau bertanya.
Terkirim. Namun sampai lima menit kemudian, Yudha tak kunjung membacanya karena sudah asyik berbincang. Sepertinya, dia harus melakukan cara lain.
“Apa Rahma termasuk rekan kerja Bapak yang akan bekerja sama dengan kita?” tanya Yudha setelah beberapa saat kemudian. Sesungguhnya, dia hanya berusaha untuk memancing. Namun siapa sangka, pertanyaan ini malah justru menimbulkan pertanyaan lain.
“Kenapa, Bapak kenal?” Arkana tersenyum, “rasanya tidak mungkin jika Bapak tidak mengenalnya, pelayanannya cukup bagus. Tapi ya, sudahlah. Sebaiknya kita bahas yang lain saja.”
‘Ya Allah, Mbak Rahma ... kenapa kamu jadi keliru sejauh ini?’ batin Vita menyayangkan pekerjaan gelap Rahma sekarang.
Pun dengan Yudha yang sama sekali tidak menyangka bahwa mantan istrinya yang sangat paham agama itu, bisa melakukan hal paling hina. Bahkan dia tahu, orang-orang seperti inilah yang dosanya jauh lebih besar. Beda dengan orang yang tidak terlalu paham.
“Mas,” panggil Vita terpaksa berpura-pura meringis. Ia tidak bisa menemukan cara lain selain sakit. Karena dengan seperti inilah biasanya lelakinya langsung tanggap.
Yudha menoleh dan sontak terlihat cemas, “Kenapa, ada yang tidak nyaman?”
Vita mengangguk.
“Pesan kamar saja, Pak. Barang kali istrinya butuh tiduran. Tidak apa-apa ditinggal dulu, mumpung yang lain belum pada datang.” Arkana memberikan saran.
“Baik, kalau begitu saya izin sebentar,” kata Yudha akhirnya menuntun istrinya berjalan menjauhi area restoran. Mereka menuju ke bagian resepsionis untuk memesan kamar. Hingga tak lama kemudian, mereka pun di antar oleh bellboys ke kamar yang mereka pesan.
__ADS_1
“Ini serius kamu minta istirahat saja di sini?” tanya Yudha setelah mereka sampai di sana. “Aku khawatir, lho. Aku telepon dokter sekarang, ya.”
Vita mengambil ponsel dari tangan suaminya. Melarangnya untuk memanggil dokter itu. “Kebiasaan kamu, Mas. Lain kali kalau ada pesan masuk itu dibaca, jadi paham. Lagian kurang peka sih, jadi orang,” sungutnya pelan.
Yudha baru terang-benderang ketika melihat pesan yang ditunjukkan oleh istrinya, “Oh ... gitu? Maaf, Sweety.”
Vita mendekati kaca dan melihat ke sekeliling kamar yang luas dan sangat indah. Sayang sekali kalau tidak ditempati nanti malam, demikian Vita berpikir dan berniat untuk kabur dari rumah sehari saja.
“Ya sudah, kalau begitu kamu di sini saja sampai rapatku selesai. Daripada di sana nanti kamu diperhatikan terus sama Si mata keranjang. Aku bisa cemburu nanti.”
Mungkin kalau tidak terlalu butuh, Yudha akan memilih untuk pergi. Sayang, dia butuh mereka untuk menaikkan usahanya yang tenggelam. Lagi pula setelah dipikir-pikir, tidak terlalu masalah juga selama lelaki itu tak mengganggu.
Vita naik ke atas ranjang setelah menutup gordennya, dia merasa sangat dimanjakan dengan pemandangan indah di bawah sana, suasana hiruk-pikuk kota, gedung-gedung yang tinggi menjulang, dan langit yang biru cerah disertai awan kapas. “Aku senang di ajak ke sini. Kapan-kapan main lagi, ya.”
“Boleh ke sini lagi, tapi jangan sering-sering. Bisa jebol kantongnya. Sebulan ada empat pekan, biasanya weekend harganya juga naik dua kali lipat. Ya, hitung saja berapa totalnya.” Yudha terkekeh pelan.
“Sudah, sana!” titah Vita mengusirnya, “kamu kan, lagi di tunggu sama Si Crazy Rich.”
“Aku tinggal dulu ya. Kamu istirahat. Kalau ada yang mengetuk, intip dulu siapa orangnya. Kalau bukan aku, kamu telepon dulu. Ingat, jangan ceroboh,” tegas Yudha memperingatkan. Dia mencium kaki istrinya, kemudian pergi keluar dengan hanya membawa ponselnya saja.
“Jangan lama-lama, ya!”
“Paling sampai lusa.” Yudha meledek.
“Mas Yudha!” seru Vita pura-pura kesal. Matanya terus mengawasi punggung suaminya sampai pria itu keluar dan menutup pintu.
“Aduh, aku mau tanya tentang Rahma malah jadi lupa kan?” Vita berdecak pelan. Dia pun mengelus perutnya yang besar karena merasa bayinya sedang bergerak lincah hingga terasa sedikit nyeri. “Kamu sehat kan, Dek? Sebentar lagi kita ketemu, Sayang ....”
Di tempat lain, Rahma sedang berdiri mengintai. Dia menandai di mana Yudha barusan keluar. Yakin bahwa Vita masih berada di dalam sana, dia pun melangkah mendekat untuk mengetuk pintu itu.
****
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa vote,nya.